Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Unknown
Ia berjalan cepat memasuki lorong kos belakang dengan kesal. Namun, baru saja ia hendak berbelok di dekat undakan tangga menuju koridor kamarnya, langkah Kayla mendadak terkunci di lantai. Tubuhnya hampir saja menabrak dada seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah tangga.
Kayla tersentak mundur satu langkah, kepalanya mendongak cepat. Di bawah temaram lampu lorong yang sedikit kekuningan, Juna sedang berdiri di sana.
Cowok itu tampak jauh lebih segar dibandingkan tadi subuh. Kaus hitamnya yang kedodoran membungkus tubuh jangkungnya dengan santai, walau sisa-sisa pucat di wajahnya masih belum hilang sepenuhnya. Sepasang mata tajam milik Juna kini tengah menatap Kayla dengan dahi yang berkerut dalam, memperhatikan raut wajah gadis itu yang tampak acak-acakan.
"Lo kenapa?" tanya Juna, suaranya masih agak serak khas orang baru bangun tidur setelah demam tinggi. "Muka lo tegang bener kayak abis dikejar Pocong!"
Jantung Kayla yang belum sempat tenang kini malah berdegup dua kali lebih kencang. Bayangan kartu nama hitam dengan tinta emas milik David William langsung berkelebat di benaknya. Rasanya aneh melihat Juna berdiri di sini, sementara beberapa menit yang lalu Kayla baru saja membuang uang sepuluh juta pemberian ayah cowok ini ke dalam tong sampah.
"E-eh... Jun? Lo udah sembuh?" Kayla malah balik bertanya dengan nada yang terdengar sangat kaku di telinganya sendiri. Ia menyembunyikan kantong plastik bawaannya ke balik punggung secara refleks. "Ngapain lo turun? Bukannya mendingan tiduran aja di atas?"
Juna menaikkan sebelah alisnya, menyadari gelagat tidak biasa dari tetangga kosnya ini. Ia melangkah turun satu anak tangga lagi, mengikis jarak di antara mereka hingga Kayla bisa mencium lamat-lamat aroma minyak kayu putih yang tadi sempat ia balurkan ke leher cowok itu.
"Gua laper, mau nyari angin ke depan sekalian nyari makan," jawab Juna santai, matanya menyipit penuh selidik. "Lo kenapa, Kay? Tangan lo gemeteran gitu."
"Siapa yang gemeteran?! Dingin aja ini lorong kosan lo!" sergah Kayla cepat, berusaha mati-matian memasang wajah ketus andalannya agar Juna tidak curiga. "Udah ah, gue mau masuk kamar. Awas lo, jangan ganggu gue!"
Tanpa menunggu respons dari Juna, Kayla langsung menyelip di samping tubuh jangkung cowok itu dan mengambil langkah seribu menuju kamarnya. Juna hanya memandangi punggung Kayla yang menjauh dengan tatapan heran, sebelum akhirnya menggelengkan kepala dan melanjutkan langkahnya menuju halaman depan.
Brak!
Kayla menutup pintu kamarnya dengan rapat, lalu memutar kunci dua kali hingga berbunyi klik. Ia menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu tersebut, mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya.
"Aman, aman... semua udah beres," bisik Kayla pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debaran aneh di dalam hatinya.
Ia melangkah menuju meja kecil untuk meletakkan kantong mi instan dari ayahnya, lalu melemparkan tubuhnya ke atas kasur empuk.
Matanya menatap langit-langit kamar, mencoba mencerna rentetan kejadian gila yang menimpanya hari ini. Setidaknya, uang sepuluh juta dan ancaman dari David William sudah berada di dalam tong sampah luar. Masalah itu sudah selesai, pikirnya.
Drrt... Drrt...
Ponsel yang berada di dalam saku jaket merahnya bergetar kuat, memecah keheningan kamar. Kayla merogoh benda pipih itu dengan malas, mengira itu adalah pesan omelan dari Raka yang memaki tendangan mautnya tadi.
Namun, begitu layar ponselnya menyala, sebuah nomor tidak dikenal terpampang di baris paling atas WhatsApp.
Kayla mengernyitkan dahi. Di bawah nomor asing itu, ada sebuah lampiran pesan media berupa foto. Didorong rasa penasaran, Kayla mengeklik ruang obrolan tersebut dan menunggu gambar itu terunduh sepenuhnya.
