NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: POSTER HADIAH 100 JUTA?!

Langkah kaki Raka dan Dimas terdengar berkedip santai di sepanjang koridor lantai dua. Sesampainya di depan ruang guru yang cukup lengang, Dimas melangkah masuk lebih dulu untuk meletakkan sebundel proposal kegiatan di meja pengumpulan. Tugas sepele, tapi cukup menyita waktu istirahat mereka.

"Beres juga akhirnya," gumam Dimas seraya menepuk-nepuk kedua telapak tangannya begitu mereka berdua melangkah keluar dari ruangan ber-AC tersebut.

Namun, baru beberapa langkah menyusuri lorong luar, tengkuk Raka mendadak meremang. Ada perasaan aneh yang janggal—seolah-olah ada sepasang mata yang sedang menghujat atau mengawasinya secara intens dari balik bayangan tiang koridor.

Raka menghentikan langkah secara mendadak, lalu menoleh ke belakang dengan dahi berkerut.

"Ada apaan, Rak?" tanya Dimas yang ikut-ikutan berhenti, menatap sahabatnya bingung.

"Gak... gapapa," sahut Raka pelan, matanya masih menyapu sudut-sudut lorong yang sepi. "Gue cuma merasa ada yang ngeliatin dari tadi."

Dimas memiringkan kepala, lalu terkekeh geli. "Hah? Stalker gitu maksud lu?"

"Ya... siapa tahu, kan?"

"Lah, sejak kapan lu jadi cowok populer di sekolah ini sampai punya stalker segala?" cibir Dimas tanpa dosa.

Raka menatap Dimas dengan pandangan datar. "Menurut lu? Gue populer?"

"Gak sih," jawab Dimas polos tanpa beban. "Lu kan cuma murid baru pas MPLS kemarin, persis kayak gue. Muka lu juga standar-standar aja."

"Nah, itu lu tahu," balas Raka malas meledani. Ia menepuk perutnya yang mulai menyuarakan protes. "Mau ke kantin gak? Cacing di perut gue udah demo."

"Gaslah! Gue juga udah haus banget nih," seru Dimas antusias.

Kedua remaja itu pun mulai berjalan menuruni tangga menuju area kantin utama. Namun, makin mendekati area pusat kuliner sekolah itu, Raka dan Dimas menyadari ada atmosfer yang sangat aneh. Suasana kantin jauh lebih bising dari biasanya, tapi bukan karena antrean bakso atau soto.

Para siswa dan siswi tampak berkumpul di beberapa titik. Dan yang paling membuat dahinya berkerut: hampir di setiap punggung murid yang melintas, tertempel selembar kertas putih berukuran cukup besar!

"Lihat deh, Rak," tunjuk Dimas dengan raut wajah heran setengah mati. "Kenapa punggung anak-anak pada ketempelan poster gitu? Pada main tepok punggung apa gimana?"

"Iya ya... Siapa sih orang kurang kerjaan yang nempelin?" gumam Raka heran.

"Gak tahu, coba gue samperin bentar."

Tanpa menunggu balasan Raka, Dimas langsung berlari kecil mendekati kerumunan siswa di depan stan es teh. Di sana, ada salah satu teman sekelas mereka yang sedang berusaha memutar badannya bagai gasing.

"Woy! Ini ada apa sih rame-rame?" tanya Dimas menepuk bahu teman sekelasnya itu.

"Gak tahu nih, Mas! Tiba-tiba pas gue jalan dari arah lab tadi, punggung gue udah ketempelan beginian. Lengket banget lagi!" jawab temannya itu gusar sambil terus berusaha menggapai-gapai punggungnya sendiri.

"Wah, misterius banget sih..." Dimas manggut-manggut sok menganalisis.

Temannya itu mendadak menghentikan gerakannya, lalu pandangannya melewati bahu Dimas. Tangannya terangkat, menunjuk ke arah belakang. "Btw, Mas... temen lu tuh. Dia juga kena target."

"Hah? Si Raka?"

Dimas otomatis memutar badannya, menatap Raka yang baru saja berjalan mendekat dengan wajah tanpa dosa. Begitu pandangan Dimas jatuh tepat pada bagian tengah punggung Raka, tubuh Dimas mendadak membatu.

Satu detik... dua detik...

Bahu Dimas mulai berguncang hebat. Ia mendadak memegangi perutnya sendiri dengan kedua tangan, berusaha menahan beban tawa yang siap meledak.

