Autumn Isabella, dua puluh dua tahun, memiliki profesi sebagai dokter hewan dan merupakan seorang ahli botani, dibunuh secara brutal oleh tunangannya yang berselingkuh.
Jasper Herasio, dua puluh enam tahun, seorang CEO yang tewas di tangan adik laki-lakinya karena masalah hak waris.
Keduanya, dalam takdir yang saling terikat, terlahir kembali di dalam sebuah novel yang berjudul "Enchanted Rose". Autumn, menjadi villainess utama dalam cerita: Amorette Ysandre Elowen. Jasper, menjadi villain utama dalam cerita: Algernon Leandor Remington.
Pertemuan dari takdir itu memaksa mereka untuk bertahan hidup bersama, sekaligus mengungkap kebusukan para tokoh utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19: Countess Elvia's Tea Party
Pukul sembilan pagi, matahari sudah bersinar cerah namun tidak menyengat, menyinari jalanan ibu kota yang mulai ramai dengan aktivitas warga.
Kereta kuda berwarna biru muda dengan lambang kerajaan Elowen bergerak pelan namun anggun membelah jalanan, menuju kawasan kediaman bangsawan. Di dalamnya, Amorette duduk bersandar nyaman, mengenakan gaun berwarna hijau zamrud dengan hiasan renda halus yang membuatnya tampak segar namun tetap berwibawa. Di pangkuannya tersimpan sebuah kotak kayu indah berisi contoh produk andalan yang akan ia perkenalkan hari ini.
Hari ini adalah Hari Zor, atau Rabu. Tujuannya jelas: kediaman Countess Elvia, seorang wanita bangsawan yang sangat dihormati, dikenal luas karena kebaikannya dan pengaruhnya yang besar di kalangan istana. Pesta teh yang diadakannya hari ini dihadiri oleh para wanita bangsawan dari berbagai tingkatan, mulai dari Baroness hingga Marquise—pasar utama sekaligus penggerak berita yang paling ampuh di seluruh kerajaan.
"Kita sudah sampai, Yang Mulia," suara pengemudi terdengar dari luar.
Amorette membetulkan posisi duduknya, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Saat pintu kereta dibuka, sebuah tangan terulur menyambutnya. Amorette melangkah turun dengan anggun, dan tepat saat kakinya menyentuh tanah, Countess Elvia sendiri sudah berdiri di depan pintu utama kediamannya dengan senyum lebar menyambut kedatangan tamu kehormatannya.
"Selamat datang, Putri Amorette. Sungguh suatu kebahagiaan luar biasa bisa melihatmu lagi di sini," sapa Countess Elvia ramah, menggandeng tangan Amorette dan membawanya masuk ke taman belakang yang dihiasi bunga-bunga bermekaran indah.
Begitu Amorette melangkah masuk ke area perjamuan, percakapan yang tadinya riuh rendah perlahan mereda. Semua mata tertuju padanya. Tidak ada lagi tatapan curiga, tidak ada lagi senyum menyelidik atau sindiran halus seperti dulu. Yang ada hanyalah tatapan kagum, hormat, dan senyum tulus dari setiap wanita yang hadir di sana. Kabar tentang perubahan besar Amorette, kecerdasannya di pesta teh Duchess Coral, hingga kebaikannya yang mulai terdengar, telah menyebar luas dan mengubah citranya seratus delapan puluh derajat menjadi sosok yang dikagumi banyak orang.
"Putri Amorette... kau semakin bersinar saja setiap kali kita bertemu," ucap salah seorang Marquise yang duduk di meja terdekat, menyapanya dengan antusias.
"Benar sekali. Gaunmu, pembawaanmu... semuanya begitu elegan. Kami sungguh senang kau mau meluangkan waktu hadir di tengah-tengah kami," tambah yang lain serempak.
Amorette membalas sapaan mereka satu per satu dengan senyum hangat dan ucapan ramah yang sopan, memastikan setiap orang merasa diperhatikan. Ia duduk di kursi kehormatan di sebelah kanan Countess Elvia, membiarkan percakapan berjalan ringan sejenak, membahas cuaca, kebun bunga, hingga kesehatan keluarga masing-masing. Namun, Amorette tahu, ia harus segera beralih ke tujuan utamanya hari ini.
Setelah suasana terasa cukup akrab, Amorette memberi isyarat kepada Esther yang berdiri di belakangnya. Esther maju membawa kotak kayu indah yang tadi dibawa Amorette. Amorette membukanya perlahan, memperlihatkan isi kotak itu kepada seluruh hadirin. Di dalamnya tersusun rapi toples-toples kecil berisi ramuan herbal, bungkus kue kering yang rapi, dan botol minuman sirup.
