Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Bella tampak manis dan imut, gadis kecil yang menggemaskan.
Penampilannya memancarkan kepolosan khas anak seusianya. Siapa pun yang melihatnya pasti merasa ingin merengkuh tubuh kecilnya ke dalam pelukan dan menciumi pipinya yang lembut.
Dilihat dari sisi mana pun, tentu jauh dari kata menjijikkan.
Tak heran jika sejak kecil, Bella selalu tumbuh dengan pujian.
Namun, ini pertama kalinya seseorang mengejeknya.
Hal itu begitu menusuk hatinya hingga membuatnya menangis terisak. Dia semakin erat memeluk Clara.
Clara segera memeluknya sembari menghiburnva dengan berkata, "Clara segera memeluknya sembari menghiburnya dengan berkata, " Nggak Bella, kamu nggak menjijikkan sama sekali. Kamu malah terlihat cantik dan imut, kok. Bella sendiri juga berpikir begitu, 'kan?".
Mendengar itu, suasana hati Bella mulai membaik. Tangisannya pun mulai mereda. Namun sebelum dia sempat berbicara, Elsa tiba-tiba menyela. "Mama. Aku... Aku nggak sayang Mama lagi, aku nggak mau Mama jadi ibuku!" seru Elsa dengan mata yang memerah saat melihat Clara masih memeluk dan memuji Bella.
Setelah mengatakannya, Elsa bersiap untuk meninggalkan Clara.
Namun, Clara dengan sigap menariknya ke dalam pelukan.
Dia tidak menyangka Elsa akan menyakiti seseorang.
Meski marah, dia memilih untuk tidak memarahinya dan mempermalukannya di depan umum.
Dia memeluk Elsa dan mengecup keningnya dengan lembut, lalu berkata, "Sudah, jangan marah dulu..."
Elsa masih merengut, tapi saat merasakan ciuman hangat Clara, amarahnya mulai mereda. Entah kenapa dia justru merasa tidak nyaman dan tiba-tiba menangis. " Kalau gitu... Mama nggak boleh memeluknya lagi! Juga nggak boleh bilang dia cantik dan imut lagi!" pinta Elsa dengan suara bergetar.
Saat mendengar ucapan Elsa, barulah Clara menyadari apa yang membuat putrinya itu tidak senang.
Yaps, ternyata cemburu.
Meski tidak suka Clara, Elsa tetap tidak senang jika Clara direbut.
Tak tahu kenapa, Clara merasa hal ini sangat lucu.
Mengenai permintaan Elsa barusan, tentu Clara tidak setuju. Sebagai gantinya, dia mencium dan menenangkannya, lalu membawa kedua anak itu menjauh dari kerumunan.
Elsa mengambil kesempatan mendorong Bella keluar dari pelukan ibunya.
Bella memiliki sikap yang baik. Meski suka pada Clara, dia tidak punya keinginan untuk menguasai Clara.
Terlebih lagi, Elsa terlihat sangat galak, dia sedikit takut padanya.
Clara memeluk Elsa sambil berkata dengan lembut, "Elsa, Mama tahu kamu sekarang sangat keren. Tapi, tiap orang punya standar kecantikan yang berbeda. Kamu suka pada dirimu yang keren, tapi ada juga orang yang suka menjadi imut, manis dan lembut. Karena berbeda, bukan berarti kita Karena berbeda, bukan berarti kita boleh menghina seseorang jelek atau menjijikkan. Kita harus menghormati setiap perbedaan. Paham, Elsa?"
Clara tahu putrinya sangat pintar.
Mungkin, tidak semua anak bisą memahami, tapi dia yakin Elsa pasti mengerti.
Di sisi lain, Elsa tentu saja mengerti.
Dia juga tahu apa yang diucapkannya pada Bella jelas salah.
Namun, dia tidak bisa menerima kalau ibunya memeluk dan baik pada orang lain.
Bibirnya mengerucut tanpa mengatakan apa pun.
Clara mengusap rambut Elsa, lalu mengambil sapu tangan menyeka air mata putrinya itu. "Nggak apa-apa melakukan kesalahan. Yang penting, kita tahu gimana perbaiki. Tapi ke kita tahu gimana perbaiki. Tapi ke depannya, nggak boleh gini lagi, ngerti Elsa?" ucap Clara lembut.
Elsa merasa lega melihat sikap baik ibunya kepadanya. Dia lantas memeluk erat ibunya sambil berkata dengan sesenggukan, "Ngerti."
Clara tersenyum. Dia mencium wajah mungil putrinya, lalu beralih ke Bela. " Bella, dia Elsa, anak Tante, dia sudah tahu kalau dia salah. Apa Bella mau maafin Elsa?" tanya Clara kemudian.
Bela sedikit takut pada Elsa. Tapi Clara tampak lembut. Dia juga menyukai Clara, jadi dia lantas berkata, "Ya, aku mau maafin dia."
"Makasih Bella." Clara tampak tersenyum, lalu menoleh ke putrinya, berkata, "Elsa, kamu tahu 'kan apa yang harus dilakukan?"
"Maafin aku," ucapnya sambil mendongakkan kepalanya menatap Bella.
Bella tersenyum canggung, lalu berkata, "Nggak apa-apa..."
Akhirnya masalah itu terselesaikan.
Clara menghela napas lega, lalu menggandeng keduanya pergi ke kelas.
Guru wali kelas datang menjemput Bella. Clara lalu berjongkok menatap Elsa, dan dengan lembut berkata, " Semua sudah selesai. Sana, masuk ke kelas."
Elsa termasuk tipe anak yang cuek dan masa bodoh. Dia tidak akan merasa malu atau semacamnya hingga membuatnya tidak berani masuk ke dalam kelas hanya karena mendorong seseorang barusan.
