NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Awal yang Tidak Disadari

Malam turun lebih cepat dari biasanya.

Hujan turun rintik-rintik, memantul di kaca jendela kamar Raka. Suara tetesan air itu terdengar teratur, hampir seperti irama yang menenangkan. Namun bagi

Raka, malam seperti ini selalu membawa ingatan yang samar—tentang sesuatu yang pernah ia hadapi… dan hampir hilang ditelan waktu.

Ia duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur. Buku itu kini tersimpan di dalam laci, tertutup rapat. Tidak ada lagi gerakan aneh. Tidak ada lagi tulisan yang muncul tiba-tiba.

Setidaknya… untuk saat ini.

Ponselnya menyala di sampingnya.

Pesan terakhir dari orang tak dikenal itu masih belum terjawab.

Raka menatap layar beberapa detik, lalu meletakkannya kembali.

“Dia masih di tahap awal…” gumamnya pelan.

Ia bisa merasakan itu.

Cara orang itu bertanya, nada

kebingungan dalam pesan terakhirnya… semuanya mengingatkan Raka pada dirinya sendiri beberapa waktu lalu.

Rasa penasaran.

Rasa ingin tahu yang perlahan berubah menjadi keterikatan.

Dan akhirnya… ketergantungan.

Raka menarik napas panjang.

Ia menatap tangannya.

Tidak ada luka baru.

Tidak ada tanda.

Namun ingatannya tetap jelas.

Terlalu jelas untuk dianggap hilang.

Tiba-tiba, terdengar suara ketukan dari luar kamar.

Tok. Tok.

“Iya?” jawab Raka.

“Ibu masuk ya,” suara ibunya terdengar.

Pintu terbuka perlahan.

Ibunya masuk dengan membawa segelas teh hangat.

“Kamu belum tidur?” tanyanya.

Raka menggeleng.

“Masih kepikiran tugas.”

Ibunya tersenyum kecil.

“Jangan terlalu dipikirkan sampai larut malam. Nanti malah sakit.”

Raka mengangguk.

Ibunya meletakkan teh di sampingnya.

Lalu memperhatikan Raka sejenak.

“Kamu akhir-akhir ini kelihatan lebih… tenang,” katanya pelan.

Raka tersenyum tipis.

“Mungkin karena sudah tidak terlalu banyak mikir.”

Ibunya mengangguk.

“Bagus kalau begitu.”

Namun sebelum keluar, ibunya berhenti di ambang pintu.

“Kalau ada apa-apa… kamu cerita ya.”

Raka menatapnya.

Untuk sesaat—

Ia hampir ingin mengatakan semuanya.

Tentang buku itu.

Tentang apa yang ia lihat.

Tentang apa yang masih mungkin ada.

Namun akhirnya, ia hanya mengangguk.

“Iya, Bu.”

Pintu tertutup.

Sunyi kembali.

Raka menatap teh di sampingnya.

Uap tipis masih naik dari permukaannya.

Hangat.

Nyata.

Ia mengambilnya dan menyesap sedikit.

Menutup mata sejenak.

Dan untuk beberapa detik—

Semua terasa normal.

Namun saat ia membuka mata—

Refleksi dirinya di permukaan teh… tidak tepat.

Gerakannya sedikit terlambat.

Raka langsung meletakkan gelas itu.

Matanya fokus.

Namun saat ia melihat lagi—

Refleksi itu sudah kembali normal.

Ia menghela napas.

“Mulai lagi…” bisiknya.

Bukan hal besar.

Bukan kejadian mencolok.

Hanya… ketidaksesuaian kecil.

Namun justru itulah yang dulu

memulai semuanya.

Raka berdiri.

Berjalan ke jendela.

Menatap keluar.

Hujan semakin deras.

Lampu jalan memantulkan cahaya di genangan air.

Semuanya terlihat biasa.

Namun ia tahu—

Kenyataan tidak selalu terlihat jelas dari luar.

Ia mengalihkan pandangan ke dalam kamar.

Laci tempat buku itu disimpan.

Perlahan, ia mendekat.

Tangannya berhenti di depan laci.

Ragu.

Untuk pertama kalinya sejak ia “mengakhiri” semuanya…

Ia tidak membuka laci itu.

Ia hanya berdiri.

Menatapnya.

Lalu berkata pelan,

“Aku tidak akan membukanya lagi… kecuali diperlukan.”

Seolah menjawab—

Laci itu bergetar sangat halus.

Sangat singkat.

Hampir tidak terasa.

Raka langsung diam.

Ia menunggu.

Namun tidak ada lagi reaksi.

Ia menarik napas dalam.

“Baiklah…”

Ia menjauh dari laci.

Kembali duduk di lantai.

Beberapa menit berlalu.

Hanya suara hujan yang terdengar.

Dan detik jam di dinding.

Tik… tik… tik…

Raka menatap langit-langit.

Pikirannya kembali kosong.

Namun tidak lagi kosong karena ketakutan.

Melainkan karena penerimaan.

Ia tahu sekarang—

Apa yang pernah ia alami bukan sesuatu yang bisa benar-benar “selesai”.

Hanya… dipahami.

Dan dijaga jaraknya.

Ponselnya bergetar lagi.

Pesan baru masuk.

Dari nomor yang sama.

Raka langsung membuka.

Isi pesan itu berbeda.

Lebih panjang.

“Aku sudah mencoba apa yang kamu bilang. Aku berhenti melihat. Tapi… aku masih merasa ada sesuatu di sekitarku.”

Raka membaca perlahan.

Matanya tidak langsung bereaksi.

Ia hanya diam.

Kemudian mengetik balasan.

“Itu normal.”

Pesan terkirim.

Balasan datang cepat.

“Normal?”

Raka menatap layar.

Lalu menjawab:

“Kamu tidak kehilangan mereka dengan berhenti melihat. Kamu hanya berhenti memberi mereka bentuk.”

Tiga titik muncul.

Menghilang.

Muncul lagi.

Lalu berhenti.

Balasan berikutnya datang beberapa detik kemudian.

“Jadi mereka masih ada?”

Raka terdiam.

Ia menatap sekeliling kamar.

Lampu.

Dinding.

Jendela.

Semua terlihat biasa.

Namun ia tahu—

Jawaban dari pertanyaan itu tidak sesederhana ya atau tidak.

Ia mengetik:

“Yang berubah bukan mereka. Tapi caramu menghadapi.”

Pesan terkirim.

Tidak ada balasan langsung kali ini.

Raka meletakkan ponselnya.

Ia menutup mata.

Dan untuk pertama kalinya sejak semua itu berakhir—

Ia tidak mencoba menghindari pikiran tentang hal-hal yang tak terlihat.

Ia hanya… membiarkannya ada.

Di luar kamar—

Hujan terus turun.

Dan di antara suara rintik yang jatuh ke tanah—

Jika didengar dengan sangat saksama…

Terdengar satu suara lain.

Sangat halus.

Seperti halaman buku yang dibuka.

Pelan.

Lalu berhenti.

Menunggu seseorang… untuk melanjutkannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!