"Nyonya-nyonya dan Nona-nona sekalian yang saya hormati..." mulai Amorette dengan suara jernih dan tenang, menarik perhatian semua orang. "Kedatangan saya hari ini selain untuk menjalin hubungan yang baik, juga ingin memperkenalkan sesuatu yang telah saya persiapkan dengan sungguh-sungguh, bersama dengan seorang rekan kerja saya. Ini bukan sekadar barang dagangan biasa, melainkan hasil pemikiran dan kerja keras yang kami dedikasikan demi kesehatan dan kenyamanan kita semua."
Ia mengangkat salah satu toples berisi kukis berwarna keemasan dengan bintik oranye khas—hasil karyanya kemarin, Kukis Emberblossom.
"Di sini ada Kukis Emberblossom. Bahan utamanya adalah tanaman langka yang tumbuh di pegunungan berapi. Rasanya manis seperti anggur dan sedikit persik, sangat lezat sebagai camilan. Namun di balik rasanya, makanan ini memiliki khasiat menghangatkan tubuh secara alami, sangat ampuh mencegah penyakit masuk angin atau demam yang sering datang saat musim dingin tiba nanti. Selain ini, ada juga Sirup Daun Mint yang menyehatkan perut, dan Serbuk Teh Herbal yang menenangkan saraf dan membantu tidur nyenyak."
Amorette meletakkan kembali toples itu, lalu menatap mereka dengan tatapan tulus.
"Saya ingin berterus terang sepenuhnya. Produk-produk ini adalah bagian dari bisnis yang sedang saya bangun bersama Pangeran Algernon dari Kerajaan Remington. Kami berdua berpikir, pengetahuan dan kemampuan yang kami miliki akan sangat sia-sia jika hanya kami simpan sendiri. Maka dari itu, kami merancang bisnis ini dengan konsep yang unik: produk berkualitas tinggi, berkhasiat nyata, namun dengan harga yang diatur agar terjangkau oleh segala golongan. Mulai dari bangsawan tertinggi hingga rakyat biasa, semuanya berhak mendapatkan kesehatan yang baik. Keuntungan yang kami dapatkan nantinya pun sebagian besar akan dikembalikan lagi untuk kesejahteraan rakyat dan pembangunan wilayah."
Hening sejenak, lalu suara decak kagum terdengar bergema di seluruh taman. Para wanita itu saling pandang dengan mata berbinar-binar.
"Luar biasa... benar-benar luar biasa..." gumam Countess Elvia sambil mengangguk takjub. "Biasanya, bisnis kaum bangsawan hanya mementingkan keuntungan pribadi dan kekayaan semata. Tapi kalian... kalian berpikir untuk semua orang. Menggabungkan kualitas tinggi dengan harga terjangkau? Itu hal yang sangat mulia dan cerdas."
"Saya pasti akan menjadi pelanggan tetap!" seru seorang Baroness dengan antusias. "Sudah terbukti, resep-resep yang kau bagikan kemarin lewat Marquise Elizabeth sangatlah ampuh. Resep minuman penenang itu menyelamatkan tidur saya yang sudah buruk berbulan-bulan lamanya. Jika produk jadi buatanmu sama bagusnya, saya akan memborongnya untuk seluruh keluarga saya."
"Dan Pangeran Algernon..." sela seorang wanita bangsawan lain dengan nada memuji. "Dia juga berubah drastis belakangan ini. Dulu dia tertutup dan dingin, tapi sekarang dia terlihat begitu cerdas, berwawasan luas, dan sangat bijaksana. Pasangan kerja kalian ini sungguh menakjubkan. Sama-sama rendah hati, sama-sama memikirkan rakyat. Kalian berdua sangat serasi."
Pembicaraan semakin hangat, dan pujian-pujian mulai mengalir bukan hanya untuk Amorette, tapi juga untuk rekannya.
"Jika Pangeran Algernon terus bersikap dan bekerja seperti ini... saya rasa dia adalah calon terhebat untuk menduduki takhta Kerajaan Remington kelak," ucap salah satu wanita tua yang sangat dihormati di sana dengan nada yakin. "Dia jauh lebih pantas daripada Pangeran Theodore yang hanya memikirkan kemegahan dan penampilan saja. Algernon memiliki hati seorang pemimpin sejati."
Setuju dan anggukan kepala menyertai ucapan itu. Nama Amorette dan Algernon kian terangkat tinggi, dianggap sebagai simbol harapan baru bagi kedua kerajaan.
Namun, seperti biasa, di kalangan wanita bangsawan, setelah urusan bisnis dan pujian selesai, topik pembicaraan bergeser halus ke arah gosip—gosip yang paling hangat belakangan ini.
