Bagaimana jadinya jika seorang wanita yang mengidam-idamkan seorang laki-laki sudah sekian lama, tiba-tiba saja ia bisa menikahi laki-laki tersebut, apakah ia bisa mendapatkan hatinya atau kah semuanya hanya cerita sesaat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TISSA TTS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami yang Sangat Menyebalkan
"Rigo!" Teriak Lara untuk yang kedua kalinya.
"Buk!" Seseorang memukul kepalanya dari belakang.
Seketika Lara memutarkan kepalanya melihat ke arah belakang.
"Apa kamu tidak malu berteriak ditempat seperti ini!" Ucap Rigo menatap kesal ke arah Lara, ia memegang sebuah gulungan kertas di tangannya yang merupakan alat yang ia gunakan untuk memukul kepala Lara.
"Kamu memukul kepalaku!" Sambil mengusap kepalanya menggunakan tangannya.
"Lihat kamu tidak malu? semua orang menatap kita di sini! kamu bersikap sangat memalukan! katakan kenapa kamu berteriak memanggil namaku?" Rigo berkata sambil memukulkan gulungan-gulungan kertas pada tangannya, Seakan bersiap untuk melakukan penyerangan kembali dengan benda tersebut.
"Aku takut kamu meninggalkan ku saja, makannya aku berteriak! mana mungkin aku menemukanmu dalam lima menit di tempat besar seperti ini!"
"Kau sungguh bodoh! sekali-kali kau harus mengasah otakmu yang tumpul itu supaya bisa berfikir tajam!"
Mendengar ucapan Rigo membuat Lara mengerutkan bibirnya tak terima dengan ucapannya.
"Siapa yang bodoh! aku hanya takut kamu meninggalkan aku di sini!"
"Orang bodoh itu Tak pernah menyadari jika dirinya bodoh, kalau semua orang di dunia ini berisi orang pintar, dunia pasti akan damai!" Setelah berkata Rigo melangkahkan kakinya.
"Mau kemana?" Lara berteriak kembali sambil berlari mengikuti Rigo yang berjalan namun dengan langkah yang lebar membuat Lara kesulitan menyamakan langkah kakinya tersebut.
"Tunggu!" Terik Lara saat melihat Rigo mulai menjauh darinya, ia juga di sibukkan dengan sebuah koper besar berwarna hitam yang ia bawa yang berisi barang milik Rigo semuanya dan sebuah tas Gending miliknya yang berisi dompet serta alat makeup miliknya.
"Sudah tau aku membawa koper besar miliknya, masih saja jalannya cepat begitu, dasar laki-laki tidak punya perasaan! sayang sekali kau adalah suamiku jadi aku harus mengikuti segala perintahmu yang aneh itu!" Lara kemudian Menundukkan kepalanya merasa pasrah dengan semua hal yang menimpa dirinya kini.
Setelah Rigo terlihat menjauh, tiba-tiba ia menghentikan langkah kaki nya kemudian menengok ke arah belakang menatap Lara yang sedang berjalan menarik koper besarnya dengan sebuah kerutan di dahinya.
Setelah Lara dan Rigo mendekat, tanpa basa-basi Rigo menghujani Lara pertanyaan, "Kau menyimpan barang mu di dalam koper milikku? sudah aku katakan, jangan memasukkan barang apapun milik mu kedalam koperku, aku tidak menyukainya! cepat turunkan!"
Lara terlihat membisu saat mencerna ucapan yang keluar dari mulut Rigo.
"Barangku? aku sama sekali tidak memasukkan barang milikku ke dalam kopermu! semua benda yang ada di dalam koper hitam yang berukuran besar ini semuanya milikmu, keperluan mu selama satu Minggu sudah aku siapkan di dalam sini, jangan seenaknya menuduhku seperti itu!" Lara tidak terima akan perkataan Rigo kepadanya.
"Lantas di mana kamu menyimpan barang milikmu? dalam tas Gendong yang kau pakai itu? mustahil!" Rigo menunjuk tas milik Lara yang menempel pada punggungnya.
"Tentu saja tidak, ini hanya dompet dan makeup milikku, bajuku aku simpan di!" Lara memotong perkataan nya terlihat mengingat sesuatu yang ia lupakan.
"Bajuku, bajuku! ya ampun di mana bajuku!" Lara tiba-tiba terlihat sangat panik, wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Di mana kamu menyimpan baju ganti mu! mana koper milikmu?" Tiba-tiba Rigo memberikan pertanyaan yang membuat Lara teringat sesuatu yang dia benar-benar lupakan, ya Lara benar-benar melupakan pakaian ganti miliknya karena terlalu fokus menyiapkan barang milik Rigo.
Lara seketika memutar badannya membelakangi Rigo dengan koper hitam milik Rigo sama sekali tidak ia lepas kan, kemudian berjalan dengan cepat. Namun sayang kakinya hanya mampu berjalan beberapa langkah kedepan karena tangan Rigo berhasil menarik tas gendong yang menempel pada punggung Lara.
"Mau kemana kamu!" Tatapan Rigo menajam menatap Lara. Lara menunduk.
"Aku, aku, aku lupa membawa baju gantiku! lebih baik aku pulang dulu dan mempersiapkannya!"
"Bagus kau memang pintar! ini rencana mu bukan!"
"Tidak, aku benar-benar lupa!" Lara masih menunduk, kemudian mengangkat wajahnya menatap Rigo dengan sangat berani.
"Siapa suruh kamu memiliki baju yang sangat banyak, aku kesulitan memilih baju-bajumu yang banyak itu hingga melupakan baju yang harus aku bawa, dan aku sama sekali tidak membawa satupun baju ganti!"
