NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22| Sisi Gelap Gavino

Tatapan matanya tetap tenang ketika melemparkan pack tisu kecil ke pangkuan Aluna, Gavino telah berganti pakaian dengan seragam sekolahnya. Sementara Aluna, gadis yang tadinya meminta kematian dengan cara yang tak sadis itu masih menangis di pilar yang sama. Sampai Gavino selesai berganti pakaian, keluar dari bilik khusus yang disediakan di area kolam renang.

"Seka ingus lo yang meleber ke mana-mana itu," titah Gavino tegas.

Aluna mengerucutkan bibirnya, menarik helaian tisu keluar dari tempatnya. Suara menjijikan membuat Gavino membuang muka, dalam sekejap mata sepack tisu saku itu telah menjadi gulungan bola-bola basah. Mata Aluna memerah, bukannya ia tak mau melarikan diri setelah Gavino mendorong ke samping. Hingga punggung belakangnya membentur pilar, hanya saja kedua kakinya kehilangan tenaganya untuk bisa berdiri dan kembali berjalan.

Desahan berat mengalun dari bibir Gavino membuat saraf-saraf otak Aluna tegang, ia menggigit bibir bawahnya. Perasaan antara pasrah dan tak rela bergelayut menjadi satu di dalam hati Aluna, ia pikir dengan menjaga jarak dengan Gavino. Maka ia akan selamat dari maut, siapa sangka alurnya masih melilitnya bergerak perlahan-lahan menuju kematian.

Gavino perlahan berjongkok, menyamakan tinggi mereka berdua. Ia sedikit menunduk, agar bisa melihat ekspresi wajah Aluna dengan jelas.

"Apa yang sebenarnya lo coba lakuin huh?" tanya Gavino tatapan matanya tampak mengintimidasi.

Kedua telapak tangan Aluna mengepal menyalurkan emosi yang ia rasakan, ditarik dan diembuskan napas kasar.

"Kalo gue ngomong, 'gue nggak sengaja ke sini karena penasaran siapa yang berenang.' Apa lo bakalan percaya?" tanya balik Aluna tanpa menatap lawan bicara, ia memilih menatap lantai gedung.

Manik mata hitam legam tajam Gavino tampak fokus pada guratan wajah Aluna yang tampak samar, Aluna merinding. Seakan ia merasa ditelanjangi bulat-bulat oleh kedua manik mata tajam Gavino, jari jemari panjang Gavino terulur ke depan bersentuhan dengan dagu Aluna. Darah Aluna terasa berdesir saat jari jemari dingin itu bersentuhan dengan dagunya. Perlahan-lahan tapi pasti wajah Aluna mendongak, manik mata almond basahnya bersitap dengan manik mata hitam legam kelam bak dasar palung laut tanpa dasar. Kelam, dalam, dingin, dan menakutkan. Itulah yang tercermin di kedua manik mata Gavino saat ini, Aluna bahkan menahan napas tanpa ia sadari.

Aluna kesulitan meneguk saliva di kerongkongannya, apalagi di saat sudut garis bibir Gavino ditarik sebelah ke atas. Seringai itu benar-benar menakutkan, seluruh tubuh Aluna bergetar hebat.

"Lo, punya banyak cara untuk berhadapan dengannya. Apakah segitu inginnya lo buat dapatin dia, oh Aluna?" Intonasi nada suaranya berat dan sengau, manik matanya mengikuti kemana pun manik mata Aluna bergerak.

Ibu jari tangannya bergerak, mengusap perlahan permukaan bibir Aluna dengan gerakan pelan dan mengintimidasi. Seringai di bibir Gavino semakin dalam, sapuan pada bibir ranumnya semakin kuat. Gavino memajukan wajahnya ke depan, embusan napas hangat menerpa sebelah sisi wajah Aluna. Aluna menggigil, tubuhnya membeku.

"Mati itu mudah Aluna tapi, itu kurang menarik. Lo berani datang ke gue, meskipun lo udah liat jati diri gue yang sesungguhnya. Apakah lo berharap dia akan tergugah dengan usaha lo. Sayangnya di mata Gavino lo nggak ada artinya dibandingkan dengan Zea, lo tau itu 'kan, hm?" Gavino berbisik di daun telinga Aluna, mengembuskan napasnya yang berat.

Bulu mata Aluna berkibar, lidahnya kelu seakan ada yang menahannya untuk bergerak.

"But, never say never right? Ada gue juga di sini. Kalo dia nggak tertarik, gue bisa. Gimana menurut lo? Gavino atau Gavian yang lo inginkan?" sambung Gavino kembali bersuara.

Gavino menarik kembali wajahnya dan jari jemarinya yang berada di bibir Aluna, mata mereka kembali bertemu.

"Bernapas Aluna," kata Gavino terkekeh renyah melihat wajah Aluna yang berubah pucat.

Spontan Aluna kembali bernapas memburu, meneguk kasar air liurnya. Matanya melirik Gavino, tanpa sahutan apapun.

