NovelToon NovelToon
Gamer And Flower

Gamer And Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Identitas Tersembunyi / Wanita Karir / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: Ira Herawati

Jasmine, penembak jitu Tim Aether, terkunci dalam sangkar emas Axel, kapten posesif yang mengendalikan hidupnya demi obsesi kemenangan. Di tengah tekanan, hadir Liam, barista hangat di seberang jalan yang menawarkan kebebasan tanpa syarat. Pulang sebagai juara dunia, Jasmine kini harus memilih benteng kaku Axel atau kehangatan sejati Liam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ira Herawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Suara langkah kaki lambat dari sepatu pantofel kulit milik Liam terdengar semakin mendekat, sebelum akhirnya berhenti tepat di batas jarak nyaman Jasmine. Keheningan koridor lantai tiga itu terasa begitu tipis dan rapuh, hanya menyisakan deru halus pendingin ruangan yang mendadak terasa membekukan permukaan kulit Jasmine.

"Jasmine, lihat aku," pinta Liam lembut, suaranya melorot rendah penuh permohonan yang tulus, kehilangan seluruh aksen dingin dan formalitas medis yang tadi ia gunakan di hadapan para perawat.

Jasmine perlahan mengangkat kepalanya. Pandangan matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam sepasang netra mata cokelat gelap milik Liam. Ada banyak riak emosi yang bergolak di dalam sana, rasa terkejut, rasa kecewa karena merasa tidak sepenuhnya diberikan keterbukaan, hingga sebuah kebingungan yang menuntut jawaban instan dari Liam. Liam menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat akan rasa bersalah yang amat mendalam. Ia melirik sekilas ke arah jas putih dokter yang melekat di tubuh tegapnya, lalu dengan gerakan perlahan, tangan kanannya bergerak melepas kancing jas putih tersebut satu demi satu. Ia melepaskan atribut medis kebanggaan keluarga Darel itu dari pundaknya, lalu melipatnya dengan rapi di atas lengan kirinya, menyisakan dirinya yang kini hanya berbalut kemeja formal biru muda tanpa embel-embel gelar kedokteran yang mengintimidasi.

"Aku tahu, kamu lihat aku berdiri di sini dengan pakaian kaku seperti ini pasti membuat kamu merasa terasingkan, Jasmine," ucap Liam, matanya tidak sedetik pun lepas dari wajah pucat Jasmine. "Kamu pasti berpikir kalau aku sengaja membuka Floraison Cafe di seberang jalan rumah hanya sebagai bentuk observasi klinis, atau mungkin... sebagai bagian dari pekerjaanku untuk mengawasi kondisi psikologis kamu setelah badai tekanan dari Axel. Tapi aku bersumpah, demi apa pun, asumsi itu seratus persen keliru."

Jasmine mengusap sudut matanya yang mulai menghangat dengan punggung tangan yang gemetar. "Lalu apa, Kak Liam? Kakak ternyata seorang dokter di Rumah Sakit ini. Semua orang di lantai ini membungkuk hormat sama kakak. Sementara di danau... Kakak bertingkah konyol, mengejar bebek, dan memakai celemek penuh bubuk kopi. Kenapa Kakak harus menyembunyikan identitas sebesar ini sama aku?"

Liam menatap lorong yang sepi di belakang Jasmine sejenak, memastikan tidak ada pasien atau staf medis lain yang mengganggu percakapan krusial mereka. Ia kemudian melangkah mundur satu langkah, bersandar pada pilar marmer krem di dekat mereka, lalu menyisir rambut hitam berponinya ke belakang dengan gestur yang sangat maskulin namun dipenuhi kerapuhan emosional.

"Jasmine, apa kamu benar-benar udah lupa sama memori masa kecil kamu di panti asuhan dulu?" pertanyaan Liam yang tiba-tiba itu terdengar bagai petikan dawai gitar yang sumbang di telinga Jasmine.

Jasmine tertegun, dahinya mengernyit dalam. "Maksud kakak apa...?"

