Dulu, ia adalah Thalia Alexandria—artis papan atas yang hidup dalam sorotan, dipuja dan dielu-elukan oleh jutaan penggemar. Namun, satu malam mengubah segalanya ketika ia ditemukan tak bernyawa di apartemennya sendiri. Saat membuka mata, dunia yang ia kenal telah lenyap. Ia bukan lagi sang bintang gemerlap, melainkan Thalia Anderson—gadis culun, pemalu, dan dipandang rendah oleh keluarganya sendiri. Lebih mengejutkan lagi, ia telah terikat pernikahan dengan Aiden Hugo Maverick, CEO muda yang dingin, kejam, dan sama sekali tidak mencintainya.
Dihina oleh ibu tiri, disakiti saudara tiri, dan dipermalukan di lingkungan kampus, hidup barunya terasa seperti neraka. Namun, mereka semua tak menyadari satu hal—di balik penampilan polos itu, tersembunyi jiwa seorang ratu panggung yang tak mudah ditaklukkan. Dengan tekad membara, Thalia berjanji akan membalikkan keadaan. Termasuk menaklukkan hati sang CEO yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Perang di dunia maya pecah sejak nama Thalia diumumkan sebagai peserta terakhir yang lolos.
Semuanya bergerak gila-gilaan: potongan videonya bernyanyi tiga menit dibagikan puluhan ribu kali, fancam dari sudut bangku terjauh pun ditonton sampai habis. Grafik jumlah pengikutnya naik seperti kembang api; angka yang siang tadi masih di 1,2 juta, malam ini menjulang ke 1,8 juta. Kolom komentar mendidih-antara puja-puji yang mengharukan, ocehan iri yang berusaha menyenggol, juga perang tagar yang seperti arus pasang: #ThaliaLive, #Tiffany TheStar, #AyanaComeback, #DavidBalada, semuanya bergantian memimpin.
Rina mematikan televisi ruang keluarga untuk memperkecil kebisingan dari studio, lalu menoleh ke sofa. Liam, yang sejak tadi menonton siaran performa mamanya di tablet, tertidur dengan posisi meringkuk, pipinya menempel pada bantal kecil bergambar dinosaurus. Layar tablet masih memutar wajah Thalia di panggung-mata terpejam, suara bulat, nada terakhir yang menggema membuat volume hati siapa pun sedang menurun rasa lelahnya.
"Liam," bisik Rina sambil menunduk. "Ayo ke kamar, Tuan Kecil."
Liam tidak menjawab, hanya menggumam cadel seperti anak kucing. Tablet hampir terjatuh dari pelukannya. Rina menahannya, mengunci layar, lalu mengangkat bocah itu pelan-pelan agar tidak terbangun. Liam memeluk leher Rina otomatis, napasnya hangat di tulang selangka.
"Papa... Mama juala..." gumamnya dalam tidur.
Rina tersenyum, menaruh ciuman ringan di rambut Liam, lalu melangkah menaiki tangga. Seorang pelayan membuka pintu kamar anak secara sigap, merapikan selimut biru saat Rina membaringkan Liam. Di dinding, lampu tidur berbentuk bulan diputar ke tingkat paling lembut. Rina menaruh tablet di nakas, menutup tirai. "Selamat tidur, pangeran kecil," katanya sangat pelan. Liam hanya menjawab dengan dengkuran halus seperti bisik angin.
Di sisi lain kota, sebuah restoran mewah menghamparkan makan malam perayaan. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya yang dipecah menjadi serpihan kecil serupa salju. Dindingnya kaca, memperlihatkan panorama lampu gedung bertaburan. Meja panjang diatur dengan linen putih dan puluhan gelas kristal. Produser WTBS berdiri menyambut satu per satu: para peserta WTBS, kru, juru kamera, hingga tim sosial media yang malam ini bekerja dua kali lebih keras dari biasanya.
