Feng Yan tidak menyangka kasih persaudaraan berakhir dengan maut. Dibuang, dihina, dan nyaris mati di tangan Feng Yao, ia bersumpah untuk kembali. Bukan sebagai pecundang, melainkan penguasa kegelapan yang siap merebut kembali takhta CEO-nya.
Bersama Rendy si ahli strategi, Reyhan sang pakar IT, dan pengacara tegas Lin Diya, Feng Yan menyusun rencana kehancuran mutlak. Di balik gemerlap dunia korporat, sebuah permainan detektif dimulai untuk membongkar dalang pembantaian keluarganya.
Feng Yao boleh berkuasa sekarang, tapi Feng Yan sudah menyiapkan liang lahat untuknya. Siapakah yang akan bertahan di puncak tertinggi? Balas dendam ini baru dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori Yang Terfragmentasi
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus jendela kaca besar di unit gawat darurat pribadi milik Feng Group. Lin Diya terbangun dengan rasa sakit yang berdenyut di belakang kepalanya, seolah-olah seseorang baru saja mencoba memasukkan ribuan baris kode biner ke dalam tempurung kepalanya menggunakan palu godam.
"Diya? Kau sudah sadar?" Suara Feng Yan terdengar sangat lembut, namun penuh kekhawatiran. Ia duduk di samping tempat tidur, masih mengenakan kemeja hitam semalam yang kini kusut dan ternoda debu.
Diya mengerjapkan matanya. Ia menatap langit-langit, lalu menatap pria di sampingnya. "Tuan... Feng?"
Feng Yan menghela napas lega, ia hendak menggenggam tangan Diya, namun Diya secara refleks menarik tangannya menjauh. Ada kilatan kebingungan di mata pengacara galak itu—sesuatu yang membuat jantung Feng Yan seolah berhenti berdetak.
"Secara logika hukum..." Diya bergumam, suaranya parau. "Kenapa saya berada di rumah sakit pribadi Anda? Bukankah kontrak kerja kita untuk kasus korupsi Mandala Group sudah selesai bulan lalu?"
Suasana di ruangan itu mendadak membeku. Rendy yang sedang memantau tablet di sudut ruangan menjatuhkan kaleng sodanya. Reyhan yang baru saja masuk dengan laporan intelijen terdiam di ambang pintu.
"Bulan lalu?" Feng Yan mengulang kalimat itu dengan suara rendah. "Diya, ini April 2026. Kita baru saja menghancurkan Pulau Nol minggu lalu. Dan semalam... kita bertunangan di depan seluruh kota."
Diya tertawa kecil, tawa yang terdengar hambar dan penuh keraguan. "Bertunangan? Tuan Feng, narsisme Anda sudah melampaui batas kewajaran. Saya memang pengacara Anda, tapi secara profesional, saya tidak pernah menandatangani kontrak hubungan pribadi dengan klien yang sesakti—dan seaneh—Anda."
"Yan... ini buruk," bisik Rendy sambil berlari mendekat. Ia segera memindai kepala Diya dengan alat pemindai saraf portabelnya. "Secara logika digital, The Architect tidak hanya mencoba membunuh penduduk kota semalam. Dia melakukan Selective Memory Wipe pada Diya saat dia menyuntikkan virus ke server utama. Ingatan Diya tentang kita... tentang perasaan kalian... telah dikarantina dalam folder terenkripsi di otaknya."
Feng Yan berdiri, aura emas di matanya berkilat marah namun tertahan oleh rasa sedih yang mendalam. "Berapa lama dia kehilangan ingatannya?"
"Dia hanya ingat sampai hari pertama kalian bertemu di pengadilan Mandala," jawab Rendy lirih. "Enam bulan terakhir... semua momen kalian di vila, di pelabuhan, sampai Pulau Nol... hilang."
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan keras. Anitha masuk dengan lengan yang masih dibalut perban, diikuti oleh Chen Lian yang tetap kaku namun matanya menyiratkan kewaspadaan.
"Tuan Hantu bilang ada yang tidak beres di sini!" seru Anitha. Ia menatap Diya. "Oi, Nona Pengacara! Jangan bilang kau lupa padaku juga? Aku yang membelikanmu kopi saat kita di jet semalam!"
Diya menatap Anitha dengan kening berkerut. "Maaf, Anda siapa? Anggota kepolisian? Kenapa Anda memanggil pria di belakang Anda itu 'Tuan Hantu'?"
Anitha mematung. Ia menoleh ke arah Chen Lian. "Wah, ini parah. Dia beneran 'diformat' ulang oleh si Arsitek sialan itu!"
Chen Lian melangkah maju, ia meletakkan belati hitamnya di atas meja samping tempat tidur. "Nona Diya, secara logika pertahanan... Anda adalah kunci dari data yang dicuri klan Ouroboros. Jika Anda tidak mengingat kodenya, mereka akan kembali untuk mengambil paksa sisa memori Anda."
"Data apa? Ular apa?" Diya mencoba duduk, ia tampak sangat frustrasi. "Saya ingin pulang. Saya harus menyiapkan berkas sidang untuk besok pagi!"
"Kau tidak akan ke mana-mana, Diya!" bentak Feng Yan, suaranya menggelegar namun bergetar. Ia mendekati Diya, menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak peduli jika kau lupa seluruh dunia ini, tapi aku tidak akan membiarkanmu lupa bahwa kau adalah milikku. Secara takdir, bukan secara kontrak!"
Diya menatap mata emas Feng Yan. Untuk sesaat, ia merasakan sengatan listrik yang familiar di hatinya—sebuah memori otot yang tidak bisa dihapus oleh kode mana pun. Tapi logikanya menolak. "Lepaskan saya, Tuan Feng. Atau saya akan menuntut Anda atas tindakan penculikan!"
Di saat ketegangan mencapai puncaknya, sebuah pesan muncul di layar monitor utama rumah sakit. Sebuah video singkat yang menampilkan The Architect sedang memutar sebuah koin perak.
"Bagaimana rasanya, Feng Yan? Melihat permaisurimu menatapmu seperti orang asing? Ingatannya adalah sanderaku sekarang. Jika kau ingin kuncinya, datanglah ke 'Laboratorium Memori' di bawah Distrik Kelabu. Tapi ingat... setiap jam yang kau lewatkan, satu memori indah tentangmu akan kuhapus secara permanen."
"Bajingan!" Feng Yan menghantam dinding hingga retak.
"Anitha, Chen Lian, Reyhan... siapkan tim!" perintah Feng Yan. "Kita berangkat ke Distrik Kelabu sekarang juga. Rendy, bawa Diya bersamamu. Dia harus ada di sana untuk memicu recovery datanya."
"Tapi Yan, dia tidak percaya pada kita!" protes Reyhan.
"Dia tidak perlu percaya padaku sekarang," sahut Feng Yan sambil menyambar jaket kulitnya. "Dia hanya perlu melihat bagaimana aku menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh pikirannya."
Anitha menatap Chen Lian. "Tuan Hantu, sepertinya kita harus jadi 'babysitter' pengacara amnesia sekarang. Siap untuk misi penyelamatan cinta paling rumit se-Kota Metropol?"
Chen Lian hanya mengangguk pelan, matanya tetap tertuju pada Diya. "Takdir tidak bisa dihapus, hanya bisa tertutup debu."
Misi baru dimulai. Kali ini musuhnya bukan lagi robot atau asap hitam, melainkan labirin di dalam pikiran orang yang paling dicintai. Dan bagi Feng Yan, ini adalah perang yang paling tidak boleh ia kalahkan.