"Enam belas tahun lalu, sebelum ayahku mengambil alih posisi kepala komite medis di rumah sakit ini, beliau sering membawa aku yang masih remaja untuk ikut serta dalam kegiatan bakti sosial medis di panti asuhan tempat kamu tinggal," Liam memulai ceritanya dengan nada suara yang merayu ingatan masa lalu, sangat lambat dan berhati-hati. "Di sana, aku ketemu sama seorang anak perempuan berusia tujuh tahun yang sangat pendiam. Anak perempuan yang selalu duduk sendirian di bawah pohon ceri tepi halaman, sambil memegang sebuah buku gambar usang dengan jemari kecilnya yang gemetar karena ketakutan sama dunia luar."

Mendengar bait demi bait kalimat Liam, sebuah denyutan halus mendadak menyerang bagian belakang kepala Jasmine. Ingatan-ingatan masa kecil yang kabur, yang selama ini tertutup oleh padatnya jadwal latihan virtual dan ambisi juara dunia bersama Axel, perlahan-lahan mulai memunculkan serpihan visual yang samar di dalam benaknya.

"Anak perempuan itu selalu menolak untuk diajak mengobrol sama siapa pun, termasuk para pengasuh panti," lanjut Liam, seulas senyuman miring yang sangat tulus dan dipenuhi rasa rindu mendalam terukir di bibirnya. "Tapi entah bagaimana caranya, cuma aku yang diizinkan untuk duduk di sampingnya. Di bawah pohon ceri itu, anak perempuan itu pernah menunjukkan sebuah gambar di buku usangnya. Sebuah gambar bangunan kaca yang dipenuhi oleh bunga mawar berwarna-warni, terletak tepat di samping sebuah danau yang sangat tenang."

Jantung Jasmine berdegup semakin kencang, napasnya mulai memburu seiring dengan mulai kembalinya ingatan demi ingatan.

"Anak perempuan itu menatapku dengan mata bulatnya yang sangat indah, lalu berkata dengan suara kecilnya yang penuh harap 'Kak Liam, nanti kalau Jasmine udah besar dan udah sukses, Jasmine ingin punya kafe kaca yang penuh bunga di dekat danau yang tenang. Jasmine gak mau ada suara bising, Jasmine cuma mau mencium aroma teh yang manis biar Jasmine gak perlu ketakutan lagi.' Liam menjeda kalimatnya, matanya kini berkaca-kaca menatap Jasmine yang sudah menutup mulutnya dengan sebelah tangan karena rasa terkejut yang luar biasa.

"Kata-kata anak perempuan tujuh tahun itu terus tersimpan rapat di dalam kepala dan dadaku selama belas tahun ini, Jasmine. Bahkan saat aku menempuh studi kedokteran yang sangat melelahkan di luar negeri, bahkan saat aku harus memikul ekspektasi besar sebagai penerus marga Darel di rumah sakit ini," bisik Liam, suaranya bergetar penuh penekanan emosional yang sangat dalam. "Aku membangun Floraison Cafe bukan sebagai ruang terapi medis formal. Aku membangun tempat itu murni untuk memenuhi sebuah janji masa kecil yang pernah aku ucapkan di dalam hati kecilku sama anak perempuan di bawah pohon ceri enam belas tahun lalu. Aku ingin mewujudkan impian kafe kamu, Jasmine. Kafe bernuansa bunga di dekat danau, tempat di mana kamu bisa pulang dan bernapas dengan bebas dari semua kebisingan dunia nyata."

Air mata Jasmine akhirnya luruh seutuhnya, membasahi kedua belah pipinya yang pucat. Kenyataan di balik dinding kaca kafe itu ternyata jauh lebih indah dan luar biasa daripada apa yang ia bayangkan. Pria jangkung di depannya ini tidak pernah berniat mengawasinya sebagai subjek pasien yang rapuh. Sebaliknya, Liam telah mendedikasikan sebagian dari ruang hidupnya, mengesampingkan jubah kebesaran keluarga Darel sejenak setiap sore, hanya untuk menjadi sosok pelindung sejati yang mewujudkan impian masa kecil Jasmine yang bahkan telah dilupakan oleh dirinya sendiri.

"Kak Liam... jadi selama ini... Kakak ingat aku?" bisik Jasmine di sela-sela tangis batinnya yang mencair.

"Aku enggak pernah sedetik pun lupain kamu, Jasmine," jawab Liam lembut. Ia melangkah maju kembali, memperkecil jarak di antara mereka, lalu menyerahkan lipatan jas putih dokternya ke tangan kiri, sementara tangan kanannya terangkat perlahan untuk menepuk pucuk kepala Jasmine dengan gerakan yang sangat hangat, menenangkan, dan penuh kasih sayang tanpa syarat. "Saat aku tahu kalau kamu dibawa sama Axel dan dididik menjadi seorang mesin kompetisi di Tim Aether, aku melihat binar ketakutan yang sama seperti anak perempuan di panti asuhan dulu kembali muncul di mata kamu melalui layar televisi. Itu sebabnya aku memutuskan untuk membuka kafe tepat di seberang jalan rumah kamu. Aku ingin berada di dekat kamu, memastikan bahwa saat dunia kamu terasa terlalu bising dan menyesakkan, kamu tahu ke mana harus melangkah untuk menemukan tempat perlindungan yang sesungguhnya."

Jasmine menundukkan kepalanya, membiarkan kehangatan tangan Liam di atas kepalanya menyalurkan rasa damai yang luar biasa ke dalam seluruh pembuluh darahnya. Segala bentuk keraguan, rasa kecewa, dan ketakutan akan kebohongan identitas Liam sirna tanpa bekas, digantikan oleh sebuah rasa syukur yang teramat dalam. Di dalam lorong putih rumah sakit Darel Hospital yang dingin ini, Jasmine menyadari satu hal yang pasti. Liam Buana Darel, baik sebagai seorang dokter terpandang maupun sebagai seorang barista santai seberang jalan, adalah satu-satunya rumah sejati yang ditakdirkan untuk menyembuhkan jiwanya yang lelah dari segala bentuk sangkar emas duniawi.

---

Namun, momen emosional yang penuh kehangatan itu mendadak terusik oleh suara langkah kaki kaku dan tegas yang menggema keras dari arah lift utama di ujung lorong kiri. Jasmine dan Liam menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara. Dari balik belokan dinding marmer, muncul sosok Axel yang berjalan dengan langkah besar dan terburu-buru. Wajah tampan sang kapten terlihat sangat tegang dan dingin, tampaknya ia baru saja tiba di rumah sakit setelah dihubungi oleh manajemen untuk menyusul kondisi darurat Bryan. Langkah kaki Axel mendadak terkunci total tepat lima meter di depan posisi Jasmine dan Liam berdiri. Sepasang mata elangnya memicing tajam, menatap tidak percaya pada sosok pria jangkung di hadapan Jasmine yang kini sedang memegang sebuah jas putih dokter di tangannya, tepat di depan sebuah pintu ruang praktik dengan plang kaca besar bertuliskan nama keluarga yang sangat ia kenal. Atmosfer di lorong lantai tiga itu seketika berubah menjadi medan pertempuran tak kasat mata yang sangat dingin, bersiap menyulut badai konfrontasi baru yang jauh lebih besar di antara dua kutub emosi yang memperebutkan takdir hidup Jasmine.

1
Dhatu Lukita
semangat up teruss yaaa, niihhh ku kasih ⭐5, biar tambah semangat 😍
Dhatu Lukita
halo kak berkarya terus yaa semangaatt💪💪💪,
mampir juga d karyaku ya 🤭😍 "dukunganmu semangatku"
Fadillah Ahmad: Kalau ingin membacs Karya ini, baca sampai Bab 20 Kak! atau sampai Bab akhir! kalau hanya sampai Bab 5 terus berhenti, sama saja kakak, merusak retensi novel ini! Baca sampai Bab 20 Kak! jangan berhenti di tengah jalan!
total 1 replies
Dhatu Lukita
keinget mobil lejen🤭😄
Fadillah Ahmad
Mohon maaf sebelumnya, ya! Sinopsisnya kurang Menarik! Mohon di Ubah dulu.

Maaf, jangan tersinggung ya! 🙏🙏🙏 Karena... Novel Kakak Maauk ke Beranda-ku! Di Promosikan Oleh Pihak NovelToon. Jadi, mohon untuk di ubah dulu Kak! 'Kalau Bisa' Karena, aku melihat, Sinopsisnya Kurang mengigit! alias Kurang memunculkan Rasa Penasaran Pembaca! 🙏🙏🙏

Maaf ya Kak! Jangan Tersinggung. 🙏🙏🙏😁

Terima Kasih 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!