Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sedangkan di dimensi lain, malam itu terjadi hujan badai mengguncang Kekaisaran Qin. Petir saling menyambar dengan begitu keras, suara guruh menggelegar di langit dan angin kencang menderu seakan-akan langit seperti sedang marah.
Istana megah yang berdiri dengan kokok pun tampak bergetar, seolah menyadari bahwa malam ini bukanlah malam biasa.
Di dalam ruangan istana, tepatnya di kediaman permaisuri, jeritan seorang perempuan terdengar pilu namun juga seperti penuh perjuangan.
"AHHH...!!!" teriak Permaisuri Mei Lin. Permaisuri agung Kekaisaran Qin, tengah berjuang untuk melahirkan sang bayi di atas ranjang emas yang berhiaskan naga dan phoenix.
Para tabib wanita kekaisaran dan pelayan sibuk berlarian. Sebagian ada yang menyiapkan ramuan dan sebagian lagi ada yang mencoba menenangkan permaisuri.
Keringat dingin terus keluar membasahi wajah sang permaisuri. Dan ditangannya, ia menggenggam sebuah kain sutra dengan kuat.
"Yang Mulia, mohon bertahan sedikit lagi! Bayinya akan segera lahir!" ujar sang tabib utama dengan suara tegas meski wajahnya dipenuhi kecemasan.
Sedangkan di luar kediaman permaisuri, Kaisar Qin Lun berdiri dengan gusar. Ia berjalan mondar-mandir menunggu dengan cemas. Suara guntur masih terus bersahutan, membuat para penjaga istana berbisik, bahwa badai ini adalah pertanda takdir besar.
Dan benar saja, di ejanan terakhir, sang bayi keluar, setelah dipotong tali ari-arinya, bayi itu langsung di pangku oleh sang tabib.
Tapi, bayi itu terdiam, tidak mengeluarkan suara sedikitpun, sehingga membuat para tabib langsung merasa cemas. Bahkan setelah ditepuk beberapa kali pun, ia tetap tidak menangis.
Suasana langsung tegang seketika. Tak lama kemudian, keajaiban mulai terjadi. Dari atas langit muncul cahaya emas menembus atap istana. Cahaya itu sama persis seperti cahaya yang membawa roh Alika Fuji pada saat kematiannya.
Cahaya tersebut melayang perlahan, lalu masuk ke tubuh sang bayi. Beberapa saat kemudian, mata bayi itu mengerjap pelan dan suara tangisan bayi mulai terdengar.
"Uaaa... uaaa... uaaa...!"
Suara tangisan itu terdengar tak biasa. Suaranya nyaring, seolah menggema hingga menembus dinding istana. Bahkan membuat siapapun yang mendengarnya, langsung merasakan getaran di dada.
Di luar kediaman permaisuri, Kaisar Qin Lun bernapas lega, karena suara tangisan bayi mulai terdengar hingga keluar.
Tabib utama segera membersihkan sang bayi sebelum memberitahukan kepada sang kaisar.
Barulah setelah dibersihkan dan dipakaikan baju, tabib lain pun segera memberitahu kaisar. "Yang Mulia Kaisar! Seorang putri telah lahir!"
Kaisar Qin Lun segera masuk dengan wajah penuh haru. Ia langsung menghampiri sang putri dan menggendongnya dengan hati-hati.
Sambil membawa bayi itu, kaisar mendekati permaisuri. Sang permaisuri tersenyum lembut, meski wajahnya tampak lelah.
"Terima kasih sayang, karena telah melahirkan seorang putri yang sangat cantik," kaisar berkata, lalu mencium kening istrinya.
Tiba-tiba, sang bayi membuka matanya - cahaya keemasan memancar sesaat sebelum perlahan meredup menjadi cokelat. Kaisar dan permaisuri yang melihat itu seketika tertegun.
Sang bayi terus mengerjapkan matanya di gendongan sang kaisar. Ia menatap ke arah sang kaisar seperti sedang kebingungan.
