"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."
Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.
"Janji?"
"Janji."
"Sumpah?"
Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."
Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.
"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.
"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.
Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~
Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~
Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~
Happy Reading ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Rumah baru Seoul Lee
Pagi itu. Fakultas Kedokteran.
Ruang praktikum terasa lebih panas dari biasanya. Atau mungkin itu hanya perasaan Adea yang tidak bisa berkonsentrasi. Sejak tadi pagi, pikirannya melayang ke mana-mana. Tidak ke tulang femur, tidak ke sistem kardiovaskular, tidak ke ujian pekan depan.
Tapi ke tadi malam.
Ke bibir Angga.
Ke tangannya yang dingin menyentuh punggungnya.
Ke pelukan yang tidak pernah ia sadari selama ini sangat ia butuhkan.
Adea menghela napas untuk kesekian kalinya. Di tangannya, tabung reaksi berisi cairan bening. Seharusnya ia menambahkan reagen A, tapi tangannya malah mengambil reagen C.
"Dea, itu reagen C!" Eli mencolek lengannya. "Lo mau ngeledakin lab?"
"Hah?" Adea menatap tabung di tangannya, lalu menatap botol reagen. "Oh... iya. Salah."
Ia mengganti botol dan meneteskan reagen A dengan gerakan otomatis. Matanya kosong.
Eli menyipit. "Lo kenapa sih? Dari tadi melamun mulu. Kayak orang lagi jatuh cinta."
Adea tersedak. "Apaan sih gue gak jatuh cinta!"
"Iya iya. Tapi muka lo kayak orang abis nonton film romantis. Merah terus."
"Panas."
"Di sini dingin, Dea. AC nyala 16 derajat."
Adea tidak menjawab. Ia menepuk jidatnya sendiri dengan pelan, tapi cukup untuk membuat Eli semakin curiga.
Fokus, Dea. Fokus. Jangan mikirin Angga. Jangan mikirin ciuman tadi malam. Jangan mikirin-
"Dea, lo nambahin reagen B dua kali."
"ANJIR!"
Jam istirahat.
Adea duduk di bangku taman dekat gedung kedokteran. Kali ini tidak sendirian. Eli ada di sampingnya, sedang mengunyah roti isi cokelat sambil bercerita tentang pacarnya yang lupa ulang tahun.
Tapi Adea tidak mendengar.
Matanya menatap langit, tapi yang ia lihat adalah wajah Angga dari jarak sangat dekat. Mata sayu itu. Bibir tebal yang-
"Dea."
"Hmm?"
"Gue tanya, lo mau beli minum apa?"
"Terserah."
"Terserah? Lo gak pernah bilang terserah." Eli berdiri. "Gue ambilin es teh manis aja. Biar lo sadar."
Eli pergi ke kantin. Adea kembali sendirian.
Ia menunduk, memeluk lututnya, dan memejamkan mata.
Angga.
Pria itu semalam menciumnya. Bukan ciuman biasa. Ciuman yang dalam. Yang penuh nafsu. Yang membuat Adea merasa seperti orang yang sangat diinginkan.
Dan ketika pagi tiba, Adea terbangun sendirian.
Tapi ia tidak berteriak seperti kemarin.
Ia hanya berbaring sebentar, menatap sisi kasur yang kosong, meraba kehangatan yang tersisa di seprai. Lalu ia bangun, mandi, mengganti pakaian, dan bahkan memakai make up tipis. Sesuatu yang jarang ia lakukan.
Kenapa aku pakai make up? pikirnya saat menyisir rambut di depan cermin. Untuk siapa?
Ia tahu jawabannya.
Tapi ia tidak mau mengaku.
Di meja makan pagi tadi, Seoul Lee menyambutnya dengan senyum cerah.
"Selamat pagi, Adea! Cantik banget hari ini. Make up?"
"Cuma bedak dikit."
"Dikit aja udah keluar bedanya. Kamu tuh cantik alami sebenernya."
