Nuraa tersentak, di tangannya ada sebuah undangan pernikahan yang baru saja di kirim oleh seseorang entah siapa, mungkin saja seorang kurir. Nuraa tertegun memandangi 2 nama di bagian depan dari undangan tersebut. 2 nama yang sangat Nuraa kenal, bahkan kedua nama tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
"Bagaimana mungkin? Tidak!" teriak Nuraa.
"Tidak mungkin mereka menikah." Undangan itu pun lolos begitu saja dari tangan Nuraa, bersamaan dengan tubuhnya yang merosot dan luruh ke lantai.
Penasaran dengan kelanjutan kisah Nuraa?
Ikuti terus dengan membaca novel ini yaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Non... sebaiknya non makan dulu ya, bibi gak mau non Nuraa sakit."
"Jawab dulu, Bi... setelah itu aku pasti makan," desak Nuraa.
"Hmmm... bibi gak mengajarkan non untuk berbuat jahat dengan membalas keburukan, tapi terkadang kita harus melakukan hal itu untuk mengetahui maksud dari orang tersebut dan alasan yang mendasari orang tersebut berbuat jahat terhadap kita, Non."
"Dengan begitu kita bisa lebih waspada, kita bisa menentukan sikap kita kedepannya seperti apa dengan orang tersebut, dan setelah non mengetahui maksudnya, pilihan ada di tangan non Nuraa, apakah non mau memaafkan orang tersebut atau memberikan pelajaran agar kedepannya orang tersebut tidak lagi berbuat jahat atau berpikir untuk berbuat jahat dengan non, karena non Nuraa bukan orang yang mudah ditindas."
"Dulu... Evelyn pernah negur aku soal Vivi, Evelyn bilang aku harus hati-hati bersahabat sama Vivi, Evelyn bilang Vivi manipulatif."
"Tapi aku gak percaya, Bi... sebelum keluarga Evelyn bertemu dan mengadopsi Vivi, aku lebih dulu berteman baik dengan Vivi."
"Ya walaupun kami pernah terpisah karena waktu itu aku ikut ayah dan juga bunda pindah ke kota lain."
Setelah mengucapkan hal itu, Nuraa terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Nuraa menghembuskan napasnya dengan kuat, berharap lewat hembusannya tersebut bisa mengurangi rasa tidak nyaman di hatinya.
Nuraa teringat saat pertama kali dirinya bertemu dengan Vivi sampai akhirnya keduanya bersahabat hingga saat ini.
Waktu itu... Nuraa kecil bertemu dengan Vivi yang sedang menjajakan tissue di lampu merah, pertemuan mereka terus berlanjut, Nuraa selalu mendatangi Vivi ke tempatnya berjualan tissue, di temani supir pribadinya setiap pulang sekolah Nuraa selalu menyempatkan waktu untuk bertemu dan bermain dengan Vivi yang kemudian ia jadikan sahabatnya tersebut.
Nuraa merasa kasihan dan juga bangga dengan perjuangan Vivi saat itu, di usia yang seharusnya bersekolah seperti dirinya, Vivi justru berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan sang ibu.
Vivi hanya tinggal berdua dengan ibunya, sementara ayah Vivi pergi begitu saja saat tau istrinya di vonis lumpuh akibat kecelakaan.
Sampai akhirnya mereka terpaksa berpisah karena Nuraa harus ikut kedua orang tuanya ke kota lain untuk mengembangkan bisnis kuliner milik bundanya dan juga cabang hotel baru milik ayahnya.
Nuraa kehilangan komunikasi dengan Vivi selama beberapa tahun dan bertemu kembali saat Nuraa, juga kedua orang tuanya kembali ke kota asal mereka.
Nuraa sempat mencari keberadaan Vivi di rumah lamanya yang ia ketahui, ternyata Vivi sudah tidak ada lagi di sana, tetangga Vivi mengatakan jika Vivi di adopsi oleh keluarga kaya.
Sampai akhirnya takdir mempertemukan Vivi dan juga Nuraa, ternyata bundanya Nuraa mendaftarkan Nuraa masuk ke sekolah menengah atas yang sama dengan Vivi dan juga Evelyn, keluarga angkat Vivi.
Nuraa senang ketika melihat banyak perubahan pada sahabatnya tersebut, pakaian yang bagus, kulitnya yang bersih dan terawat, bahkan bekas-bekas luka di kaki Vivi pun hilang tak bersisa.
Nuraa turut bahagia saat Vivi menceritakan keluarga angkatnya sangat baik dan penuh perhatian.
"Non... kok ngelamun, nanti kesambet loh," bi Sarti menyadarkan Nuraa yang dilihatnya seperti sedang melamun.
Padahal Nuraa sedang teringat pertemuan pertamanya dengan Vivi.
"Aku gak ngelamun bi, yaudah yuk kita makan sama-sama, bibi pasti belum makan juga, kan?" Nura berdiri dari duduknya, mengajak bi Sarti untuk menggenggam tangannya dan berjalan bersama ke arah ruang makan.
"Bibi udah makan non, non Nuraa aja yang makan." Bi Sarti menarik kursi untuk Nuraa duduk.
"Yah... aku makan sendirian lagi dong bi, bibi kenapa gak nungguin aku sih, kita makan sama-sama di sini," keluh Nuraa.
