NovelToon NovelToon
Tangan Kasar Suamiku

Tangan Kasar Suamiku

Status: tamat
Genre:Pelakor / Poligami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:629.1k
Nilai: 4.7
Nama Author: Linda Pransiska Manalu

Laura, adalah seorang menantu yang harus menerima perlakuan kasar dari suami dan mertuanya.

Suaminya, Andre, kerap bertangan kasar padanya setiap kali ada masalah dalam rumah tangganya, yang dipicu oleh ulah mertua dan adik iparnya.

Hingga disuatu waktu kesabarannya habis. Laura membalaskan sakit hatinya akibat diselingkuhi oleh Andre. Laura menjual rumah mereka dan beberapa lahan tanah yang surat- suratnya dia temukan secara kebetulan di dalam laci. Lalu laura minggat bersama anak tunggalnya, Bobby.

Bagaimana kisah Laura di tempat baru? Juga Andre dan Ibunya sepeninggal Laura?

Yuk, kupas abis kisahnya dalam novel ini.
Selamat membaca!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3. Irina.

"Jika cinta bagimu hanya sebatas kamu butuh. Alangkah munafiknya saat kau menoreh tinta emas dihati yang lain.

Entah, untuk alasan apapun, jiwamu telah mati sejak hari itu."

Masih cukup pagi untuk menerima, kedatangan tamu di hari ini. Jika hanya mau sekedar bertandang. Di saat Laura tengah sibuk berkutat di dapur dengan alat tempur masaknya. Tiba-tiba bel berdering.

"Siapa, tamu pagi-pagi begini?" batin Laura seraya melepas celemeknya. Lalu mematikan kompor. Karena dia hendak menggoreng ikan, jadi terpaksa dia matikan. Mana ibu mertua atau Luna tidak mendengar jeritan bel yang berulang ditekan.

"Iya, sebentar," sahut Laura dengan langkah tergopoh.

Klik....

Suara pintu terbuka. Laura kaget saat melihat seraut wajah asing dihadapannya.

"Anda siapa?" tanya Laura kaget sekaligus heran.

"Apa benar ini rumah Andre, atau Ibu Maya?" tamu wanita itu bertanya dengan sedikit angkuh.

"Ya, benar. Anda siapa dan dari mana?"

"Apa Bu Maya, ada?" sang tamu mengabaikan pertanyaan, Laura. Seraya memanjangkan lehernya untuk menjangkau suasana dalam rumah, karena pandangannya terhalang tubuh, Laura.

Laura, menatap tamunya dari ujung kaki hingga kepala. Sikap tamu itu sungguh tak sopan, bertamu ke rumahnya. Sepertinya dia sudah kenal betul dan akrab denga ibu mertuanya. Apakah tamu ini kerabat dari mertuanya?

"Aku tidak ada urusan dengan kamu, aku hanya mau bertemu Andre dan Bu Maya!"

"Saya istri Andre," ucap Laura. Berharap tamu itu akan beubah sikap.

Wajah sang tamu berubah masam. Sikap angkuhnya masih bertahan setelah mendengar ucapan Laura.

"Laura, kamu ngapain disana. Siapa yang datang, pagi-pagi begini?" teriak Bu Maya dari dalam rumah.

Mendengar suara Bu Maya, sang tamu langsung menyahut.

"Tante, saya Irina!" Bu Maya terkejut mendengar teriakan itu. Irina adalah mantan pacar Andre, yang sengaja ia undang untuk datang ke rumahnya. Hendak membalas menantunya itu.

"Kamu Irina, mari masuk. Laura, kenapa tamu istimewa kita kau biarkan berdiri di depan pintu." Bu Maya mendorong Laura supaya menyingkir dari pintu, lalu menarik tangan Irina supaya masuk ke rumah.

"Apa khabar, Irina. Tante kangen banget sama kamu. Mari masuk." sambut Bu Maya dengan hangat. Tidak peduli dengan tatapan heran Laura.

"Laura, ngapain kamu masih berdiri di situ, ayo buatkan minum untuk tamu ibu." Laura, memilin jemarinya, saat melihat sikap mertuanya menyambut tamu yang menurutnya sangat tidak beretika itu.