Adea tersenyum kecil. Tapi matanya mencari ke dapur.
Angga berdiri di depan kompor seperti biasa. Kemeja lengan panjang abu-abu, digulung di siku. Celemek biru. Rambut sedikit berantakan.
Pria itu menoleh.
Matanya bertemu dengan mata Adea.
Dan Adea merasakan sesuatu yang aneh. Tatapan Angga berbeda pagi ini. Lembut seperti biasa, tapi ada yang lain. Ada intensitas yang tidak ada sebelumnya.
Matanya tidak hanya menatap wajah Adea.
Matanya tertuju ke bibir Adea.
Lebih lama dari yang seharusnya.
Adea merasakan pipinya memanas. Ia segera menunduk, duduk di kursi, dan mengambil piring yang sudah terisi nasi. Tangannya sedikit gemetar saat memegang sendok.
"Makan," ucap Angga datar. Tapi suaranya sedikit serak.
"Iya," jawab Adea pelan.
Sepanjang sarapan, Angga beberapa kali menatap bibirnya. Adea tahu. Ia merasakannya. Dan setiap kali itu terjadi, ia menggigit bibir bawahnya. Kebiasaan gugup yang tidak bisa ia kendalikan.
Dia ingat semalam, pikir Adea. Dia ingat kita ciuman.
Dan dia gak bilang apa-apa.
Istirahat kedua. Fakultas Kedokteran.
"Adea!"
Seoul Lee.
Pria berambut ungu itu berdiri di dekat gerbang, melambai dengan semangat. Jaket denimnya sedikit kebesaran, senyumnya lebar.
Adea menghampiri.
"Seoul? Kok bisa ke sini?"
"Aku jemput kamu. Nanti sore kamu denganku saja."
Adea mengernyit. "Kemana?"
"Ke rumah baruku! Aku sudah menemukan tempat tinggal baru. Kontrakan kecil di dekat pantai. Harganya murah, pemiliknya ramah, dan ada dua ekor kucing liar yang suka mampir." Seoul bicara cepat, matanya berbinar. "Aku mau pindah hari ini."
"Kan belum seminggu?"
"Tapi aku nggak mau jadi pengganggu." Seoul tersenyum, tapi matanya tiba-tiba menjadi lebih serius. "Angga juga kasihan tidur di sofa mulu."
Adea terdiam.
Tidur di sofa.
Dua malam terakhir, Angga tidak tidur di sofa. Dua malam terakhir, Angga tidur di kasurnya. Di sampingnya. Memeluknya.
Tapi Seoul tidak tahu itu.
"Angga bilang apa?" tanya Adea hati-hati.
"Dia nggak ngizinin aku bawa kamu." Seoul menghela napas. "Makanya aku ajak kamu aja langsung. Tolong ikut aku ya, bilang ke Angga kalo kamu pengen ikut ke rumah baruku. Biar dia gak marah."
Adea tersenyum kecil. Seoul Lee baik. Terlalu baik. Ia ingin pindah agar tidak merepotkan, tapi ia juga tidak ingin Adea merasa terpaksa.
"Aku bakal tetep ke rumah kamu, Seoul."
"Serius? Makasih, Dea!"
"Tapi..." Adea mengangkat satu jari. "Aku bareng Angga."
Seoul Lee terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum lebar. Senyum yang membuat mata sipitnya hampir tertutup sempurna.
"Arasseo. Aku terima. Yang penting kamu datang."
Sore itu. Rumah mereka.
Angga baru saja selesai mandi ketika Adea masuk ke ruang tamu dengan tas kecil di tangan.
"Mau ke mana?" tanya Angga sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Ke rumah baru Seoul. Dia ngajak."
Angga berhenti mengeringkan rambut. "Siapa yang ngajak?"
"Seoul. Tadi dia ke kampus."
"Gua gak tahu."
"Ya makanya sekarang lo tahu." Adea duduk di sofa sambil memeluk tas kecilnya. Cumi langsung melompat ke pangkuannya. "Lo ikut, kan?"