Begitu foto itu terbuka dengan jelas, pasokan oksigen di paru-paru Kayla rasanya mendadak lenyap seketika.
Foto itu diambil dari jarak yang tidak terlalu jauh, memperlihatkan siluet tubuh seorang gadis berjaket merah dan celana polkadot dari arah belakang. Di dalam foto itu, si gadis sedang membungkuk, memasukkan sebuah totebag kain berwarna hitam ke dalam tong sampah hijau di depan gerbang kosan.
Itu adalah foto dirinya sendiri, yang diambil tepat beberapa menit yang lalu di halaman depan.
Garis teks baru muncul di bawah foto tersebut dari nomor yang sama, meluncur masuk ke layar ponsel Kayla membuat hawa di sekitarnya mendadak berubah menjadi dingin.
Unknown: Membuang pemberian seseorang itu tindakan yang sangat tidak sopan, Kayla Daviena. Saya mengawasi Anda. Jauhi anak saya, atau tempat kos ini tidak akan lagi terasa aman untuk Anda.
Deg!
Ponsel di genggaman Kayla rasanya mendadak berubah sedingin es. Seluruh tubuh gadis itu menegang kaku di atas kasur, sementara bulu kuduknya meremang hebat hingga membuat rasa ngeri menjalar ke seluruh sarafnya.
Kayla refleks melompat dari atas kasur dan memperhatikan situasi di luar sana. Ia kemudian menutup gorden jendelanya serta memastikan pintu kamarnya benar-benar sudah terkunci.
"Sial! Kok dia bisa tahu sih kalau gue baru aja buang tuh totebag!"
Sementara itu di halaman depan sana, Raka masih berdiri sambil memandangi tong sampah hijau itu. Karena penasaran, ia memutuskan untuk membuka tong itu dan mencari sampah yang baru saja di buang oleh gadis itu.
Setelah beberapa saat membongkar sampah-sampah di dalam sana, ia menemukan barang milik gadis itu. Sebuah totebag hitam berukuran sedang, cukup berat saat di pegang.
Hanya ada beberapa stok makanan di dalam sana seperti beras, ramen, cokelat, minyak bahkan camilan lainnya. Yang lebih menggegerkan ada segepok uang di dalam sana! Raka refleks melepaskan totebag itu, ia tiba-tiba jadi ketakutan.
"Wah, gila banyak bener tuh duit!" gumamnya.
Tiba-tiba secarik kertas kecil keluar dari salah satu saku totebag itu. Sebuah kartu nama hitam dengan deretan nama asing. Raka pun refleks mengambil kartu nama itu.
David William - Chief Executive Officer of William Group.
Raka terdiam sejenak. Nama ini terasa asing, namun setelah di pikir lagi rasanya ia seperti pernah mendengar nama ini di suatu tempat.
"Misi, gua mau buang sampah!" ucap seseorang di belakang sana.
Raka langsung berbalik badan, ia mendapat seorang cowok dengan kaos hitam oblong sedang berdiri di belakangnya. Itu Juna.
Ia langsung melayangkan tatapan tajamnya, "Ini kan si bocil SMA itu!"
Juna tak menghiraukan tatapan horror dari laki-laki di sampingnya. Ia langsung membuka tong sampah dan membuang dua kantong plastik yang ada di tangannya ke dalam sana.
"Ngapain lo lihat-lihat gua? Naksir lo?" tanya Juna sarkas.
Raka berdecak, "Idih! Kepedean banget lo!"
Dengan kesal Raka menghempaskan kartu nama itu dan berlalu meninggalkan Juna untuk kembali ke kamarnya. Juna hendak kembali ke kamarnya juga, namun kartu nama bewarna hitam yang baru saja di buang oleh laki-laki itu menarik atensinya.
Deretan nama tak asing tertera di sana. Rahang Juna seketika mengeras, "Ini kan... Kartu nama papa?!"
Juna meremas kartu hitam itu. Ia berbalik dan mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tiba-tiba terdengar suara mesin mobil menjauh dari arah kos-kosan, Juna pun mempercepat langkahnya mengikuti arah suara itu.
Benar saja, sebuah mobil hitam yang ia kenal itu adalah mobil supirnya. Juna tak mungkin salah lihat. Mobil berjalan semakin menjauh dari gang.
"Hey! Berhenti!"
"Berhenti!"
Tapi itunya Raka gak sampai parahkan ya🤭🤭🤭🤭
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan