NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:880
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.

Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menunggu Hati

Pagi itu lebih ramai dari biasanya. Langkah kaki keluar masuk, suara sepatu di lantai koridor, bisik-bisik yang tidak sepenuhnya pelan. Semua terasa seperti dunia yang terus berjalan, meski bagian dari dirinya masih tertinggal di suatu tempat yang tidak bisa ia namakan.

Meisyah duduk bersandar di ranjang, lebih tegak dari kemarin. Lebih sadar tapi bukan berarti lebih tenang.

Cincin di jari manis kirinya masih ada. Ia belum melepasnya — bukan karena tahu artinya, tapi karena tidak tahu harus bagaimana tanpa itu seperti menahan benda asing entah kenapa terasa seperti bagian dari dirinya tidak bisa dijelaskan.

Pintu terbuka.

Ibunya masuk lebih dulu. Wajahnya sudah "rapi" — riasan sempurna, senyum terukur, seperti tidak terjadi apa-apa di luar skenario yang sudah ditulis sebelumnya. Di belakangnya, seorang pria memakai kemeja putih bersih, jas abu-abu, sepatu mengilap. Langkahnya pasti, tidak ragu berbeda sangat berbeda dari kekacauan yang Mei rasakan di dalam dirinya.

" Mei..."Suaranya lembut, terlatih.

Gadis itu menoleh dan untuk pertama kalinya sejak ia bangun — tidak terasa asing, tidak hangat, tapi tidak juga dingin, familiar di ingatannya, lagu lama yang tidak diingat liriknya, tapi nadanya masih tersisa di ujung ingatan, menggantung tanpa tempat untuk pulang.

"Fero," kata ibunya pelan, seolah nama itu butuh pengantar, butuh izin untuk diucapkan.

Nama itu — tidak berat, tidak juga kosong, pas terlalu pas.

"Gimana kabarmu?" tanya pria itu mendekat.

Mei menatapnya, mencari sesuatu yang bisa ia pegang. "…aku baik."

Dan itu — lebih mudah diucapkan, natural. T/tanpa perlu berpikir terlalu lama, tanpa ragu, tanpa beban seperti mengucapkan kebohongan sudah terlalu sering diulang hingga terasa seperti kebenaran.

Fero tersenyum, senyum yang rapi, terukur, sudah dipraktikkan di depan cermin berkali-kali. "Syukurlah."

Dia duduk di kursi samping tempat tidur tidak menyentuh, tidak memaksa, aman terlalu aman.

"Dokter bilang kamu masih proses adaptasi," lanjutnya, suaranya tenang seperti permukaan danau tidak pernah berangin.

Mei mengangguk. "Katanya aku… lupa beberapa hal."

"Beberapa," Fero mengulang, penekanan yang hampir tidak terdengar. "Tidak semuanya

"Termasuk kamu?" Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa filter, tanpa rencana. Fero berhenti sebentar — terlalu singkat untuk disebut jeda, terlalu lama untuk disebut lancar. Lalu tersenyum tipis, senyuman yang tidak sampai ke mata.

"Sebagian."

Jawaban yang rapi dan anehnya — Mei menerima ketidakjelasan sebagai bentuk keamanan, menerima setengah kebenaran sebagai seluruh dunia.

Mereka bicara hal-hal ringan, hal-hal aman. Tentang kuliah yang mungkin pernah di jalani, acara keluarga pernah ia hadiri, tempat makan pernah di kunjungi. Semua terasa masuk akal tidak ada bagian yang membuatnya bingung, tidak ada jeda panjang, tidak ada momen di mana ia merasa harus berpura-pura mengerti.

Tidak seperti — pria itu membuat dadanya aneh, sesak, ingin keluar tapi tidak tahu jalan. Ia menggeleng pelan, mencoba mengusir bayangan yang tidak mau pergi.

"Kenapa?" tanya Fero, cepat

"Enggak… cuma…" Ia berhenti, lidahnya terasa berat. "Kayaknya ada yang hilang."

Fero menyelidiki, menilai, menimbang. "Kalau hilang," katanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan di telinga, "tidak semua harus dicari."

"Kenapa?"

"Karena belum tentu yang hilang itu baik buat kamu."

Kalimat itu — tenang masuk akal terstruktur dengan sempurna. Dan entah kenapa, terasa benar seperti rumus matematika, bukan benar seperti detak jantung, diajarkan, bukan dirasakan.

