bagaimana jika saat izana yang berjalan dengan santai tiba tiba di sergap? dia dipaksa untuk ikut dan setelah dia bangu, tiba tiba tubuhnya menjadi seorang wanita, tidak lama kemudian izana menemukan pemuda yang adalah anggota Toman, dia menguji coba serum yang dia temukan hingga membuat pemuda itu juga sama seperti nya.
"wanita cantik" takemichi
"apa kau lihat lihat!?" izana
"garang sekali" takemichi
"kau sekarang sama denganku" izana
"hah?" takemichi nge-lag
"waaaaaa kau jahat sekali izana!!" takemichi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sit nur Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
dikeluarkan
Mengapa bisa ketahuan?
.
.
.
.
Setelah berpamitan untuk pulang, Takemichi akhirnya berjalan sendirian melewati sebuah gang.
Beberapa berandalan yang mengenalinya sebagai kapten divisi Toman langsung menyingkir dan memberinya jalan.
Namun, Takemichi tidak menyadari bahwa dirinya sedang dibuntuti.
KRAK!
"Eh?"
Takemichi langsung menoleh ke belakang.
"Siapa itu?"
BUGH!
"Ahk!"
Takemichi meringis saat sebuah pukulan menghantam wajahnya.
Tubuhnya langsung terduduk di tanah.
"Hei! Apa-apaan kau!?" bentaknya marah.
"Apa!? Mau marah!?"
Suara itu terdengar penuh amarah.
Takemichi langsung membeku.
"E-eh... Mikey-kun... Draken-kun..."
Tubuhnya mulai gemetar saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"KENAPA KAU BERKHIANAT, TAKEMICHI!?" bentak Mikey.
Ia langsung menarik kerah seragam Takemichi hingga tubuh pemuda itu terangkat dari tanah.
"M-Mikey-kun... apa yang kau bicarakan? Aku tidak berkhianat..." ucap Takemichi dengan suara bergetar.
"LALU APA INI!?"
Mikey semakin marah.
"APA YANG KAU LAKUKAN DI MARKAS TENJIKU!?"
Takemichi membelalak.
"KAU BERHUBUNGAN DENGAN IZANA DAN MEMBUAT TENJIKU TIDAK MENYERANG TOMAN!"
"APA KAU BERNIAT MENINGGALKAN TOMAN DAN BERGABUNG DENGAN MEREKA!?"
"JAWAB, TAKEMICHI!!"
"A-aku tidak pernah menargetkan Toman, Mikey-kun... aku hanya—"
"Hanya apa!?"
Draken ikut berbicara.
"Karena kau akan bergabung dengan Tenjiku?"
"Kau sangat akrab dengan Izana dan anggota Tenjiku lainnya."
"Apakah ini balasan yang kami dapatkan setelah mempercayaimu?"
"T-tapi—"
"Kemari kau."
Mikey langsung menyeret Takemichi.
"Tunggu, Mikey-kun!"
Takemichi mulai panik.
"Aku bisa menjelaskan semuanya!"
"Ini hanya salah paham! Tolong dengarkan aku dulu!"
Namun tidak ada satu pun yang mendengarkannya.
...⚪⚪⚪...
Tak lama kemudian mereka tiba di Kuil Musashi, markas Toman.
Takemichi yang sudah babak belur diseret ke hadapan seluruh anggota.
Sebelumnya Mikey telah menghubungi seluruh petinggi dan anggota Toman untuk segera berkumpul.
Takemichi hanya mampu menunduk.
Pipinya lebam dan matanya memerah karena sempat menangis.
"Semuanya sudah berkumpul?"
Suara Mikey terdengar tegas dan mendominasi.
"Ya!"
"Sudah!"
Beberapa anggota menjawab bersamaan.
"Ada apa, Ketua?" tanya salah satu anggota.
Mikey menunjuk Takemichi.
"Hanagaki Takemichi telah berkolaborasi dengan Tenjiku."
Kerumunan langsung gempar.
"APA!?"
