NovelToon NovelToon
Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Ibu,Maaf Aku Harus Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Anak Genius
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: Cuek Tapi Manis

Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Mulai Terbuka

Malam semakin larut.

Husnan masih berdiri di depan pintu kamar Hendra. Ia menatap Om Hendra yang sejak tadi terlihat sangat serius.

“Om kenal Pak Arman, kan?”

Hendra tidak langsung menjawab.

Beberapa detik kemudian, ia menarik napas panjang.

“Iya, Om kenal.”

“Siapa sebenarnya dia?”

Hendra berjalan kembali menuju kursinya.

“Arman itu teman lama Om.”

“Teman?”

“Iya.”

Husnan mengangguk pelan, tetapi wajahnya masih penuh tanda tanya.

“Kalau cuma teman, kenapa Om kelihatan takut waktu aku menyebut namanya?”

Hendra terdiam.

Pertanyaan itu membuat suasana kamar menjadi semakin sunyi.

“Om tidak takut, Hus.”

“Tapi wajah Om berubah.”

Hendra menatap Husnan.

“Kamu terlalu banyak berpikir.”

Husnan tidak menjawab.

Ia merasa jawaban Hendra masih menyembunyikan sesuatu.

“Kalau memang ada masalah, Om bisa cerita sama aku.”

Hendra tersenyum tipis.

“Belum waktunya, Hus.”

“Belum waktunya?”

“Iya.”

“Terus kapan waktunya?”

Hendra kembali diam.

“Kalau waktunya sudah tepat, Om akan menceritakan semuanya.”

Husnan mengangguk meskipun sebenarnya ia masih penasaran.

“Ya sudah, Om. Aku tidur dulu.”

“Iya. Selamat malam.”

Husnan keluar dari kamar dan menutup pintu.

Begitu Husnan pergi, senyum di wajah Hendra langsung menghilang.

Ia mengambil ponselnya dan membaca kembali pesan dari Arman.

“Aku tahu kamu masih menyimpan sesuatu tentang kejadian dulu.”

Hendra mengepalkan tangannya.

“Arman... kenapa kamu kembali?”

Tiba-tiba ponselnya bergetar lagi.

Ting...

Pesan baru masuk.

“Besok pagi aku akan datang ke rumahmu.”

Hendra langsung berdiri.

“Jangan sampai Husnan bertemu dengannya.”

Ia kemudian keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang depan.

Di sana, Pak Bambang sedang duduk sambil memeriksa ponselnya.

“Bambang.”

Pak Bambang langsung menoleh.

“Iya, Pak?”

“Arman mau datang ke rumah besok.”

Wajah Bambang langsung berubah.

“Ke rumah?”

“Iya.”

“Kalau begitu bagaimana dengan Husnan?”

“Itu yang harus kita pikirkan.”

Pak Bambang terdiam.

“Pak, menurut saya kita harus menyelesaikan semuanya sebelum Arman datang.”

Hendra mengangguk.

“Aku juga berpikir begitu.”

“Tapi bagaimana caranya?”

Hendra tidak langsung menjawab.

Ia melihat ke arah tangga tempat Husnan tadi naik ke kamarnya.

“Kita tidak boleh membiarkan Husnan tahu terlalu banyak.”

Pak Bambang mengangguk.

“Baik, Pak.”

Sementara itu, di kamar, Husnan belum tidur.

Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memikirkan percakapannya dengan Hendra.

“Arman teman lama Om Hendra...”

Husnan mengingat kembali wajah Arman saat bertemu dengannya di sekolah.

Pria itu terlihat tenang, tetapi seperti mengetahui sesuatu tentang keluarganya.

Husnan mengambil buku catatan kecil dari meja.

Ia mulai menulis beberapa nama.

Om Hendra.

Pak Bambang.

Pak Arman.

Ayah Fajar.

Husnan menatap keempat nama itu.

“Kenapa semuanya seperti saling berhubungan?”

Ia belum menemukan jawabannya.

Namun satu hal mulai ia yakini.

Ada rahasia besar yang sedang disembunyikan orang-orang di sekitarnya.

