NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Perempuan Yang Bangkit Setelah Dikhianati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Obsesi / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah AllRey..

Tidak semua luka meninggalkan darah. Ada luka yang tersembunyi di balik senyum seorang perempuan, di balik suara lembut yang tetap terdengar tenang meski hatinya sedang runtuh perlahan. Pengkhianatan adalah salah satu luka terdalam yang mampu mengubah hidup seseorang dalam sekejap, terutama bagi perempuan yang selama ini menggantungkan cinta, kepercayaan, dan harapannya pada keluarga yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati.

Novel ini menghadirkan kisah tentang ketegaran seorang perempuan menghadapi pahitnya pengkhianatan cinta, kekecewaan, serta perjuangan menemukan kembali harga dirinya. Kisah ini bukan hanya tentang air mata dan kehilangan, melainkan juga tentang keberanian untuk bangkit ketika dunia terasa runtuh. Tentang bagaimana seorang perempuan belajar memaafkan, bukan karena luka itu kecil, tetapi karena ia memilih untuk hidup lebih kuat daripada rasa sakitnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah AllRey.., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Tidak Akan Memilihnya

Malam itu, kediaman keluarga Mahendra tampak lebih megah dari biasanya. Lampu kristal besar menggantung di ruang makan utama. Meja panjang berbahan kayu jati telah ditata sempurna untuk makan malam keluarga yang dihadiri oleh beberapa kerabat dekat dan tamu istimewa.

Salah satunya adalah keluarga Gunawan. Jessica duduk di samping ibunya dengan gaun merah marun yang elegan. Ia tampak anggun dan percaya diri, seolah sudah menjadi bagian dari keluarga Mahendra. Di ujung meja, Nyonya Ratih memperhatikan semuanya dengan tenang. Sesekali ia melirik Ardian.

Cucunya Ardian datang tepat waktu, dan membuat perempuan tua itu senang. Dia berpikir jika Ardian mempertimbangkan Jessica untuk menjadi pilihan hidupnya. Namun sejak duduk lima belas menit lalu, Ardian hampir tidak berbicara sepatah kata pun kepada Jessica. Bahkan tidak menoleh. Tidak tersenyum. Tidak menunjukkan ketertarikan sekecil apa pun. Dan itu mulai membuat suasana tidak nyaman.

"Ardian."

Ayah Jessica membuka percakapan.

“Iya paman..”

"Saya dengar ekspansi Aethera ke Singapura berjalan baik."

Ardian mengangguk sopan.

"Masih dalam tahap negosiasi." Seperti tidak terpancing, Ardian menjawab seperlunya.

"Hebat sekali."

Pria itu tersenyum.

"Saya bukan apa-apa paman. Malah saya yang selalu kagum melihat pencapaian paman. Semua project besar, selalu ada campur tangan paman"

"Terima kasih."

Singkat. Formal. Selesai.

Jessica mulai mengepalkan jemarinya di bawah meja. Biasanya laki-laki yang diajaknya berjumpa, akan berusaha menyenangkan ayahnya. Atau setidaknya menjaga percakapan tetap hidup. Tetapi Ardian terlihat seperti sedang menghadiri rapat yang membosankan. Padahal keberadaan mereka di tempat ini, adalah menghadiri undangan yang dikirimkan nyonya Ratih.

Makan malam berlanjut. Namun suasana percakapan terlihat sangat kaku. Sampai akhirnya Nyonya Ratih memutuskan mengambil alih.

"Jessica."

Wanita tua itu tersenyum melihat ke arah gadis itu.

"Kudengar kamu baru pulang dari Paris beberapa waktu lalu."

Jessica langsung memanfaatkan kesempatan itu.

"Iya, Nek Ratih. Tadi ada Jess bawakan oleh-oleh untuk nenek dan kak Ardian.."

"Terima kasih.”

“Pameran fashion?"

Jessica mengangguk. Percakapan mulai mengalir. Tentang bisnis. Tentang perjalanan. Bahkan tentang rencana masa depan. Beberapa kali Jessica berusaha melibatkan Ardian. Namun hasilnya selalu sama, laki-laki itu sama sekali tidak terpancing. Jawaban singkat. Datar. Dan dingin. Sampai akhirnya Jessica berkata sambil tersenyum,

"Ardian, mungkin lain kali kita bisa pergi bersama."

Sunyi. Semua orang di meja menunggu jawaban. Tatapan semua yang di meja makan, mengarah ke Ardian. Ardian meletakkan garpunya. Lalu menatap Jessica untuk pertama kalinya malam itu. Namun tatapan itu tidak mengandung kehangatan. Sama sekali tidak.

"Saya rasa tidak."

Jessica membeku. Ibunya ikut terdiam. Mendadak ruangan menjadi tegang. Bahkan Nyonya Ratih mengangkat alis.

"Kenapa?" tanya Jessica pelan.

Ardian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia mengusap sekitar bibirnya dengan sapu tangan. Ia merasa kali ini sudah lelah. Lelah berpura-pura. Lelah menipu diri, dan mengikuti permainan yang tidak pernah ia inginkan. Dan yang paling penting... ia baru saja mengetahui siapa yang berusaha menghancurkan Joyce. Perempuan yang saat ini paling penting dalam hidupnya.

"Saya tidak suka membuang waktu."

Suasana meja langsung berubah. Jessica tersenyum kaku.

"Maksudmu apa Ardian..?"

"Tidak usah berusaha menyenangkan hati sendiri.”

