Novel ini merupakan lanjutan dari Novel:
Chase the Dreams & Petualanganku sebagai hantu di dunia lain
Berawal dari sebuah legenda yang menjelaskan:
Mereka bilang, dulu kami sama
Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi
Lalu datanglah Hari Keretakan
Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya
Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti
Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita
Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka
Suara mereka tak akan menggema seperti para pendahulu mereka. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata dan tidak kasatmata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu sahabat lama
Sany duduk membeku, matanya menyisir setiap detail wajah orang asing itu, cara dia menggigit bibir bawah saat kesal, warna mata yang seharusnya terasa familiar.
Tapi tak ada yang muncul dalam ingatannya, seolah-olah dia baru bertemu dengan orang itu.
Orang asing itu menghela napas panjang, tangan kanannya menggaruk-garuk lengan kirinya seperti kebiasaan lama.
"Kau selalu begini," keluh orang asing dengan suara campuran antara kesal dan sedih.
Seolah-olah, dia sudah sering menghadapinya.
"Maaf, apa kita saling kenal?" tanya Sany yang tampak kebingungan.
Wajah orang asing itu berubah drastis, dari kesal menjadi terluka dalam. Raut wajah orang asing itu runtuh alih-alih marah, yang tersisa hanya kepedihan yang dalam.
"Jadi kau benar-benar lupa dengan sahabatmu sendiri?" tanya orang asing dengan suara yang terdengar lesuh.
"Sahabat? Tapi... aku tidak punya kenalan yang lebih tua dariku," jawab Sany sambil berusaha mengingatnya.
Alih-alih jawaban, yang keluar justru pertanyaan.
Orang asing itu menghela nafas, lalu perlahan mengulurkan tangan bersarung kulit putih dengan gerakan yang berharap.
Sany membeku, matanya menatap kosong ke tangan bersarung yang terulur. Setiap jahitan sarung kulit itu tampak familiar, tapi kenapa? Sany masih tidak mengingatnya.
"Berdirilah, ada yang mau kubicarakan," ucap orang asing dengan suara lembut seperti angin malam.
Sebuah transformasi mengesankan, dari kemarahan yang meledak menjadi ketenangan yang terkendali.
Orang ini jelas-jelas terlatih menahan gejolak hatinya.
Sany mulai mengamatinya dengan seksama, dimulai dari nafasnya, bahunya, dan matanya.
Ia masih ragu, tangannya melayang di udara sebelum akhirnya menyentuh sarung tangan orang asing itu. Sentuhannya terasa dingin dan kaku, seperti menyentuh batu.
Walaupun sudah dibangunkan dari istirahatnya, Sany masih menganggapnya sebagai orang asing.
"Perkenalkan, namaku Mystera," orang asing memperkenalkan dirinya dengan sopan.
Sany mengerutkan kening, ia reflek berhati-hati terhadap orang itu.
Meski Mystera telah bersikap sopan, namun ada yang salah dengan matanya yang tidak berkedip, hal itu membuat Sany merinding.
"Aku Sany," balas Sany secara singkat tanpa memberitahu nama belakangnya.
Tanpa basa basi, Mystera langsung menanyakan sesuatu.
"Apa tujuanmu ke sini?" tanya Mystera yang penasaran, namun suaranya lembut tapi menusuk.
Sany tersentak dengan pertanyaan itu, alih-alih menjawab, Sany membalasnya dengan pertanyaan.
"Untuk apa kau peduli? Itu bukan urusanmu," jawab Sany dengan jari-jarinya mengetuk lengan dengan ritme gugup.
Tawa Mystera menyambar, Bukan tawa biasa tapi gelak yang dalam, bergema seperti guntur di gua sempit, terlalu keras untuk jarak sedekat ini.
Sany yang berada di dekatnya, merasa bingun dengan hal itu. Ia merasa tidak senang ditertawakan seperti itu.
"Apa yang lucu!?" tanya Sany dengan nada kesal.
Tawa Mystera terhenti seketika seperti suara radio yang diputus arus.
Mystera berusaha menenangkan diri, namun senyum tipisnya masih tersisa seperti bekas pisau.
"Maaf-maaf, soalnya lucu tadi," jawab Mystera yang suaranya masih bergetar oleh sisa tawa.
Sany merasakan panas naik ke pipinya.
"Kau pikir ini lucu!?" tanya Sany dengan nada yang keras.
Mystera menghela nafas, seolah-olah ingin menjelaskan sesuatu.
"Tentu saja tidak, lagian kau dan aku adalah Any, kita tidak seharusnya berada di sini," jawab Mystera sambil memberitahu sesuatu.
Kata Any itu menggantung di udara seperti asap beracun. Sany merasa kepalanya berdenyut, seolah kata itu mencoba membuka kunci ingatannya.
"Any? Apa itu?" tanya Sany dengan suara kecil.
Mystera tersenyum, tetapi bukan senyum ramah tapi lebih seperti senyum pedang yang siap menyayat.
