NovelToon NovelToon
Cinta Yang Kau Abaikan

Cinta Yang Kau Abaikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Romansa
Popularitas:83.7k
Nilai: 5
Nama Author: h.alwiah putri

8 Tahun pernikahan dan di karuniai seorang putri cantik,nyatanya tak mampu meluluhkan hati aldric pada Eveline sang istri.

Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan keluarga, Aldric yang mencintai wanita lain namun tak mendapatkan restu dari orang tuanya,dan di desak untuk menerima perjodohan itu akhirnya menerima,namun tak pernah menganggap ada sang istri.

Selama bertahun tahun juga Eveline mengejar cinta Aldric, karena memang dia mencintai laki laki itu sedari lama. Segala cara dia lakukan,bahkan dengan memberikan keturunan bagi Aldric yang dia kira akan membuat laki laki itu menatap ke arah nya.

Namun nyatanya tidak, Aldric tetap sama bahkan setelah ada buah hati di antara mereka. Hingga akhirnya Eveline menyerah mengejar cinta sang suami dan hanya bertahan demi putri mereka mendapatkan figur seorang ayah, walaupun nyatanya tidak Aldric berikan pada putri mereka.

Akankah Eveline benar benar menyerah dan pergi meninggalkan Aldric? atau Aldric akan luluh dan mulai menerima Eve?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon h.alwiah putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 20. bertahan demi Sera

Eveline memindahkan buket bunga Lily itu pada vas bunga lalu menyimpan nya di meja makan,Eveline memang tidak membiarkan bunga itu layu,bukan karena bunga itu spesial. Tapi hanya agar menghindari pertanyaan dari putri nya,kemana bunga Lily yang Daddy berikan kemarin?

Setelah itu Eveline pergi ke kamarnya membawa kotak perhiasan itu,lalu menyimpan nya di atas meja rias. Tak ada sedikit pun rasa ingin melihat perhiasan itu.

Entahlah rasanya begitu hambar, mungkin jika dulu aldric bersikap seperti tadi,memberikan hanya sebuket bunga dan hadiah. Eveline akan merasa sangat bahagia dan merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.

Namun sekarang rasanya hambar,bahkan mungkin perhiasan seharga mobil ini sudah lagi tak berkesan di dalam hati maupun pikiran Eveline.

Eveline pun bingung dengan sikap aldric,masih ada rasa was-was. Walau aldric kini menunjukan perubahan nya,namun tak bisa menutupi rasa antisipasi dari Eveline.

Eveline tak akan merasa hal ini istimewa,takut jika kebahagiaan ini hanya untuk sementara.

Malam harinya,Eveline menemani Sera hingga putri nya itu tertidur. Sedangkan aldric,dia berada di ruang kerja nya.

Aldric melirik jam menunjukan pukul sembilan,aldric langsung menutup laptop nya kemudian keluar dari ruang kerja nya. Terasa aneh, karena biasanya aldric akan keluar dari ruang kerjanya pukul sebelas ataupun dua belas malam.

Namun kini aldric keluar lebih awal kemudian masuk kedalam kamar nya. Sengaja aldric keluar lebih awal, karena ingin menemui Eveline. Ada yang ingin dia bicarakan.

Dia tidak ingin kecolongan lagi seperti kemarin malam,dia membutuhkan penjelasan Eveline. Mengapa Eveline tidur di kamar yang berbeda dengan dirinya.

Setibanya di kamar,aldric melihat ranjang masih kosong. Di samping ranjang ada nakas dan di atasnya terdapat ponsel Eveline,itu menandakan jika Eveline belum keluar dari kamar Sera.

Tak sengaja netra aldric melirik pada sebuah kotak perhiasan yang dia berikan sore tadi pada Eveline. Kotak itu masih tersegel rapi. Menunjukan bahwa pemiliknya belum membuka kotak itu. Dan entah kenapa itu membuat dada aldric terasa sedikit sesak.

Tak lama pintu kamar pun terbuka. Eveline tampak kaget melihat aldric sudah berada di kamar,namun Eveline berusaha bersikap biasa saja.

Dia melangkah masuk, kemudian mengambil ponsel nya yang berada di nakas, kemudian ingin kembali pergi namun terhenti karena aldric menggegam tangan nya.

"Kamu mau ke mana?" tanya Aldric, suaranya parau, memecah kesunyian yang mencekam.

Eveline menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. Tanpa menoleh, ia menjawab datar, "Mau tidur."

"Dimana? Bukankah ini kamar mu?" Aldric melangkah maju, tangannya sedikit terangkat seolah ingin menyentuh bahu Eveline, namun ia urungkan. "Kenapa kamu malah tidur di kamar tamu sejak semalam?"

Eveline membalikkan badannya perlahan.

Ada senyum tipis yang terlihat sangat getir di bibirnya. "Aku tahu diri, Mas. Aku tidak bodoh."

"Maksudmu?"

"Selama ini kamu jarang pulang, lebih memilih tidur di apartemen dengan alasan pekerjaan. Sekarang setelah kamu memutuskan untuk tidur di rumah setiap hari, aku hanya ingin memberikanmu ruang," ujar Eveline tenang. "Aku tidak ingin mengganggu kenyamananmu dengan kehadiranku di kamar ini. Kamu butuh istirahat tanpa perlu melihat wajahku, bukan?"