'Sial! Kenapa gue ketemu kepribadian Gavian bukan Gavino. Psikopat sialan, Gavino juga sialan. Kenapa di saat seperti ini malah mereka bertukar.' Aluna memaki frustrasi menghadapi fakta gelap dari tokoh utama pria di novel.

Aluna menarik paksa kedua sisi bibirnya ke atas, dan menjawab dengan suara yang nyaris mencicit. "Apa yang bisa gue dapatin kalo gue ngejar lo?"

"Tubuh ini," sahutnya, "bukankah lo segitu inginnya ngerebut apapun yang Zea miliki. Kalo gue bisa menguasai tubuh ini sepenuhnya. Maka semua yang lo mau bakalan lo dapetin."

Aluna mengangguk tanpa berpikir, dan mengulurkan tangan yang bergetar hebat. "Oke, lo mau menguasai tubuhnya sepenuhnya. Dan gue harus ngebuat lo lebih sering muncul 'kan?"

"Cerdas!" Jari jemari tangan Gavino menyentil ringan puncak hidung Aluna.

Tubuh Gavino berdiri, melangkah meninggalkan Aluna tanpa kata. Aluna menengadah menatap kepergian Gavino, ia bersandar di pilar dengan desahan berat.

"Woah! Gua hampir mati, inilah alasan kenapa gue ogah dekatin Gavino. Cuman si tokoh Aluna aja bego sampek berani nerobos batas sama si Karina. Sampek mati mengenaskan tapi kenapa sih, kenapa gue masih aja ketarik ke alur aslinya meskipun dengan caranya berbeda. Ugh! Author sialan." Aluna menghentak-hentakkan kakinya marah dan frustrasi menjadi satu.

...***...

Senggolan di bahunya menyentak Aluna dari lamunan panjangnya, Karina menunjuk ke arah pintu keluar yang kini terdapat Jayden yang berdiri menghadap ke arah pintu masuk. Sontak saja mata Aluna mengedar menyapu seluruh isi kelas yang telah kosong, lalu melirik Karina.

"Sejak kapan bell bunyi?" tanya Aluna tampak bodoh.

Karina berdecak, dan menjawab, "Udah dari dua menit yang lalu, lo kenapa sih? Dari tadi sejak kembali dari nganterin tombak ke gudang olahraga. Balik-balik ke kelas lo kek kesambet setan bengong."

Kepala Aluna mengeleng, "Gue baik-baik aja, sono gih ke kantin."

Karina berdecak namun, tetap berdiri dari posisi duduknya melangkah menuju pintu keluar. Jayden melangkah masuk melewati Karina yang melangkah keluar, Aluna menarik kedua sisi bibirnya ke atas. Ia berdiri dari posisi duduknya, menyongsong kedatangan Jayden.

"Eh," gumam Jayden dengan pupil mata melebar.

Aluna memeluknya secara tiba-tiba, membenamkan wajahnya di dada bidang Jayden. Suara degup jantung yang keras terdengar jelas oleh indera pendengaran Aluna, Jayden berdiri kaku tak berani bergerak. Aluna mendongak, menopang dagunya di dada bidang Jayden.

"Jay," panggil Aluna pelan, senyum tersungging tipis di bibirnya.

Jayden menunduk, bersitatap dengan manik mata Aluna.

"Hm...."

"Lo bakalan ngelindungin gue apapun yang terjadi 'kan?" tanya Aluna spontan.

Alis mata tebal Jayden berkerut, pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh Aluna. Jayden sudah pasti akan melindungi gadis yang memeluknya dengan erat ini, bukankah Aluna sudah mengkalim jika ia akan menikahi Jayden. Bukannya Jayden yang menikahi Aluna, gadis ini bertanggungjawab atas masa depan mereka.

Kepala Jayden mengangguk, "Ya."

"Dari siapa pun itu?" tanya Aluna lagi kembali memastikan.

"Ya, dari siapa pun itu," balas Jayden tegas.

"Termasuk dari Gavino," kata Aluna, matanya menatap wajah Jayden dengan saksama.

"Termasuk dari Gavino," sahut Jayden tanpa harus berpikir panjang.

Kedua tungkai kaki Aluna berjinjit, kecupan di pipinya semakin membuat Jayden tegang. Suasana hati Aluna yang tadinya penuh ketegangan mendadak kembali rileks dan cerah, ia melepaskan pelukannya dari tubuh Jayden. Tangannya menggenggam telapak tangan Jayden, menariknya keluar dari ruangan kelas yang kosong.

"Go, go! Kita ke kantin." Aluna bersorak ceria menarik tangan Jayden.

Langkah kaki Jayden kaku, pipinya bersemu menjalar di daun telinga yang memerah. Apakah ia pernah setersipu ini hanya karena seorang perempuan. Ada perasaan menggelitik di hatinya, perasaan yang sama sekali tidak ia benci. Seakan membawa nuansa baru di dirinya, Jayden tak mampu menahan dua garis yang melengkung naik ke atas terus menerus berkedut. Garis senyum itu terus terlihat, beberapa siswa-siswi di lorong gedung sekolah memperhatikan mereka berdua. Bisik-bisik lirih akan hubungan keduanya terdengar samar, Aluna sama sekali tidak peduli.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!