"Bibi temenin aja ya, ayok non Nuraa makan," balas bi Sarti merasa kasihan dengan Nuraa.
"Kenapa gak dimakan, Non?" Rasanya gak enak ya?" tanya bi Sarti, melihat Nuraa hanya mengaduk-aduk nasinya sejak tadi.
"Aku gak napsu makan bi." Nuraa menggeser piringnya ke samping.
"Yasudah, kalo nanti non Nuraa lapar, bangunin bibi ya, biar bibi hangatkan lagi makanannya."
"Iya bi, aku balik ke kamar aja," Nuraa berdiri dan berjalan dengan gontai menuju kamarnya.
Bi Sarti memandang Nuraa dengan penuh iba, ia merasa kasihan dan juga ikut bersedih atas apa yang menimpa anak majikannya tersebut.
Di usia muda Nuraa kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu bersamaan, Nuraa hanya memiliki seorang paman, dan pamannya tersebut tinggal di luar negeri bersama anak dan juga istrinya.
Sekarang Nuraa justru di hadapkan lagi oleh kenyataan pahit calon suaminya yang justru menikah dengan sahabatnya sendiri.
...****************...
"Vivi... jelasin sama kakak kenapa bisa kaya gini?"
"Kevin bukannya pacar Nuraa sahabat kamu? Terus kenapa kamu menikah dengan Kevin?"
"Ck... kan udah di bilang adik angkat kesayangan kakak itu hamil di luar nikah, bikin malu nama keluarga aja, untung bukan aku yang kaya gitu, kalo aku, yakin sih kalian bakalan membuang aku ke tempat terpencil," sergah Evelyn menyela ucapan kakanya.
Saat ini Vivi sedang berada di rumah keluarga angkatnya, mendengar kabar salah satu adiknya akan menikah, Aska yang sedang berada di luar negeri memutuskan untuk segera pulang.
Walaupun Vivi hanyalah adik angkatnya, tetapi Aska sangat menyayangi Vivi, entah kenapa pertama kali melihat Vivi rasa kasihan perlahan-lahan menjelma menjadi rasa sayang yang begitu besar.
Belum lagi tubuh Vivi yang saat itu sangat memprihatinkan, fisiknya pun tidak sekuat Evelyn, Vivi mudah sekali jatuh sakit.
Karena hal tersebutlah, Vivi mendapatkan perhatian lebih dari kakak dan juga kedua orang tua Evelyn.
Terkadang mereka tanpa sadar bersikap tidak adil terhadap Evelyn, mereka lebih memperhatikan Vivi ketimbang Evelyn.
Syukurnya Evelyn bukanlah anak yang lemah, ia bahkan tau jika Vivi adalah seorang yang manipulatif.
Evelyn beberapa kali berusaha memberitahukan kepada kedua orang tuanya juga sang kakak, tapi selalu berakhir Evelyn yang di tuduh cemburu dan juga iri terhadap Vivi.
Sejak saat itu, Evelyn tidak peduli lagi, yang terpenting bagi dirinya adalah Vivi tidak membahayakan kedua orang tuanya juga sang kakak.
"Jawab kakak, Vivi!," ucap Aska dengan suara tegasnya.
"Ka... sudahlah, semuanya sudah terlanjur, di sini adik kamu korbannya," sela papah angkat Vivi membela putri angkatnya tersebut.
Mendengar hal itu, Evelyn tersenyum miring, entah pelet apa yang di gunakan oleh Vivi sampai kedua orang tuanya dan juga kakaknya tidak bisa melihat sifat buruk Vivi.
Evelyn teringat saat keduanya masih remaja, waktu itu di sekolah, Vivi di bully oleh teman sekelasnya, karena mengetahui Vivi hanyalah anak angkat di keluarga Evelyn.
Sementara Evelyn berada di kelas yang lain, Evelyn melintasi Vivi begitu saja, saat beberapa teman sekelas Vivi menabrak Vivi dengan sengaja.
Siang harinya Vivi mengadu kalau teman sekelas Evelyn lah yang merundungnya, bahkan Evelyn pun turut serta.
Karena aduan tersebut, Evelyn mendapatkan kemarahan dari kedua orang tuanya dan juga sang kakak yang saat itu masih SMA, uang jajan Evelyn di tahan sampai 1 minggu.
Setelah kejadian itu, Vivi justru menampakkan sifat-sifat buruk lainnya pada Evelyn dan anehnya kakak serta kedua orang tua Evelyn tidak percaya, mereka sudah di butakan oleh rasa iba yang menjelma menjadi kasih sayang terhadap Vivi.
Evelyn tidak perduli akan hal itu, selama masih ada kakek dan juga neneknya yang berpihak dan percaya kepadanya.
"Gak bisa gitu, Pah... masalahnya lelaki brengsek itu pacar sahabat Vivi."
"Bahkan mereka berdua mau menikah, kan? Kamu sendiri yang cerita beberapa waktu lalu."
"Terus sekarang justru kamu yang menikah dengan Kevin, apa kamu gak mikirin perasaan Nuraa, Vi?" cecar Aska.
"Kalo kamu menikah dengan Kevin, biar kakak yang akan bertanggung jawab atas kekacauan yang kamu buat di hidup Nuraa, kakak akan menikahi Nuraa," ujar Aska dengan mantap.
"Tapi, Kak...."
Bersambung...