NovelToon NovelToon
Poena

Poena

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Nikolas Martinez adalah pemimpin geng motor The Vultures yang urakan namun cerdas, sementara Salene Lumiere adalah putri bangsawan yang hidup dalam sangkar emas milik Keluarganya. Dua dunia yang bertolak belakang, di mana Salene menemukan kebebasan di balik jaket kulit Nikolas.
Namun, tepat di malam perayaan ulang tahun ke-18 mereka yang penuh janji manis, sebuah kecelakaan tragis merenggut segalanya. Nikolas terhempas ke dalam koma selama lima tahun. Di dalam tidur panjangnya, Nikolas hidup dalam delusi indah bahwa ia dan Salene masih bersama, tanpa menyadari bahwa di dunia nyata, waktu terus berjalan dengan kejam.
Saat Nikolas terbangun di tahun 2026, ia mendapati dunianya telah hancur. Sahabat-sahabatnya telah dewasa, dan Salene—gadis yang menjadi alasan satu-satunya untuk ia bangun—telah menghilang. Rahasia besar terkunci rapat oleh orang-orang terdekatnya, Salene telah menikah dengan pria lain di California.
Sebuah kisah tentang cinta yang melampaui logika.
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Sore itu, halaman St. Jude’s High School masih dipenuhi sisa-sisa euforia hari pertama kelas 12. Di tengah deru mesin mobil mewah dan obrolan para siswa, Salene berdiri di samping pilar marmer, merapikan sarung tangan sutranya dengan gerakan yang sangat terukur.

Nikolas menghampirinya, tidak lagi dengan langkah santai yang sembrono, melainkan dengan tatapan yang seolah sedang mengunci target. "Sal..."

"Hm?" Salene menyahut tanpa menoleh, namun jemarinya sedikit kaku saat merapikan tasnya.

"Kau akan ikut pesta Gala Premiere perusahaan ayahmu nanti malam?" tanya Nik, suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara mesin Rolls-Royce yang baru saja memasuki area parkir.

Salene menggeleng pelan. "Tidak. Aku belum di instruksi Madame untuk ke acara besar perusahaan tahun ini. Katanya, aku harus fokus pada transisi kurikulum kelas 12."

Nik terdiam sejenak, lalu menyeringai tipis. "Kalau begitu, boleh aku telepon nanti malam?"

Salene sempat tertegun. Ia menatap aspal sejenak sebelum mengangguk kecil, hampir tak terlihat jika Nik tidak memperhatikannya dengan saksama. "Boleh."

Nik menyipitkan mata, mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. "Kenapa tidak lagi menjadi kaku seperti biasanya, Sal? Mana tembok porselen mu?"

Mendengar itu, dalam hitungan detik, ekspresi Salene berubah. Wajahnya mengeras, dagunya terangkat dengan sudut yang angkuh, dan tatapan matanya berubah sedingin es kutub—sebuah transformasi instan yang luar biasa.

"Kau merindukan ekspresi ini? Hm?" ucap Salene dengan nada suara yang begitu dingin hingga sanggup membekukan udara di sekitarnya.

Nik justru terkekeh, sama sekali tidak terintimidasi. "Tidak juga. Aku lebih suka yang hangat. Jadi... mau makan mie instan?"

Deg.

Jantung Salene berdegup kencang. Ia melirik Rolls-Royce yang sudah berhenti tepat di depannya. Supir pribadinya sudah turun dan membukakan pintu dengan hormat. "Supir sudah menjemput, Nik. Aku tidak bisa."

"Aku akan memberikan alasan yang sempurna," potong Nik tenang. Ia melangkah mendekati sang supir yang tampak bingung. Dengan wibawa seorang Martinez yang tak terbantahkan, Nik berkata, "Beritahu Madame bahwa Nona Salene memiliki tugas kelompok mendesak untuk kurikulum baru. Dia akan pulang bersama saya satu jam lagi."

Sang supir sempat ragu, namun melihat tatapan Nikolas yang tajam dan persetujuan diam-diam di mata Salene, ia hanya bisa membungkuk dan meninggalkan area parkiran sekolah elit itu sendirian.

Nik segera menghidupkan mesin motor BMW-nya. "Naik, Salene. Pegangan yang kuat!"

"Let's go!" teriak Salene spontan, sebuah seruan kebebasan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

.

.

Begitu sampai di markas The Vultures, kehebohan langsung meledak. Salene dan Nik mengira mereka akan menemukan ruangan yang sepi, namun ternyata Lauren dan Kent sudah berada di sana lebih dulu.