"Dia juga diam-diam keluar masuk markas Tenjiku selama ini."
"Aku melihatnya sendiri."
"Dia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan anggota-anggota Tenjiku."
Takemichi langsung mengangkat kepala.
"Tidak!"
"Aku tidak—"
"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."
Mikey memotong ucapannya.
"Takemichi keluar dari markas Tenjiku yang merupakan musuh kita."
...⚪⚪⚪...
Flashback
Saat itu Takemichi datang ke markas Tenjiku.
Di kejauhan, Mikey dan Draken yang sedang berkendara motor tanpa sengaja melihatnya.
"Oi, Hanagaki." Hanma menyambut Takemichi di depan markas.
"Kenapa kau datang?"
"Minggir, Hanma. Kisaki."
Takemichi berjalan santai.
"Haaah!? Ada apa dengan wajahmu itu! Menyebalkan sekali."
"Minggir!" Kakucho muncul dari belakang.
"Jangan halangi dia masuk."
"Ck. Malesin."
Hanma mendecak.
"Michi, kau mau bertemu Izana?"
"Iya."
"Dia sedang menunggumu."
"Terima kasih, Kaku-chan." Takemichi tersenyum manis.
Hanma langsung terdiam.
Wajahnya perlahan memerah.
"Eh?"
Kisaki menoleh heran.
"Ada apa denganmu?"
"Hanagaki sangat manis."
"..."
"Heeeeh!? Kau belok!?"
Sementara itu, dari kejauhan Draken dan Mikey memperhatikan semuanya.
"Eh?"
Draken terkejut.
"Itu Takemichi, kan?"
"Mana?"
Mikey ikut melihat.
Wajahnya langsung mengeras.
"Dasar pengkhianat."
"Hubungi semua anggota."
"Kumpulkan mereka di markas."
"Baik."
Flashback selesai.
...⚪⚪⚪...
"T-tapi, Mikey-kun..."
Takemichi mencoba berbicara.
"Aku benar-benar tidak berkhianat."
Selama dua minggu terakhir ia menyembunyikan rahasia mengenai dirinya dan Izana.
Namun sekarang semuanya terlihat seperti kesalahpahaman besar.
"KAU MASIH TIDAK MAU MENGAKUI KESALAHANMU!?" bentak Mikey.
Beberapa anggota mulai menatap Takemichi dengan kebencian.
Mereka sangat membenci pengkhianat.
"Biarkan aku menjelaskan, Mikey-kun."
Takemichi menggertakkan gigi.
"Aku benar-benar bukan pengkhianat."
BUGH!
BUGH!
Dua pukulan keras menghantam tubuhnya.
Takemichi langsung tersungkur.
"MULAI HARI INI!"
Suara Mikey menggema di seluruh area kuil.
"HANAGAKI TAKEMICHI!"
"KAU DIKELUARKAN DARI TOMAN!"
Mata Takemichi membelalak.
Tubuhnya bergetar.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Oh ya."
Mikey melangkah mendekat.
Takemichi perlahan mendongak.
KRAK!
WUSSH!
Suara kain yang robek terdengar nyaring.
Seragam Toman milik Takemichi langsung tercabik dan sobekannya beterbangan tertiup angin.
Takemichi refleks menutupi tubuhnya.
Matanya dipenuhi keterkejutan dan kemarahan.
"Kau tidak pantas memakai seragam itu lagi."
"Kau!!"
Takemichi langsung menunjuk Mikey.
Wajahnya memerah karena marah dan malu.
Baginya, tindakan itu sudah sangat mempermalukan dirinya di depan semua orang.
Namun Mikey hanya menatap datar.
"Mau marah?"
"Itu hukuman untuk pengkhianat."
Dorongan keras kembali diberikan.
Takemichi terjatuh di tangga kuil.
"Dasar pengkhianat!"
"Pergi dari sini!"
"Keluar dari Toman!"
"Pengkhianat!"
"Dia mata-mata Tenjiku!"
"Usir dia!"
Teriakan demi teriakan memenuhi area kuil. Takemichi hanya bisa menggigit bibirnya.
