NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Istri Pengganti Untuk CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.

Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - Awal Perubahan

Pagi itu, rumah keluarga Wijaya berjalan seperti biasa, dengan ritme yang sudah terlalu sering terulang hingga terasa otomatis. Para pelayan bergerak sesuai tugas masing-masing, suara peralatan makan terdengar pelan dari dapur, dan aroma teh hangat mulai memenuhi udara. Tidak ada pembicaraan terbuka tentang kejadian beberapa hari lalu, seolah semua sepakat untuk membiarkannya tenggelam tanpa perlu disinggung lagi.

Namun bagi Alyssa, suasana yang terlihat normal itu tidak lagi terasa sama, karena ada sesuatu dalam dirinya yang sudah bergeser. Ia berdiri di dapur dengan apron yang masih sama, tetapi cara ia bergerak tidak lagi terburu-buru seperti sebelumnya. Tangannya memotong buah dengan rapi, menyusun piring tanpa suara berlebihan, dan menuangkan minuman dengan gerakan yang lebih tenang, seolah setiap langkah sudah dipikirkan lebih dulu.

Salah satu pelayan memperhatikannya dari samping, ragu apakah harus mendekat atau tidak karena perubahan itu cukup terasa. Ia akhirnya memberanikan diri untuk berbicara, meskipun suaranya terdengar pelan dan hati-hati.

“Nona… Anda sudah lebih baik?”

Alyssa hanya mengangguk sedikit tanpa menghentikan pekerjaannya, seolah pertanyaan itu tidak cukup penting untuk membuatnya berhenti.

“Sudah.”

Jawaban itu singkat dan tidak membuka ruang percakapan lebih jauh, membuat pelayan itu mengangguk kecil sebelum kembali fokus pada tugasnya sendiri. Ada sesuatu yang tidak terlihat, namun cukup kuat untuk menciptakan jarak, bukan secara fisik, melainkan sesuatu yang terasa lebih dalam dan sulit dijelaskan.

Alyssa tidak lagi terlihat seperti orang yang sama, karena ia tidak banyak bicara dan tidak menunjukkan emosi yang mudah dibaca. Namun perubahan itu bukan berarti ia menjadi lemah, justru ada ketenangan baru yang perlahan terbentuk, seolah ia sudah berhenti menggenggam sesuatu yang dulu ia pertahankan terlalu kuat.

Ia mengangkat nampan berisi sarapan dan berjalan menuju ruang makan dengan langkah yang stabil dan punggung yang tetap tegak. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, tidak juga terburu-buru, seolah ia sudah menemukan ritmenya sendiri tanpa perlu menyesuaikan dengan siapa pun.

Saat ia masuk, semua orang sudah duduk di tempat masing-masing seperti biasanya, dengan posisi yang tidak pernah berubah. Ibu Daren berada di kursi utama, Cassandra duduk di sampingnya dengan sikap yang rapi, sementara Daren berada di sisi lain meja dengan perhatian yang masih tertuju pada layar ponselnya.

Tidak ada yang benar-benar memperhatikan saat Alyssa masuk, dan ia juga tidak berusaha menarik perhatian. Ia hanya meletakkan satu per satu hidangan di meja dengan gerakan halus, memastikan semuanya tersusun dengan baik tanpa suara yang mengganggu.

Ketika ia menuangkan teh di dekat Daren, pria itu sedikit mengangkat pandangan, dan mata mereka sempat bertemu dalam waktu yang singkat. Namun Alyssa tidak berhenti atau menunjukkan reaksi apa pun, ia tetap melanjutkan pekerjaannya dan berpindah ke sisi lain meja tanpa memberi jeda.

Daren memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari biasanya, karena ada sesuatu yang terasa berbeda namun sulit dijelaskan. Bukan hanya karena Alyssa menjadi lebih diam, tetapi karena cara ia diam sekarang terasa seperti keputusan, bukan lagi tekanan yang dipaksakan.

“Alyssa.”