"Ada apa, Mas? Muka lu kenapa meliuk-liuk gitu?" tanya Raka heran melihat ekspresi sahabat koplaknya yang mendadak berubah merah padam.

"Gak... itu... pffft! Aduh, perut gue!" Dimas menggigit bibir bawahnya rapat-rapat, namun matanya sudah berair.

Raka merinding sendiri melihat tingkah aneh Dimas. "Yang bener lah, lu kenapa sih? Kesurupan?"

"Itu... Ada poster gede banget juga nempel di punggung lu! HAHAHAHA!" Tawa Dimas akhirnya pecah begitu nyaring hingga beberapa murid di sekitar mereka menoleh.

Mata Raka membelalak seketika. "Apa?!"

Raka langsung panik. Ia memutar tubuhnya berulang kali, tangannya menggapai-gapai ke belakang punggung bagaikan monyet yang sedang kebingungan mencari kutu.

"Kenapa gak bilang dari tadi, kampret?!" teriak Raka frustrasi karena tangannya tak kunjung mencapai ujung kertas tersebut.

"Lah, wong gue juga baru sadar pas dibilangin tadi!" balas Dimas masih sambil terkekeh-kekeh.

"Kalau gitu cepetan copotin nih poster! Malu-maluin banget!" seru Raka setengah memaksa.

"Oke, oke! Diem lu, jangan goyang-goyag!"

Dimas melangkah mendekat ke belakang Raka. Ia menjangkau sudut kertas mengilap tersebut. Namun, tepat sebelum jarinya menarik perekatnya, mata Dimas tertuju pada deretan huruf kapital bercetak tebal yang ada di kertas tersebut.

POSTER BERHADIAH! Barangsiapa yang bisa melelehkan hati ALYA, bakal dapet 100 JUTA RUPIAH!

Dimas mengeja tulisan itu pelan di dalam hati, sampai matanya membelalak lebar menyadari angka nol di kalimat terakhir.

"SERATUS JUTA?!" teriak Dimas tepat di samping lubang telinga kiri Raka.

"ANJIR!" Raka tersentak kaget luar biasa sampai bahunya terangkat tinggi. Ia dengan refleks menempeleng bahu Dimas. "Apaan sih! Nggak usah teriak-teriak di kuping gue juga! Pekak gendang telinga gue!"

Dimas tidak peduli. Dengan gerakan dramatis, ia mencabut poster itu dari punggung Raka lalu mengibaskannya tepat di depan wajah Raka.

"Lihat ini, Rak! Lu baca baik-baik! Katanya kalau ada yang bisa melelehkan hati si Cewek Es Alya, dapet uang tunai seratus juta!"

Raka menatap kertas itu dengan alis bertaut. "Hah? Seriusan?"

Raka menyambar kertas itu kasar, lalu membacanya dengan saksama. Matanya menyapu setiap kalimat absurd yang tertulis di sana.

"Hmm... seratus juta..." gumam Raka pelan dengan nada bergumam.

"Lu tertarik, Rak?" tanya Dimas antusias, matanya berbinar-binar membayangkan tumpukan uang kertas.

Raka meremas pelan ujung poster itu, lalu menggeleng santai. "Gak. Gue malah lebih tertarik sama kata 'melelehkan hati Alya' itu."

"Lah?! Lu gak ngincer hadiah ratusan jutanya?!" tanya Dimas heran setengah mati, merasa otak sahabatnya ini mungkin agak bergeser.

"Nggak lah. Buat apa? Gue mau ngikutin ini cuma anggap sebagai tantangan aja," balas Raka mantap. Pandangannya menerawang tajam. "Dan sekalian... gue mau cari tahu siapa orang gila yang kurang kerjaan nyebar poster provokatif kayak gini di sekolah."

Dimas menepuk jidatnya sendiri. "Oalah... sok pahlawan lu! Kalau gue sih tetep ngincer seratus jutanya! Lumayan banget anjir, bisa buat beli PS5 baru plus rakit PC spesifikasi dewa!"

"Dasar, isi kepala lu mikirnya foya-foya mulu," cibir Raka.

"Terserah gue lah, hidup-hidup gue! Udah ah, jadi makan gak nih?" tanya Dimas mengalihkan topik karena perutnya sudah makin keroncongan.

