Semua bermula ketika Vanessa yang memaksakan keinginannya untuk mengikat Calvin dalam ikatan pernikahan, dengan harapan bahwa pria itu akan mencintainya. Tapi yang terjadi, pria itu malah membencinya dan berusaha selalu menjaga jarak dengannya, bertahun-tahun menikah, pria itu ternyata masih memikirkan mantan kekasihnya.
Sampai saat Vanessa sekarat karena kanker yang menggerogoti tubuhnya, dia melihat, suaminya yang menggandeng mesra tangan seseorang yang menjadi alasan kenapa pria itu tidak akan pernah mencintainya.
Di sisa nafasnya, dia pun menyesali keputusannya saat itu. "Andai saja aku tidak pernah memaksa Calvin menikah dengan ku, mungkin aku bisa merasakan sebuah kebahagiaan."
Karena sejak awal, hati pria itu memang bukan miliknya.
Dan yah, Tuhan pun mengabulkan keinginannya. Apakah Vanessa akan merelakan Calvin bersatu dengan mantan kekasihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keseriusan Calvin
*Jangan lupa like dan vote dulu sebelum lanjut membaca ☺️
.
Pagi hari
Vanessa menggeliat kecil saat angin pagi menerpa wajahnya. Dia merasa sangat lelah, tubuhnya meringkuk di dalam pelukan Calvin. Mencari kehangatan di sana. Dan pergerakan wanita itu membuat Calvin sedikit terganggu dan pria itu akhirnya membuka matanya.
Mata Calvin berkedip beberapa kali, hingga akhirnya kesadarannya kembali. Dia menunduk, melihat rambut istrinya yang berantakan karena ulahnya semalam. Bibirnya naik.
"Pagi sayang." seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan santai pria itu mencium ujung rambut Vanessa berkali-kali. Membuat wanita yang bekerja keras semalam terbangun.
"Hmmm."
Dengan sabar Calvin menunggu istrinya benar-benar membuka matanya, pria itu meraih ponselnya yang ada di atas meja. Keningnya mengerut saat melihat notifikasi panggilan tidak terjawab dari Deon dan Rian.
Tumben sekali. Tanpa pikir panjang dia menekan tombol panggilan pada Rian. Setelah menunggu lama.
"Halo." terdengar suara Rian yang sedikit serak. Sepertinya pria itu juga baru bangun dari tidurnya.
"Ada apa?, maaf semalam aku sibuk." bohongnya, dia kembali mengelus punggung telanjang Vanessa yang sudah membuka matanya. Wanita itu masih mengumpulkan nyawanya.
"Ah, semalam ada pesta di rumah Deon." ucap pria itu yang membuatnya penasaran.
"Pesta apa?"
"Deon dan Aurel akhirnya jadian."
"Hah, kau serius?" tanyanya tidak percaya.
"Iya, jadi kau harus mengikhlaskan Aurel." ucap pria itu seolah menasehatinya.
"Ya baguslah, lagipula aku juga tidak menyukainya." jujur dia merasa lega saat mendengar berita ini. Dia melirik ke arah Vanessa yang sudah duduk di atas ranjang sambil menatapnya. Wanita itu mengeratkan selimutnya yang menutupi tubuh polosnya.
"Oh iya, Deon ada tugas ke Bali hari ini, kau tidak ingin menemuinya ya hitung-hitung mengucapkan selamat." kata Rian.
Dia terdiam sejenak. Haruskah?.
"Akan ku pikirkan lagi."
"Dia berangkatnya nanti siang." sahut Rian cepat.
"Kau juga mengantarnya?"
"Iya."
"Baiklah, kabari aku jika kau sudah berangkat."
Dan panggilan itu akhirnya berakhir.
Calvin meletakan kembali ponselnya ke atas meja.
"Apa ada yang sakit?" tanyanya sambil mendekati wanita itu.
Vanessa mengangguk, rasanya nyeri dan juga lelah. "Aku tidak tahu jika rasanya sakit." jujur sebelum melakukannya dengan Calvin, dia sudah membayangkan nya saat malam pertama.
Banyak teman-temannya yang bilang bahwa bercinta itu enak, rasanya seperti surga dunia.
Oke dia akui memang enak, tapi yang dia tidak tahu, awalnya terasa sakit, bahkan setelah selesai pun rasa sakit itu tetap ada.
"Ayo mandi, aku akan membersihkan mu." tawar Calvin pelan. Dia pikir Vanessa akan menolak, tapi wanita itu mengangkat tangannya, minta untuk di gendong.
Tanpa pikir panjang, dia langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi. "Kamu mau pergi?" tanya wanita itu saat tubuhnya sudah masuk ke dalam bathtub.
Calvin mengangguk. "Aku harus mengantar Deon ke bandara, sementara dia akan menggantikan ku mengurus resort di Bali."