Tubuhnya kotor oleh debu.
Air matanya terus mengalir.
Ia menoleh sekilas.
Beberapa temannya terlihat ingin mengatakan sesuatu.
Namun tidak ada yang berani melawan kemarahan Mikey saat itu.
Chifuyu hanya menatapnya dengan wajah sendu.
Takemichi akhirnya pergi meninggalkan tempat itu seorang diri.
...⚪⚪⚪...
"Mikey."
Draken akhirnya berbicara.
"Kenapa kau memperlakukannya seperti itu?"
"Kau tidak seharusnya melakukan itu pada Takemichi."
"Diam, Kenchin."
Mikey menatap ke depan.
"Takemichi sudah keterlaluan."
"Dia mengkhianati Toman."
"Mikey!"
Kali ini Chifuyu yang bersuara.
"Kenapa?"
Nada suara Mikey mulai terdengar jengah.
"Kenapa kau memperlakukannya seperti itu?"
Chifuyu mengepalkan tangannya.
"Aku pernah mendengar percakapan telepon Takemichi dengan Izana."
Mikey dan yang lain langsung menoleh.
"Apa maksudmu?" tanya Mikey.
...⚪⚪⚪...
Flashback
Drrrrt...
Drrrrt...
"Halo."
Takemichi mengangkat teleponnya.
"Bagaimana?"
Suara Izana terdengar dari seberang.
"Apakah kau sudah meminta bantuan Toman?"
"Oh iya. Kau juga harus tahu kalau ilmuwan itu gila."
"Ya."
Takemichi mengangguk.
"Aku sudah meminta bantuan kepada Toman."
"Mereka menyetujui permintaanku."
"Aku akan mengabarimu saat menemukan orang itu atau mendapatkan obat penawarnya."
"Baik."
"Kau harus tetap profesional."
"Sekarang datanglah ke markasku."
Tut.
Panggilan berakhir.
Takemichi lalu berjalan menuju markas Tenjiku.
Sementara itu, Chifuyu yang kebetulan mendengar sebagian percakapan hanya mengernyit bingung.
"Jangan-jangan Takemichi yang membuat perang dengan Tenjiku tertunda?"
"Tapi kenapa dia terdengar sangat akrab dengan Izana?"
"Oi, Chifuyu!"
Mitsuya memanggilnya.
"Ayo ke kedai ramen!"
"Ya! Aku datang!"
Flashback selesai.
...⚪⚪⚪...
"Setelah kupikir-pikir lagi..."
Chifuyu menatap ke arah tangga tempat Takemichi tadi pergi.
"Mungkin Takemichi memang punya alasan untuk berhubungan dengan Tenjiku."
"Beberapa anggota Tenjiku yang berpapasan denganku juga tidak terlihat seperti sedang bersiap perang."
"Mikey."
Chifuyu menggenggam sobekan seragam Takemichi yang tertinggal.
"Apa kau tidak merasa ada sesuatu yang janggal?"
Suasana langsung hening.
"Jadi..."
Draken perlahan membuka suara.
"Takemichi mungkin tidak berkhianat?"
Mitsuya langsung menoleh ke arah Chifuyu.
"Kalau begitu kenapa kau tidak mengatakan semua ini sejak tadi?"
Chifuyu menundukkan kepala.
"Aku..."
Ia menggenggam erat sobekan seragam itu.
"Aku melihat Mikey sangat marah."
"Aku ingin menghentikannya."
"Aku ingin membela Takemichi."
"Tapi aku takut."
Suara Chifuyu mulai melemah.
"Aku tidak bisa mengatakan apa pun."
Ia menatap kain yang ada di tangannya.
"Kau bahkan merobek seragamnya..."
Kalimat itu membuat suasana menjadi jauh lebih berat dari sebelumnya.
.
.
.
.
...-TO BE CONTINUED-...
makasih ya kak udah up banyak
hore kakak up
makasih ya kak udah up
up nya jangan lama lama ya kak
semangat ya kak