NovelToon NovelToon
Suami Malaikatku

Suami Malaikatku

Status: tamat
Genre:Romantis / Keluarga & Kasih Sayang / Romansa Modern / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:110k
Nilai: 5
Nama Author: Marina Monalisa

Sebelum membaca di sarankan untuk membuka novel yang berjudul "Calon Istri Pengganti Tuan Abian" karena ini adalah lanjutan dari novel tersebut.

Cerita yang di angkat tentang perilaku suami yang bersosok malaikat selalu mampu membuat hati sang istri meleleh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20. Berjualan Bersama

"Ah mengapa ceroboh sekali menyetir?" hardik Afrah yang tampak geram.

Dengan penuh rasa hormat pria itu menundukkan kepalanya berulang kali dan tanpa henti mengucapkan kata maaf.

Mobil mereka tampak rusak di bagian depan, beberapa pengendara lainnya tampak melihat keadaan mereka.

"Mari Nona kita segera ke rumah sakit." supir Afrah segera turun dari mobil dan mempersilakan Afrah untuk naik ke taksi yang sudah siap mengantarkan mereka.

Sedangkan mobil mereka tinggal di tempat kejadian itu.

Selama di perjalanan suasana canggung terus menemani perjalanan mereka sampai beberapa waktu berlalu Afrah turun di temani dengan supirnya itu.

"Afrah, apa yang terjadi?" Suara Tuan Devano terdengar dari sambungan telpon Afrah yang saat ini tengah menjalani pemeriksaan.

"Tidak, itu hanya kecelakaan kecil saja karena ulah supir Papah." tutur Afrah tampak geram.

Supir Afrah berada di luar ruangan dengan tubuh tegap menunggu majikannya keluar.

"Sebentar, biar Papah segera kesana dengan Mamah mu."

Belum sempat Afrah menolak, sayang sambungan telepon itu sudah lebih dulu berakhir.

***

Pagi itu seluruh penghuni kediaman Malik tampak berada di halaman menyaksikan kepergian Abian, Bram dan juga Gibran.

"Aku pergi dulu, jangan terlalu banyak gerak." pintah Abian mencium kening Indira di susul dengan kedua pipi dan bibir. "Ada yang kurang."

Abian kembali mendaratkan ciumannya di bibir sang istri.

Semua hanya bisa tersenyum tanpa berani bersuara.

"Bian juga Pah?" tanya bocah kecil itu menunggu sapaan hangat dari Abian.

"Oh tentu anak Papah, kemari." Abian mendarat beberapa kali ciuman sama yang di lakukan olehnya pada Indira tadi.

Sedangkan Gia yang hanya berdiri menyaksikan kepergian suaminya membuat beberapa kali kedua alis Bram beraksi naik turun.

"Apa?" tanya Gia.

Bram melirik ke arah kedua pasangan yang tengah usai melepas sapaan hangat pagi itu, seakan Bram meminta Gia melakukan hal yang manis juga padanya.

"Apa?' Gia kembali bersuara tak paham akan isyarat yang di berikan oleh Bram.

"Cium, Gia." Nyonya Ningrum menimpali kebingungan Gia saat itu juga.

Bram menampakkan wajah cemberutnya, ia tak lagi mau menghiraukan istrinya yang diam mematung. Bram masuk ke mobil dan duduk di kursi kemudi.

Tiba-tiba suara Abian berdehem dan menyadarkan Bram dari aksi ngambeknya itu.

"Sejak kapan kau lancang, Bram?" Abian menggoda sekertarisnya itu.

Bram menoleh ke arah Abian dan kembali turun dari mobil. Pria itu segera membukakan pintu mobil itu.

"Silahkan, Tuan." ucap Bram, Abian masuk ke dalam mobil dengan semangat kerja yang berkobar.

Berbeda dengan sekertarisnya yang menampakkan wajah cemberutnya. Ia menghela nafasnya saat Gia melangkah mendekati dirinya.

"Dia pasti mau mencegah ku dan mencium ku, oke baiklah Bram pelan kan langkahmu." ucap Bram dalam hati dengan keadaan wajah yang ingin tersenyum namun tetap berusaha menekuk.

Bram semakin pelan melangkah kan kakinya hingga Gia benar-benar tepat berada di belakangnya.

Abian yang menatap Bram dari dalam mobil hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Melihat tingkah Bram yang menutup pintu mobil dengan pelannya setelah memastikan Abian masuk sungguh benar jika ia sedang memperlambat aktifitas saat itu.

"Kau marah karena lupa mencium-" tanya Gia memecahkan suasana kaku yang belum sempat ia lanjutkan Bram sudah memotongnya.

"Hem." Bram hanya berdehem tanpa menatap wajah istrinya lagi. Berharap Gia segera mencium wajahnya di hadapan semua orang termasuk Gibran.

Wajah Bram yang sangat ingin tersenyum seketika padam begitu saja saat Gia mendaratkan bibirnya pada punggung Bram.

