NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Pagi itu, atmosfer di kediaman Valerine terasa mencekam. Tidak ada sambutan hangat. Gerbang besar itu terbuka dengan suara derit besi yang seolah memprotes kehadiran Aeryn. Aeryn turun dari mobil dengan setelan blazer hitam yang tajam dan elegan—citra seorang bos yang baru saja merebut takhta ayahnya.

Xavier tidak ikut, namun ia menempatkan dua pengawal di luar gerbang. Aeryn masuk ke ruang tamu yang dulu menjadi tempatnya direndahkan. Di sana, Baskara duduk dengan wajah yang tampak lebih tua sepuluh tahun, matanya merah menyiratkan kemarahan dan kebencian yang mendalam pada putri kandungnya sendiri.

"Mau apa kau ke sini?" suara Baskara parau dan dingin. "Belum puas kau merampas gedung dan namaku? Kau ingin mengambil rumah ini juga?"

Aeryn duduk di sofa tanpa diminta, menyilangkan kakinya dengan tenang. "Aku hanya ingin memastikan bahwa mantan pemilik Valerine Jewels tidak mati kelaparan, Pa. Dan aku membawakan beberapa dokumen aset yang perlu Papa tanda tangani agar Papa masih punya tunjangan bulanan."

"Kau bajingan, Aeryn!" desis Baskara, tangannya gemetar menahan amarah.

Di saat itulah, Ibu Bianca masuk dari arah dapur. Berbeda dengan Baskara yang meledak-ledak, wanita itu tetap memakai topeng ketenangannya. Ia membawa nampan berisi teh, seolah-olah tidak ada perang yang terjadi di antara mereka.

"Sudahlah, Pa. Aeryn sekarang sudah besar, dia punya caranya sendiri," ucap Ibu Bianca dengan suara lembut yang memuakkan. Ia meletakkan teh di depan Aeryn. "Minumlah, Aeryn. Ibu tahu kau sangat sibuk mengurus perusahaan curianmu itu."

Aeryn menatap cangkir teh itu—teh yang kini ia tahu bisa saja menjadi senjata mematikan. Ia tidak menyentuhnya. Matanya beralih pada leher Ibu Bianca. Di sana melingkar sebuah kalung perak dengan liontin jamrud hijau berbentuk tetesan air.

Jantung Aeryn berdegup kencang. 'Itu kalung Ibu.' Kalung yang seharusnya terkunci di brankas Maryam sebelum ibunya meninggal di penjara.

"Kalung yang bagus, Bu," puji Aeryn, suaranya sedatar es. "Sepertinya aku pernah melihatnya di foto lama Ibu kandungku."

Ibu Bianca menyentuh liontin itu secara refleks, senyumnya tidak memudar sedikit pun. "Oh, ini? Ini pemberian Papa-mu saat kami menikah. Katanya ini barang antik. Ibu tidak tahu kalau ini milik Maryam. Tapi... bukankah yang hidup lebih berhak memakainya daripada yang sudah menjadi tanah?"

Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat hati Aeryn. Namun, ia tetap diam. Ia butuh lebih dari sekadar perdebatan kata-kata.

"Papa, tanda tangani ini. Aku punya urusan lain," ucap Aeryn sambil menyodorkan map.

Baskara menyambar dokumen itu dan membawanya ke ruang kerja di lantai atas sambil mengumpat. Begitu Baskara menghilang, Ibu Bianca berdiri. "Ibu harus ke belakang sebentar, ada telepon dari Bianca. Dia masih sangat stres karena ulahmu, Aeryn. Kau benar-benar menghancurkan karier adikmu."

"Dunia memang keras, Bu," sahut Aeryn.

Begitu Ibu Bianca masuk ke ruang dalam, Aeryn segera bergerak. Ia tahu Ibu Bianca sangat rapi, tapi setiap pembunuh pasti memiliki tempat penyimpanan rahasia. Ia tidak menuju ke ruang kerja ayahnya, melainkan menyelinap ke kamar utama di lantai bawah yang kini ditempati Ibu tirinya itu.

Kamar itu beraroma melati yang sangat pekat, aroma yang kini Aeryn asosiasikan dengan kematian. Ia menuju meja rias besar milik Ibu Bianca. Ia membuka laci-laci perhiasan, mencari sesuatu yang lebih dari sekadar emas curian.