"Kau memutar kesalahan kepadaku?" Rigo menunjuk dadanya menggunakan telunjuknya.
"Bahkan kamu memiliki kaos berwarna putih polos dengan merek dan corak yang sama sebanyak 30 buah, aku sampai menghitungnya! dan kau tahu itu hanya membuat ku bingung menentukan kaos mana yang harus aku masukkan ke dalam koper, sedangkan semuanya sama!"
Kini setiap orang yang lewat di hadapannya menatap aneh ke arah mereka, Lara dan Rigo kini sedang memerankan layaknya suami istri yang sedang mengalami permasalah rumah tangga yang begitu serius.
"Itu sama sekali bukan urusanku!" Tutur Rigo sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.
"Tapi kamu harus ikut bertanggung jawab!" Lara masih berani menjawab perkataan Rigo, bagaimana tidak ia begitu panik tidak membawa satu baju ganti pun sedangkan rencana liburannya adalah selama satu minggu.
"Itu ke salahan mu sendiri, lantas kenapa aku harus ikut bertanggung jawab?" Rigo masih tidak terima.
Lara menarik baju Rigo agar melangkah bersamanya, bermaksud kembali ke apartemen Rigo.
"Pokoknya antar aku!" Sekuat tenaga menarik paksa Rigo agar maju bersamanya, sedangkan salah satu tangannya menarik koper besar milik Rigo.
Karena membuat semua mata memperhatikan ke arahnya, akhirnya seorang satpam datang menghampiri mereka.
"Selamat siang!" Sapa satpam tersebut.
Lara dan Rigo yang sedang tarik menarik layaknya anak kecil yang sedang bertengkar, menghentikan aktivitasnya kemudian berdiri mematung menatap ke sekeliling, mereka baru menyadari jika saat itu mereka tengah menjadi pusat perhatian semua orang.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" Ucap Satpam bandara menanyakan sebuah bantuan kepada Rigo dan Lara.
"Maaf Pak, tidak perlu, istri saya hanya ke tinggalan sesuatu di rumah, jadi dia merengek minta pulang, tapi kita tidak mungkin untuk pulang terlebih dahulu karena jika pulang akan ketinggalan pesawat!" Rigo menjelaskan secara panjang lebar Agar bapak satpam tersebut tidak salah paham kepada mereka.
"Benarkan sayang?" Tanya Rigo kepada Lara.
"Istri? Sayang? yang benar saja, pintar sekali dia main drama!"
"Sayang?" Rigo memanggil sebuah kode kembali kepada Lara karena Lara tak kunjung menjawabnya.
"I iya iya, gak papa gak perlu di bawa kita berangkat saja!" Dengan terpaksa Lara harus mengikuti perintah Rigo mengiyakan semua perkataan Rigo.
"Baik jika begitu, saya permisi dulu!" Setelah mendengar jawaban dari Lara akhirnya satpam tersebut menjauh dari dekat Rigo dan Lara.
"Jangan banyak tingkah! semua orang memperhatikan kita, ayo kita harus segera naik pesawat!"
"Tapi bagaimana dengan bajuku?" Lara masih merengek memikirkan baju ganti miliknya selama seminggu.
"Tak perlu ganti baju selama seminggu!"
Mendengar ucapan Rigo membuat Lara mengerutkan bibirnya.
"Aku tidak mau!" Lara masih mematung, walaupun Rigo sudah menarik tangannya.
Dengan kesal Rigo berbalik badan menatap Kembali wanita yang sudah resmi menjadi istrinya tersebut.
"Coba gunakan otakmu sedikit! kita bisa membelinya nanti saat kita sampai di sana!" Dengan kesal Rigo memberi penawaran.
Karena melihat ekspresi muka Rigo yang benar-benar terlihat kesal, akhirnya Lara tak lagi mempermasalahkan baju ganti miliknya yang sama sekali tidak ia bawa, walaupun di dalam hatinya ia menggerutu masih masih memikirkan bagu ganti miliknya, dan Lara pun mengalah melangkahkan kaki knya mengikuti langkah kaki Rigo berada.
Akhirnya Lara dan Rigo pun berada di pesawat setelah semua proses pengecekan mulai dari tiket pesawat dan juga bagasi selesai di lakukan.
"Apa ini akan baik - baik saja?" tanya Lara yang sudah duduk di pesawat berdampingan dengan Rigo, mereka duduk di ruangan dengan Fasilitas termewah di dalam pesawat tersebut.
Seketika Rigo menatap tajam ke arah Lara saat mendengar ucapan Lara.
"Ini pengalaman pertamaku naik pesawat!" Tanpa menunggu pertanyaan dari Rigo, Lara memberikan sebuah penjelasan.
"Aku tidak perduli!" Jawab Rigo membuat Lara berhenti berkata.s
Setelah beberapa saat, Lara merasakan Pesawat yang melaju semakin kencang dan ia pun mendengar seorang Pramugari memberikan sebuah pengumuman, seketika Lara memejamkan kedua matanya, saat itu ternyata pesawat akan segera Lepas Landas, Lara merasakan getaran yang sebetulnya tidak begitu berarti namun berhasil membuat Lara begitu terkejut karena baru pertama kali merasakan naik pesawat, fikirannya kala itu dipenuhi dengan hal-hal buruk tentang kecelakaan sebuah pesawat, karena begitu terkejut nya Lara hingga ia tak sadar menyilangkan salah satu tangannya ke pundak Rigo dengan wajahnya ia sembunyikan ke samping tangan Rigo, Lara benar-benar ketakutan.
"Aku sangat takut!"
padahal tiap hari diintip