Aruna melangkah semakin jauh, meninggalkan segala harapan Nuno yang sudah di pupuknya sedari dulu, hilang dan pupus seketika.
Pencarian cinta yang semula terbayang manis, menyisakan pahit bak setetes empedu dalam sebelanga susu. Status Aruna sebagai istri seorang pengusaha bernama Aryo, tidak menjadikan rumah tangganya hidup dalam gelimang kebahagiaan. Pengkhianatan akan kesetiaan tak ubahnya pakaian yang harus ia ganti setiap hari.
Nuno melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Aruna, menarik gadis impiannya itu dari hitamnya lumpur penderitaan, sedangkan keadaan memaksa dirinya untuk bertunangan dengan Manda, wanita yang memendam harap bahwa Nuno akan membalas cintanya yang begitu tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dansa Di Pesta
"Arun...."
Nuno mengeja nama Aruna sangat pelan. Rasa itu kembali membuncah layaknya menemukan sebuah batu berlian di lautan lepas sangat dalam. Namun sayang, keindahan berlian itu seketika sirna saat gelombang besar mengikisnya dengan mudah.
Langkah yang semula akan menghampiri, terpaksa dia kembalikan pada tempatnya, Aruna tidak sendiri.
"No...." Seruan Mama Dila membuatnya tersentak.
"Ayo sini, kenapa diam di sana, kita temuin temen Mama dulu, sekalian Mama kenalin kamu sama mereka."
Kaki dia biarkan melangkah tapi mata sengaja dia tinggalkan, mengintip pemandangan yang malah semakin menyiksa penglihatannya. Aryo berada di sisi Aruna, memberikannya minum dan menghapus bibir tipis itu dengan jari tangannya. Sungguh kejadian yang sangat menyesakan.
"Ma, aku kesana sebentar ya, nanti aku nyusul." Ujar Nuno, merasakan moodnya yang semakin turun. Pesta yang meriah tidak bisa menghibur hatinya yang malah dirundung sepi.
"Nanti Mama susah nyari kamu."
"Nggak akan, aku di sana.... haus."
Mama Dila berdecak,"Ya udah tapi jangan lama-lama ya, Mama tunggu di meja sana."
Nuno tersenyum dan berlalu pergi. Yang dibutuhkannya sekarang adalah ruang untuk sendiri, menentramkan hati yang dirajai rasa cemburu yang semestinya tidak bersemayam.
"Ada apa dengan anak itu." Desah Mama Dila yang kemudian bergabung dengan teman-temannya yang sudah berkumpul dalam satu meja.
"Tante Dila."
Mama Dila yang sedang riuh dengan temannya seketika menoleh,"Loh Manda....," Berdiri dan memeluk Manda dengan erat,".... Kamu cantik sekali, dateng sama siapa?"
Pujian itu membuat Manda tersipu,"Sendiri Tante."
"Aduh gadis cantik begini kok dateng sendiri sih, gandengannya mana?"
"Nggak ada, Tan.... Tante sendiri sama siapa?"
"Tuh...." Menunjuk Nuno yang berdiri di dekat sebuah stan makanan, memegang gelas minuman yang dia goyang-goyangkan, bermain dengan batu es yang mendinginkan minuman itu.
"Temenin gih, kayaknya Nuno lagi boring."
Serasa mendapat angin segar, Manda meraih tangan Mama Dila,"Manda kesana dulu ya, Tan."
"Iya sayang."
Mimik wajah dia buat semanis mungkin, memilih jalan memutar agar Nuno tidak bisa melihatnya dengan mudah.
"Surprise..."
Seketika Nuno berbalik, melihat seseorang yang menepuk bahunya dari belakang,"Manda, kamu disini?"
Manda mengedikan bahu,"Kebetulan banget kan, akhirnya aku bisa dapat temen di pesta ini."Tersenyum lebar sembari mengamati penampilan Nuno yang berbeda dari biasanya.
"Kamu cocok banget pakai jas itu." Ucap Manda jujur.
Nuno sedikit menyibak jasnya,"Mama yang pilihin."
"Tante Dila memang jago kalau urusan yang beginian, kamu jadi tambah ga..."
Nuno menaikan kedua alis, menunggu kelanjutan kata-kata Manda yang menggantung, dibuatnya salah tingkah.
"Gimana kalau kita kesana?" Manda mengalihkan perhatian Nuno, malu dengan bibirnya yang hampir saja memuji Nuno terang-terangan.
Tak ingin menunggu jawaban Nuno yang dipikirnya sangat lama, Manda langsung menarik tangan Nuno, menggandengnya tanpa jarak,"Kamu udah makan... disini ada kue aku loh."
"Kok bisa?"
"Tempo hari kan aku pernah bilang ada costumer yang ingin pesan kue banyak dari toko aku.... ya buat pesta ini.... jadinya aku juga di undang deh kesini."
Belum Nuno menanggapi, jingkrakan Manda membuat dia terkejut,"Loh itu kan Aruna.... iya bener Aruna." Tunjuknya.
Deg.... deg....
"Ah ternyata mereka ada disini juga.... kita kesana yuk!" Kedua kalinya Manda menarik tangan Nuno tanpa menunggu jawaban Iya darinya. Nuno yang tadinya ingin menghindar akhirnya tidak bisa menolak, tarikan Manda terlalu kencang untuk bisa ditepis.