"Astaga kalian ada-ada saja." Indira terkekeh melihat ekspresi Bram yang semakin marah dan segera masuk ke dalam mobil tanpa mengatakan apapun pada istrinya.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang keluar dari kediaman Malik meninggalkan sejuta senyum bahagia di rumah itu.

Gibran juga sudah melajukan mobilnya ke arah yang berbeda dari kantor Abian.

"Ayo kita masuk." Nyonya Ningrum sudah melangkah dengan yang lainnya ke dalam rumah.

"Kemana semua pelayan mengapa sepi sekali, Mami?" tanya Indira penasaran.

"Mereka sedang di pimpin Bi Qila untuk membersihkan seluruh sudut rumah karena kita harus waspada saat ini virus di luar begitu mematikan." tutur Nyonya Ningrum.

"Huh syukurlah Abian tidak sempat keluar negeri, kalau tidak dia bisa terjebak di sana tanpa bisa pulang." keluh Indira merasakan keberuntungan saat ini tengah berpihak padanya.

"Kemari biar Rafael Mami yang gendong. Kau tidak boleh terlalu lelah dulu." Indira menyodorkan putranya pada Nyonya Ningrum.

Rabian yang sejak tadi tidak bersuara tampak mencuri perhatian mereka semua.

"Gia lihat anakku seperti suami mu yang tidak mendapatkan jatah paginya." ucap Indira terkekeh begitu juga Nyonya Ningrum.

"Hah? jatah pagi, Nyonya?" Gia tertegun gugup mendengar ucapan Indira yang frontal.

Tiba-tiba suara Rabian menangis begitu kencangnya. "Hey Rabian ada apa, Sayang? apa yang sakit?" tanya Indira tampak cemas melihat putranya duduk dengan memeluk mainan robot nya.

"Biar Mami yang menghampiri Rabian, kau duduk saja." tutur Nyonya Ningrum.

Belum sempat Rabian terdiam kini tampak sosok Nyonya Veren melangkah masuk ke rumah yang menjulang tinggi itu.

"Ibu." sahut Indira tersenyum lebar.

"Indira, ada apa dengan Rabian?" Nyonya Veren ikut bergabung dengan Rabian dan Nyonya Ningrum.

"Bian mau Papah, Bian mau itut Oma." tutur bocah itu dengan air mata yang sudah berderai.

"Astaga Rabian mengapa baru menangis sekarang?" tanya Indira yang tidak habis pikir dengan tingkah anaknya.

Rabian tampak menghambur seluruh mainannya dengan menangis tersedu-sedu.

Indira yang belum bisa terlalu bergerak bebas kini di bantu Nyonya Ningrum membawa Rabian dekat bersamanya di sofa.

"Sayang, dengarkan Mamah. Papah kan sedang kerja cari uang buat susu Rabian, jangan menangis lagi yah." Indira tampak mengusap lembut kepala putranya.

"Bian mau Papah...Bian mau itut ke kantol, Mamah." ucapnya lagi.

Abian yang tengah sampai di kantor segera menghubungi istrinya untuk memberi tahu jika dirinya telah sampai di kantor.

Ponsel Indira berdering, panggilan video masuk.

"Sayang, aku sudah sampai..." Abian yang berucap hening sesaat mendengar suara tangis putranya.

"Rabian." ucap Abian terkejut mengetahui suara anak kesayangannya menangis histeris hingga terdengar bocah itu sesenggukan.

"Ada apa, Sayang? kau memukulnya?" tanya Abian begitu panik.

"Bukan, Bi. Yang benar saja aku memukul anak ku sendiri." sahut Indira.

"Lalu?"

"Dia menangis karena kau pergi." terang Indira.

"Ini ayo bicara dengan Papah." Indira menyodorkan ponsel pada putranya.

"Bian benci Papah, Papah jahat Papah tinggalin Bian dama Mamah." sentaknya sembari menitihkan air mata yang begitu banyak.

"Bi sudah dulu yah, sebaiknya kau bekerja dan hati-hati. Rabian biar aku yang mendiamkannya."

"Rabian, Papah segera menjemput mu. Sebentar yah." sambungan telpon sudah terputus.

Indira yang melihat tingkah suaminya hanya bisa menghela nafasnya kasar.

"Ye...Papah mau jemput Bian." ucapnya begitu bersemangat dan segera melangkah keluar rumah. Bocah itu duduk di depan pintu rumah tepat di anak tangga.

Ia bersemangat menunggu kedatangan Papahnya yang begitu menyayanginya.

"Kalau begini Rabian jadi kebiasaan ikut terus." gerutu Indira.

Nyonya Ningrum dan Nyonya Veren hanya saling memandang menyerah. Jika Abian yang sudah bertindak satu pun orang tidak akan bisa mencegahnya.