Elsa bukanlah anak yang pemalu.
Dia tidak pernah peduli dengan pendapat anak lain terhadapnya.
Entah kenapa, ada perasaan berbeda pada dirinya. Tiba-tiba, dia merasa enggan melepaskan Clara pergi. Dia pun semakin erat memeluk Clara. "
Mama..." ucapnya lirih.
"Ya." Clara membalas pelukannya sembari berkata, "Ada apa?"
"Aku mau..."
Sudah lama Elsa tidak merasakan hangatnya masakan ibunya. Tiba-tiba saja dia mulai merindukannya.
Hanya saja, saat kata-kata itu akan keluar dari mulutnya, dia teringat acara nanti malam. Yaps, menonton Vanessa dalam balap mobil.
Matanya pun berkedip ragu sebelum akhirnya dia melepaskan pelukannya.
"Nggak ada apa-apa kok, Ma," ucap Elsa kemudian.
Dalam hati dia berpikir, menikmati masakan ibunya bisa kapan saja. Akan tetapi, kesempatan menyaksikan balap mobil Vanessa sangat jarang terjadi.
Tanpa banyak pertimbangan, dia pun memilih Vanessa.
"Baiklah. Kalau gitu cepat masuk sana. Jangan buat gurumu tunggu terlalu lama."
"Oke, Mama."
Pada akhirnya, Elsa rela membiarkan Clara pergi. Namun, sebelum masuk ke dalam kelas, dia menoleh ke belakang sembari berseru, "Mama, jangan lupa telepon aku siang nanti!"
"Ya," angguk Clara.
Barulah setelah itu, Elsa merasa tenang dan masuk ke dalam kelas.
Clara mengamati putrinya yang berdiri percaya diri di depan kelas, memperkenalkan diri lalu duduk di tempat yang sudah disediakan. Setelah itu, barulah Clara melambaikan tangannya dan pergi meninggalkan sekolah menuju Anggasta Group.
Setibanya di perusahaan, bukan Edward yang dia lihat, melainkan Farel yang sedang membawa seseorang ke meja kerjanya.
"Ini Hilda Carolina. Dia yang akan menggantikan posisimu nanti," ucap Farel.
Hilda tampak menawan dengan pakaian bermerek yang membalut tubuhnya.
Sejenak, dia mengamati Clara. Dia merasa Clara adalah sosok wanita yang memiliki aura yang bersih dan cantik. Ketajaman pun mendadak muncul dalam sorot matanya, tapi tidak ditunjukkannya. Dengan senyum yang ramah, dia mengulurkan tangannya sembari memperkenalkan diri, "Salam kenal Bu Clara, kenalkan namaku Hilda. Mohon bimbingannya dalam beberapa hari ke depan."
Clara menjabat tangannya, lalu berkata, "Nggak perlu sungkan."
"Aku mahasiswa Universitas Nano, bulan Juni nanti studi S2-ku selesai.
Kalau Bu Clara, lulusan dari universitas mana? Bu Clara..."
'Baru lulus di pertengahan Juni nanti?'
Itu artinya, besar kemungkinan Hilda belum memiliki pengalaman, tapi dia bisa langsung menggantikan posisinya?
Namun, itu hanya asumsi awal.
Mungkin saja Hilda memiliki keunggulan tersendiri yang lebih dari dirinya?.
Seperti gelar akademik contohnya. Bagaimanapun, ada banyak lulusan magister di kantor ini, tapi hanya dirinya yang bisa mencapai posisi kepala.
Memikirkan hal itu, Clara lantas memotong pembicaraan dengan lembut, berkata, "Bu Hilda, bentar lagi kita ada rapat. Baiknya kita bicarakan tentang kerjaan."
Hilda pun berseru, "Aduh, hampir saja lupa. Baiklah, mari kita bahas kerjaan dulu."
Dalam perjalanan menuju ruang rapat, Hilda kembali berbisik pada Clara. "Bu Clara, dengar-dengar, Pak Edward ganteng banget, ya? Apa itu benar, Bu?" tanyanya.
"Ya" jawah Clara singkat apa adanya.
Hilda pun semakin penasaran, lalu lanjut berkata, "Kalau gitu, aku makin nggak sabar ketemu Pak Edward. Sayangnya, kata Pak Farel, Pak Edward nggak datang hari ini..."
'Edward tidak datang ke perusahaan hari ini?'
Clara tentu tidak tahu akan hal itu.
Namun, wajar juga sih. Edward memiliki banyak perusahaan, jadi tentu saja tidak bisa selalu datang ke Anggasta Group.
Siang harinya, Hilda mengajak Clara makan siang di kantin perusahaan. Sambil menikmati makanan, Clara mengambil ponsel hendak menelepon Elsa.
"Telepon pacar, nih?" goda Hilda.
"Bukan, putriku."
"Putrimu? Bu Clara udah nikah?" Tanya Hilda
"Ya."
Di sisi lain, Elsa sedang melakukan panggilan video dengan Vanessa.
Bahkan, Edward juga ada di sana.
Elsa tampak merengut saat melihat mereka berdua, berkata, "Kalian jahat! Diam-diam makan bareng tanpa mengajakku lagi."
"Elsa 'kan masih sekolah. Gini saja, pulang sekolah nanti biar Tante yang jemput, malam ini kita bertiga makan bareng," ucap Vanessa mencoba menghibur Elsa.
"Ya, itu lebih baik."
Sambil menjawab, Elsa menatap ke arah Edward.
Edward tampak mengambil makanan dan menyodorkannya pada Vanessa, lalu berkata, "Malam ini mau makan apa? Nanti Ayah suruh orang siapkan lebih awal."