"A-aku dimana?" batin sang bayi.
"Kenapa semuanya tampak aneh," batin sang bayi yang masih dengan kebingungannya.
Ia pun terus menggeliatkan badannya untuk melihat ke sekeliling. "Mengapa mereka semua menggunakan pakaian kuno?"
"Uaaa... uaaa... uaaa...!"
"Kok suaraku jadi aneh, seperti rengekan bayi. Jangan-jangan..." sang bayi menggerakkan tangannya, dan melihat tangannya. Ia terkejut ketika melihat tangannya menjadi kecil.
"Aku berpindah ke tubuh bayi?!"
Bayi itu terdiam cukup lama setelah melihat tangan mungilnya. Hatinya berdegup kencang. "Tidak salah lagi.... aku ingat kalau aku sudah mati dalam misi penangkapan mafia itu. Dan sekarang... aku hidup lagi. Tapi kenapa dalam tubuh bayi?!" batinnya menjerit gemetar.
Meskipun ia ingin berteriak, tapi yang keluar hanyalah rengekan bayi. "Ya Tuhan... aku, Alika Fuji, seorang jenderal militer, kini hidup kembali menjadi seorang bayi yang bahkan tidak bisa berbicara ataupun berdiri. Sungguh ironis sekali hidupku!"
Permaisuri yang melihat putrinya merengek, tersenyum lembut, meski wajahnya masih terlihat pucat pasi karena lelah sehabis melahirkan. "Lihatlah, Yang Mulia... putri kecil kita membuka matanya. Seakan-akan ia sudah mengerti keberadaan kita."
Kaisar Qin Lun menatap putrinya dengan penuh kebanggaan. Ia mendekap tubuh bayi itu dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya.
"Putri kecilku... kau lahir di malam hujan badai yang besar dengan cahaya langit menyelimuti dirimu. Itu pertanda bahwa kau bukan anak biasa. Kau adalah cahaya bagi masa depan Kekaisaran Qin."
Para tabib termasuk tabib utama serta para pelayan menundukkan kepalanya, seolah mengamini kata-kata sang kaisar. Beberapa dari mereka bahkan saling berbisik, bahwa bayi ini akan ditakdirkan untuk membawa perubahan besar.
Permaisuri mengangkat tangannya dengan lemah, mengelus pipi bayi itu. "Yang Mulia... sudahkah Anda memikirkan nama untuk putri kecil kita?"
Kaisar mengangguk pelan dan tatapannya tak beralih sedikitpun dari bayi kecil itu.
"Aku ingin.. ia memiliki nama yang membawa arti cahaya dan harapan." Masih menatap sang bayi, kaisar pun melanjutkan ucapannya, "Bagaimana jika... Ling Xi, Qin Ling Xi? Yang artinya, cahaya fajar spiritual yang lahir untuk menerangi dunia dari Kekaisaran Qin."
Permaisuri tersenyum haru, matanya pun mulai berkaca-kaca. "Ling Xi... nama yang sangat indah, Yang Mulia. Semoga putri kecil kita tumbuh menjadi secercah harapan itu."
Bayi yang kini dipanggil Ling Xi menatap kedua orang tuanya. Dalam batinnya, Alika Fuji terdiam sejenak, lalu tersenyum dalam hati. "Jadi... nama baruku sekarang adalah Ling Xi. Baiklah, kalau ini memang takdirku, aku akan menjalani kehidupan baruku di dunia ini."
Tangisan bayi pun kembali terdengar, kali ini lebih pelan dan terdengar seperti gumaman kecil. Kaisar dan permaisuri menatapnya dengan penuh cinta. Tak tahu saja bahwa di balik tubuh mungil itu, jiwa seorang jenderal perkasa telah lahir kembali.
to be continued...
Semoga suka...
jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, vote or gift dan subscribe...
Terima kasih 😊