bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.
Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
gosip yang menyenangkan
Setelah berjalan beberapa puluh meter, Jinyu akhirnya keluar dari kawasan hutan. Kini ia berjalan di jalan setapak yang menghubungkan gunung dengan kompleks militer. Langkahnya ringan, meski hari mulai sore dan udara semakin dingin.
Tanpa sengaja, jalur yang ia ambil melewati deretan rumah di bagian depan kompleks. Di sana, di sebuah teras rumah, berkumpul sekelompok ibu-ibu. Mereka duduk melingkar, mulut mereka kompak bergerak tanda sedang asyik bergosip.
Jinyu hampir saja lewat begitu saja. Tapi sebagai anak yang baru diadopsi, ia pikir sebaiknya bersikap sopan. Masa depan di kompleks ini akan lebih mudah kalau ia punya hubungan baik dengan para tetangga.
Ia mendekati teras itu, lalu menyapa dengan suara manis, "Selamat sore, bibi-bibi."
Ibu-ibu itu terkejut. Mereka menoleh serempak, melihat Jinyu yang berdiri di pagar dengan senyum ramah. Beberapa dari mereka membalas sapa dengan canggung, yang lain hanya mengangguk kaku.
Jinyu tersenyum lagi, lalu berbalik melanjutkan jalan. Tapi baru beberapa langkah, telinga tajamnya menangkap bisik-bisik dari belakang.
"Itu dia... anak angkat Komandan Su..."
"Hush, suara pelan-pelan..."
"Lihat-lihat, dia jalan dari arah gunung? Anak kecil begitu dibiarkan main ke gunung?"
"Yang benar saja, umur 4 tahun ditinggal jalan sendiri. Dasar orang angkat, ya, masa bodoh kali..."
"Katanya diambil dari jalan, lho. Gelandangan, katanya..."
"Lha, masak anak gelandangan bisa jadi anak komandan? Aneh-aneh saja."
"Mending dia adopsi anak dalam kompleks saja, masih ada hubungan keluarga gitu. Ini malah ambil anak orang luar, tidak jelas asal-usulnya."
"Lihat rambutnya, aneh kan? Warna begitu, pasti bukan orang sini. Mungkin campuran... atau bahkan... ya ampun, jangan-jangan anak haram?"
Jinyu menghentikan langkah.
Dia tidak marah. Mantan ratu iblis tidak mudah marah oleh omongan nyamuk seperti ini. Tapi... rasa bosan yang tadi hilang setelah bergosip dengan burung, kini kembali lagi. Dan ibu-ibu ini memberi ide.
Jinyu berbalik. Perlahan, ia berjalan kembali ke arah teras itu. Senyumnya masih merekah, tapi matanya—matanya yang cokelat keemasan itu—bersinar dengan cara yang membuat para ibu merasa tidak nyaman.
"Bibi-bibi," sapanya dengan suara merdu. "Maaf mengganggu, aku dengar tadi kalian membicarakan aku?"
Para ibu itu tertegun. Beberapa tersenyum canggung, beberapa pura-pura sibuk dengan sayuran di tangan.
Bibi Li yang tadi paling keras bicara berkata dengan suara dibuat ramah, "Oh, tidak, tidak, Nak. Kami hanya... ngobrol biasa."
"Ah, begitu," Jinyu mengangguk-angguk manis. "Bibi-bibi, aku hanya ingin mengatakan, urus saja urusan Bibi sendiri. Ngapain ngurus orang lain?"
Wajah para ibu itu berubah. Seorang di antaranya wanita paruh baya dengan pipi tembam mendelik. "Heh, anak kecil lancang! Kamu pikir—"
Jinyu lalu mengalihkan pandangan ke seorang ibu berbaju biru yaitu Bibi Chu, istri Komandan Chu, yang sedang mengupas kacang panjang dengan tangan sedikit gemetar.
"Bibi Chu," panggil Jinyu lembut. "Aku dengar Bibi dari pedesaan, ya? Bukannya aku menghina, tapi... bukannya Bibi dulu punya kekasih sebelum menikah dengan Komandan Chu? Dan... sampai sekarang masih berhubungan lewat surat, ya? Wah, bagaimana, ya, kalau suami Bibi tahu?"
Bibi Chu tersentak. Wajahnya memucat seketika. Kacang panjang di tangannya jatuh. "A-apa? Kau... kau... dari mana kau tahu?! Maksudku, tidak usah memfitnah, kamu!"
Jinyu tidak menjawab. Ia mengalihkan pandangan ke wanita di samping Bibi Chu. "Tante Wang, ya? Saya dengar Tante Wang suka 'meminjam' uang dari kas posyandu untuk beli kain? Padahal uang itu untuk anak-anak kurang mampu, ya?"
Tante Wang membeku. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Jinyu menoleh ke wanita berikutnya. "Oh, Tante Li. Selamat, ya, putri Tante Li sebentar lagi mau menikah. Tapi... kenapa calon menantunya pindah minggu lalu? Katanya, karena tidak terima diminta mas kawin berlebihan, kan?"
Tante Li membuka mulut, tapi tidak ada suara keluar.
Jinyu melanjutkan ke satu per satu. Setiap ibu yang ia tatap, ia lontarkan sebuah fakta kecil, fakta yang seharusnya hanya diketahui oleh mereka sendiri, atau mungkin juga oleh beberapa burung pipit yang suka mengintip dari ranting pohon.
