Namanya Diandra,wanita berusia 27 tahun sudah menikah dengan suaminya yaitu Bagas berusia 30 tahun,dan usia pernikahannya sudah sampai di 4 tahun. Tetapi hingga kini mereka belum dikarunia seorang anak. Diandra dan Bagas bersabar karena mereka percaya semua itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi tiba tiba Diandra merasa ada yang berubah dari suaminya terutama sikap Bagas. Diandra mencoba menepis perasaannya itu dan masih berpikir positif pada suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yasmin Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Protes pada Bagas
Diandra terbangun dari tidurnya disubuh hari. Dan didapati suaminya sudah ada disampingnya terlelap. Entah jam berapa Bagas semalam sudah ada di rumah. Diandra menatap Bagas tapi kemudian segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kekamar mandi. Di kamar mandi Diandra membersihkan tubuhnya,kemudian segera dia mengerjakan sholat subuh saat adzan sudah berkumandang.
Tidak berapa lama Diandra selesai dan memulai aktifitasnya di dapur. Membuatkan suaminya kopi dan juga sarapan.
"Apakah kali ini Bagas mau sarapan dan minum kopi di rumah?" tanya Diandra dalan hati. Diandra takut kecewa lagi saat harus mendengar penolakan suaminya untuk tidak sarapan di rumah.
Selesai dengan pekerjaannya,Bagas pun tampak sudah siap untuk pergi kerja.
"Mas gak sarapan di rumah lagi?" tanya Diandra pelan.
Bagas menatapnya sejenak kemudian mengalihkan pandangannya dari Diandra.
"Enggak"
"Lain kali bilang deh mas biar aku gak usah repot buatkan" Diandra sedikit protes.
"Yaa,maaf aku lupa kalau mau memberitahu kamu" jawab Bagas santai.
Diandra mendekati suaminya,meraih tangan bagas dan menggenggamnya.
"Mas,kenapa sekarang sudah gak mau lagi sarapan di rumah?"tanya Diandra sambil menatap mata Bagas.
Bagas membuang muka dan melepaskan genggaman tangan Diandra kemudian melangkah menuju ke luar rumah tanpa menjawab pertanyaan Diandra. Diandra mengikut dan kali ini nafasnya sedikit berpacu karena menahan rasa kesal,kesal yang sudah lama dia pendam.
"Diam aja sih mas gak mau jawab?" tanya Diandra lagi dengan nada sedikit keras.
"Iya,,aku gak sempat sekarang" akhirnya Bagas menjawab pertanyaan Diandra.
"Kenapa kok gak sempat,mas kan berangkat juga seperti biasanya,dan masih ada waktu untuk sarapan dulu. Sekedar minum kopi aja juga enggak" Diandra mulai protes.
"Apa semua yang aku siapkan sudah tidak enak lagi dilidah mas?"
"Karena lembur mas juga sudah gak pernah makan lagi di rumah,apa yang aku masak sudah gak pernah mas sentuh lagi" Diandra masih terus mencoba mengeluarkan keluh kesahnya pada Bagas.
Terlihat Bagas menghela nafas kemudian duduk dikursi teras dan bersiap memakai sepatu safetynya.
"Gimana aku mau makan di rumah,aku kan selalu pulang malam. Kalau aku menahan lapar supaya aku bisa makan di rumah harus berapa jam aku menahannya" jelas Bagas dan seperti penjelasan yang dibuat buat.
"Tapi bisa kan kamu gak harus lembur setiap hari?,malam minggu pun kamu juga lembur"
"Sebenarnya mas lembur tu buat apa sih? Aku merasa sudah cukup kok kamu beri uang gajimu itu?"
"Memangnya kita gak pengen punya sesuatu yang lebih,gak harus mengandalkan uang gaji" jawab Bagas.
"Bukan begitu mas,tapi aku juga pengen kamu punya waktu buat aku. Sudah 2 minggu ini mas kamu lembur terus,waktu kita semakin sedikit untuk bersama"
"Baru 2 minggu ini kan aku kerja lembur,dulu aku selalu banyak waktu kan buat kamu. Bisa kan sekarang kamu mengerti keadaannya? Toh ini juga buat kita kok"
Diandra menatap Bagas yang terlihat sudah selesai memakai sepatunya.
"Sampai kapan mas? Aku lebih senang dengan keadaan kemarin,aku gak kehilangan waktuku bersama kamu" jelas Diandra dengan nada seperti memohon.
"Sudahlah,,,aku harus segera berangkat kerja. Kamu baik baik di rumah" pamit Bagas benar benar tidak perduli dengan keluhan Diandra.
"Massss,,," Diandra memanggil Bagas dengan suara sedikit keras.
Bagas menghentikan langkahnya yang sudah mulai mendekati motornya.
"Ada apa lagi?"
"Nanti gak lembur kan?,aku pengen malam mingguan sama kamu"
"Gak bisa Di,," jawab Bagas dan kembali membuat kecewa Diandra. Diandra diam dan pasrah dan membiarkan Bagas berlalu pergi dengan motornya. Dan tanpa ciuman yang biasa Bagas berikan sebelum berangak bekerja.
Diandra masuk kedalam rumah mengunci pintu kemudian masuk kedalam kamarnya.
Diambil ponsel yang ada dinakas dan mencari kontak Nina. Tidak lama terdengar sapaan dari ujung ponsel.
*Assalamualaikum Di* sapa Nina.
* Waalaikum salam Nin*
"* Heii kenapa,kayanya lemes banget?*
*Enggak papa Nin,o iya aku mau Kabarin ntar malam jadi ya* jelas Diandra.
*O,,oke. Aku jemput jam berapa?* tanya nina antusias.
*Eeee,,jam 7 aja deh*
*Oke oke,,,* & Bagas sudah berangkat kerja?*
*Sudah*
* Lembur lagi ya*
*Iya,makanya aku telpon kamu*
*Okeee,,,ya Udah sampai nanti malam ya*
*Oke Nin* jawab Diandra. Kemudian telpon sama sama terputus.