"Jadilah, mumpung udah sampai di lantai kantin."

Raka dan Dimas mulai berjalan menyusuri deretan meja kantin yang penuh sesak. Mereka akhirnya menemukan satu meja kosong di dekat jendela besar yang menghadap ke lorong taman. Setelah memesan dua porsi mie ayam dan es teh, mereka pun duduk menunggu.

Atmosfer kantin saat jam istirahat memang sangat riuh. Ada siswa yang lalu-lalang membawa mangkok panas, ada kelompok murid perempuan yang tertawa kencang, bahkan di pojok sana ada anak OSIS yang sedang membuat konten mukbang dadakan. Sementara sebagian murid lain yang malas berdesakan memilih membawa bungkus makanannya kembali ke kelas.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Begitu mangkok terhidang, Raka dan Dimas langsung menyantapnya. Namun, rasa penasaran di kepala Raka belum juga surut.

Raka meletakkan sumpitnya, lalu menopang dagu dengan sebelah tangan. "Jadi... menurut lu, kenapa ada kejadian poster misterius itu?"

Dimas yang sedang mengunyah bakso menjawab tidak jelas, "Gag tahu."

"Kenapa lu tiba-tiba berlagak kayak detektif gini sih, Rak?" tambah Dimas setelah menelan makanannya.

Raka menatap luar jendela. "Gue itu orangnya baik hati, Mas. Masa iya ada temen sekelas yang gak gaul dan antisosial kayak Alya dilecehin pakai poster gituan terus kita diemin aja?"

Dimas mendadak bertepuk tangan pelan dengan raut wajah paling polos yang pernah ada. "Wah, respect banget gue sama lu, Bang."

Raka mendelik curiga. "Lu ngeledek gue ya? Muka lu datar begitu."

"Hehe... ketahuan ya?" kekeh Dimas tanpa rasa salah.

"Lucu lu begitu?"

"Anjir, serius banget muka lu kayak mau perang aja."

"Emang dari tadi gue bercanda?" balas Raka dingin.

Raka yang mulai merasa capek meladeni kelakuan absurd Dimas akhirnya memilih mengedarkan pandangan ke luar jendela kantin. Namun, matanya mendadak tertuju pada sosok perempuan berambut panjang yang sedang berjalan sendirian di koridor taman.

Itu Alya! Cewek itu tampak gelisah, kepalanya celingukan melihat ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari atau menutupi sesuatu.

Melihat kesempatan itu, Raka secara refleks menepuk bahu Dimas dengan cukup keras untuk memberi tahu. Sayangnya, timing Raka sangat buruk. Pada detik yang sama, Dimas sedang mengangkat mangkok mi-nya untuk menyeruput kuah terakhir!

PLAK!

Dukungan dorongan tangan Raka membuat tangan Dimas tersentak. Mangkok itu terguling, dan sisa kuah mi yang berminyak beserta selembar daun sawi langsung tumpah tepat di atas kepala Dimas!

"BANGSAT! APA-APAAN SIH, RAK! GUE LAGI MINUM KUAH!" amuk Dimas seketika. Suaranya melengking tinggi hingga beberapa meja di sekitar mereka menoleh kaget.

Raka menoleh kembali ke arah Dimas dan langsung membelalakkan mata. Ia menggigit bibirnya, menahan tawa yang hampir meledak melihat kondisi Dimas yang sangat ngenes. Kuah kecokelatan menetes dari ujung rambut Dimas, lengkap dengan selembar daun sawi yang menempel manis di keningnya.

"Wah... sori, sori banget, Mas! Gue beneran gak sengaja!" ucap Raka panik sambil menyodorkan beberapa lembar tisu.

Dimas mengusap kepalanya dengan wajah sangat kesal. "Huh! Bikin kaget aja lu! Lu ngeliat apaan sih dari tadi sampai nabrak tangan gue?!"

Raka menunjuk cepat ke arah luar jendela. "Itu! Ada si Alya di luar, celingukan kayak orang kebingungan cari barang hilang."

Dimas menoleh ke belakang dengan kepala yang masih basah. Dan benar saja, di luar sana Alya tampak berjalan terburu-buru sambil sesekali menoleh curiga ke belakangnya.

"Lah, iya... Ngapain dia jalan sendirian kayak gitu?" gumam Dimas.

"Mau coba samperin gak?" tawar Raka.

