Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perlawanan
Sentuhan itu tidak hanya terasa di kulit. Begitu sosok itu menggenggam tangan Endric, rasa dingin langsung merayap masuk ke dalam, menembus otot, lalu perlahan menjalar ke tulang. Rasanya seperti sesuatu yang tidak seharusnya bisa disentuh manusia sedang memaksa masuk dan mengisi ruang yang bukan miliknya. Tubuh Endric langsung menegang.
Napasnya tertahan, tubuhnya kaku, sementara tangannya tidak bisa digerakkan sama sekali.
“Lepasin,” katanya pelan, tetapi suaranya terdengar lebih lemah dari yang ia harapkan.
Sosok itu tidak menjawab. Ia justru mendekat, wajahnya semakin jelas, tetapi semakin tidak berbentuk. Yang tadi menyerupai Ningsih kini benar-benar berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan, seperti bayangan yang dipaksa memakai wajah manusia.
“Sekarang kamu milikku,” bisiknya.
Endric menelan ludah.
“Gue gak daftar, ya,” jawabnya refleks, meskipun tubuhnya tidak bisa bergerak.
Di sampingnya, Gandhul langsung bereaksi. “LAWAN, REK!”
Suara itu seperti menyentak kesadaran Endric. Ia langsung mencoba menarik tangannya dengan seluruh tenaga yang tersisa, tetapi hasilnya nihil. Rasanya bukan seperti ditahan dari luar, melainkan seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang ikut menahan.
“Anjir... ini bukan pegangan biasa,” gumamnya panik.
Lingkaran di sekeliling mereka mulai berubah. Warga mundur perlahan, membuka ruang, tetapi bukan untuk memberi jalan keluar. Mereka mundur untuk melihat lebih jelas, menikmati apa yang sedang terjadi. Pria tua itu tetap berdiri di tempatnya tanpa bergerak dan tanpa membantu.
“Ndhul, ini makin gak enak,” bisik Endric.
“Makanya lawan!” jawab Gandhul cepat. “Lo masih punya kendali!”
Endric menggertakkan gigi. Ia menutup mata sejenak dan mencoba fokus ke dalam dirinya. Ia merasakan sesuatu di tangannya, sesuatu yang bukan bagian dari dirinya, yang mencoba menarik ke arah berlawanan. Ia mencoba menahan, bukan dengan tenaga, tetapi dengan kesadaran.
“Ini badan gue,” katanya pelan.
Sosok itu mendekat lagi, hampir menempel.
“Kamu salah,” bisiknya.
Endric langsung membuka mata.
“Gue gak salah,” balasnya, kali ini lebih keras.
Tanpa berpikir panjang, tangan bebasnya langsung bergerak.
Plak.
Suara tamparan itu terdengar jelas di tengah keheningan. Semua langsung diam.
Gandhul ikut membeku. “Anjir, lo serius?” gumamnya.
Endric terengah, baru sadar apa yang ia lakukan. “Refleks,” katanya pelan.
Sosok itu tidak langsung bereaksi. Ia diam beberapa detik, lalu perlahan tertawa. Tawa itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat suasana semakin tidak nyaman.
“Menarik,” katanya.
Endric menghela napas kasar. “Gue capek dibilang menarik.”
Namun tiba-tiba genggaman itu mengencang. Sangat kuat. Endric langsung berteriak, tubuhnya menegang.
“AAH!”
Dingin itu berubah menjadi panas. Rasa terbakar menjalar dari tangannya, naik ke lengan, seperti ada sesuatu yang mencoba masuk lebih dalam dan mengunci dirinya dari dalam.
“Ndhul!” teriaknya panik.
“Tarik balik! Jangan kasih masuk!” jawab Gandhul.
“Gimana caranya?!”
“Lawan dari dalam! Jangan cuma pakai tenaga!”
Endric langsung menutup mata lagi. Ia mencoba menahan, bukan dengan tenaga, tetapi dengan kesadaran. Ia fokus pada tubuhnya sendiri, pada rasa sakit, dan pada batas antara dirinya dan sesuatu yang mencoba masuk.
“Gue gak mau,” katanya pelan.
Sosok itu mendekat lagi. “Kamu sudah setengah masuk.”
“Setengah mana?” Endric membentak.
“Setengah ke bawah.”
Endric langsung menggeleng keras. “Gue gak mau ke bawah!”
Namun saat itu, ia merasakan sesuatu berubah. Kuku hitam di jarinya berdenyut lebih cepat dan lebih kuat, seperti merespons panggilan.
Endric langsung membuka mata dan melihat tangannya. Bagian yang tadi ia patahkan mulai tumbuh kembali, perlahan tetapi jelas.
“Anjir... gak lucu,” bisiknya.
Sosok itu tersenyum. “Kamu sudah terbuka.”
