NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10

Langit di atas SMA Garuda Nusantara tampak mendung, seolah-olah awan kelabu itu sengaja berkumpul untuk menyaksikan sebuah tragedi. Angin bertiup kencang, menerbangkan helai-helai rambut Adelard saat ia melangkah ragu menuju atap sekolah. Sebuah pesan singkat dari ponsel Devan telah memintanya datang ke sana untuk "membicarakan rahasia penting tentang keluarga Mahendra".

Namun, saat pintu besi tua itu terbuka dengan derit yang memilukan, yang ia temukan bukanlah Devan.

Clarissa berdiri di tepi atap yang berbatasan dengan pagar rendah. Rambutnya berantakan, dan matanya merah menyala karena kegilaan yang tak lagi bisa disembunyikan. Di tangannya, ia menggenggam ponsel milik Devan—ponsel yang ia curi dari loker pemuda itu saat latihan basket.

"Kau datang juga, Keponakan Sialan," suara Clarissa serak, terbawa angin yang menderu.

Adel segera menyadari jebakan itu. Ia melangkah mundur, mencoba mencapai pintu. "Clarissa, di mana Devan? Apa yang kau lakukan dengan ponselnya?"

"Jangan sebut namanya dengan mulut busukmu itu!" Clarissa berteriak, maju beberapa langkah hingga menyudutkan Adel di dekat tumpukan kursi kayu bekas. "Kau telah menghancurkan hidupku, Adel. Kau merebut ayahku, kau meracuni ibuku dengan air mata palsumu, dan sekarang kau ingin merebut Devan juga? Tidak akan kubiarkan!"

"Aku tidak merebut apa pun! Aku hanya mengambil kembali apa yang memang milikku!" balas Adel, suaranya tak kalah lantang.

Clarissa tertawa histeris, sebuah tawa yang terdengar sangat menderita. "Milikmu? Kau hanyalah kecelakaan sejarah! Ibu sangat mencintaiku, Ayah memujaku selama tujuh belas tahun. Kau pikir dengan selembar kertas DNA kau bisa menghapus semua memori itu? Jika kau tidak ada... semuanya akan kembali normal. Jika kau lenyap dari atap ini, Ayah akan menangis sebentar lalu dia akan kembali memelukku!"

Clarissa menerjang Adel dengan kekuatan yang membabi buta. Ia mencengkeram bahu Adel dan mendorongnya ke arah tepi balkon yang tingginya empat lantai. Adel berjuang sekuat tenaga, kuku-kukunya mencengkeram lengan seragam Clarissa.

"Hentikan, Clarissa! Kau akan menghancurkan hidupmu sendiri!"

"Hidupku sudah hancur saat kau menginjakkan kaki di mansion itu!"

Tepat saat tubuh Adel sudah setengah condong ke luar pagar, pintu atap terbanting terbuka dengan ledakan suara yang mengejutkan.

"LEPASKAN DIA!"

Devan Dirgantara berlari secepat kilat. Sebelum Clarissa sempat melakukan dorongan terakhir, Devan merengkuh pinggang Adel dan menariknya menjauh, sementara tangan satunya lagi menepis Clarissa hingga gadis itu terjatuh ke lantai semen yang kasar.

Adel jatuh di pelukan Devan, napasnya tersengal, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Devan mendekapnya erat, matanya menatap Clarissa dengan kebencian yang begitu murni hingga membuat Clarissa membeku.

"Kau benar-benar monster, Clarissa," desis Devan.

Namun, drama itu belum berakhir. Suara langkah kaki banyak orang terdengar menaiki tangga. Pintu atap kembali terbuka, dan kali ini, Tuan Mahendra muncul dengan wajah yang dipenuhi amarah yang membara. Di belakangnya, beberapa guru senior dan sekelompok siswa yang penasaran ikut menyaksikan.

Tuan Mahendra memegang selembar map kulit berwarna emas—dokumen resmi dari kepolisian dan laboratorium forensik pusat.

"Ayah... Ayah, lihat! Adel mencoba mendorongku!" Clarissa mulai berakting, merangkak ke arah Tuan Mahendra dengan air mata palsu yang mengalir deras. "Dia ingin membunuhku agar dia bisa menguasai warisan Ayah!"

Tuan Mahendra tidak mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri. Ia justru melempar map emas itu tepat di depan wajah Clarissa. Lembaran-lembaran kertas putih berhamburan di lantai atap, menampilkan foto-foto bayi, sidik jari, dan hasil tes genetik yang dicap resmi oleh negara.

"Hentikan sandiwaramu, Clarissa!" suara Tuan Mahendra menggelegar, membuat seluruh siswa yang menonton bergidik. "Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah bertemu dengan perawat Maya di penjara pagi ini. Dia mengakui semuanya sebelum dia menghembuskan napas terakhir."