"Ngomong-ngomong Putri Amorette..." sela seorang wanita muda dengan senyum menggoda. "Kami dengar banyak sekali kabar soal hubunganmu dengan kedua pangeran itu. Dan kami juga mendengar... ada Putri lain yang sepertinya juga sangat dekat dengan salah satu dari mereka. Maksud kami... Putri Elarise. Belakangan ini namanya sering disebut beriringan dengan Pangeran Theodore. Benarkah ada sesuatu di antara mereka?"
Topik itu dilontarkan dengan nada ingin tahu, namun di baliknya terselip pandangan agak meremehkan. Sudah bukan rahasia lagi di kalangan mereka bahwa reputasi Elarise perlahan namun pasti mulai menurun dibandingkan kakaknya. Elarise dianggap terlalu banyak drama, terlalu cengeng, dan kurang berisi.
Amorette tersenyum tipis, senyum yang penuh makna dan perhitungan. Ia meminum sedikit tehnya dengan tenang, lalu menjawab dengan nada santai namun tegas, seolah sedang menceritakan kebenaran mutlak.
"Ah, soal itu... memang benar adanya," ucap Amorette pelan namun terdengar jelas oleh semua orang. "Sebenarnya, Elarise dan Pangeran Theodore memang sudah saling menyukai sejak lama. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berbagi kesukaan yang sama, dan saling memahami satu sama lain. Dulu... mungkin ada kesalahpahaman dan kedekatan yang salah tempat, tapi sekarang saya rasa semuanya sudah jelas. Hati Theodore memang tertuju pada Elarise, dan Elarise pun sangat menyayangi Theodore. Mereka berdua memang pasangan yang sangat serasi dan saling cocok satu sama lain."
Kalimat itu terdengar seperti pembenaran, seperti penegasan resmi dari pihak yang "mengalah" dan mengakui pasangan yang sesungguhnya.
Para wanita itu saling pandang, lalu mengangguk-angguk sambil berbisik-bisik.
"Jadi begitu rupanya... Jadi Putri Amorette dan Pangeran Algernon, sedangkan Elarise dan Pangeran Theodore... Benar-benar pasangan yang pas menurut tempatnya masing-masing."
"Memang begitu seharusnya. Lihat saja, Theodore dan Elarise sama-sama suka kemewahan, suka perhatian, dan suka kemegahan. Sedangkan Amorette dan Algernon... mereka lebih suka berpikir, bekerja, dan bermanfaat. Dunia mereka memang berbeda."
"Ya, kau benar. Dulu kami sempat berpikir Elarise yang akan berpasangan dengan Algernon, tapi ternyata tidak. Dan sungguh untunglah begitu. Bayangkan jika Elarise yang menjadi pendamping Algernon... mungkin tidak akan ada bisnis mulia seperti ini. Mereka terlalu berbeda. Sekarang semua sudah pada tempatnya."
Percakapan itu berlanjut, namun kesimpulan yang terbentuk di benak setiap orang sudah sangat jelas dan permanen: Amorette dan Algernon adalah pasangan hebat, bijaksana, dan masa depan dua kerajaan. Sedangkan Elarise dan Theodore adalah pasangan yang serasi dalam kemewahan dan kesenangan semata.
Tanpa Amorette perlu menghina atau menjelekkan nama adiknya sedikit pun, penempatan posisi sosial mereka di mata masyarakat telah berubah total. Elarise kini hanya dianggap pasangan yang pas bagi Theodore—sosok yang perlahan mulai dianggap kalah saing dibandingkan kakaknya sendiri. Posisi Elarise semakin terpinggirkan, citranya semakin terbatas, sementara nama Amorette melambung semakin tinggi, jauh di atas segalanya.
Di ujung pembicaraan itu, Amorette hanya tersenyum manis, senyum yang penuh makna, kemenangan, dan kepuasan batin. Ia dengan cerdasnya baru saja memastikan bahwa tidak ada lagi yang akan menyandingkan dirinya dengan Theodore, dan tidak ada lagi yang akan membandingkan Elarise dengan dirinya di ranah kehebatan dan kehormatan. Ia telah memenangkan hari ini, bukan hanya dengan produk yang laku terjual habis dipesan, tapi juga dengan posisi sosial yang kini tak tergoyahkan lagi.
Pesta teh itu berakhir dengan kesuksesan besar. Banyak pesanan masuk, banyak janji dukungan, dan semakin kuatnya ikatan persahabatan dengan wanita-wanita berpengaruh itu. Saat Amorette kembali ke dalam keretanya untuk pulang, ia tahu satu hal pasti: langkah selanjutnya menuju Akademi Sihir akan jauh lebih mudah, karena di luar sana, ia kini memiliki pendukung yang sangat banyak dan kuat.