Demi melunasi utang keluarga, **Meilani "Lani" Lie** rela menjadi simpanan **Gunawan Tio**, konglomerat garmen berusia 42 tahun. Hidupnya nyaris sempurna di balik topeng—sampai **Rey**, putra Gunawan yang baru pulang dari luar negeri dengan tubuh penuh luka, menatapnya penuh benci.
*"Habis menggoda yang tua, sekarang mau menggoda yang muda?"*
Rey membencinya. Sepuluh tahun lebih muda, liar, dan berbahaya—ia bersumpah mengusir Lani dari rumah itu. Tapi semakin ia menekan, semakin ia tak bisa lepas. Dan ketika Lani akhirnya pergi tanpa membawa sepeser pun uang, Rey baru sadar satu hal terlambat: **ia salah membenci orang.**
Dari benci menjadi obsesi, dari paksaan menjadi penebusan—inilah kisah cinta paling terlarang: mantan simpanan sang ayah, dan sang putra yang menolak melepasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
BAB 20
PEREMPUAN MACAM APA AKU
Wulan menjatuhkan piring ketiga dalam satu minggu.
Pecahannya menyebar di dapur. Bu Suminah datang dengan wajah kesal.
"Nak Wulan kok bengong terus? Kemarin baju Bapak kelunturan. Sekarang piring lagi."
"Maaf, Bu. Tanganku licin."
"Kalau capek mengurus rumah, bagaimana mau punya anak lagi?"
Wulan berjongkok mengumpulkan pecahan. Setiap kali memejamkan mata, ia mendengar suara Bram dalam gelap memanggil `Bu Wulan`. Ciuman itu hanya berlangsung sebentar. Tidak ada hubungan badan. Bram berhenti begitu identitas mereka jelas.
Tetap saja bibir Wulan mengingat kelembutannya.
Itulah bagian yang paling membuatnya takut.
Malam hari Dimas mencoba memeluk dari belakang. Wulan spontan menjauh.
"Kenapa?"
"Aku capek, Mas."
"Kamu selalu capek sekarang."
Dimas membalik badan tanpa bertanya lebih jauh. Lima menit kemudian napasnya sudah teratur.
Wulan menatap punggung suaminya. Ia ingin memperbaiki pernikahan, tetapi Dimas bahkan tidak melihat ada sesuatu yang perlu diperbaiki.
***
Keesokan siang, Wulan memakai masker dan kacamata hitam ke apotek dua kecamatan dari rumah.
Ia berdiri lama di depan rak kontrasepsi sebelum mendekati apoteker perempuan.
"Saya mau beli pil KB."
Apoteker menanyakan riwayat kesehatan, obat yang sedang digunakan, dan tujuan pemakaian. Wulan menjawab terbata.
"Kalau Ibu khawatir tentang kejadian yang sudah lewat, pil KB harian tidak bekerja sebagai obat darurat," jelasnya. "Kalau hanya terjadi ciuman atau sentuhan tanpa hubungan badan, tidak ada risiko kehamilan. Untuk mulai kontrasepsi ke depan, sebaiknya konsultasikan pilihan yang cocok."
Wulan menunduk. "Aku mau mulai untuk ke depan."
Ia tidak tahu masa depan seperti apa yang sedang dipersiapkannya. Mungkin ia hanya butuh satu tindakan yang terasa seperti kendali.
Apoteker memberi aturan pakai dan menyarankan pemeriksaan tekanan darah. Wulan membeli satu kemasan, air mineral, lalu duduk di bangku luar.
Ia menelan pil pertama dengan tangan gemetar.
`Itu kecelakaan,` katanya dalam hati. `Tidak akan terulang.`
Ia akan menjaga jarak dari Pak Bram. Tidak membalas nomor asing. Tidak datang ke kantor jika tidak perlu. Tidak mengatakan apa pun kepada Dimas.
Wulan menyimpan kemasan di dasar tas, di bawah dompet dan buku catatan belanja.
***
Hari-hari kembali menyerupai kehidupan lama.
Wulan bangun sebelum Subuh, memasak, mengantar Dika, mencuci, menyetrika, dan mendengar Bu Suminah mengoreksi segala hal. Ia mencoba mengajak Dimas bicara setelah makan malam.
Saat menjemput Dika, wali kelas mengingatkan biaya kegiatan yang belum dibayar. Wulan menggunakan sebagian saldo kartu belanja pemberian Lani lalu menggantinya dengan uang tunai dari amplop darurat.
Di rumah, Bu Suminah melihat struk.
"Kenapa mahal sekali? Zaman Dimas sekolah nggak banyak acara begini."
"Ini kegiatan seluruh kelas, Bu."
"Kalau kamu pintar bicara sama sekolah, bisa minta keringanan. Jangan sedikit-sedikit ambil uang."
Dika berdiri di belakang Wulan dan menunduk, seolah biaya sekolah adalah kesalahannya.
"Dika masuk kamar dulu," kata Wulan.
