Chesa yang terpaksa menikah kerena keadaan yang memaksa nya untuk menikah dengan seorang tuan muda dimana mamanya bekerja sebagai asisten dari Tuan besar Mahesswara.
hidup Abraham penuh misteri di mata Chesa, begitu pun orang-orang disekitar Abraham yang seakan menyembunyikan siapa Abra! Mampukah Chesa menerima keadaan tuan muda Abraham tersebut?
dan bagaimana kisah cinta dan kehidupan Chesa setelah hidup bersama dengan nya?
Apa misteri di balik tuan muda Abraham?
@novel callback 😁😁🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keinginan Pram
Chesa merasa ada yang sedang di sembunyikan mereka, lagi-lagi Abra penuh misteri.
"Daddy?" Gumam Chesa heran.
"kenapa dia memanggil Daddy? bukannya biasanya papa?" gumam Chesa lagi.
Sampai akhirnya panggilan seseorang membuyarkan lamunan nya. Kini mereka berada di dalam mobil menuju Bandara, lagi-lagi Chesa mulai asing dengan sikap Abra.
"Abraham! lepaskan!" bisik Chesa pada Abra karena sedari masuk mobil dia terus saja memeluk erat pinggang Chesa dan bersandar di bahu Chesa, chesa merasa tak enak dengan papa mertuanya.
"Kenapa? " tanya nya santai menanggapi bisikan Chesa.
"Malu sama papa Abra!" kata Chesa masih berbisik.
"Daddy terganggu?" tanya nya pada papanya yang membuat Chesa melotot seketika.
"Tidak! lanjut kan saja!" kata sang papa datar.
Akhirnya perjalanan panjang ke Bandara dengan drama manjanya Abra yang sudah masuk mode Pram.
Setelah bertemu dengan sang mama dan papa barunya, Chesa dan Abra melepaskan kepergian mereka.
papa Shakti menyeret Abra agak menjauh dari mereka.
"Pram...." setelah sekian lama papa Shakti baru memanggil Abra dengan nama alter ego nya itu.
"Jangan terlihat menyedihkan Dad!!" ucap Pram.
"Jaga Chesa dengan baik, dia wanita yang baik Pram, perlakuan dia dengan baik! dan Daddy harap kamu bisa terbuka dengan Chesa!"
"Hemmmm!"
"Jangan marah terus sama Daddy Pram!"
"Bukannya anda yang tak suka aku?"
"Pram... maafkan Daddy!" Tuan Shakti memohon seakan ingin dipeluk oleh Pram, namun Pram tak pernah se ramah itu pada tuan besar Shakti saat dia menjadi Abra.
Akhirnya mereka harus masuk pesawat beberapa saat lagi, pelukan Chesa di berikan pada semua nya termasuk sang mertua.
"Papa harus kuat dalam pengobatan dan harus sembuh pulang ke sini! okey pa?" ucap Chesa memberi semangat pada papa mertuanya.
"Iya sayang. . doakan papa ya!"
"Pasti pa!" kata Chesa sambil tersenyum.
"Ham, Papa pergi dulu, jaga Chesa baik-baik!"
"Dia istri ku Dad! jadi jangan khawatir!" kata Pram.
"Kau tak ingin memeluk papa?" tanya sang papa.
"Oh God! ini menyebalkan!" ucap Pram namun tetap maju memeluk papanya.
"Kembalilah saat masih bernyawa agar kau tak menyusahkan dia!!"
"Pasti Pram!! Daddy sayang sama kamu!" ucap tuan besar Shakti berbisik di pelukan Pram anaknya.
Setelah melepaskan pelukannya mama Rani, papa Arta dan papa Shakti masuk ke dalam dan meninggalkan mereka berdua, dan Chesa dan Pram segera kembali lagi ke rumah.
"Abra lepaskan!" pekik chesa ketika Pram terus saja menempel pada Chesa.
"Honey sayang.... panggil aku Honey!"
"Abra!.. honey lepaskan! aku harus menyiapkan makan siang kita!" bujuk Chesa yang akhirnya memanggil Honey pada Pram.
"Kau selalu mengemaskan sayang...cup.." satu kecupan mendarat di pipi kanan Chesa.
"Ya aku tau tapi aku harus masak dulu Abra!!"
"Lagi?" ucap Pram dingin.
"Honey.... ayolah aku masak dulu ya!" entah mengapa Chesa merasa takut dengan suara datar Abra, Abra tak pernah sedatar dan sedingin itu padanya.
"Aku mau mandi!" kata Pram dengan suara datarnya dan berlalu ke kamar mandi. melihat itu Chesa merasa lega karena dia merasa Abra melepaskan nya.
"Kenapa masih diam di sana? cepat!"
"Apa maksud kamu Ab ehem ..honey?" tanya Chesa binggung.
"Aku mau di mandiin! Sekarang!!" perintah nya seakan tak bisa di tolak lagi.