Vanessa mengangguk mengerti. "Maaf aku tadi mendengar ucapan Rian."
Calvin paham yang dimaksud istrinya. Dengan pelan dia menghidupkan air hangat untuk istrinya mandi. "Tentang Deon yang jadian dengan Aurel?" wanita itu mengangguk.
"Kamu tidak apa-apa kan?" tanya istrinya pelan. pria itu tersenyum. Apalagi melihat raut khawatir di wajah wanita itu.
"Memangnya kenapa?" tanyanya berniat menggoda.
Vanessa terlihat salah tingkah saat ditatap pria itu. Jarak keduanya cukup dekat. "Hanya saja, eum Aurel terlihat masih menyukai mu, mungkin kamu juga masih menyukainya." pelan. Wanita itu berkata sangat pelan dan hati-hati.
Pria itu dengan cepat mengambil tangan istrinya. Menggenggam nya erat sambil menatap langsung mata teduh itu. "Bukankah aku sudah bilang, aku tidak menyukai Aurel, yang ku sukai dan yang ku cintai hanya kamu Vanessa."
Jantung wanita itu berdetak kencang. Benarkah yang diucapkan Calvin?. Dia mencari letak kebohongan di mata pria itu . tapi yang ada. Dia hanya menemukan ketulusan di mata suaminya.
Bolehkah dia berharap bahwa pria itu berkata jujur?.
Tapi dia takut. Takut akan masa depannya terulang lagi.
Dia tidak mau mati dalam kesendirian.
Dengan cepat dia menarik tangannya dari genggaman suaminya. Dan gerakannya itu membuat Calvin terkejut. Jujur dia merasa sedikit sedih melihat penolakan Vanessa.
"Tidak apa-apa kalau kamu masih belum percaya. Aku akan membuktikan keseriusan ku padamu."
Jujur Vanessa tertegun mendengar ucapan santai pria itu. Kemana sifat dingin dan acuh pria itu?. Kenapa perubahannya sangat drastis.
Dia masih belum percaya dengan perubahan Calvin. "Maaf."
Pria itu panik saat istrinya meminta maaf. "Hey jangan meminta maaf pada ku sayang. Aku yang harusnya minta maaf karena sudah memperlakukan mu dengan buruk selama ini."
Yang di ucapkan Calvin memang benar. bahkan dia hampir trauma karena memendamnya sendirian selama ini.
"Kali ini aku janji, akan berusaha menjadi suami yang lebih baik lagi, jadi aku mohon, jangan menolak ku Vanessa." ucapnya dengan wajah yang memelas. Membuat Vanessa tidak tega.
Vanessa kembali diam. Jujur saja, di dalam relung hatinya yang paling dalam , dia masih menyimpan perasaan cintanya untuk Calvin, dan tidak semudah itu untuk melupakannya.
Karena Calvin adalah cinta pertama dan juga terakhirnya.
.....
Deon tersenyum lebar saat Aurel dengan erat menggandeng tangannya. Dia melirik Rian yang mendengus kesal melihat kemesraan nya.
"Makanya cari pacar, jangan jadi jomblo yang menyedihkan." ejeknya yang membuat pria itu mendengus.
"Cih, baru juga jadian sudah sombong." balas Rian tidak terima.
Hingga akhirnya, muncul sosok yang sudah mereka tunggu-tunggu..
"Hey Vin sini." teriak Deon sambil mengangkat tangan kanannya saat melihat keberadaan temannya yang lain. Dan teriakannya membuat dua orang yang ada disisinya menoleh.
Aurel awalnya tersenyum saat mendengar teriakan Deon saat memanggil Calvin, namun senyumnya luntur saat melihat sosok wanita yang sangat amat dia benci jalan beriringan dengan Calvin.
Apalagi dia melihat cara Calvin menggandeng tangan Vanessa.
"Maaf telat, ada sedikit urusan." ucap Calvin yang merasa tidak enak pada Deon yang harus menggantikannya dinas di Bali.
Pria itu tersenyum. "Tidak masalah, wah di lihat-lihat kalian semakin dekat saja." goda pria itu saat melihat genggaman Calvin pada istrinya terlihat erat.
Tatapan Deon beralih pada Vanessa yang tersenyum tipis, lalu fokusnya berpindah pada dahi wanita itu.
"Ness, maafkan perbuatan Aurel ya." ucapnya lirih. Tubuh pacarnya langsung tegang.
Rian yang tidak mengerti apa-apa hanya diam dan menyimak.
Vanessa mengangguk. Dia melirik Aurel yang menatapnya dengan tajam. "Ku dengar kalian baru jadian?" tanyanya mengalihkan topik.
Deon tersenyum bangga lalu merengkuh pundak pacarnya agar mendekat ke arahnya. "Semalam, itupun atas saran Calvin."
Mata Aurel membola. Dia melirik Deon lekat, meminta penjelasan tentang apa yang baru saja pria itu katakan.