Angga menatap Adea. Gadis itu terlihat berbeda sore ini. Tidak seperti biasanya yang selalu manja dan bergantung padanya. Ada kemandirian yang tiba-tiba muncul. Atau mungkin sudah lama ada, hanya saja Adea pandai menyembunyikannya.
"Gua ikut," jawab Angga akhirnya. "Tunggu gue ganti baju."
"Cepet."
"Iyaa."
Angga berbalik menuju kamarnya. Di lorong, ia berpapasan dengan Seoul Lee yang baru keluar dengan koper silver-nya.
"Lu ngajak Adea ke rumah baru tanpa bilang gue?" tanya Angga pelan.
"Biar surprise," jawab Seoul sambil tersenyum manis.
"Lu memang selalu rese."
"Makanya aku pindah. Biar kamu gak kesel terus sama aku."
Angga tidak menjawab. Ia masuk ke kamar dan mengganti pakaian dengan kemeja hitam polos, jaket kulit, jins. Penampilan yang sama seperti biasa.
Tapi sebelum keluar, ia berhenti di depan cermin.
Ia menatap bibirnya sendiri.
Tadi malam.
Ia menghela napas dan keluar kamar.
Perjalanan menuju rumah baru Seoul Lee.
Angga membonceng Adea seperti biasa, motor Ninja hitam, helm biru, pelukan erat dari belakang. Tapi pelukan Adea terasa berbeda sore ini. Lebih erat. Lebih sadar.
Seoul Lee di depan dengan Aerox putihnya, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan mereka tidak terpisah.
"BELOK KANAN!" teriak Seoul.
"GUE LIAT!" teriak Angga balik.
Adea tertawa kecil di belakang Angga. Tawanya pelan, hanya cukup untuk Angga dengar.
"Adea."
"Hmm?"
"Lu kenapa? Dari tadi diem aja."
"Gue mikir."
"Mikir apa?"
Adea menggigit bibir bawahnya. "Nanti aja cerita. Atau gak usah cerita."
Angga tidak memaksa. Ia hanya mengeratkan pegangannya di setang dan melaju mengikuti Seoul yang mulai masuk ke jalan sempit menuju pantai.
Sore itu. Villa Seoul Lee.
Mobil tidak masuk ke gang sempit seperti yang Adea bayangkan. Rute yang Seoul Lee tunjukkan ternyata mengarah ke kawasan perbukitan di selatan Lombok, di mana jalanan berkelok dan pepohonan rindang menutupi langit. Angga mengikuti Aerox putih Seoul dengan setia, sesekali mengerem saat tanjakan terjal.
Lalu, setelah melewati gerbang besi hitam yang terbuka otomatis, mereka memasuki sebuah kawasan yang membuat Adea membelalak.
Bukan kontrakan.
Bukan rumah petak.
Villa.
Dua lantai. Dinding putih dengan aksen kayu jati. Halaman luas berisi taman bergaya Jepang. Ada kolam koi kecil, batu-batu andesit yang disusun rapi, dan pohon sakura palsu yang sengaja didatangkan dari luar negeri. Di belakang, suara ombak terdengar samar.
Villa itu berdiri di tepi tebing, menghadap langsung ke laut lepas.
"Ini... kontrakan murah yang lu maksud?" tanya Angga setelah mematikan mesin motor. Matanya menyusuri bangunan di depannya.
Seoul Lee turun dari motornya dengan gaya santai. "Murah. Dua puluh juta sebulan."
"Dua puluh juta?" Adea hampir jatuh dari jok belakang. "Itu murah buat elu?"
"Di Jakarta, villa kayak gini empat puluh juta." Seoul Lee mengangkat bahu. "Jadi ini murah."
Angga menghela napas panjang. "Orang kaya mah gitu."
Seoul Lee tertawa. "Aku kan anak konglomerat. Jangan lupa."
Bersambung...