"Selamat untuk episode dengan rating tertinggi di prime time!" seru produser, suaranya memenuhi ruang. Tepuk tangan menggema, desis soda dan bunyi gabus yang copot menjadi musik latar.
Zoey dan Anna duduk berdampingan, sama-sama menegakkan punggung. Mereka menjaga senyum, menukar kalimat-kalimat sopan yang menyamarkan kecewa. David meraihkan gelasnya, menyenggol milik Zoey kecil-kecil. "Untuk panggung yang membuat kita belajar lebih cepat daripada sekolah mana pun," katanya rendah.
"Untuk kita yang masih bisa tertawa," sahut Zoey, dan mereka tertawa sungguh-sungguh walau mata keduanya memerah.
Ayana menggulung rambutnya ke belakang telinga sambil melirik Thalia. "Aku suka bait pertamamu," ucapnya tiba-tiba. "Seperti mengajak orang duduk dan mendengarkan."
Thalia tersenyum. "Aku suka seluruh lagumu. Kau menyalakan api."
"Semoga tidak membakar juri," Ayana terkekeh, membuat Tiffany di seberang meja menoleh dan mengangkat gelas-salam damai yang rapi, selaras dengan kamera-kamera ponsel yang mungkin merekam.
Produser mengetuk gelasnya. "Bersulang! Untuk penampilan malam ini! Untuk kerja keras kita semua!"
Puluhan gelas terangkat serempak. Anggur merah naik bersama kabut tipis pendingin ruangan, bersatu jadi aroma yang memanjakan hidung. Thalia menatap cairan merah di gelasnya sejenak. Di kehidupan pertamanya, tubuhnya cukup toleran; lima gelas miuman alkohol pun ia masih bisa berdiri tegak, bicara jernih, menutup malam dengan tawa. Ia mengangkat gelas, menempelkan bibir, meneguk seteguk kecil.
Hangatnya turun dari tenggorokan, mekar di dada.
Dan dunia bergeser.
Bukan berguncang. Lebih seperti gambar yang tiba-tiba melunak garisnya; lampu-lampu jadi bintang-bintang kabur, wajah-wajah mengembang lembut, tawa teman-teman seperti didengar dari ujung lorong. Thalia berkedip, mengerjap sekali, dua kali. Pusing berputar, mengunci pandangannya ke meja sebelum lari ke lantai.
Zea sudah berdiri sebelum kursi Thalia benar-benar mundur. "Maaf," katanya pada produser, "temanku pusing. Aku antar pulang."
"Perlu bantuan?" tanya David.
"Tidak, aku bisa," Zea tersenyum sopan, menautkan lengan Thalia di bahunya. Thalia mencoba bercanda atau itu hanya pikirannya yang menulis kalimat tanpa suara-namun bibirnya berat. Langkah mereka pelan, bergoyang. Beberapa kru menoleh dengan khawatir, yang lain berpura-pura tidak melihat karena pesta harus tetap terasa sebagai pesta.
Di pintu, sopir pribadi sudah menunggu. "Nyonya," katanya, membuka pintu mobil. Zea mengangguk, membantu Thalia duduk. Secara otomatis, tangan Thalia mencari sesuatu untuk dipegang; ia menemukan sabuk pengaman, menariknya ke dada dengan gerakan yang tidak terlalu akurat. Sopir merapikan, memastikan kliknya terdengar.
"Terima kasih," ucap Zea kepada sopir. "Setelah sampai, tolong kabari saya. Aku pulang pakai kendaraan umum."
"Baik, Nona." Pintu tertutup. Mobil meluncur meninggalkan kilau restoran, mengantar Thalia kembali ke rumahnya yang terang oleh lampu-lampu halaman.
Gerbang besi membuka pelan. Jalan masuk yang diapit pohon-pohon rapi seperti koridor kehormatan yang diam-diam menyambut seorang pemenang. Di teras, butler sudah menunggu. Ketika pintu mobil dibuka, angin malam menyentuh wajah Thalia, membuat pusingnya terasa lebih manis-aneh, seperti permen kapas yang dibiarkan di mulut terlalu lama, menempel, lembek, menolak hilang.