Pram masuk ke dalam kamar mandi dengan sedikit membanting pintu, membuat Chesa terjingkat karena kaget.
"Oh Tuhan!!! aku harap aku tidak punya penyakit jantung!!"
"Barbie kuu!!! cepat!!" teriak Pram dari dalam kamar mandi.
"Iya...."
ceklek.... di lihat suaminya sudah polos tanpa apa-apa berdiri di depan bathtub dan sedang mengisi air.
"Ho-honey bukannya kau bi-bisa mandi sendiri?" kata Chesa gugup, bukannya menjawab Pram berbalik dan melucuti satu persatu pakaian Chesa.
"Honey...jangan... a-aku harus ma-masak..nanti kamu kelaparan!" ucapnya tambah gugup, sayangnya Pram tak mau mendengar kan kata Chesa, dengan sedikit penolakan Chesa Pram akhirnya merobek dress dan pakaian dalam yang di pakai Chesa.
"Abra!?" teriak Chesa karena merasa kesal telah di abaikan suaminya. mendengar itu Pram merasa kesal karena di bentak oleh Chesa, tanpa menunggu lama Chesa di seret ke bawah shower dan menyalakan nya.
Pram mulai bermain-main dengan tubuh sang istri, mengunci kedua tangan Chesa ke atas, lama kelamaan Chesa terbuai dengan sentuhan Pram yang sedikit kasar dan menuntut.
"Jangan melawanku Barbie ku! aku bisa benar-benar kasar padamu! kau milikku jadi menurut lah!" bisik Pram di telinga Chesa sambil memainkan tangannya ke seluruh tubuh Chesa. Pram membalikkan tubuh Chesa dan dengan sekali hentakan, senjata pamungkas Pram sudah berada di dalam inti Chesa, sambil berpegangan dengan dua gunung kesayangan nya, Pram mulai menghentakkan senjata pamungkas nya sesuai irama.
"Nyala kan shower nya sayang!" bisik Pram ke telinga Chesa dan akhirnya tangan Chesa bergerak menyalahkan shower.
Suara desahan Chesa membuat Pram semakin menggila, berbagai macam pose di pakai dalam menyenangkan Chesa, entah sudah berapa kali Chesa mendapatkan pelepasan nya namun tidak dengan Pram.
"Honey...aku capek!" kata Chesa lemah
tanpa banyak bicara Pram membawa Chesa keluar dari kamar mandi dan membawanya ke ranjang di sana kembali Pram menindih Chesa.
"Tunggu sebentar lagi sayang..... sebentar lagi aku sampai!" ucap Pram dan mengarahkan senjata pamungkas nya ke sarangnya dan segera memacunya dengan cepat, dia sudah kasihan melihat istrinya yang terlihat capek, dan benar saja beberapa saat kemudian kembali mereka sampai pada puncak permainan mereka. Pram berguling ke samping Chesa dan memeluk nya erat.
"capek sayang?"
"Gila kamu!!" ucap Chesa kesal karena di gempur habis-habisan oleh suaminya.
"Aku selalu gila kalo melihat kamu!" bisik Pram dan mengeratkan pelukannya.
Begitulah Pram alter ego Abra itu lebih bisa mengekpresikan keinginan nya dari pada Abra.Abra akan lebih lembut dan lebih mengutarakan keinginannya namun bila Pram mendominasi maka bila marah atau kesal Pram akan lebih menyalurkan nya dengan perbuatannya.
Sebenarnya Pram khawatir akan kesehatan papanya, dan di rumah rasanya dia ingin terus memeluk Chesa sebagai bentuk kekhawatiran pada sang papa, namun penolakan Chesa justru membuat Pram marah dan berakhir dengan penyatuan mereka.
"Tidurlah temani aku!"
"Kau tidak lapar?"
"Tidak! aku mau tidur di peluk!"
Pram sudah terlihat mengantuk di dalam selimutnya dan terus memeluk Chesa.
"Aku khawatir dengan Daddy, aku ingin Daddy sembuh!!" gumam nya yang masih terdengar oleh Chesa.
"Kenapa kau memanggilnya Daddy? bukan papa?"
"Karena dia Daddy ku, Abra yang lebih suka memanggil papa!" ucap Pram tanpa sadar karena pengaruh mata kantuknya.
"La-lalu kau.. kau si-siapa?"
Tak terdengar lagi suara Pram, yang ada hanya suara dengkuran halus dari Lelaki yang menjadi suaminya saat ini.
"Kau siapa Abra?" gumam Chesa sambil membelai wajah tampan suaminya.
bersambung
genderang drumm..bertalu..
jantung berpacu..
sensasi manisnya..yg memabukan..
kayayakkkkkssss...permen lolipop..
😉😆🤣😂😆😅😄😄
nek dicaplok wong.. mampus lu..
🤣😂😁😀
ya thor..ya..
🤣😂😆😅😄😃
tp kau nasehatin sahabatmu..
kau tak bs move on jg..
dasar..😐🤨😐🤨