NovelToon NovelToon
Diantara Dua Bayangan

Diantara Dua Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:831
Nilai: 5
Nama Author: Fazry Fazriyah

Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Seperti Cerita Dalam Drama

Nara berbalik dan melangkah naik kembali menuju lantai dua. Di setiap pijakan tangganya, ada rasa hangat aneh yang tertinggal.

Pria dingin berjarak yang tadi pagi menutup pintu rumah dengan keras, ternyata punya sudut hati yang cukup tenggang rasa.

Tembok es di antara mereka belum mencair sepenuhnya, namun setidaknya, kini ada celah cahaya kecil yang menerobos masuk.

Begitu sampai di kamar, Nara mengunci pintu, melepaskan jilbabnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur berseprai krem yang empuk.

Suasana kamar terasa begitu hening dan tenang. Baru saja ia hendak mematikan lampu nakas dan memejamkan mata, ponselnya yang tergeletak di atas kasur bergetar nyaring.

Layar ponselnya menyala, menampilkan nama kontak yang sangat ia kenal: Laras.

Nara tersenyum tipis. Laras adalah sahabat masa kecilnya, orang yang paling tahu seluk-beluk hidupnya sejak zaman piyama berbaris hingga menginjak bangku kuliah.

Tanpa menunda, Nara menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.

"Assalamualaikum, Nara!" suara melengking penuh penyesalan langsung menyambar dari seberang telepon.

"Waalaikumsalam, Ras," jawab Nara dengan tawa kecil terlepas dari bibirnya. "Kenapa malam-malam begini baru menelepon?"

"Aduuuh, Nara! Maafkan aku, demi apa pun aku merasa bersalah banget!" cerocos Laras tanpa jeda. Suaranya terdengar panik bercampur sedih. "Aku benar-benar tidak bisa terbang balik dari Surabaya kemarin. Penerbanganku ditunda karena cuaca buruk, terus tugas dinas kantor benar-benar menahanku sampai malam ini. Aku sedih banget tidak bisa berdiri di samping kamu saat akad nikah kemarin..."

Nara terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur. "Sudah, tidak apa-apa, Laras. Aku paham kok. Kamu kan kerja, bukan sengaja keluyuran. Yang penting tugasmu lancar."

"Tapi tetap saja, Ra! Kamu itu sahabat terbaikku. Masa di hari pernikahanmu aku malah absen?" Laras mendesah berat di seberang sana. Hening sejenak sebelum suara Laras berubah menjadi sangat pelan dan penuh kehati-hatian. "Ra... bagaimana keadaanmu sekarang? Maksudku... pernikahan ini kan..."

Laras tidak melanjutkan kalimatnya, namun Nara tahu persis arah pembicaraan itu. Laras adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa pernikahan Nara dan Zaid dijodohkan secara mendadak oleh keluarga tanpa landasan asmara sedikit pun.

Nara menatap langit-langit kamarnya yang tinggi, merenungkan pertanyaan Laras.

"Aku baik-baik saja, Ras," jawab Nara tenang, berusaha sejujur mungkin pada dirinya sendiri. "Awalnya memang terasa sangat asing dan menakutkan. Rumah ini terlalu besar dan sepi. Zaid juga tipe pria yang pendiam dan kaku. Tapi... ternyata dia tidak seburuk atau sekejam yang aku bayangkan."

"Beneran, Ra?" suara Laras terdengar terkejut sekaligus lega. "Dia tidak jahat kan sama kamu? Dia tidak memperlakukan kamu dengan semena-mena, kan?"

"Tidak sama sekali," bisik Nara, teringat momen di dapur beberapa menit yang lalu. "Dia punya batasan yang tegas, begitu juga aku. Kami sama-sama belum saling kenal. Tapi dia barusan pulang dari supermarket sendirian, membelikan semua kebutuhan dapur, dan malah memberi semangat saat tahu aku belum bisa masak. Dia... pria yang dewasa dengan caranya sendiri."

Dengar penjelasan itu, Laras menghela napas lega yang cukup keras hingga terdengar dari speaker telepon.

"Alhamdulillah... Syukurlah kalau begitu. Aku dari kemarin cemas setengah mati mikirin kamu, Ra. Aku takut kamu dikurung atau ditindas sama pria dingin."

"Kamu ini kebanyakan nonton drama," tukas Nara sambil terkekeh.

"Ya habisnya bagaimana lagi! Cerita pernikahan mendadakmu itu mirip banget sama alur drama!" balas Laras tak mau kalah. "Pokoknya, aku tidak mau tahu. Aku utang selamat secara langsung dan utang pelukan buat kamu. Besok sore kamu ada waktu tidak? Kita harus bertemu!"

Nara memikirkan jadwalnya. Hari esok ia memang tidak ada agenda apa pun. Zaid pun kemungkinan besar akan pergi bekerja ke kantornya dari pagi hingga sore.

"Bisa kok. Mau bertemu di mana?" tanya Nara.

"Bagaimana kalau di Kafe Serenade? Tempat langganan kita waktu zaman kuliah dulu! Yang ada sudut area taman dengan meja kayu favorit kita itu. Kangen banget aku minum kopi sambil makan waffle di sana sama kamu," usul Laras bersemangat.

Mendengar nama kafe itu, ingatan Nara melayang pada masa-masa kuliahnya yang penuh tawa, bebas, dan tanpa beban. Kafe Serenade adalah tempat perlindungan mereka saat lelah menumpuk akibat tugas akhir.

"Boleh banget," jawab Nara dengan binar bahagia di matanya. "Aku juga kangen tempat itu. Jam berapa?"