"Pelan-pelan, Nyonya," kata butler. Ia dan sopir memapah Thalia ke dalam. Lantai marmer memantulkan langkah goyangnya, chandelier di foyer meneteskan cahaya ke rambutnya. Di depan, seorang lelaki berdiri menghadap pintu, tubuhnya lurus setegak palang pintu: Aiden.
Ia pulang lebih awal daripada biasanya, mungkin karena Lucas mengirim laporan yang dorongannya seperti tangan yang mengetuk-ngetuk nadi. Atau mungkin karena ada sesuatu di video siaran Thalia yang mendorongnya ingin menyaksikan langsung orang yang tadi malam membuat panggung terasa hangat. Aiden tadi melipat jasnya di sandaran sofa, membuka kancing lengan kemeja satu-satu. Kini ia hanya menatap.
"Thalia," katanya pelan ketika jarak tinggal beberapa langkah.
Thalia mengangkat wajah. Matanya berkilat bukan karena air, melainkan karena lampu yang menari di pupilnya. Senyum kecil yang tidak pernah ia sengaja keluar, menggantung di bibir. "Aiden," ia membalas, suaranya seperti padang rumput yang baru selesai diguyur hujan: lembut, segar, dan sedikit licin.
Sopir dan butler bersiaga setengah langkah di belakang, siap menangkap kalau-kalau kain tinggi haknya tersangkut di permadani. Tapi tubuh itu tiba-tiba menemukan keseimbangan dengan caranya sendiri. Thalia mendekat, satu tangan terulur-bukan ke bahu, bukan ke pergelangan, melainkan ke kerah kemeja Aiden. Tarikan kecil. Aiden sempat mengerutkan alis, belum sempat menegur, belum sempat bertanya, ketika bibir Thalia menutup bibirnya.
Segala sesuatu yang keras dalam diri Aiden-bahunya, rahangnya, bahkan alisnya-sekedipan mata menjadi patung yang baru dituang dari logam. Kagetnya naik, berhenti di tenggorokan, lalu turun lagi, berganti dengan sesuatu yang sama-sama panas, sama-sama berbahaya. Ciuman itu tidak terburu-buru, tapi juga tidak ragu. Ada cara Thalia menyentuhnya seakan ia sudah tahu jalannya: tekanan yang tepat, ritme yang secara misterius seirama dengan detak jantung Aiden sendiri.
"Ny-" butler tersedak suaranya sendiri, lalu menunduk cepat-cepat, memutar badan. Seorang pelayan yang kebetulan lewat di koridor menutup mulut dengan kedua tangan, pipinya memerah seperti tomat yang baru dijemur. Mereka berlalu, secepat dan setenang mungkin, memainkan peran dinding yang sopan.
Aiden tidak bergerak beberapa detik; tepat di detik berikutnya, tangannya kehilangan keinginan untuk tetap diam. Telapak tangannya menemukan pinggang Thalia, satu sentimeter, dua, lalu berhenti -seolah menegosiasikan perbatasan yang selama ini dijaga. Thalia berjinjit, memberikan lebih banyak dirinya, dan seluruh listrik di ruangan seakan pindah ke tubuh Aiden. Apa pun yang ia pikirkan tentang laporan Lucas-tentang keluarga Anderson, tentang lelaki tua bernama Abraham, tentang rencana kotor yang siap mengorbankan istri-lenyap di bawah hantaman fakta yang jauh lebih sederhana: mulut istrinya terasa seperti tempat yang sudah ia kenal sejak lama, padahal ia belum pernah memasukinya sedekat ini.
"Aiden," Thalia memanggil di sela napas, setipis uap. "Cut-camera-take dua."