Dimas menunjuk wajahnya sendiri yang berminyak dengan tatapan menuntut. "Traktir gue makan siang esok hari dulu sebagai ganti rugi atas musibah kuah ini!"

Raka meringis pelan. Tanpa banyak bicara, ia merogoh saku celana abu-abunya, mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan, lalu menyerahkannya pada Dimas. "Nih, ganti rugi. Cukup gak?"

"Cukup," sahut Dimas cepat menyambar uang itu.

"Mau lanjut makan lagi gak lu?"

"Gak, udah gak mood gue," sungut Dimas sambil membersihkan sisa kuah di bajunya.

"Yaudah, gue mau samperin Alya dulu sebelum dia makin jauh!" kata Raka berdiri dari kursi.

"Eh, tunggu dulu!"

Dimas buru-buru bangun dari tempat duduknya, berniat menyusul Raka yang sudah melangkah cepat keluar kantin. Namun, sebagai murid yang masih punya nurani, Dimas mempercepat langkahnya sebentar untuk mengembalikan mangkok bekas mereka ke tempat penampungan alat makan.

Setelah merapikan meja, Dimas setengah berlari menyusuri lorong untuk menyusul Raka.

"Huh... huh... tungguin napa, Rak! Main tinggal aja!" protes Dimas napasnya agak terengah-engah begitu berhasil sejajar dengan Raka.

"Salah sendiri lambat," balas Raka santai.

Dimas mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong yang mulai sepi. "Lah, mana si Alya?"

"Udah pergi dari tadi," jawab Raka tenang.

"Yah... ketinggalan dong kita!" keluh Dimas kecewa. "Terus gimana? Tadi lu sempet ngomong sama dia gak sebelum dia pergi?"

"Sempet."

"Terus dia jawab apa pas lu tanya?"

Raka menghentikan langkahnya, menatap lurus ke depan. "Dia bilang... dia merasa ada seseorang yang lagi ngintai dia dari jauh dari tadi pagi."

Mata Dimas membelalak. "Ohh... apakah itu juga orang yang sama yang nempelin poster misterius 100 juta itu?"

"Bisa jadi," sahut Raka pendek.

"Anjir... merinding gue," gumam Dimas sambil mengusap-usap kedua lengan tangannya yang mendadak meremang. "Berarti... kalau Alya diintai, si pelaku gila itu lagi ngeliatin daerah sekitar sini juga dong sekarang?!"

Raka tidak menjawab. Ia mulai mengedarkan pandangan matanya secara teliti, menyapu setiap sudut lorong, deretan loker, hingga area taman di seberang mereka. Matanya yang tajam mendadak menangkap sebuah pergerakan mencurigakan di balik rimbunnya semak-semak bougenville.

Di sana, di antara celah dedaunan, tampak sesosok tubuh bersembunyi. Dan yang paling mengejutkan, sosok itu sedang memegang sebuah teropong jarak jauh yang mengarah tepat ke posisi Raka dan Dimas berdiri!

"Gila... dia ngapain di situ?" bisik Raka tak percaya.

"Hah? Apaan, Rak? Jangan asyik sendiri dong, ada apaan?!" Dimas ikut-ikutan panik.

Raka menunjuk tipis dengan dagunya. "Lihat ke semak-semak di depan."

Dimas memicingkan matanya, fokus menatap ke arah yang ditunjuk Raka. "Perempuan? Seriusan dia yang ngintai?"

"Kayaknya. Tapi gue gak bisa ngenalin siapa dia, kostumnya serba tertutup gitu," bisik Raka. Sosok di balik semak itu memang menggunakan jaket hoodie bertopi rapat dan masker hitam.

"Iya ya... mencurigakan banget," Dimas manggut-manggut setuju.

"Mau disamperin gak?" tanya Raka melirik Dimas.

"Ya samperin lah! Mumpung belum kabur!"

Raka langsung mengambil langkah seribu, berlari kencang menuju lokasi semak-semak tersebut, diikuti Dimas yang menyusul heboh dari belakang.

Namun, menyadari ada dua siswa yang berlari kencang ke arahnya, sosok pengintai itu bergerak sangat cepat. Hanya dalam hitungan detik, ia melompat mundur dengan lincah bagaikan seorang ninja, lalu menghilang di balik belokan lorong bangunan sekolah!

Siapakah sebenarnya sosok misterius di balik topeng dan teropong itu?

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!