Lauren tampak sibuk menata kotak-kotak makanan cepat saji dan beberapa kaleng soda di atas meja biliar. "Ayo, ayo! Kita harus merayakan kelas baru kita!" seru Lauren riang.

Kent, yang sekarang terlihat sedikit lebih terbuka dan tidak lagi sedingin es di kutub utara, mendatangi Lauren. Ia mengambil kaleng soda dari tangan gadis itu. "Jangan minum minuman soda, Lauren. Tidak baik untuk perutmu."

Lauren tersentak, wajahnya langsung memerah padam. Ia berteriak histeris, "Aku tidak hamil, Kent! Jangan khawatir! Ini cuma perayaan kelas baru, bukan perayaan baby shower!"

Tawa Dion dan Clark pecah seketika. Mereka sampai memegang perut masing-masing. "Wah, wah! Kau sudah diperjakai Kent, Lauren? Oh tidak, hahaha!" goda Dion sambil melempar kacang ke arah Kent.

Tepat saat itu, mereka semua baru menyadari kedatangan Nik dan Salene yang masih mengenakan jaket kulit milik Nik di bahunya.

"Woahhh! Lihat siapa yang datang! Kedatangan Ibu Negara dan Panglima!" seru Clark sambil bersiul nakal. "Ini reuni atau apa? Kenapa kalian datang berpasangan begini?"

Nik tidak menjawab godaan itu. Ia hanya melirik teman-temannya dengan tatapan 'diam kalian', lalu menoleh pada Salene. "Kami akan ke atas," ucap Nik singkat, merujuk pada area dapur pribadinya di lantai dua.

"Ohhh tidak, Kent!" Lauren berteriak lagi, memancing perhatian seluruh ruangan. "Kita tidak boleh kalah start dari Nik dan Salene dalam membuat baby masa depan kita! Pokoknya kita yang harus lebih dulu!"

Wajah Kent yang biasanya pucat kini memerah tipis, namun ia tetap berdiri di sana dengan tenang.

"Dan aku maunya baby boy ya, Suamiku!" lanjut Lauren tanpa malu sedikit pun. "Agar dingin dan keren kayak kamu, Daddy-nya."

"Hahaha! Daddy Kent! Itu sebutan baru yang bagus!" Leonard tertawa ngakak hingga tersedak sodanya sendiri.

Kent hanya tersenyum tipis—senyum yang sangat langka. Ia sebenarnya sudah terbiasa mendengar pembahasan gila ini hampir setiap malam saat mereka berkirim pesan. Ia tahu betul bagaimana Lauren akan langsung "terbang" dan baper hebat hanya karena balasan pesan singkat darinya seperti: "Hm," "Baiklah," atau "Iya." Bagi Lauren, satu kata dari Kent Winters adalah deklarasi cinta.

"Jangan terlalu berteriak, Lauren," ucap Kent pelan, suaranya parau namun penuh perhatian tersembunyi.

"Baiklah, Sayang!" jawab Lauren dengan patuh, namun sedetik kemudian ia kembali sibuk mengoceh tentang dekorasi kamar bayi impiannya.

Nikolas hanya menggelengkan kepala melihat Kent sahabatnya, lalu menarik lembut tangan Salene menuju tangga. "Ayo, sebelum mereka mulai membahas rencana pernikahan sekolah."

Salene mengikuti langkah Nik, hatinya terasa hangat. Di markas yang berisik dan penuh tawa konyol ini, ia merasa lebih hidup daripada di dalam mansionnya yang sunyi. Ia melirik ke arah Kent dan Lauren, lalu berbisik pada Nik, "Teman-temanmu... mereka benar-benar gila."

"Kita semua gila, Sal," balas Nik sambil membuka pintu dapur atas. "Hanya saja, kita punya cara yang berbeda untuk menunjukkannya."

Malam itu, di tengah aroma mie instan yang mulai dimasak, Salene menyadari bahwa porselennya tidak hancur saat ia berada di sini. Porselen itu justru menemukan tempat di mana ia tidak perlu takut untuk retak, karena di markas ini, setiap retakan adalah bagian dari sebuah cerita.

🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
winpar
thorrrrr update lgi plissssss
Ros🍂: Ashiappp kak🙏🥰
total 1 replies
ren_iren
sukaknya bikin huru hara dirimu kak.... 🤭😁😂
Ros🍂: Auuuw🥰🤣
total 1 replies
winpar
terus kk 💪💪💪💪
Ros🍂: Ma'aciww kak🥰🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!