Kisah tentang Sukame yang mendapat julukan Pendekar Murah Hati. Dimana kehidupannya dimulai dari masa kecilnya hingga ketika dia menghadapi hitam putihnya dunia persilatan.
Ternyata banyak sekali suka dan duka yang dia alami, yang membuat dirinya sadar akan apa dan mengapa tujuannya untuk hidup.
Bagi yang penasaran akan kisah ini silahkan membaca semoga menjadi terhibur serta dapat mengambil hikmah dari kisah Pendekar Murah Hati ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon loren defretes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjumpaan dengan Dewi Tangan Seribu
Tuan muda yang kaya tetapi sombong tertawa mendengar syarat yang diajukan oleh Sukame.
"Ach dasar bodoh, paling baru satu jurus kamu sudah roboh, tidak bisa bangkit lagi" ujarnya.
"Bersiaplah!" ujar anak orang kaya itu memandang remeh Sukame.
Anak itu sebenarnya tidak mengetahui kalau setiap hari Sukame menghafal gerakan gerakan silat baik dari Partai Pengemis maupun dari pendekar lainnya, sehingga dia hafal tentang gerakan silat yang hanya terdiri dari dua gerakan yaitu menyerang dan bertahan.
Akan tetapi mengenai tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh Sukame belum mengetahui dan mempelajarinya, kelebihan dari Sukame adalah pintar dalam membaca gerakan lawannya.
Sukamepun berdiri sambil memasang kuda-kuda supaya kakinya kokoh.
"Jurus Belalang Tempur!" teriak anak kaya itu sambil melompat dan menendang Sukame dengan kekuatan penuh.
Sukamepun menunduk sambil memundurkan kakinya kebelakang.
Serangan tersebut ditujukan kearah kepala dan dadanya, sebab jurus itu melakukan dua tendangan, tendangan kaki pertama anak itu meleset melewati kepala Sukame, sedangkan tendangan susulan kaki lainnya dapat di tangkis dengan mudah, akan tetapi karena Sukame belum menguasai tenaga dalam sehingga tendangan tersebut membuat dirinya terlempar mundur 4 langkah ke belakang.
"Achhh sakit sekali" Sukame meringis kesakitan.
Anak kaya itu tersulut emosinya karena Sukame dapat menahan jurusnya dan dia mengetahui ternyata Sukame belum menguasai teknik tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, maka itu dia mengeluarkan jurus kedua
"Pukulan Gajah!" teriak anak kaya itu mengeluarkan jurus keduanya, berharap pukulan tersebut membuat Sukame roboh.
Melihat serangan yang berat kearah perutnya, Sukame melompat kesamping ternyata gerakan tangan tersebut hanyalah tipuan.
Gerakan tangan yang mengarah keperut Sukame berubah, dan tiba tiba tubuh anak kaya itu bergerak kesamping diikuti pukulan kedua tangannya.
"Ach, sebaiknya ku tahan serangan anak itu!" gumam Sukame dalam hati.
Dia berusaha menahan serangan itu tetapi tidak menggunakan tenaga. Sehingga tubuh Sukame terpental sangat keras, membuat pukulan anak itu tidak mengenai tubuh Sukame seakan-akan anak kaya itu sedang memukul angin.
"B*ngs*t" anak kaya itu mengumpat dengan kesal.
Mukanya merah ketika melihat Sukame masih bisa bertahan, meskipun dia terdorong jatuh beberapa langkah, tetapi tidak menimbulkan cedera serius ditubuhnya.
Anak kaya itu mengejar Sukame yang sedang berusaha untuk bangkit, tiba tiba anak kaya itu menyerang Sukame dengan membabi buta.
Sukame berguling ditanah menghindari serangan anak itu, namun apa daya kecepatan anak itu luar biasa, padahal sudah lebih dari tiga jurus anak itu terus menyerang dan memukuli Sukame.
Tiba-tiba terdengarlah suara yang sangat keras dan tegasnya, ketika orang itu melihat anak kaya tidak henti hentinya memukul Sukame dengan membabi buta, sedangkan Sukame berusaha melindungi perutnya dengan kakinya menekuk, dan menutup wajahnya.
"Loufa, apa yang kau perbuat dengan anak pengemis itu?"
Ketika mendengar teriakan dari seseorang yang dia kenal, Anak kaya itupun berhenti memukuli Sukame dan memberi hormat kepada seorang kakek yang sudah berusia 60 tahun.
"Maaf kek, mereka duluan yang mengajak saya berkelahi."
Sukame perlahan lahan bangkit dan mengusap darah yang keluar dari seluruh tubuhnya, terlihat benjolan dan bengkak di dahi dan wajahnya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Riek membantu Sukame berdiri.
"Aku tidak apa apa!" saut Sukame.