Suara Daren memanggilnya dengan nada yang tidak terlalu keras, tetapi cukup jelas untuk menarik perhatian semua orang di meja. Beberapa kepala langsung menoleh, termasuk Cassandra yang sedikit menegakkan posisinya, memperhatikan situasi dengan lebih waspada.

Alyssa berhenti dan menoleh dengan tenang, tanpa ekspresi yang berubah.

“Iya?”

“Aku ingin bicara.”

Alyssa tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Daren sejenak seperti menilai situasi sebelum akhirnya memberikan respons yang sederhana.

“Sekarang?”

“Iya.”

Alyssa mengangguk pelan tanpa menunjukkan keberatan, lalu meletakkan teko di meja sebelum berdiri dengan posisi yang tetap rapi.

“Baik.”

Daren bangkit dari kursinya dan berjalan keluar tanpa menunggu terlalu lama, sementara Alyssa mengikuti beberapa langkah di belakangnya dengan jarak yang tetap terjaga. Lorong yang mereka lewati terasa sama seperti sebelumnya, tetapi suasananya tidak lagi dipenuhi ketegangan yang sama.

Begitu sampai di ruang kerja, pintu ditutup dan ruangan itu kembali menjadi tempat yang sunyi. Daren berdiri di dekat meja, sementara Alyssa memilih tetap berada tidak jauh dari pintu, menjaga jarak yang tidak terlalu dekat namun juga tidak berlebihan.

“Aku ingin menanyakan sesuatu lagi,” kata Daren setelah beberapa detik berlalu.

Alyssa mengangguk kecil sebagai tanda ia siap mendengarkan.

“Silakan.”

Daren memperhatikannya dengan lebih serius, mencoba membaca sesuatu dari sikap yang terlalu tenang itu, tetapi tidak menemukan celah yang bisa ia gunakan.

“Kalau ada sesuatu yang kamu sembunyikan, ini saatnya untuk bicara.”

Alyssa menatapnya tanpa tergesa-gesa, seolah pertanyaan itu tidak mengejutkan.

“Saya tidak menyembunyikan apa pun.”

Jawabannya tetap datar dan tidak berubah, membuat Daren menarik napas pelan sebelum melanjutkan.

“Alyssa, aku sedang mencoba memahami situasi ini.”

“Baik.”

Respons itu tidak memberi arah yang jelas, membuat percakapan terasa seperti berjalan di tempat. Daren sedikit mengernyit, karena ia tidak terbiasa menghadapi Alyssa yang tidak mencoba memperpanjang pembicaraan.

“Kamu tidak ingin menjelaskan lagi?”

Alyssa menggeleng pelan tanpa terlihat ragu.

“Saya sudah menjelaskan sebelumnya.”

“Kamu tidak akan mencoba meyakinkanku?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja, dan setelah mengucapkannya, Daren sendiri sempat terdiam karena menyadari nada yang ia gunakan. Alyssa tidak langsung menjawab, tetapi ia juga tidak menghindari tatapan itu.

“Tidak.”

Jawaban singkat itu membuat suasana di dalam ruangan terasa lebih padat, seolah ada sesuatu yang berhenti di antara mereka. Daren menatapnya, mencoba mencari alasan di balik sikap itu.

“Kenapa?”

Alyssa menarik napas pelan sebelum menjawab, kali ini dengan suara yang tetap tenang tetapi terasa lebih dalam.

“Karena itu tidak mengubah apa pun.”

Daren membuka mulut, tetapi tidak ada kata yang langsung keluar karena kalimat itu terlalu sederhana namun sulit untuk dibantah. Ia terbiasa melihat Alyssa berusaha, mencari cara untuk menjelaskan, atau setidaknya menunjukkan bahwa ia ingin dipercaya.

“Alyssa,” katanya lagi setelah beberapa saat.

Wanita itu tetap menunggu tanpa bergerak, tidak mendekat dan tidak juga menunjukkan keinginan untuk memperpanjang percakapan.