Namun, Laura tidak berani protes. Laura hanya diam dan bergegas ke dapur. Untuk membuatkan minuman untuk tamu mertuanya. Laura mengambil tempat gula, ternyata stoplesnya sudah hampir kosong. Palingan cukup untuk dua orang saja.

Laura bingung saat hendak menyeduh teh manis. Apakah dia cuma menyeduh untuk dua orang saja. Bagaimana kalau nanti kalau suaminya ikut nimbrung. Gak mungkin tidak membuatkannya juga minuman.

Laura mengintip dari balik gorden pemisah ruang antara ruang tamu dan dapur. Alangkah kagetnya, Laura saat melihat suaminya memeluk Irina, akrab sekali.

Melihat adegan itu, Laura melongo. Sungguh suaminya tidak menjaga perasaannya. Seolah menganggapnya tidak ada di rumah ini.

Mendadak timbul ide didalam pikiran, Laura untuk membalas perlakuan suami dan mertuanya.

Bergegas Laura, menyeduh tiga gelas teh manis. Meletakkannya di atas meja.

Hati Laura seolah dipilin saat melihat Andre duduk sangat berdekatan sekali. Padahal masih ada kursi lain.

Laura, mengambil tempat duduk dekat ibu mertuanya, seraya memegang nampan.

"Mari diminum tehnya, Irina." Bu Maya, mengajak tamunya menyicipi minuman.

"Huek...!"

"Huek...!"

"Huek...!"

Ketiganya langsung memuntahkan teh manis itu. Bu, Maya melotot ke arah Laura. Begitu juga Andre, yang merasa dipermalukan.

Dengan tatapan tajam setajam pedang, Andre melangkah dan dalam sekejap telah berdiri dihadapan, Laura.

"Plak! Sebuah tamparan keras mengenai pipi Laura. Sensasi panas menjalar di pipinya. Laura mengusap pipinya yang telah memerah. Hatinya sangat sakit sekali.

"Apa-apaan ini, Laura!." geram Andre. Laura melihat ibu mertuanya tersenyum puas, begitu juga tamu mereka.

"Laura...! Jawab!" sambar Andre karena Laura masih bungkam seperti orang bodoh.

"Ada apa, Bu?" sahut Laura tampak bodoh. Dia mengabaikan rasa panas di pipinya. Sepertinya pipinya juga sudah mati rasa karena seringnya kena tampar.

"Kamu taruh apa dalam minuman ini?," hardiknya keras.

"Persediaan gula sudah habis, Bu. Jadi aku campur dengan, garam." sahut Laura datar.

Andre kaget, mendengar ucapan Laura. Matanya nanar memandang ibunya. Juga memaki Laura dalam hatinya atas ketololan istrinya.

"Apa kamu tidak bisa beli di warung dulu?" ucap Bu Maya geram, karena malu dihadapan tamunya.

"Bagaiamana kamu bisa setolol itu, Laura. Menaruh garam di teh manis?" beliak Andre.

"Maaf, Bu. Laura 'kan tidak punya uang. Yang megang uang, 'kan ibu." sahut Laura makin tampak bodoh.

"Dasar tolol, kamu!" hardik Andre menahan geram. Wajahnya serasa ditampar dengan ulah Laura, istrinya.

"Sudah berapa kali ibu katakan, ceraikan saja istri bodohmu itu."

"Salah Ibu juga, kenapa tidak memeriksa kalau stok gula sudah habis."

"Sudah, jangan ribut. Aku tidak apa-apa kok," ucap Irina menengahi keributan kecil itu.

"Tapi, Laura itu telah membuat malu, Ibu."

"Iya, tapi tidak usah diperpanjang lagi, Tante."

Laura mendengus mendengar ucapan manis Irina. Laura berbalik lagi, ke dapur untuk meneruskan pekerjaannya.

Karena masih geram dengan ulah, Laura, Andre menyusul istrinya ke dapur.

Laura pura-pura tidak tau kalau Andre menyusulnya. Laura kembali meneruskan mencuci piring di wastafel.

"Apa maksud kamu, melakukan hal tadi. Sengaja ya, mau membuat aku malu."

