Setelah Andra menikah lagi, Armila berubah. Ia menjadikan suaminya ini ada, tapi tiada. Sapaan, rayuan dan keberadaanku serupa angin lalu.
Diamnya armila membuat Andra stres.
Pernikahannya dengan resti pun menjadi tidak harmonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MUTAR OTAK
RESTI
Kurang ajar aksiku gagal lagi. Sialan banget pembantu Armila mengetahui penaburan jimat itu. Kata si dukun, jimat memang takkan berfungsi kalau diketahui orang lain. Payah, parah!
Mengapa Armila selalu diliputi keberuntungan? Mengapa rencanaku tak pernah berhasil?
Argh menyebalkan! Aku makin benci saja padanya. Selama dia masih hidup, takkan pernah kebencian ini pudar.
Aku harus memutar otak agar ada cara lebih joss untuk menyingkirkan Armila. Aku sudah terlanjur prontal tak mungkin mundur lagi. Perang, perang sekalian.
Untunglah aku punya suami bermental lemah. Lelaki itu tidak bisa bersikap tegas meski istrinya sudah berbuat salah. Paling banter marah sehari dua hari, disuguhkan kemesraan juga luluh.
Tetaplah seperti itu mas karena itulah jalanku untuk mencengkerammu lebih jauh. Kalau kau berubah menjadi tegas akan sulit bagiku mempertahankan rumah tangga ini.
Aku sangat tahu perasaanmu pada Armila terlalu mendalam. Kepadaku hanya karena terbawa napsu. Siapa juga lelaki yang tidak jatuh di bawah kaki Resti. Meski mereka sudah punya istri, tetap tak akan tahan dengan godaan mautku.
Untuk saat ini aku masih bisa mentolerir kalau hatimu diserahkan pada Arnila. Karena yakin seiring waktu, kau akan memberikan seutuhnya padaku. hal tersebut akan terjadi jika Armila tak ada lagi di sisimu pastinya.
*
"Maksud kamu apa? Dukun itu gak ada lagi di sana?"
Aku meradang saat bi Mimin mengatakan dukun yang memberi jimat tak lagi tinggal di tempat itu.
Kata tetangganya tak ada yang tahu ke mana dia pergi.
"Aku tak percaya, ayo kita ke sana sekarang!"
Bi Mimin kemudian menyodorkan ponselnya. Di sana ada video yang menampilkan rumah dukun. Di dalamnya kosong, tak ada barang-barang.
"Ini dari teman saya yang mau ke sana, Bu: Kata yang punya rumah mereka pindah seminggu lalu."
Kok, aku jadi curiga sama dukun itu. Kenapa dia pindah sehari setelah Kenapa dia pindah sehari setelah transaksi kami. Apa jangan-jangan aku ditipu.
Tapi 'kan jimat tidak berfungsi karena ketahuan pembantu Armila. Makanya tak bisa dijadikan bukti bahwa dukun itu penipu.
"Kamu gak lagi nipu saya' kan?"
"Yaelah, Bu, saya ini baik hati, ramah dan cantik sekali. Ada gitu tampang penipu?"
Bibir bi Mimin sampai ke buka lebar pas ngomong. Aku jadi kayak lihat ikan mas koki pakai lipstik. Benar-benar menjijikkan.
Pengen melihara pembantu yang rada
cantik, takut ngegoda mas Andra.
Tetap bi Mimin, kudu nahan mual tiap melihatnya. Ada gitu mahluk sejelek itu di dunia ini.
"Awas ya kalau sampai bohong, saya umpanin kamu ke anak konda!"
"Umpanin ke mas duda Jong Ki aja, Bu. Kami serasi pasti!"
Aku menoyor bahunya dengan HP.
Seperti biasa bi Mimin akan cengengesan.
"Kasih ide selain ke dukun untuk misahin mas Andra sama nenek lampir itu. Cepetan, buntu, nih!"
Bu Mimin menggerak-gerakkan dua bola matanya sambil menyimpan telunjuk di bibir. Gayanya, sih seperti orang mikir. Cuma gak tahu juga. Bisa aja akting.
"Idenya lagi main petak umpet, Bu. Belum ketemu sama saya hehehe!"
"Dasar!"
Karena bi Mimin tak bisa diandalkan, aku harus memutar otak lebih keras.
Untunglah perangkat berpikir ini encer, muncul juga ide di kepala.
"Mau ke mana, Bu?"
"Hongkong!" jawabku sekenanya pada perempuan super kepo itu. Ngapain juga aku harus laporan padanya tentang tujuan kepergian.
Setelah dandan dan ganti pakaian, aku langsung cabut. Rencananya mau menemui seseorang yang bisa kubayar untuk memata-matai Armila. Dia bertugas mengabadikan kebersamaan Armila dengan Reiga. Tak apa bayar mahal asal hasil memuaskan. Kalau tak dapat fose tepat, edit saja biar lebih pas.
*
Malam ini, selepas memadu kasih, mas Andra langsung tepar. Katanya dia benar-benar lelah sehingga minta padaku jangan mengganggunya lagi.
Huh, dasar payah, baru juga satu ronde sudah loyo aja. Mas Andra hanya perkasa di seminggu pertama pernikahan. Lepas itu standar saja.
Eh, apa lagi ini HP bunyi-bunyi! Ya, ampun, berisik banget, sih. Sialan!
Wow, ternyata ada panggilan dan pesan dari pembantu Armila. Huh mending kuhapus. Enak aja main nyuruh pulang. Anak sakit ya urusin sendiri. Ngapain ganggu kesenangan orang
Selamat mewek, maduku, Sayang!
Panik-panik, deh sekalian. Duh. Aku senang sekali Armila kesusahan. Kalau nanti mas Andra marah tinggal bilang saja tak tahu apa-apa.
Lepas menghapus pesan, aku beralih pada HP sendiri. Tentu saja yang dicari adalah informasi dari orang tukang memata-matai Armila. Belum ada ternyata. Lambat banget, sih kerjanya.
Segitu udah dibayar mahal.
Aku sudah tak sabar melihat mas Andra murka besar pada istrinya. Syukur langsung diceraikan saking cemburu. Tercapai, dong tujuanku menjadi penguasa mas Andra satu-satunya.