Ibunya mengangguk setuju, seolah Fero baru saja mengucapkan kebijaksanaan tertinggi. "Fero benar. Yang penting sekarang kamu fokus sembuh."

Mei diam, tangannya kembali menyentuh cincin itu dingin seharusnya punya arti.

"Kalau sesuatu itu penting…" katanya pelan, suaranya hampir tenggelam di antara bunyi mesin monitor dan langkah kaki di koridor, "kenapa rasanya tidak ada yang mau jelasin?"

Sunyi. Untuk pertama kalinya, jawaban tidak langsung datang. Tidak dari ibunya, tidak dari Fero, tidak dari ruangan yang tiba-tiba menyempit.

Fero melihat cincin itu Matanya berubah — sedikit, hampir tidak terlihat, tapi cukup untuk membuat Mei merasa ada yang salah, meski tidak tahu apa.

"Boleh aku lihat?" tanyanya tenang, tapi ada ketegangan di ujungnya tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Mei ragu sekilas melepasnya — perlahan

Ia memutar cincin itu di jarinya, cahaya dari jendela memantul di permukaannya. Matanya berubah lagi — sedikit lebih gelap, lebih dingin tapi itu cukup.

"Cincin biasa," katanya akhir

Biasa. Satu kata langsung mengurangi sesuatu di dalam diri Mei, sesuatu baru saja mulai tumbuh, belum sempat berbentuk.

"Tidak ada yang spesial."

Mei menatapnya. "…oh."

Jawaban sederhana. Tapi hatinya — tidak sepenuhnya setuju, ada bagian tubuhnya menolak, memberontak, berteriak bahwa ada sesuatu yang Fero tidak lihat, atau tidak mau lihat.

Fero mengembalikan cincin itu. Mei tidak langsung memakainya, menatap permukaan polos, mencari sesuatu mungkin tidak ada di sana.

Biasa? Kalau biasa — kenapa terasa berat? Kenapa seperti menahan batu di telapak tangan seharusnya mengapung?

Pintu terbuka sekilas. Mei melihat — pria itu diluar berdiri seperti bayangan yang tidak mau hilang meski matahari sudah tinggi.

Jantungnya berdetak lebih cepat tidak nyaman tidak aman. Tapi — tidak bisa diabaikan seperti denyut nadi yang mengingatkan bahwa ia masih hidup, masih ada tempat yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

"Kenapa?" tanya Fero

Ia langsung mengalihkan pandangan, buru-buru memakai kembali cincin itu meskipun tidak tahu alasannya, meskipun Fero bilang itu biasa "Enggak," katanya pendek.

Laki laki itu memperhatikan tapi tidak berkata apa-apa hanya tersenyum aman membangun dinding tinggi menyembunyikan sesuatu rapuh di baliknya.

Sementara di luar ruangan, seorang pria berdiri diam melihat dari balik kaca, bayangannya samar, hampir tidak nyata.

Ia tidak masuk karena dia tahu — di dalam sana, dia bukan pilihan yang masuk akal, bukan pilihan yang aman oleh seseorang baru saja kehilangan ingatan, kehilangan dirinya, mencari sesuatu yang bisa dipegang tanpa takut jatuh.

Dan untuk pertama kalinya — Mei punya dua dunia satu — terasa benar seperti rumus, aturan, jalan yang sudah dipetakan dengan sempurna dunia Fero rapi, terukur, aman.

Dan satu lagi — terasa tidak bisa dijelaskan tida masuk akal tidak aman, dunia pria yang baru saja di kenalnya. Dunia yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat, dadanya sesak, tidak dapat ia namakan.

Dan tanpa sadar — dia mulai memilih yang lebih mudah dipercaya, lebih mudah diterima

Karena dunia yang baru dirinya tidak aman, palsu, terlalu berat untuk ditanggung sendiri.

Cincin di jarinya terasa dingin tapi ia membiarkannya tanpa sadar sedang membuat pilihan yang salah, tanpa sadar bahwa ada di suatu tempat, di suatu waktu, seseorang memakai cincin yang sama — dan mungkin saja sedang menunggu hatinya untuk kembali

1
Wawan
Hadir
Ddie: terimakasih banyak ya mas
total 1 replies
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!