Tuan Mahendra menoleh ke arah guru-guru dan siswa yang berkumpul. Dengan suara yang jernih dan penuh wibawa, ia membuat pengumuman yang seketika menghancurkan seluruh sisa harga diri Clarissa.

"Dengarkan baik-baik! Mulai hari ini, gadis yang berdiri di hadapan kalian ini—Clarissa—bukanlah anakku. Dia bukan bagian dari keluarga Mahendra! Dia adalah anak dari seorang narapidana yang ditukar saat bayi demi dendam pribadi!"

Kasak-kusuk luar biasa pecah di antara para siswa. Clarissa menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak... Tidak! Ayah berbohong!"

"Dan gadis ini..." Tuan Mahendra berjalan mendekati Adel, mengambil tangannya dari dekapan Devan dengan lembut. "Adelard Mahendra adalah satu-satunya putri kandungku yang sah. Satu-satunya pewaris seluruh kekayaan dan nama besar Mahendra!"

Adel merasakan air mata jatuh di pipinya. Pengakuan itu akhirnya datang di depan dunia. Beban yang selama ini ia pikul sebagai "pelayan" dan "keponakan jauh" seolah luruh seketika.

Tuan Mahendra menatap Clarissa dengan dingin. "Pak Dirman sudah mengemas barang-barangmu. Kau tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumahku lagi. Kau akan dikembalikan ke yayasan negara untuk diproses secara hukum atas percobaan pembunuhan yang baru saja kau lakukan."

"Tunggu!"

Sebuah suara wanita yang penuh dengan kepedihan terdengar dari pintu masuk. Nyonya Siska Mahendra muncul dengan wajah sembab. Ia berlari melewati suaminya dan langsung memeluk Clarissa yang sedang meratap di lantai.

"Hendra, kau tidak bisa melakukan ini!" teriak Nyonya Siska.

Tuan Mahendra tertegun. "Siska? Apa maksudmu? Kau sudah melihat tandanya di punggung Adel, kau tahu kebenarannya!"

"Aku tahu Adel adalah putriku!" Siska menangis, sambil terus mendekap kepala Clarissa di dadanya. "Tapi Clarissa... aku yang menyusuinya saat dia bayi. Aku yang mengajarinya bicara, aku yang memandikannya setiap hari selama tujuh belas tahun! Aku tidak bisa membuangnya begitu saja ke jalanan!"

"Dia mencoba membunuh anak kandungmu, Siska!" Tuan Mahendra tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Dia hanya takut! Dia hanya butuh bimbingan!" Siska menatap Adel dengan tatapan memohon yang menyakitkan. "Adel, tolong... maafkan kakakmu. Hendra, tolong jangan usir dia. Biarkan dia tetap tinggal di mansion, biarkan dia tetap menjadi putri kita bersama Adel. Aku tidak bisa hidup tanpa Clarissa!"

Clarissa, yang merasakan dukungan ibunya, langsung memeluk pinggang Siska dengan erat. Matanya melirik Adel dari balik bahu ibunya—sebuah lirikkan penuh kemenangan yang terselubung di balik isak tangisnya. Ia tahu, selama ia memiliki hati ibunya, ia belum benar-benar kalah.

Adel berdiri mematung. Kebahagiaannya karena diakui oleh ayahnya seketika sirna melihat ibunya lebih memilih melindungi monster yang baru saja ingin membunuhnya.

Tuan Mahendra terdiam, terjepit di antara keadilan untuk putri kandungnya dan rasa cinta buta istrinya pada anak angkat mereka. Para siswa dan guru hanya bisa menonton drama keluarga terkaya di kota itu dengan napas tertahan.

Devan mempererat genggamannya pada tangan Adel, merasakan betapa dinginnya tangan gadis itu. "Jangan takut, Adel. Aku di sini," bisiknya.

Adel menatap ibunya, lalu menatap Clarissa. Di bawah langit yang kian menggelap, ia menyadari satu kenyataan pahit: di rumah mewah itu, ia mungkin mendapatkan statusnya kembali, tapi ia belum tentu mendapatkan tempat di hati ibunya.

"Jadi..." suara Adel terdengar hampa namun tajam. "Setelah dia mencoba membunuhku... kau tetap ingin dia tinggal satu atap denganku, Ibu?"

Nyonya Siska tidak menjawab, ia hanya terus menangis sambil memeluk Clarissa lebih erat.

Tuan Mahendra hendak membuka mulutnya untuk memberikan keputusan akhir, namun tiba-tiba guntur menggelegar dan hujan deras tumpah membasahi mereka semua. Keputusannya tergantung di udara, meninggalkan Adel dalam ketidakpastian yang menyiksa di tengah kemenangannya yang terasa hambar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!