Jelita pergi dari rumah dengan membawa pedih dan luka, setelah mendapati kenyataan pahit. Ayahnya telah mengkhianati sang ibu dengan menikahi wanita simpanannya dan membawa wanita itu beserta seorang putri hasil perselingkuhan mereka, yang termasuk saudara tiri Jelita.
Malam dimana Jelita seharusnya mendapat cinta penuh dan tanggung jawab dari Chandra Adi Prama, Nyatanya membuat Jelita makin terluka setelah dengan terang-terangan, Chandra, pria yang dicintainya itu, menyatakan akan menikahi saudara tiri Jelita.
Ditambah lagi dengan sang ibu yang juga telah berpulang ke pangkuan yang maha kuasa, membuat Jelita tepaksa membekukan hatinya.
Hingga jelita pergi membawa luka dan membawa satu-satunya keluarga yang akan menemani jelita selamanya, Membuat hati jelita terasa beku dan enggan mengakui memiliki keluarga.
~Penasaran kisahnya?
Jangan lupa dukung dengan tap love, like, comment and vote yaa....~
Mohon perhatian....
Bagi siapapun yang melihat karya saya di plagiat di aplikasi lain, mohon segera memberi tahu saya.
Kebijakan ini berdasarkan karya saya PESONA ANAK PEMBANTU pernah di plagiat di aplikasi lain dan saya tidak mau mengulangi hal serupa atas cerita ini.
Terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Jangan pernah mempergunakan dan memanfaatkan orang lain untuk kepentingan kita.
Bila tak mampu, maka terimalah.
Bila tak sanggup, maka diamlah.
Bila tak bisa, maka jangan memaksa menyeret orang lain untuk membantu mu.
Saat ini, jelita tengah duduk di sebuah cafe seberang rumah sakit. Setelah penawaran alot yang terjadi, pada akhirnya Jelita bersedia berbicara dengan tuan Reksa Adi Prama dan Ratna Adi Prama.
Bukan karna Jelita Luluh.
Melainkan karna Jelita penasaran dengan apa yang akan mereka katakan. Jelita hanya mencoba mengikuti permainan mereka. Penasaran dengan apa yang hendak mereka rencanakan.
Suasana mendadak hening tatkala tuan Reksa, nyonya Ratna serta jelita dan Radhi duduk bersama dalam satu meja.
Suara desah angin beserta detak jarum jam lebih dominan. Jelita lama-lama jadi tak sabar dengan situasi seperti demikian ini. Membuang waktu dan membuat Jelita enggan berlama-lama.
"Jadi, apa tujuan anda membawaku kemari tuan dan nyonya Adi Prama? Membuang waktu ku? Ketahuilah bahwa waktu ku lebih berharga di banding meladeni lelucon kalian."
Jelita berkelakar dengan keangkuhan yang mendominasi. Tidak perduli bahwa yang ada di hadapannya adalah Adi Prama, pengusaha perhotelan dan pariwisata di banyak kota.
Jelita tak gentar.
Bagi Jelita semua sama.
Orang kaya bisa saja seenaknya tanpa memikirkan konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Dampaknya.... kaum marginal lah yang lebih di rugikan.
Nyonya Ratna masih nampak tenang. Beliau memahami dengan apa yang membuat Jelita berkata sekadar ini.
Di sisi Jelita, Radhi sang suami masih nampak datar dengan wajah ramah nya.
"Putraku Chandra sudah menceritakan semua masa lalu tentangmu, nak. Perihal kebodohannya bahwa telah memanfaatkanku demi mendapatkan istrinya yang sekarang". Tuan Reksa memulai percakapan.
Jelita dan Radhi menyimak dengan tenang tanpa terpengaruh.
Ketahuilah, Jelita kembali meradang meski mati-matian ia menahannya. Ia hanya ingin tau, kalimat apa yang akan ia dengan dari tuan dan nyonya besar Adi Prama.
"Perihal kesalahannya di masa lalu, aku dan istriku selaku orang tuanya memohon maaf yang tiada batas. Tidak bisakah kita memulai dari awal dan menjaga hubungan selayaknya keluarga. Kami mengerti dengan apa yang kau alami, nak", Lanjut tuan Reksa.
Tak jauh dari mereka, Dewi dan Chandra muncul bersamaan, Jelita memicingkan mata curiga, merasa tak nyaman dengan situasi demikian.
Radhi semakin waspada.
Beruntung Radhi selalu membekali diri dengan senjata keamanan berupa pistol yang selalu tersemat di balik jas bagian punggungnya.
Tanpa kata, Chandra dan Dewi duduk di meja yang sama dengan mereka.
"Cepat katakan apa tujuanmu mengundangku kemari tuan Adi Prama. Aku tak suka basa-basi. Cepat katakan jangan bertele-tele".