Ada tawa kecil di situ, tergelap oleh mabuk yang membuatnya mengira mereka di lokasi syuting. Dalam imajinasinya, ia sedang mengikuti adegan romantis yang dikomando sutradara. Aiden, mengangkat wajah sedikit, menatapnya. "Kau sedang syuting film apa?" tanyanya setengah berbisik, setengah menahan senyum yang tidak mau muncul.
"Pangeran," jawab Thalia mantap, seperti dialog yang sudah dihafal. "Pangeran tampan. Adegan ciuman. Tidak boleh gagal. Penonton marah."
"Pangeran, hm?" Aiden akhirnya tertawa-pendek, kaget oleh suaranya sendiri yang terdengar lunak. "Siapa pemeran utamanya?"
Thalia menatapnya lama-lama, pupilsnya melebar seperti seseorang yang baru menemukan bintang. "Kau," katanya sederhana, lalu kembali menempelkan bibir.
Kali ini, Aiden menjawab. Tidak ada teori, tidak ada strategi, hanya tubuh yang memindahkan keputusan ke bibir. Ciuman itu menggulung, berubah dari kejutan menjadi percakapan, dari ragu menjadi bahasa. Jari Thalia meraba rahang Aiden, mengantisipasi arah; Aiden, yang awalnya hanya mengizinkan, mulai memimpin setengah langkah.
Rasanya seperti belajar menulis nama sendiri dengan tinta yang lebih tebal-garisnya sama, tapi efeknya mengguncang.
Di kepala Aiden, pertanyaan meletik-kenapa istrinya terlihat begitu mahir? dari mana ia belajar? apakah ada lelaki lain?-namun tiap pertanyaan hanya melintas lalu rontok di dinding torak yang berdebum. Ia cemburu pada sesuatu yang belum tentu ada, ia kesal pada kemungkinan yang belum tentu benar, namun justru karena itu tangannya mempererat pegangan di pinggang Thalia, seolah mengklaim. Ia tidak mengerti kenapa dunia mengizinkan perempuan ini memasuki hidupnya seperti meteor, meninggalkan kawah, lantas berdiri di tengah kawah itu dengan mata yang tak pernah benar-benar minta maaf.
"Thalia," panggilnya di sela tarikan napas. "Kau pusing?"
"Mm." Thalia mengangguk, masih menempel, senyum kecil malas-malas di sudut mulutnya. "Tolong jangan cut dulu."
"Baik," ucap Aiden-dan ia benci cara kata itu terasa sangat mudah keluar. Ia menarik tubuh Thalia ke arah pilar yang paling teduh, agar jika ada pelayan yang kebetulan lewat tidak perlu berpura-pura melihat lampu. Aroma anggur tipis bercampur dengan parfum lembut Thalia, semerbak yang mengingatkan Aiden pada catatan di laporan Lucas: bertahun-tahun diintimidasi, tetapi tidak pecah. Rasanya seperti memegang gelas kristal yang ternyata sekuat batu.
"Thalia," katanya lagi, kali ini lebih pelan. "Kamu minum berapa banyak?"
"Seteguk," Thalia menjawab tanpa ragu. "Tapi tubuh... hmm... lucu sekali."
"Lucu," Aiden mengulang. "Kata yang menarik."
"Jangan bercanda," Thalia mengerling seperti anak kecil yang menyuruh orang dewasa mengikuti permainannya. "Kita set akhir-adegan tidur. Pangeran menggendong putri, antarkan ke kamar."
Aiden menatapnya, kalah oleh tawa kecil yang terbit sendiri. "Kalau sutradaranya Thalia, aku tunduk." Ia menekuk sedikit, meraih belakang lutut Thalia dengan hati-hati-bukan gaya pengantin, lebih seperti cara yang paling aman agar gaun tidak terinjak. "Pegang leherku."