Abian yang sudah meminta Bram untuk kembali ke rumah menjemput Rabian kini tertawa sepanjang jalan.

"Anakku sungguh lucu, bisa-bisanya dia menangis seperti itu saat aku sudah pergi." ucap Abian dalam hati.

***

Dita yang baru saja bersiap jualan kini terkejut melihat seorang pria sudah berdiri di hadapannya.

"Kak Luky " ucap Dita tersenyum.

"Ayo biarkan aku membantu mu membawanya."

"Tapi Kak..." Dita ragu melihat penampilan Luky yang sudah keren malah harus rusak dengan sebuah gerobak jualan miliknya.

"Sudahlah jangan memikirkan aku, aku saja tidak apa-apa." tutur Luky dengan wajah santainya.

Akhirnya keduanya pun berjalan menuju tempat Dita berjualan biasanya, sepanjang jalan mereka tampak bercerita sesekali Dita mencubit lengan Luky ketika mendapat ejekan.

Luky mendorong gerobak jualan Dita sementara Dita hanya berjalan di sampingnya saja.

"Dita," panggil Luky.

"Iya, Kak."

"Terimakasih yah mau menerima kekurangan ku, aku ingin hubungan kita bisa lebih serius lagi." tutur Luky.

Dita tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "KaKak tidak memiliki kekurangan, justru akulah yang begitu banyak kekurangan." terang Dita.

"Kau mencintaiku?" tanya Luky.

Dita tersenyum malu, ia menganggukkan kepalanya dan segera menjawab, "Iya Kak."

"Terimakasih, ayo kita semangat jualannya." ajak Luky.

Sementara tanpa mereka sadari kini sebuah mobil lewat dengan kecepatan sedang, Gibran. Dia sengaja untuk kembali memastikan jika Dita baik-baik saja meski dirinya tidak bertemu.

"Sepertinya Dita tidak berjualan hari ini." ucap Gibran yang melihat tempat Dita biasanya masih tidak nampak satu gerobak jualannya. Setelah ia melanjutkan terus perjalanannya kini mata Gibran tertuju dengan Gerobak yang masih berjalan di dorong dengan dua orang.

Wajah Gibran tersenyum melihat Dita dengan pria yang tentu Gibran mengenalnya.

"Itu fotografer terkenal, syukurlah kalau Dita sudah mendapatkan cintanya. Setidaknya dia akan baik-baik saja tentunya." Segera Gibran pun melajukan mobilnya ke kantor.

1
Heliati Mamonto
lanjut
bundan@ furqan
ika widya
lucky ma dita ja,, sprtiny lucky org yg baik
nhiena Ali
💖💖💖💖💖💖💖💝💝💝💝💝💝❤❤❤❤❤❤❤😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍
sarianum manurung
bakalan kangen SM keluarga malik...Abian i love u
Retno Marsudi
sukses selalu thorrrr
Retno Marsudi
waduhhhh tamat deh,, padahal aku suka novelnya nih,,
Retno Marsudi
bucinnya dikau tuan abiannnnnn
Retno Marsudi
Bayiku,, bukan bayi kami 🤣🤣🤣🤣
Retno Marsudi
Baper akut diriku sama kamu tuan abian malik
Yuni Ati
Jauh-jauhin tuh si ular cobra afrah Thor
Lutfiati Puzz
ak gk bisa mve on dari Abian Malik😭😭😭
ig: monalisa_n28: Hehehe Terimakasih kak🙏🙏
total 1 replies
harap_tenang😌
bi qila mulai lagi deh 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
may Saka
kak bikin versi mauren sama gibran don kepo kelanjutan cerita cita mereka berdu nihhh plissssssssssssss.....................
Aris Mamae Rakha
extra part nya dong kak thor...😁😁😘😘
ig: monalisa_n28: Hehehe udah mentok selesainya kak
total 1 replies
Ghea_yuni_Aprinsa
yg berikut'y pa thor.....?
semoga lbh seru y....😘
ig: monalisa_n28: amin kak terimakasih yah kak
total 1 replies
Sri Hendrayani
up lgi donk thor
Sri Hendrayani: buat bonus upnya kak..
cerita bagus banget... 😍😘🥰
total 2 replies
Aris Mamae Rakha
Indira wanita yang lembut, anggun bisa berubah menjadi wanita jadi2an 🤣🤣 bahkan seperti monster kata Bram, 🤭🤭🤭🤭
Aris Mamae Rakha
bener2 cari mati berurusan dengan Abian
ajiu jiu
tamat sdh cerita ringan yg tdk bkin stress , ap akhirnya kita "pisah" di sni Thor 🤔🤔 rasa ny ngk mau novel in tamat 😢😢😢
ig: monalisa_n28: hehehe terimakasih kak sudah setia sampai akhir
total 1 replies
Erna Watie AZ
buat kisah si rabian thorr,,,
ig: monalisa_n28: hehehe masih di pikir dulu yah kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!