Di laci paling bawah yang tersembunyi di balik tumpukan kain sutra, Aeryn menemukan sebuah kotak kecil dari kayu cendana. Saat dibuka, isinya adalah tumpukan botol-botol kecil kaca yang sudah kosong. Label-labelnya sudah sengaja disobek, namun ada satu botol yang masih menyisakan sedikit residu cairan bening di dalamnya.

Aeryn mengeluarkan botol itu. Matanya menyipit membaca sisa tulisan di label yang robek.

...thyl Sul...

Metilsulfat. Zat kimia yang sama dengan yang ia temukan di laporan otopsi. Ibu Bianca tidak membuangnya. Wanita ini menyimpannya, mungkin sebagai kenang-kenangan atau cadangan jika sewaktu-waktu Baskara menjadi penghalang baginya.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di koridor marmer.

"Aeryn? Sedang apa kau di kamarku?"

Aeryn tersentak dan berbalik. Ibu Bianca berdiri di ambang pintu, wajahnya yang tadi tenang kini berubah gelap. Tidak ada lagi keramahan palsu. Yang ada hanyalah tatapan dingin seorang wanita yang tertangkap basah.

"Aku mencari kalung Ibu yang lain," jawab Aeryn, menggenggam botol itu di dalam telapak tangannya. "Aku yakin kau tidak hanya mengambil satu, kan, Ratna?"

Ibu Bianca menutup pintu di belakangnya dengan perlahan. Ia melangkah maju, setiap langkahnya terasa sangat mengancam. "Kau sudah mendapatkan perusahaannya, Aeryn. Kau sudah mendapatkan Xavier. Kenapa kau masih menggali lubang kuburmu sendiri?"

"Karena lubang ini bukan untukku, tapi untukmu," desis Aeryn. "Aku menemukan laporan otopsi aslinya, Ratna. Aku tahu apa yang kau lakukan di rumah sakit dua puluh tahun lalu."

Ibu Bianca berhenti melangkah. Ia tertawa pelan, suara tawa yang kering dan mengerikan. "Laporan dua puluh tahun lalu? Siapa yang akan percaya? Rekam medisnya sudah kubakar habis. Saksi-saksinya sudah tidak ada. Kau hanya punya selembar kertas tua yang tidak punya nilai hukum."

"Lalu bagaimana dengan botol ini?" Aeryn menunjukkan botol kecil di tangannya.

Mata Ibu Bianca berkilat marah, namun ia tetap mencoba tenang. "Itu hanya obat asma lama. Kau tidak bisa membuktikan apa pun dengan botol kosong, sayang."

Ibu Bianca mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Aeryn. Aroma melati dari tubuhnya kini terasa mencekik.

"Dengar, Aeryn," bisik Ibu Bianca dengan nada mengancam. "Jika kau mencoba mengusikku, aku pastikan Baskara akan mendapatkan 'serangan jantung' yang sama dengan ibumu malam ini juga. Kau ingin kehilangan orang tua satu-satunya yang kau miliki?"

Aeryn terdiam. Ia melihat kegilaan di mata wanita ini. Namun, Aeryn tidak gentar. Ia justru menyeringai tipis, sebuah senyuman yang membuat Ibu Bianca mengernyit bingung.

"Terima kasih atas pengakuannya, Bu," ucap Aeryn pelan. Ia menunjukkan ponselnya yang sejak tadi berada di saku blazer—layarnya menunjukkan bahwa sebuah panggilan suara ke Xavier sedang berlangsung.

Di seberang telepon, suara Xavier terdengar dingin dan penuh amarah. "Aku mendengar semuanya, Ratna Galih. Hugo sedang dalam perjalanan dengan polisi."

Ibu Bianca terperangah, wajahnya pucat pasi. Ia mencoba merampas ponsel Aeryn, namun Aeryn mendorongnya dengan kuat.

"Sampai jumpa di perjamuan makan malam besok, Bu," ucap Aeryn sambil berjalan menuju pintu. "Xavier ingin merayakan kejatuhan keluarga Valerine secara privat. Dan aku sudah menyiapkan meja khusus untukmu. Meja yang akan mengingatkanmu pada setiap tetes racun yang kau berikan pada ibuku."

Aeryn keluar dari rumah itu dengan kepala tegak, meninggalkan Ibu Bianca yang kini terjatuh lemas di lantai kamarnya, menyadari bahwa mangsa yang selama ini ia remehkan telah berubah menjadi algojo yang paling mematikan.

1
Maria Mariati
lahhhhhh
Red Blossom
Xavier jangan kenapa2 ya thor
rasyaaa
lama2 jadi bosa sama alur ceritanya
Devie~S
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!