“Aku sedang mencoba memperbaiki ini.”

Alyssa menatapnya lebih lama dari sebelumnya, tetapi tatapan itu tidak lagi membawa kehangatan yang dulu pernah ada.

“Kalau memang begitu, silakan.”

Kalimat itu terdengar seperti memberi ruang, bukan seperti meminta.

“Apa maksudmu?”

“Saya tidak menghalangi.”

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ia tidak lagi terlibat lebih jauh dari yang diperlukan. Daren mengusap pelan rahangnya, mencoba memahami arah percakapan yang semakin sulit ia kendalikan.

“Dulu kamu tidak seperti ini.”

Alyssa sedikit memiringkan kepala, seolah mencoba mengingat sesuatu yang sudah ia tinggalkan.

“Seperti apa?”

“Lebih berusaha.”

Alyssa terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan nada yang tetap tenang.

“Saya sudah mencoba, dan hasilnya sudah jelas.”

Kalimat itu tidak panjang, tetapi cukup untuk menutup banyak hal yang tidak perlu dijelaskan lagi. Daren tidak langsung menjawab, ia hanya berdiri sambil menatap Alyssa yang tetap di tempatnya tanpa menunjukkan perubahan sikap.

“Kalau tidak ada hal lain, saya permisi.”

Alyssa berbalik tanpa menunggu jawaban, langkahnya menuju pintu terdengar pelan namun pasti. Ia sempat berhenti sejenak sebelum keluar, bukan untuk melihat ke belakang, tetapi hanya jeda singkat sebelum melanjutkan langkahnya.

Pintu tertutup, dan ruangan itu kembali sunyi tanpa suara tambahan. Daren tetap berdiri di tempatnya, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi tanpa benar-benar menemukan jawaban.

Ia berjalan ke arah jendela dan melihat ke luar, di mana Alyssa tampak berjalan di taman dengan langkah yang tidak terburu-buru. Tidak ada keraguan dalam gerakannya, seolah ia sudah memiliki arah sendiri tanpa perlu menunggu siapa pun.

Daren memperhatikan cukup lama, dan semakin lama ia melihat, semakin jelas bahwa jarak di antara mereka bukan lagi sesuatu yang bisa diabaikan. Alyssa tidak hanya diam, ia sudah memilih untuk berdiri di tempat yang tidak lagi terhubung dengannya.

Tangannya mengepal tanpa sadar, karena ada sesuatu yang terasa tidak nyaman di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa ia abaikan begitu saja. Ia tidak bisa memastikan apa yang sebenarnya berubah, tetapi ia tahu bahwa keadaan ini bukan lagi seperti sebelumnya.

Pikirannya kembali pada semua kejadian yang sudah berlalu, pada setiap keputusan yang ia ambil tanpa benar-benar mempertanyakan kemungkinan lain. Dan di tengah keheningan itu, satu pertanyaan muncul dengan sendirinya, tanpa bisa ia tahan atau ia abaikan.

Apa aku sudah salah menilai dia?

1
sutiasih kasih
km sll merendhkn Alyssa tentang mnempatkn diri....
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
sutiasih kasih
ketika km sadar n haluanmu brubah....
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
sutiasih kasih
daren.... smpe kpan km pura"... & lelet dlm mngambil sikap...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
sutiasih kasih
org lain boleh bebas berkeliaran bhkn bebas mngatur layaknya menantu...
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
sutiasih kasih
mnunggu saat allysa mundur & prgi dri daren...
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
sutiasih kasih
msa iya rmh horang kaya raya... g ada cctv di setiap sudut rumah....
🤔🤔
@RearthaZ
kak aku sudah baca dan like, semua chapternya, boleh tolong bantuannya juga ya kak untuk like dan baca cerita baru ku (aku baru pemula hehehe) boleh 'CEK PROFIL KU' ya kak... nama judul ceritanya "MENIKAHI DUKE MISTERIUS"
@RearthaZ
lanjutin kak
@RearthaZ
aku mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!