"Tante Huang, suka ambil jatah minyak tetangga kalau paket kiriman keluarganya telat datang."
"Tante Sun, diam-diam menjual beras jatah ke pasar gelap."
"Bibi Zhou, berpura-pura sakit biar tidak ikut kerja bakti."
Dan seterusnya.
Ibuk-ibuk kompleks : ... Lain kali jangan pernah menceritakan hal buruk tentang anak angkat komandan su jika tidak mau aib sendiri di umbar
Para ibu itu terdiam. Wajah mereka bergantian pucat dan merah. Keringat dingin mengucur di kening beberapa orang. Mereka saling pandang, tidak percaya anak kecil ini tahu semua rahasia mereka.
Jinyu menghela napas, lalu bergumam "Untung saja aku ke gunung hari ini. Jadi bisa mendengar gosip-gosip itu dari burung pipit."
Ia tersenyum lebar pada para ibu itu, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada dengan sopan. "Sudah sore, Bibi-bibi," Jinyu memberi salam dengan sopan, membungkuk sedikit seperti anak baik-baik. "Aku pamit pulang. Ibu pasti sudah menunggu. Oh, ya... mulut itu harus dijaga, Bibi. Kalau tidak, nanti bisa busuk sendiri."
Ia berbalik dan melangkah pergi dengan riang, meninggalkan para ibu yang masih terpaku di tempat, keringat dingin membasahi punggung masing-masing.
Beberapa detik kemudian, mereka mulai beralasan.
"A-aku harus pulang, masak sudah hampir matang..."
"Ah, iya, aku juga, jemuran belum diangkat..."
"Suamiku pulang sore ini, aku harus siap-siap..."
Dalam hitungan menit, kursi-kursi bambu itu kosong, hanya menyisakan beberapa helai daun sayuran yang tercecer.
Jinyu yang sudah agak jauh, mendengar kegaduhan itu. Ia tersenyum kecil.
"Ibu-ibu kompleks," gumamnya, "lain kali pikir dulu kalau mau ngomongin orang."
Lalu ia melanjutkan langkahnya menuju rumah, membawa serta senyum puas dan satu ekor burung pegar di ruang dimensinya yang siap diolah menjadi makan malam.
Semenjak itu, su Jinyu dikenal sebagai ratu gosip dan jangan pernah menjelekan dia jika tidak mau aib mu di bongkar.
Sesampainya di rumah, Ibu Liu sudah kembali dari pasar. Wanita itu sedang sibuk di dapur, menumis sesuatu yang harumnya tercium sampai ke luar.
"Jinyu, kau dari mana saja?" sapa Ibu Liu ramah saat melihatnya masuk.
Jinyu tersenyum manis. "Jalan-jalan sebentar, Ibu. Lihat pemandangan."
Ibu Liu tertawa kecil. "Dasar anak kecil. Ayo cuci tangan, sebentar lagi makan malam."
Jinyu mengangguk. "Ibu, tadi aku menemukan burung pegar yang tergeletak di dekat pohon, lalu aku bawa pulang."
Ibu Liu menatap ke arah tangan putrinya yang kosong, lalu tersenyum. "Mana burungnya?"
Jinyu menyadari kekeliruannya, ia lupa mengeluarkan burung itu dari ruang dimensi. Tapi dengan cepat ia berkata, "Aku taruh di luar tadi, sebentar aku ambil."
Ia berlari ke luar, pura-pura mengambil sesuatu, lalu saat kembali, burung pegar itu sudah ada di tangannya.
Ibu Liu menerima burung itu dengan mata berbinar. "Wah, ini burung pegar gemuk sekali! Pasti kamu ke gunung, kan? Lain kali jangan pergi lagi, bahaya, banyak hewan buasnya."
Jinyu mengangguk dengan patuh. "Oke, Ibu."
"Sudah, pergi sana cuci tangan. Nanti ibu buatkan sup ayam"
Jinyu patuh dan berbalik untuk mencuci tangan.
Saat ia menuju kamar untuk cuci tangan, tiba-tiba...
Shshsss~
Suara desisan familiar terdengar di telinganya. Hanya ia yang bisa mendengar.
"Jinyu Shshsss~, melarikan diri lagi, eh malah pergi bergosip sama burung dan mengeledek ibu-ibu Shshsss~"
Jinyu tersenyum lebar. "Yoyo, kamu ngintip terus, ya?"
Shshsss~ "Aku hanya penasaran dengan tingkah laku ratu iblisku Shshsss~. Ternyata meskipun jadi anak kecil, tetap saja usil."
Jinyu tertawa kecil, masuk ke kamar dan menutup pintu. "Bukan usil, Yoyo. Hanya... memberi mereka pelajaran kecil. Lagipula, bukankah itu menyenangkan?"
Shshsss~ "Menyenangkan memang Shshsss~. Tapi hati-hati, Jinyu. Manusia bisa lebih berbahaya dari monster di dunia kiamat."
Jinyu mengangguk pelan, matanya sesaat berubah serius. "Aku tahu, Yoyo. Aku tahu."
"Aku paling tidak percaya dengan namanya kebaikan tanpa tujuan," kata Jinyu dengan dingin dan langsung berbalik pergi.
Yoyo hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghilang ke dalam dimensi.