"Haiii..." Seperti biasa Manda selalu menyapa dengan riang, menunjukan kepribadiannya yang selalu ceria.
Aruna menoleh,"Mbak Manda...."
"Eh Pak Nuno." Sambung Aryo yang serasa diberi kejutan dengan kehadiran mereka berdua.
"Pak Aryo." Nuno balik menyapa.
Keduanya saling berjabat tangan, sedangkan Aruna dan Manda dibuat berpandangan, tak menyangka kalau mereka sudah saling mengenal.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Manda penasaran.
"Benar sekali, sudah hampir setahun saya berkerja sama dengan perusahaannya Pak Nuno, tapi baru kemarin kita saling mengenal karena sebuah proyek yang Pak Nuno percayakan kepada saya, tepatnya di Surabaya."
"Emmm pantes kalau begitu... Nah No, Aruna ini istrinya Mas Aryo, kamu baru tahu kan... dunia ini memang benar-benar sempit, ternyata kita semua saling mengenal." Tutur Manda tanpa menghilangkan senyumannya yang manis.
"Iya Pak Nuno, Aruna ini istri saya." Ada ketegasan yang serasa ingin dia beberkan, kalau Aruna sudah menjadi miliknya.
Aruna dan Nuno berpandangan, ada senyum kekalahan yang harus dia tunjukan, menolak jiwanya yang membantah.
"Bagaimana kalau kita gabung saja, kebetulan kursinya masih kosong." Usul Aryo.
"Tentu... kita berasa double date kan jadinya" Kelakar Manda.
"Ah iya betul sekali." Saut Aryo dengan tawanya yang menggema.
Keempatnya duduk melingkari meja bundar. Aruna lebih banyak diam, begitu juga dengan Nuno, tidak bisa fokus dengan segala apa yang dibicarakan Manda yang kemudian mendapat sanggahan dari Aryo.
"Eh acara dansanya udah di mulai...." Seru Manda yang begitu antusias,"... Ih bisa sambil tuker pasangan.... seru ya, No." Tak terasa Manda menyimpan tangannya di atas Nuno.
Aruna yang melihatnya hanya bisa mengalihkan pandangan, ada gelenyar aneh yang membuat hatinya tidak nyaman, apa mungkin pria yang diceritakannya waktu itu adalah Nuno???
"Sayang....," Sentuhan Aryo membuatnya tersentak,".... kita dansa yuk?"
"Aku tidak bisa dansa."
Aryo meraih tangan Aruna dan mengecupnya,"Aku akan mengajarimu, yuk!" Ucapnya pelan seraya membimbing Aruna untuk berdiri.
"Pak Nuno ayo kita dansa?" Ajaknya kemudian.
Aruna yang diperlakukan begitu mesra, membuat darah Nuno semakin mendidih,"Ya tentu.... Manda, kamu mau berdansa denganku?"
Manda terkesiap, ini bukan mimpi, tapi ini sebuah kisah nyata yang menyapanya penuh rona,"Yuk...."
Dua pasangan itu mengambil lantai kosong yang memberikan ruang untuk keduanya saling berhadapan. Aryo meraih pinggang Aruna dengan posesif, mengarahkan kedua tangan Aruna yang dia kalungkan di lehernya.
Berbeda dengan Aryo, Nuno nampak canggung menyentuh Manda yang sudah lebih dulu memeluknya tanpa malu.
Dansa merupakan hal yang sebenarnya selalu dia hindari, apalagi harus bersentuhan dengan wanita yang tidak diinginkannya. Untung saja itu adalah Manda, teman yang dirasanya akan paham bila dia mengutarakan maksud sebenarnya, hanya sekedar ingin menghilangkan sesak saat wanita yang dia suka bersentuhan dengan pria lain, walau itu suaminya sendiri.
"Saatnya bertukar pasangan." Seru pembawa acara yang memberikan aba-aba.
Para lelaki memutar tubuh wanitanya untuk berganti, begitu seterusnya hingga putaran kedua.
Grep.... Nuno memegang pinggang ramping wanita yang kini menjadi pasangannya. Keduanya mematung dengan mata yang saling mengunci.
Aruna yang tersadar lebih dulu, segera menurunkan pandangan, membiarkan kedua tangannya tetap di dada Nuno, dijadikan jarak pemisah diantara mereka.
Pergelangan tangan yang terangkat memaksa Aruna kembali mendongak, Nuno menuntunnya untuk memeluk, sedangkan tangan yang lain menekan pinggang Aruna semakin dekat, tak membiarkan ruang kosong menjadi orang ketiga yang menyelinap.
Nuno menggiring langkah Aruna, berpacu dalam melodi musik romantis yang membuat keduanya tidak menyadari, bahwa ada seseorang yang memperhatikan mereka dari jarak tak seberapa jauh.
"Nuno dengan siapa?" Bisik Mama Dila dalam hati.
Pandangan Nuno tak terjeda dan nampak berbeda, bukan seperti memandang wanita pada umumnya, bahkan kepada Manda sekalipun.
Mama Dila bertopang dagu, menelaahnya lebih jauh,"Apa ada sesuatu dengan mereka?"
Namun pemikiran yang sangat jauh itu seketika sirna saat matanya menangkap pasangan lain yang juga sedang berdansa.
"Jino....?"
🥀
🥀
🥀
_ Bersambung _
.digesek dikit ajah sdh tergoda..kamu mmg ga pantas buat Aruna...