Keesokan paginya, Husnan bangun lebih awal.

Setelah bersiap, ia turun ke ruang makan.

Om Hendra sudah berada di sana.

“Pagi, Hus.”

“Pagi, Om.”

Husnan duduk dan mulai sarapan.

Pak Bambang masuk beberapa saat kemudian.

“Pagi, Pak.”

“Pagi.”

Husnan memperhatikan wajah Pak Bambang.

Wajahnya terlihat tegang.

“Pak.”

“Iya?”

“Bapak kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Husnan tersenyum kecil.

“Bapak bilang tidak apa-apa terus.”

Pak Bambang hanya tertawa kecil.

“Memang tidak apa-apa, Hus.”

Hendra yang mendengar percakapan itu hanya diam.

Tidak lama kemudian, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.

Semua orang langsung terdiam.

Pak Bambang menoleh ke arah Hendra.

Hendra berdiri.

“Dia datang.”

Husnan mengerutkan dahi.

“Siapa, Om?”

Hendra tidak menjawab.

Bel rumah berbunyi.

Ting tong...

Pak Bambang berjalan menuju pintu.

Namun sebelum membukanya, Hendra menahannya.

“Biar aku.”

Hendra berjalan ke pintu.

Husnan masih berdiri di ruang makan sambil memperhatikan.

Hendra membuka pintu perlahan.

Arman berdiri di depan rumah.

“Selamat pagi, Hendra.”

Hendra menatapnya dengan serius.

“Kamu benar-benar datang.”

“Aku sudah bilang akan datang.”

Arman kemudian melihat ke dalam rumah.

Tatapannya berhenti pada Husnan.

Husnan juga menatap Arman.

Beberapa detik mereka saling memandang.

Kemudian Arman tersenyum tipis.

“Jadi ini Husnan?”

Hendra langsung berdiri sedikit di depan Husnan.

“Jangan libatkan dia.”

Arman mengangkat kedua tangannya.

“Aku tidak berniat melakukan apa-apa.”

Husnan semakin bingung.

“Om... sebenarnya ada apa?”

Hendra tidak menjawab.

Arman justru menatap Husnan.

“Sepertinya sudah waktunya kamu tahu.”

“Arman!” bentak Hendra.

Husnan terkejut.

Arman kemudian berkata pelan,

“Kalau Hendra tidak mau menceritakannya, aku yang akan cerita.”

Suasana rumah langsung berubah tegang.

Pak Bambang menundukkan kepalanya.

Husnan melihat mereka satu per satu.

“Cerita apa?”

Arman menatap Hendra.

“Kamu yakin masih mau menyembunyikannya?”

Hendra tidak menjawab.

Arman kemudian kembali menatap Husnan.

“Karena rahasia yang selama ini mereka sembunyikan... ternyata ada hubungannya dengan keluargamu.”

Husnan langsung terdiam.

Keluargaku?

Jantung Husnan berdebar.

Ia menatap Hendra dengan penuh pertanyaan.

“Om... apa maksudnya?”

Hendra hanya diam.

Dan untuk pertama kalinya, Husnan merasa bahwa semua pertanyaan yang selama ini ia miliki mungkin akan segera mendapatkan jawabannya.

Namun sebelum Arman mengatakan lebih jauh, terdengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah.

Semua orang langsung menoleh ke arah jendela.

Arman terlihat terkejut.

“Kenapa dia datang?”

Hendra menatapnya.

“Siapa?”

Arman tidak menjawab.

Ia hanya menatap ke arah pintu.

Kemudian terdengar ketukan.

Tok... tok... tok...

Husnan menatap pintu dengan penasaran.

Sementara Hendra dan Pak Bambang saling berpandangan.

Mereka seperti mengenal orang yang berada di balik pintu itu.

Dan kali ini, Husnan ingin tahu siapa sebenarnya orang tersebut.

1
the virtuso
saling support kak
Putry Chan
💪
Otna Forever
Siiip, lanjutkan
Obby Ilhamsyah: semangat nulis novelnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!