"Lain waktu akan kuberitahu, yang perlu kau tahu sekarang adalah bahwa keinginan dan ucapan seorang Any bisa menjadi kenyataan," jawab Mystera yang memberitahu hal lain.
Sany tercekat. Sebongkah memori retak di kepalanya.
"Kalau diingat-ingat, sepertinya aku pernah mengalaminya," gumam Sany yang suaranya nyaris hilang sambil menghadap ke arah lain.
Sany memutar tubuhnya perlahan, matanya menyipit menatap Mystera yang berdiri terlalu tegak seperti patung yang hidup.
"Bagaimana kau tahu soal itu?" tanya Sany yang suaranya diaduk oleh rasa ingin tahu dan kecurigaan yang beradu.
Mystera tak langsung menjawab, jarinya kini menyentuh pelipisnya sendiri.
"Jika kau ingin tahu, ikutlah denganku," jawab Mystera yang berusaha membujuknya.
Sany terdiam sejenak, angin lewat berbisik di telinganya seolah memperingatkannya. Darahnya berdebar kencang, tapi rasa ingin tahunya lebih besar dari ketakutan.
"Baiklah aku ikut, tapi kau harus membantuku menyelesaikan tantangan di festival ini" ucap Sany dengan suara tegas namun dibayangin keraguan.
Melihat Sany yang mulai mengujinya, tanpa ragu dia menjawab.
"Tentu saja akan kubantu," kata Mystera yang menerima persyaratan itu tanpa ragu.
Matanya tidak lepas dari Mystera, mencari tanda-tanda pengkhianatan atau tipu muslihat.
Mystera tidak terkesan. Dia malah tersenyum lebar, seperti predator yang sudah menunggu lama.
Sany yang mengetahuinya, hanya bisa mengawasinya.
"Ayo berangkat," kata Sany yang mulai melangkahi tangga.
"Kenapa melalui tangga? Kita bisa keatas dengan keinginan kita," ucap Mystera yang tidak ingin mengikutinya.
Sany berhenti melangkah dan langsung berbalik arah.
"Kau bilang kita bisa naik hanya dengan keinginan?" tanya Sany dengan suara bergetar antara takjub dan tidak percaya.
"Tentu, karena kita adalah Any, kenapa kau masih berpikir dirimu manusia?" jawab Mystera yang kembali bertanya.
Alih-alih jawaban, Sany malah membalasnya dengan bertanya.
"Kalau begitu, mengapa tidak kau memaksa ingatanku kembali melalui keinginanmu?" tanya Sany dengan nada tegas.
Mystera tertawa pendek, tapi itu adalah suara yang hampa, seperti gema di ruang kosong.
"Aku sudah melakukannya, keinginan kita tidak mempan pada sesama Any.
"Kita adalah cermin yang saling memantulkan takdir. Memaksa ingatanmu sama saja dengan memecahkan cermin itu," jawab Mystera sambil menjelaskannya.
"Lalu, bagaimana kau menemukanku?" tanya Sany yang penasaran.
Mystera tersenyum samar. Tangannya bergerak lambat, seolah menghormati sebuah ritual kuno, menyelipkan jari ke dalam saku celananya.
Dia mengeluarkan sebuah objek yang terlihat seperti bukan kompas biasa.
Benda itu berdenyut dengan cahaya redup, jarumnya bukan menunjuk utara, tetapi berputar liar sebelum akhirnya mengarah tepat ke arah Sany.
"Dengan ini," jawab Mystera dengan suara bergetar yang penuh kekaguman.
Dia membalikkan kompas, memperlihatkan ukiran simbol-simbol Any yang berdenyut lembut.
Sany merasakan sesuatu pada kompas itu, seperti ada benang tak terlihat yang menghubungkannya dengan kompas itu.
Sany menghela napas, melepaskan semua keraguan seperti mantel yang basah.
"Sudah cukup bicaranya, sekarang aku akan mencoba naik ke puncak menara ini hanya dengan keinginanku," ucap Sany sebelum melakukannya.
Sany memejamkan mata mencoba merasakan kekuatan yang selama ini terpendam dalam dirinya.
Dalam benaknya, ia mulai membuat keinginan.
Saat dia membuka mata lagi, kakinya sudah berpijak di atas menara. Angin menerpa rambutnya, dan awan-awan bergerak di bawahnya.
Dia benar-benar ada di sini.
"Aku berhasil, ternyata semudah ini menggunakan kekuatanku," ucap Sany yang suaranya penuh kekaguman dan sedikit tidak percaya.
Dia menatap tangannya sendiri, seolah melihatnya untuk pertama kali. Keyakinannya pada Mystera mulai tumbuh, tetapi yang lebih penting keyakinannya pada dirinya sendiri mulai bersemi.
Mystera sudah berdiri di sampingnya, tersenyum kecil seperti seorang guru yang bangga pada muridnya.
Bersambung...