"Apa benar yang dikatakan cucuku barusan?" tanya Kakek itu sambil berjalan mendekati Sukame dan Riek.
"Sebenarnya cucu tuan yang mulai duluan untuk mengajak kami berkelahi dan menyuruh kami menyerangnya.
Sebelum bertanding dengan Sukame, dia memberi syarat boleh menyerang hanya dengan tiga jurus saja, akan tetapi selama menyerang dengan tiga jurus itu, cucu tuan menjadi beringas dan menyerangnya secara membabi buta." jawab Riek menundukkan kepalanya.
"Apa benar yang dikatakan oleh anak itu?, Loufa."
"Itu semua tidak benar kek, merekalah yang menyerang ku duluan."
"Dasar pengemis pergi kalian dari hadapanku sebelum aku menghajar kalian, dan ingat aku akan memberitahukan perbuatan kalian kepada ketua kalian" ujar Si kakek itu, sambil melihat dengan tatapan sinis ke arah Sukame dan Riek bergantian.
"Tetapi..." sebelum Riek melanjutkan perkataannya Sukame sudah menarik tangannya dan mereka berduapun pergi dari hadapan kakek itu.
Mereka berdua mencari tempat yang sepi untuk beristirahat.
"Aduh..." seru Sukame.
"Sakit?" tanya Riek merasa sedih hingga meneteskan air mata melihat kondisi Sukame yang tubuhnya babak belur.
Keduanyapun menangis terisak-isak, meratapi kemalangan yang menimpa mereka sejak dari pagi belum makan ditambah seluruh tubuhnya babak belur.
Disaat mereka menangis tanpa mereka sadari sejak dari tadi seorang nenek memakai topi caping berdiri disamping mereka.
"Jangan menangis!, nenek bawakan makanan untuk kalian" seru nenek itu menyodorkan 2 buah bungkusan.
Merekapun berhenti menangis ketika mendengar suara itu, lalu Sukame dan Riek menoleh asal suara itu.
"Dewi Tangan Seribu!" seru mereka berdua bersama sama.
"Rupanya kalian berdua sudah mengenal diriku?, ini makanlah!" seru Dewi Tangan Seribu memberikan kepada mereka dua bungkus nasi.
"Terima kasih Dewi" saut mereka.
"Hmmm, jangan memanggilku dengan sebutan itu, panggil saja nenek!
"Dari mana kalian tahu bahwa diriku adalah Dewi Tangan Seribu?" tanya dia lagi.
Mereka berduapun bercerita tentang kejadian di warung makan sebelum masuk ke kota Raja.
"Hmmm, ternyata kalian berdua anak yang cerdas, siapa nama kalian?" tanya Dewi Tangan Seribu.
"Saya Riek dan ini teman saya Sukame" Mereka bercerita panjang lebar kepada Dewi Tangan Seribu, tentang siapa mereka sebenarnya.
"Oghhh, jadi kalian berdua dari anggota Partai Pengemis Tongkat Anjing?"
Sebenarnya Dewi Tangan Seribu sudah memperhatikan mereka berdua sejak dari pintu gerbang istana Raja, Dewi tangan seribu sangat tertarik dengan Sukame dilihat dari kepribadian, sikap serta kepintarannya.
Ketika Sukame tadi mendapat pukulan sebenarnya Dewi Tangan Seribu ingin menolong Sukame, akan tetapi tiba tiba kedatangan kakek anak itu membuat ia membatalkan niatnya untuk menolongnya.
"Makanlah yang banyak!" seru Dewi Tangan Seribu, kesedihan mereka berubah menjadi suka cita, sebab mereka telah mendapatkan makanan untuk mengganjal perut.
Setelah selesai makan, Dewi Tangan Seribu mengambil dua keping perak diberikan kepada Sukame dan Riek.
"Terima kasih nek" ujar mereka.
"Pakailah uang itu untuk membeli obat, obatilah luka kalian!" seru Dewi Tangan Seribu.
"Terima kasih nek" saut Sukame dan Riek tersenyum senang.
"Nenek pergi dulu" saut Dewi Tangan Seribu.
Setelah Dewi Tangan Seribu tidak terlihat dari pandangan mereka, mereka berduapun kembali tersenyum bahagia karena hari ini mereka telah berjumpa dengan Dewi Tangan Seribu dan sebagai penolong mereka.
"Sebaiknya kita ke toko untuk membeli obat!" seru Riek melihat seluruh tubuh teman yang berada disampingnya sangat memprihatinkan banyak luka lebam beserta darah yang keluar dari sekujur tubuhnya.
Sukame pun mengangguk tanda setuju.
R I P 💐
1. Berlari di atas Awan
2. Tangan Penyembah.
Jurus yg laen pada kmna..!??