Setelah anak itu pergi, ia berkata lebih tegas, "Tolong jangan bicara soal biaya di depannya. Dia nggak perlu merasa menjadi beban."
Bu Suminah tersinggung. "Sekarang kamu mengajari saya bicara?"
Wulan tidak meminta maaf. Ini perubahan kecil, tetapi membuat tangannya bergetar sampai malam.
"Mas, akhir-akhir ini kita jarang bersama."
"Aku banyak deadline."
"Bukan cuma waktu. Aku merasa kamu nggak melihatku."
Dimas menatap ponsel. "Aku pulang ke rumah setiap hari. Kurang apa?"
"Pulang bukan berarti hadir."
"Jangan mulai pakai kalimat media sosial. Kamu kebanyakan curhat sama teman-temanmu."
Wulan menahan napas. "Aku ingin kita memperbaiki pernikahan."
"Nggak ada yang rusak."
Ia pergi mandi. Wulan duduk di meja dengan dua cangkir teh yang sudah dibuat untuk percakapan itu.
Satu tetap tidak disentuh.
Semakin keras ia mencoba kembali menjadi istri yang sama, semakin jelas bahwa malam bersama Bram bukan penyebab retaknya rumah tangga. Retak itu sudah lama ada. Malam tersebut hanya menyalakan cahaya di dalamnya.
***
Di lantai tertinggi Nusantara Interactive, Bram membaca laporan tanpa memahami satu paragraf pun.
Ia sudah memindahkan rapat dua kali. Setiap melihat Dimas, pikirannya kembali ke rumah Bekasi, mati lampu, dan perempuan yang menciumnya karena mengira ia suaminya.
Bram tidak bangga.
Ia seharusnya tidak membalas sebelum memastikan siapa yang berada di kamar. Ia sudah meminta maaf dan tidak akan menggunakan kekuasaan sebagai atasan untuk menekan Wulan.
Ia juga meminta Sekar memastikan evaluasi kerja Dimas ditangani kepala divisi lain selama beberapa minggu. Bram tidak ingin perasaannya, baik atau buruk, mengubah penilaian atas suami Wulan. Ia menolak menggunakan sopir perusahaan untuk mencari alamat, tidak meminta data keluarga dari personalia, dan tidak menghubungi Wulan lewat nomor Dimas.
Jika ia mendekat, Wulan harus tahu siapa yang mendekat dan mempunyai ruang penuh untuk berkata tidak.
Namun ada sesuatu yang lebih jujur dan lebih buruk daripada rasa bersalah.
Ia memikirkan Wulan bahkan sebelum malam itu.
Tisu di ballroom. Map merah yang diantarkan. Cara perempuan itu mengisi piring semua orang dan berkata `nggak apa-apa` ketika tak seorang pun memikirkan apakah ia sudah makan.
Bram memanggil Sekar.
"Saya perlu nomor Bu Wulan."
Sekar berhenti mencatat. "Untuk keperluan apa, Pak?"
Pertanyaan itu tepat. Bram tidak ingin asistennya mengambil data pribadi tanpa alasan.
"Jangan ambil dari data perusahaan. Minta Dimas menambahkan kontak keluarga ke daftar undangan acara tindak lanjut. Kalau Bu Wulan menyetujuinya, baru berikan kepada saya."
"Baik, Pak."
Dua hari kemudian, Sekar membawa formulir digital yang memang diisi Wulan untuk menerima foto acara. Di sana ada kotak persetujuan kontak panitia dan nomor WhatsApp.
Bram menyimpan nomor itu, tetapi tidak langsung mengirim pesan.
Ia mencoba menjelaskan ketertarikannya sebagai tanggung jawab atas kecelakaan. Penjelasan itu runtuh saat melihat Dimas menerima bekal dari Wulan, meletakkannya tanpa terima kasih, lalu mengeluh menu yang sama.
Bram tidak iri pada rumah tangga mereka.
Ia iri karena laki-laki seperti Dimas dicintai dengan begitu tekun dan menyia-nyiakannya.
`Aku ingin kamu mencintaiku.`
Pikiran itu datang utuh.
Yang diinginkan Bram bukan mengulang satu ciuman dalam gelap. Ia ingin Wulan melihatnya dalam terang dan tetap memilih mendekat.
Namun pilihan hanya berarti jika Wulan bebas menolak.
Ia mengetik pesan, menghapusnya, lalu menulis ulang dengan bahasa paling sederhana.
***
Di rumah, Wulan memasukkan pil KB ke belakang kotak jahit, tepat di bawah tisu dari acara perusahaan.
Ia menutup laci dan berkata pada diri sendiri bahwa semuanya selesai.
Ponselnya menyala.
Nomor yang tidak dikenal mengirim WhatsApp. Foto profilnya adalah logo Nusantara Interactive.
`Selamat malam, Bu Wulan. Saya Bram. Apakah saya boleh bicara?`
Jari Wulan membeku di atas layar.
Ia membaca pesan itu dua kali, lalu tiga kali.