"Pukul empat sore ya? Begitu aku selesai urusan kantor, aku langsung meluncur ke sana," janji Laras.

"Oke, sepakat. Sampai ketemu besok sore ya, Laras."

"Siap, Ibu Pengantin Baru! Tidur yang nyenyak ya. Jangan mikir yang aneh-aneh lagi. Assalamualaikum!"

"Waalaikumsalam."

Sambungan telepon terputus. Kamar kembali hening, namun keheningan kali ini terasa jauh lebih bersahabat bagi Nara. Ia meletakkan ponselnya di meja nakas, lalu menarik selimut hingga ke dada.

Di kamar sebelah, keheningan yang sama juga membalut Zaid yang baru saja mematikan laptopnya. Keduanya terpisah oleh tembok rumah yang tebal.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya, mereka tidur di bawah atap yang sama tanpa lagi dipenuhi rasa saling menolak. Sebuah awal baru yang sunyi, namun perlahan menumbuhkan akarnya sendiri.

❤️

❤️

Keesokan harinya, aroma kopi hitam yang pekat menyambut Nara begitu ia melangkah turun ke lantai satu.

Di meja makan, Zaid sudah duduk rapi dengan kemeja putih tergulung sampai siku, jemarinya lincah mengetik di atas papan ketik laptop.

Di sebelahnya, ada dua piring roti panggang dan dua cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis.

"Pagi," sapa Nara pelan, ragu-ragu menghampiri.

Zaid menengadah, menghentikan ketikannya sejenak. "Pagi. Saya sudah buatkan sarapan. Maaf, cuma ada roti dan kopi, atau kamu mau minum yang lain? Nanti saya buatkan."

"Eh, tidak apa-apa! Ini sudah lebih dari cukup, kok," ujar Nara cepat, buru-buru duduk di kursi depan Zaid. Ia meraih sepotong roti, menggigitnya pelan. "Makasih, ya."

"Hari ini kamu ada acara?" tanya Zaid datar, tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.

"Ada. Nanti sore jam empat aku mau bertemu Laras di Kafe Serenade. Boleh?" Nara menatap Zaid, menanti izin dari pria yang kini berstatus suaminya itu.

Zaid menghentikan ketikannya lagi. Kali ini ia menatap Nara tepat di mata, membuat dada Nara mendadak berdesir aneh. "Laras, sahabat kamu itu?"

Nara mengangguk pelan. "Iya. Kemarin dia tidak sempat datang ke akad karena penerbangannya ditunda."

Zaid diam sejenak, lalu meraih cangkir kopinya dan menyesapnya perlahan.

"Boleh. Mau saya antar atau pakai taksi?"

"Naik taksi saja, Zaid. Lagipula kamu kan harus kerja, tidak perlu repot-repot," tolak Nara halus, khawatir mengganggu kesibukan Zaid.

"Saya ada rapat di luar daerah jam tiga nanti, searah dengan jalur kafenya," potong Zaid tenang. "Saya antar sekalian. Nanti kirimkan saja lokasinya ke WhatsApp saya."

Nara sempat terpaku, tak menyangka Zaid akan menawarkan hal itu. "Oh... baiklah. Terima kasih banyak, Zaid."

"Sama-sama. Habiskan sarapanmu," ucap Zaid pendek sebelum kembali sibuk dengan dokumen di layarnya.

Sikap Zaid memang masih begitu kaku dan minim ekspresi. Namun, perhatian kecil yang pria itu tunjukkan tanpa banyak alasan perlahan mengikis rasa canggung di dada Nara.

Tembok es itu belum runtuh seluruhnya, tetapi pagi ini, kehangatan itu makin terasa nyata.

"Oh iya, kita belum memiliki nomer masing-masing... boleh saya minta nomer kamu, Zaid?" Tanya Nara memberanikan diri untuk meminta nomer Zaid.

Zaid terdiam sejenak, lalu menyodorkan benda pipih tersebut ke hadapan Nara. "Kamu tulis nomer kamu, biar nanti saya yang hubungi."

"Baik!" Nara menekan tombol dan mengetik setiap nomer ponselnya di layar ponsel Zaid. " Ini, terimakasih sebelumnya." Ujar Nara pelan. Dan berlalu dari hadapan Zaid.

"Sama-sama." Jawab Zaid terdengar samar oleh Nara.

Zaid langsung menyimpan nomer Nara dan mengirim chat nomer yang tadi Nara sudah berikan. "Zaid"

Tulisanya singkat, dan Nara pun langsung menyimpan nomer tersebut di ponselnya.

1
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
knp kamu gak jujur SM Zaid nar
Apriyanti
semoga butir² cinta muncul di hati mereka berdua
Apriyanti: siaap thor🥰🙏
total 2 replies
Apriyanti
thor jgn lama² ya bikin mereka bersatu nya,, lanjut thor 🙏
Apriyanti
semoga lama² mereka bisa bersatu🙏💪🥰
Apriyanti
udalah Zaid buang ego mu Ayuk dekat kan dirimu ke nara🤣
Apriyanti
semoga kalian berdua secepat nya timbul perasaan cinta
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
Alhamdulillah dah jg akhirnya
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Apriyanti
nah gitu dong Nara ,,mending jamu pilih Zaid drpd devino
Apriyanti
di situbkanu harus SDH bisa melihat Nara kesengguhan Zaid sm kamu di banding kan devino yg pengecut itu
Apriyanti
bodoh kamu Nara KLO sampe menolak Zaid,, lanjut thor 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!