Endric mengumpat pelan. Namun sebelum ia kehilangan fokus, Gandhul bergerak. Pocong itu melompat dan menghantam tangan Endric dengan keras.
Buk.
Endric tersentak. “WOI!”
Namun efeknya terasa. Genggaman itu sedikit melemah.
“LAGI!” teriak Endric.
Gandhul tidak ragu. Ia menghantam lagi, kali ini lebih keras.
Buk.
Sosok itu sedikit mundur. Ekspresinya berubah, tidak lagi tenang. Endric langsung menarik tangannya sekuat tenaga. Dan kali ini berhasil.
Tangannya lepas.
Ia jatuh ke belakang. Napasnya terengah dan jantungnya berdegup tidak karuan.
“Gue masih hidup,” katanya pelan.
Gandhul mendarat di sampingnya.
“Tipis, tapi iya.”
Endric tertawa pendek. “Yang penting masih.”
Namun saat ia melihat tangannya, ia langsung diam. Bekas hitam muncul di bawah kulitnya, seperti urat yang menghitam dan bergerak pelan.
“Ini bonus, ya?” gumamnya.
Sosok itu berdiri diam di depan. Tidak menyerang lagi, tetapi tatapannya berubah menjadi lebih tajam.
“Belum selesai,” katanya.
Endric berdiri perlahan. Ia masih gemetar, tetapi tidak mundur.
“Gue juga belum.”
Lingkaran mulai bergerak lagi, tetapi tidak seperti sebelumnya. Beberapa warga maju, beberapa tetap diam, dan beberapa bahkan mundur. seperti tidak semua setuju.
Endric melirik Gandhul.
“Ini mulai kacau.”
Gandhul mengangguk. “Dan itu bagus buat lo.”
Endric menghela napas. “Gue mulai suka kacau.”
Tiba-tiba pria tua itu melangkah maju. Satu langkah saja, tetapi cukup untuk membuat semua diam. Sosok itu juga berhenti. Untuk pertama kalinya, mereka saling menatap.
Suasana berubah.
Lebih berat.
Lebih tegang.
Pria tua itu membuka mulut. “Cukup.”
Suaranya tidak keras, tetapi tidak bisa dibantah.
Sosok itu tidak menjawab, tetapi perlahan mundur. Satu langkah, dua langkah, lalu berhenti di pinggir lingkaran. Ia masih menatap Endric.
“Ini belum selesai,” katanya.
Endric mengangkat bahu, berusaha santai. “Gue juga belum selesai.”
Sosok itu tersenyum tipis, lalu menghilang begitu saja, seperti tidak pernah ada. Endric berdiri di tengah. Napasnya masih berat, tangannya masih gemetar, tetapi ia tetap berdiri.
Pria tua itu menatapnya lama, lebih lama dari sebelumnya.
“Mas Endric,” katanya akhirnya.
“Iya, Pak.”
“Menarik.”
Endric langsung mendesah. “Ya Tuhan, lagi.”
Beberapa warga mulai mundur, tetapi kali ini dengan cara berbeda. Mereka tidak sekadar pergi. Mereka menoleh, mengamati, seperti mencatat sesuatu.
Pria tua itu menatap tangan Endric. Bekas hitam itu masih bergerak pelan.
“Belum milik siapa pun,” katanya.
Endric mengangkat alis. “Bagus, dong.”
Pria itu tidak tersenyum. “Berarti diperebutkan.”
Endric langsung diam. Gandhul berbisik pelan, “itu gak bagus.”
Endric menelan ludah. “Gue tahu.”
Pria tua itu berbalik. “Untuk sementara dilepas.”
Lingkaran mulai bubar. Warga pergi satu per satu, tetapi suasana tidak kembali normal. Justru terasa lebih sunyi dan lebih berat.
Endric tetap berdiri di tengah hingga hampir semua pergi. Hanya tersisa dirinya dan Gandhul.
“Gue lolos?” tanya Endric pelan.
Gandhul mengangguk. “Untuk malam ini.”
Endric menghela napas panjang. Tubuhnya akhirnya terasa lemas. “Gue capek banget, sumpah.”
Gandhul tersenyum tipis. “Selamat.”
Endric menatapnya. “Selamat apaan?”
Gandhul menunjuk tangannya. “Sekarang lo bukan cuma target.”
Endric mengernyit. “Terus?”
Gandhul menatapnya dalam. “Lo jadi masalah utamanya.”
Endric belum sempat membalas.
Tiba-tiba bekas hitam di tangannya bergerak lebih cepat, lebih jelas, seperti sesuatu di dalamnya baru saja bangun. Dan pelan, sangat pelan, Endric mendengar suara.
Bukan dari luar. Bukan dari Gandhul. Dari dalam tangannya sendiri.
“...akhirnya...”