Thalia patuh, menyangkutkan lengannya. Kepalanya otomatis menemukan bahu Aiden, meletak di sana seperti bantal yang sudah tahu dimana sisi paling nyaman. Pelan-pelan Aiden melangkah menaiki tangga. Di tikungan, dua pelayan yang baru keluar dari pantry kaget bukan main, saling mencolek lengan sambil memalingkan wajah. "Astaga," bisik salah satu, "Nyonya dan Tuan..." Kalimatnya menguap karena malu yang merah merayap sampai telinga.
Di puncak tangga, koridor panjang menyambut. Bunga di vas kristal bergetar sedikit karena langkah yang disusun ulang demi orang yang digendongnya. Pintu kamar terbuka; udara di dalam berbau kapas dan sedap malam dari teras. Aiden menurunkan Thalia perlahan ke tepi ranjang, membetulkan letak bantal. Thalia memejamkan mata, masih dengan senyum yang sama-senyum yang entah milik aktor perempuan dalam imajinasinya atau milik perempuan yang akhirnya berani meminta tanpa enggan.
"Aku... juara?" tanyanya, tiba-tiba kecil sekali.
Aiden menatap, menahan banyak hal yang ingin ia katakan. Tentang bagaimana ia menonton siaran, tentang bagaimana suaranya menembus layar, tentang bagaimana dunia menggila dan ia tidak bisa melakukan apa pun kecuali berdiri di ambang pintu menunggu mobil yang membawa istrinya pulang. Tentang bagaimana ia marah pada semua orang yang pernah menundukkan wajah ini ke lantai-ayah yang tuli oleh hasutan, ibu tiri yang racunnya dipaketkan dalam kata-kata manis, adik tiri yang cemburunya seperti jarum.
"Ya," katanya akhirnya. "Kau juara."
Thalia tertawa, sangat pelan, lalu membuka mata hanya setipis garis. "Kau juga."
"Juara apa?"
"Juara... menahan diri," jawabnya, dan mata Aiden mengurangi ketegangan seketika. Ia menghela napas, mengusap pelipis Thalia dengan ibu jari-gerakan yang bisa mematikan argumen apa pun.
Aiden berdiri, kemudian berhenti, mengalah pada satu godaan terakhir. Ia menunduk, menaruh kecupan singkat di kening. "Disimpan," ujarnya. "Untuk adegan tanpa kamera."
Hembusan napas Thalia menjadi lebih dalam. Dalam beberapa menit, dengkur halus menyusul. Aiden melangkah ke pintu, mengintip koridor. Rina sudah ada di ambang, menunggu aba-aba. "Nyonya baik-baik saja, Tuan?" tanya Rina, cemas yang ia hindari sepanjang malam akhirnya menemukan jalan.
"Baik," jawab Aiden. "Seteguk anggur terlalu jujur pada tubuhnya."
Rina tersenyum lega. "Saya siapkan air hangat dan madu."
"Terima kasih." Aiden menatap sekali lagi ke arah ranjang. Di meja, ponsel Thalia bergetar, memunculkan angka-angka yang tak berhenti: notifikasi pengikut baru, tautan video yang diunggah ulang, pesan-pesan dari orang asing yang tiba-tiba seperti kenal.
Di luar, perang tagar terus berjalan. Di dalam, ada napas yang sama panjangnya, sama konsistennya, sama mungilnya suara yang tadi malam membuat panggung terasa kecil. Aiden menutup pintu pelan. Malam memeluk rumah seperti selimut tebal. Di suatu tempat di dalam dada Aiden, sesuatu yang selama ini diikat rapat lewat kerja dan gengsi membuat simpul baru-lebih kecil, tapi lebih kuat.
Ia tidak tahu bagaimana menghadapi keluarga Anderson besok, atau Abraham dan uangnya. Ia hanya tahu satu hal sederhana: ada perempuan tidur di kamarnya, yang dengan satu seteguk anggur berani melompati jurang yang tidak pernah berani ia ukur. Dan untuk malam ini, itu cukup.
lanjuttttt/Kiss/