“Kita berdua tahu kenapa pertemuan-pertemuan ini diadakan."

Napas Jessica mulai tidak stabil. Pikirannya melayang kemana-mana

"Ardian..."

Namun Ardian tidak berhenti.

"Saya menghormati keluarga Anda."

"Saya menghormati Nenek."

"Saya menghormati orang tua saya yang sudah tiada."

"Tetapi saya tidak pernah memberikan harapan apa pun."

Ayah Jessica langsung berdeham.

"Uhuk.. Ardian."

Namun laki-laki itu tetap melanjutkan.

"Saya tidak tertarik menjalani hubungan yang diatur. Apalagi aliansi"

Kata-kata itu mengalir tegas, bahkan tanpa intonasi, Datar dan dingin. Jessica merasakan wajahnya memanas. Bahkan kedua orang tuanya juga sama. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya..., ia dipermalukan di depan banyak orang. Suasana menjadi semakin panas. Beberapa keluarga dekat yang ikut hadir makan malam, bahkan tidak berani bersuara. Mereka ikut terdiam.

Menyadari suasana yang tegang, dan juga merasa dia yang menyebarkan undangan makan bersama. Nyonya Ratih menatap cucunya tajam.

"Jaga bicaramu Ardian."

Ardian mengangguk.

"Saya sedang menjaganya nek."

Kemudian ia beralih menatap Jessica. Kali ini lebih dingin dari sebelumnya.

"Saya juga tidak menyukai cara seseorang menyerang orang lain hanya karena merasa tersaingi."

Jessica langsung membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Nyonya Gunawan merasakan hal yang sama. Dia paham apa yang dimaksudkan Ardian.., dan dia terlibat dalam sekongkol menyebarkan fitnah tentang Joyce.

„Tidak mungkin. Tidak mungkin Ardian tahu.” Jessica berusaha menghibur dirinya.

"Aku tidak mengerti maksudmu."

Ardian tersenyum tipis. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya. Senyum melecehkan..

"Sungguh?"

Untuk pertama kalinya sejak makan malam dimulai... Jessica merasa takut. Karena tatapan Ardian sekarang bukan tatapan seorang calon pasangan. Melainkan tatapan seorang CEO yang sedang menilai seseorang yang telah melakukan kesalahan besar. Dan itu jauh lebih menakutkan.

„Sudah.., sudah ada masalah apa ini.” Suara nenek Ratih memenuhi ruangan.

“Ardian.. kamu dan Jessica sudah saling mengenal sejak kecil. Tapi kalian kemudian terpisah.”

“Hal yang wajar, jika kalian tidak saling mengenal.”

“Ketika kalian bertemu, butuh waktu untuk membangun chemistry di antara kalian berdua.”

Nyonya Gunawan meraih telapak tangan putrinya, kemudian mengusap untuk memberikan dukungan padanya.

*****************

Setelah makan malam selesai, Jessica hampir berlari keluar menuju taman belakang rumah Mahendra. Ia membutuhkan udara, untuk dia hirup sebanyak mungkin. Atau mungkin cara untuk menenangkan dirinya. Namun baru beberapa langkah, dia mendengar ada langkah cepat mendekat dari belakang.

"Nona Jessica."

Jessica berbalik. Raka berdiri beberapa meter darinya. Tenang seperti biasa. Profesional seperti biasa. Namun entah kenapa membuat bulu kuduknya berdiri.

"Tuan Ardian menitipkan pesan."

Jessica menelan ludah. Dia melihat ke arah Raka..

"Pesan apa?"

Raka menyerahkan sebuah amplop cokelat. Gadis itu menerimanya dengan penuh pertanyaan.

"Beliau meminta Anda menghentikan semuanya. Atau.."

Jessica segera membuka amplop itu, dan melihatnya. Namun, wajahnya langsung kehilangan warna. Pucat seperti mayat. Di dalamnya terdapat salinan bukti-bukti yang menghubungkannya dengan laporan anonim terhadap Joyce. Lengkap. Rapi. Dan tidak terbantahkan. Tangannya mulai gemetar. Dan keringat dingin.., mulai keluar pada kedua telapak tangannya.

"Kalau saya jadi Anda," ujar Raka tenang,

"Saya akan berhenti sebelum Tuan Ardian memutuskan membawa ini lebih jauh."

“Anda tahu kan berapa tahun hukuman yang akan anda terima.. Meski kalian gunakan pengacara, tapi perusahaan kami juga punya pengacara kaliber internasional.”

Kata-kata itu tenang, namun menusuk terlalu dalam ke diri Jessica. Lalu Raka menambahkan satu kalimat terakhir.

"Beliau biasanya tidak mencampuri urusan pribadi siapa pun."

"Tapi untuk kali ini..., tidak ada toleransi"

Raka tersenyum tipis.

"Karena situasinya berbeda. Tuan Ardian rela kehilangan semua sumber daya, asalkan gadis itu aman dan bersih."

“Dan saya harap, anda paham dengan perkataan saya.”

Tanpa menunggu respon Jessica, Raka langsung melangkahkan kaki meninggalkan perempuan itu sendiri. Dan untuk pertama kalinya, Jessica menyadari sesuatu yang membuat dadanya sesak. Ia sudah kalah. Bahkan sebelum sempat memulai. Dia sadar jika gadis bernama Joyce itu sudah menancapkan panah sedemikian dalamnya pada diri Ardian.

1
Mundri Astuti
Adrian kebangetan lembek, berarti sama" cucunya Oma Ratih kah ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!