"Kenapa malu? Bukankah itu maumu? Kamu yang jahat pada istrimu, kenapa malah menyalahkan istrimu?" sahut Laura dingin. Sepertinya tidak ada rasa takut di hatinya.

"Kamu benar-benar kurang ajar sekarang, ya?"

"Kenapa tidak, bukankah itu hasil perbuatan kamu, Bang. Menurutmu aku ini patung, akan diam terus saat di tindas, gitu? Aku ini manusia, istri kamu! Apa pernah kamu menghargai aku sebagai istrimu?"

"Cukup! Asal kamu tau, aku tidak pernah mencintaimu, sampai kapanpun."

"Hem! Dasar pengecut, jika kamu tidak mencintaiku. Lantas kenapa kamu tidak menceraikan aku saja. Biar kamu bebas mendapatkan siapa saja untuk kau jadikan istrimu!"

"Oke, kalau itu maumu, Aku akan ceraikan kamu saat ini juga."

"Bagus, saat ini juga pergi kalian dari rumah ini!"

"Oh, no! Justru kamulah yang harus pergi dari sini."

"Kamu lupa, kalau rumah ini adalah milikku. Juga saham di dalam kafe itu, setengahnya adalah milikku. Jika kita bercerai!"

Seketika, wajah Andre pucat saat Laura mengingatkan perjanjian itu. Perjanjian yang dibuat oleh mertuanya, saat memberi dana tambahan untuk modal usaha kafe yang di kelola, Andre.

Tentu saja dia tidak lupa akan hal itu. Bahkan rumah yang mereka tempati saat ini adalah, rumah pemberian mendiang mertuanya juga. Atas nama, Laura.

Sekarang, Laura menggunakan itu untuk memukulnya telak di jantung. Ucapan Laura bukan sekedar ancaman baginya. Bukan tidak mungkin Laura nekad menerima berpisah.

Bukankah sudah begitu banyak penderitaan yang mereka timpakan pada Laura. Perempuan yang selalu ia abaikan selama ini? ***

.

1
Lily Gouw
çere aj tinggal pergi.suami durjana.ringan tsngan.mertua jahat.najong🙄🤣
Evitha Win's
dasar pelakor murahan, sdh di kasih krja eeehhh keenakan mau tusuk nyonya dari belakang. mmng enak di pecat tanpa syarat😁😁
Ika Marbun
walaupun saya bacanya sudah tamat duluan ttp Mauliate ya Mak
Ika Marbun
syukur ya ada plafon yg terima penulis novel pemula🤩🫠😚 karena saya juga ada teman yg kisahnya Seperi ini the real life.
Yuningsih Nining
Luna bicara terbuka ah tentang hidupmu nnti ,Ryan berusaha deket²in kamu itu...,suatu klo dia(Ryan) jg klg nya tulus Terima masa lalu kamu dan Ryan benr² nembak kamu , pertimbangan lah....
Linda pransiska manalu
sudah bun, kenapa rupanya Bun?
Yuningsih Nining
halaah si ratih in bau²i bibit pelakor kayaknya ini, iiih gatau diri bangett
Harlina SH
apa sudah tanat cerita Laura dan Luna ini ator
Yuningsih Nining
klo iya itu arumi masih ada,berarti mark di bohongi dong,
Yuningsih Nining
arumi, bukan nya udh meninggal dan kt nya wktu itu yng tersisa sweater nya yng dikit gk ikut kebakar?,
Yuningsih Nining
akhir nya si andre tau klo si Luna ade nya ternyta liar
Yuningsih Nining
ibu sm anak sama² gak nyadar ini... klo yng terjd sekarang bs saja akibat ulah²!nya selama jd suami jg mertua nya laura
Yuningsih Nining
bwntar lagi ilang yng km bangga²in jg famor
Yuningsih Nining
Laura berpura bodoh utk klg andre
otak manipulasi mulu km ndre, nyatanya Laura pinter sukurin kelimpungan ilang Laura sm Boby
rama
serasa di ulang² ceritanya
Omah Tien
kenapa sudah 10 th br ketemu sudah kawin lg kasia laura
Omah Tien
lagian mau bertahan sudah ketauan
Yusan Lestari
seru seruuu bgus 👍
Yusan Lestari
mariii
nay
suka sama karakter mark
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!