Jelita masih tenang. Radhi mengumpat dalam hati. Bukan tak tau. Bahkan Radhi bisa merasakan bahwa istrinya tak nyaman dengan situasi ini.
"Aku sengaja membawa Chandra dan istrinya kemari untuk berbicara baik-baik. Dengar, kalian harus berbicara dan menemukan titik sepakat. Antara kalian, ada Arlan dan Ariana yang nasibnya harus kalian pikirkan". Tuan Reksa berbicara penuh permohonan.
"Hua ha ha ha ha......."
Jelita tertawa degan anggun namun terkesan mengerikan. Terasa menukik di telinga dan sarat akan kemarahan yang tertahan.
Radhi mengepalkan jari-jari tangannya hingga memutih. Radhi ingin marah. Radhi ingin menghajar semua yang ada di sana.
Namun sebisa mungkin ia tahan. Radhi tetap menjaga tindak tanduknya. Begitu juga dengan Jelita.
"Jadi, maksudnya, kalian menuntut hak atas Ariana dan Arlan? Lucu ... sungguh lucu....
Dulu.... kemana kalian saat aku mengandung? kau Chandra....", Jelita berdiri menunjuk Chandra dengan jari telunjuknya tepat di kening Chandra.
"Kau kemana dulu saat Arlan dan Ariana?".
"Kau tak mengatakannya padaku, Lita" Dan ab Chandra.
"Karna kau sudah jelas mengatakan memilih dia di banding aku". Jelita menunjuk Dewi. "Andai kau tak mengatakan bahwa kau memanfaatkan aku demi anak haram ini, apa kau pikir aku akan Setega itu memisahkan seorang anak dari ayahnya? Aku tak sebodoh dan bangsat!".
"Dengar.... aku bukan Ambar Sayu yang mau saja menikah dengan pria yang tak mencintaiku. Lihat lah akhir hidup Ambar Sayu. Tragis hingga akhir hayatnya. Bahkan pria yang hidup dengannya selama dua puluh tahun tega memasukkan selingkuhannya dan anak haram mereka ke rumah itu"
Suasana mendadak mencekam. Ketegangan jelas kentara di antara mereka.
"Jangan egois, Lita. Biar bagaimana pun, aku ayahnya. Aku juga berhak atas mereka."
"Lihat!!!!"
Jelita menunjuk Radhi yang duduk tenang di sampingnya.
"Lihatlah malaikat di sisiku ini. Dialah ayah bagi Arlan dan Ariana. Arlan dan Ariana tak butuh ayah laknat macam kalian!! Tak berkurang sedikitpun kasih sayang bagi Arlan dan Ariana. Jadi kubur dalam-dalam mimpimu itu tuan Adi Prama."
"Sayang, redam emosimu. Aku tak mau kau terluka.", Jawab Radhi pelan dengan merengkuh tubuh molek istrinya.
Taukah kau bagaimana Chandra?
Hatinya mendadak di kuasai amarah yang begitu membuncah.
Bukankah Jelita memang milik Radhi? Jadi Mengapa Chandra harus marah? Bukankah dulu Chandra lah yang tega mencampakkan Jelita?
Siapa di sini yang bodoh?
Kau benar-benar apes, Chandra.
"Aku tak bisa diam saja, mas Radhi. Mereka berniat mengambil Arlan dan Ariana perlahan dariku. Aku tak bisa membiarkan itu.", kata jelita dengan nada berapi-api.
"Aku tak berniat mengambil Arlan dan Ariana darimu, Lita. Aku hanya memohon maaf atas kesalahan di masa lalu. Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya. Dan biarkan Arlan dan Ariana tau bahwa aku ayah biologisnya" Jawab Chandra dengan putus asa.
"Dalam mimpimu, tuan Adi Prama!!".
Jelita beranjak dan mengambil tasnya. Menarik pelan tangan Radhi dan meninggalkan mereka yang penuh dengan kekecewaan.
'Aku mencintaimu, Lita. Sangat......'
Batin Chandra menangis.
*****
"Mas Radhi, Cari cara agar Arlan dan Ariana tak terdeteksi oleh mereka. Aku berfirasat tak baik tentang ini. Aku mohon!!!".
Jelita mengiba sepanjang perjalanan. Sebisa mungkin Radhi menenangkan istrinya.
"Tenanglah, sayang. Kalian adalah tanggung jawabku. Sepertinya, kita harus kembali ke rumah lama kita. Kita bersiap sekarang. Aku pastikan mereka tak dapat mendeteksi keberadaan kita".
"Aku mencintaimu, mas".
Jelita, benar-mar jatuh pada pesona kebaikan Radhi yang bak malaikat.
Sungguh segala hal yang ada pada Radhi, begitu memabukkan Lita. Lita bersumpah pada dirinya sendiri, tak kan ia biarkan pria di sampingnya itu terluka
🍁🌺🍁