"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEROR DI BALIK PINTU BESI LOKER
Matahari pagi di SMA Elit Gava tertutup oleh mendung tebal sewarna timah. Udara dingin musim pancaroba menusuk hingga ke tulang, memaksa para murid borjuis merapatkan blazer mahal mereka. Di ujung koridor sayap barat yang sepi, Lyra Anya Cassandra berjalan dengan langkah kaki yang teramat lambat. Kedua tangannya mendekap erat sebuah buku catatan usang, seolah benda itu adalah perisai terakhir yang ia miliki di dunia ini. Kacamata bulatnya tampak sedikit berkabut karena napasnya yang tidak teratur, mencerminkan kecemasan yang mendalam di sepasang mata cokelat jernih miliknya.
Langkah kaki Lyra mendadak berhenti tepat di depan loker besi bernomor 104.
"Kenapa... harus seperti ini lagi?" tanya Lyra dengan nada suara yang bergetar pelan, hampir menyerupai bisikan lirih yang penuh keputusasaan. Bibir tipisnya yang pucat digigit kuat-kuat hingga memutih, berusaha menahan tangis yang sudah mendesak di dadanya.
Permukaan loker besi miliknya telah dikotori oleh coretan cat semprot berwarna merah darah. Tulisan-tulisan seperti “Parasit Beasiswa”, “Pemuja Harta”, dan “Lonte Akademik” terpampang jelas, mengundang tatapan sinis dan tawa meremehkan dari beberapa siswi elite yang kebetulan lewat di koridor tersebut.
Dengan jemari kurus yang bergetar hebat, Lyra memasukkan kunci dan memutar slot lokernya.
Brak!
Begitu pintu loker terbuka, tumpukan sampah basah berupa sisa makanan kantin dan robekan buku tugasnya yang hancur berhamburan keluar, mengotori sepatu kanvasnya yang sudah usang. Bau busuk langsung menyengat indra penciumannya. Di tengah tumpukan sampah itu, ada sebuah bangkai burung gereja dengan leher yang terpelintir rapi.
"Wah, pas sekali dengan seleramu, kan?" tanya sekelompok siswi dari geng elite kelas sepuluh yang dipimpin oleh seorang gadis berambut bob pirang palsu, menatap Lyra dengan pandangan merendah sambil menutup hidung mereka menggunakan kipas tangan mahal.
Lyra tidak menjawab. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya sedalam mungkin, membiarkan kuncir kuda rambut hitam panjangnya jatuh menutupi sebagian wajah manisnya yang kini merona merah padam akibat rasa malu yang luar biasa. Air mata bening akhirnya runtuh, membasahi pipinya yang halus. Di saat mentalnya benar-benar berada di titik nadir, memori di otaknya mendadak berputar secara liar. Ia merindukan aroma sabun mint segar milik Ryzan, namun sahabatnya itu masih terisolasi di asrama SMA Taruna dan tidak bisa dihubungi sama sekali.
Tepat ketika Lyra merasa ingin tenggelam ke dalam lantai koridor, sebuah kehangatan yang tak asing mendadak menyelimuti pundaknya.
Sebuah jas seragam hitam tebal, wangi, dan sangat berkelas disampirkan di atas bahu kurus Lyra. Aroma parfum amberwood yang mewah dan maskulin seketika mengintervensi bau busuk sampah, mengunci seluruh indra penciuman Lyra dalam sekejap.
"Bubarkan diri kalian sebelum aku memanggil tim kedisiplinan yayasan untuk mencabut hak fasilitas mobil kalian bulan ini," ucap Elian Gava Alaric dengan nada suara yang teramat dingin, berat, dan sarat akan ancaman mutlak yang menekan.
Pemuda itu berdiri tegak di samping Lyra, memperlihatkan postur tubuhnya yang jangkung dan berwibawa. Kemeja putih mahalnya terlihat sangat rapi meskipun tanpa jas, dengan lengan yang digulung hingga sebatas siku, memamerkan jam tangan kronograf hitam yang berkilau mewah. Rambut hitamnya yang berpotongan comma hair tampak bergerak tipis ditiup angin koridor, membingkai wajah simetrisnya yang pucat dan sangat tampan namun memancarkan aura sosiopatik yang pekat.
Geng siswi elite itu langsung membelalak ketakutan, membungkuk hormat dengan tergesa-gesa, lalu berlari pergi meninggalkan koridor seolah baru saja melihat malaikat maut.
"E-Elian...?" gumam Lyra dengan suara yang serak karena tangis. Kepalanya mendongak pelan, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata hitam jelaga milik Elian yang tajam menawan. Tangannya refleks mencengkeram kain jas amberwood di pundaknya, mencari perlindungan naluriah.
"Sudah kubilang, kan? Tempat ini berbahaya untuk gadis polos sepertimu, Lyra," sahut Elian dengan nada suara yang melembut secara dramatis sebuah manipulasi vokal tingkat tinggi (Gaslighting) yang sengaja ia gunakan untuk merusak logika pertahanan Lyra. Tangan kanannya yang putih bersih bergerak pelan, mengusap air mata di pipi Lyra dengan ibu jarinya yang dingin namun terasa sangat protektif.
"Kenapa mereka... begitu jahat padaku? Aku tidak pernah merugikan siapa pun di sini," tanya Lyra dengan isak tangis yang kembali pecah. Ia menyandarkan dahinya pada dada bidang Elian tanpa sadar, sepenuhnya terjebak ke dalam skenario pahlawan palsu (Savior Complex) yang telah dirancang Elian dari balik layar melalui Devan.
"Karena dunia ini tidak suka melihat sesuatu yang terlalu bersih dan jujur seperti dirimu, Lyra. Tapi jangan cemas," jawab Elian sambil mengulas seulas senyuman tipis yang teramat menawan di wajah rupawannya. Tangannya bergerak mendekap punggung Lyra secara posesif, mengunci gadis itu di dalam pelukannya.
Di balik tatapan matanya yang melembut di depan Lyra, ada kilat kegelapan mutlak yang mengerikan terpancar dari netra hitam elangnya saat melirik ke arah Devan yang sedang berdiri di ujung lorong sepi. Elian memberikan kode anggukan kecil sebuah perintah senyap untuk menaikkan level teror berikutnya. Elian tersenyum di dalam hati, menikmati bagaimana mangsa kecil penuh warnanya kini mulai melekat erat pada dirinya, persis seperti yang ada di dalam rencana cetak birunya.