Aldric terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tersumbat. "Tapi kita ini suami istri, Eve. Apa baik kalau suami istri pisah kamar? Apa kata orang nanti?"

Tawa kecil lolos dari mulut Eveline—sebuah kekehan pendek yang terdengar lebih menyakitkan daripada tangisan. "Apa baik?" ulangnya. "Mas, apa baik seorang suami jarang pulang selama delapan tahun? Apa baik mengabaikan istri dan anaknya seolah kami ini hanya beban? Kamu hanya pulang sesekali untuk mendapatkan pelayanan, lalu pergi lagi seolah rumah ini hanya hotel berbintang."

Aldric tersentak. Setiap kata yang keluar dari mulut Eveline seperti peluru yang menembus harga dirinya. "Aku... aku sedang berusaha memperbaiki itu, Eve. Itulah sebabnya aku pulang, membawa bunga, membawa perhiasan itu..."

"Simpan saja perhiasan itu, Mas, aku tak butuh. Apa hanya dengan sebuket bunga dan sekotak perhiasan itu bisa mengembalikan semuanya,tidak kan." potong Eveline cepat, matanya menatap tajam ke arah Aldric. "Aku masih berada di sini bukan berarti aku masih ingin bersamamu. Aku bertahan hanya untuk Sera. Aku ingin dia merasakan kasih sayang ayah dan ibu secara bersamaan sebelum..." Eveline menggantung kalimatnya, namun sorot matanya menyelesaikan ucapan itu: sebelum kita benar-benar berakhir.

"Eveline, dengarkan aku—"

"Tidak, kamu yang dengar," Eveline melangkah satu kaki lebih dekat. "Mulai sekarang, kita bersama hanya untuk Sera. Itu saja. Tak perlu bersikap manis padaku, tak perlu membelikan bunga atau barang-barang mahal. Aku sudah tidak membutuhkan perlakuan itu lagi. Perasaan itu sudah mati, Mas."

Aldric terpaku. Ia merasa kerdil di hadapan wanita yang selama delapan tahun ini ia remehkan.

"Bukankah ini yang selama ini kamu mau?" lanjut Eveline dengan nada yang kini lebih dingin. "Kamu bebas. Aku tidak akan peduli lagi kamu mau melakukan apa pun di luar sana. Mau selingkuh, mau bermain wanita, silakan. Aku tidak akan bertanya, aku tidak akan melarang. Kita tidak perlu ikut campur urusan masing-masing. Cukup berperan sebagai seorang ayah yang baik untuk Sera di depan matanya. Hanya itu tugasmu."

"Eve, kamu tidak serius soal itu..." bisik Aldric tak percaya.

"Aku sangat serius. Jangan paksakan sesuatu yang sudah hambar menjadi manis kembali hanya dengan kotak perhiasan," Eveline meraih gagang pintu.

"Selamat malam, Mas. Jangan lupa matikan lampunya."

Cklek.

Pintu tertutup. Aldric ditinggalkan sendirian dalam kemewahan kamar yang mendadak terasa seperti penjara bawah tanah. Ia menatap pantulan dirinya di cermin meja rias, bersanding dengan kotak perhiasan yang segelnya masih utuh. Ia baru menyadari bahwa memberikan kebebasan adalah hukuman paling kejam yang bisa diberikan seorang istri kepada suami yang baru saja ingin pulang.

Aldric terpaksa menelan pil pahit dari ucapannya sendiri. Rasanya sesak, seolah oksigen di kamar itu mendadak hilang saat Eveline dengan tenang berkata, "Jangan ikut campur urusan masing-masing."

Kata-kata itu adalah cermin retak yang memantulkan kesombongan Aldric di masa lalu. Dulu, ia mengucapkan kalimat yang sama dengan angkuh, tanpa sedikit pun memikirkan bagaimana hancurnya perasaan Eveline saat itu. Kini, saat roda berputar, Aldric merasakan perih yang tak tertahankan.

Ia tersentak pada satu kenyataan yang menghujam jantungnya: Jika dirinya yang tidak memiliki perasaan saja merasa sesakit ini, lantas sehancur apa hati Eveline dulu? Eveline yang mencintainya dengan tulus selama delapan tahun, namun hanya dibalas dengan pengabaian dan pembatasan yang kejam. Ternyata, senjata yang dulu ia gunakan untuk melukai Eveline kini berbalik arah, menusuk tepat di titik terlemah egonya. Penyesalan itu datang terlambat, menyisakan luka yang kini harus ia tanggung sendirian.

1
Asmar Wati
kasian ya anak di abai terus sama ayah nya
Supri Yanti
satu kata buat Evelyn, bodoh ngorbanin anak yg lucu huh,
Supri Yanti
lagian laki kayak gitu masih aja di pertahanin, orang mah pergi kek, jadi greget sama perempuannya jadinayka n anak jd korban bego
Siti M Akil
lanjut thor
Yuni Ngsih
Authooor ceritramu bgs bangeeeeet ku bcnya asyik klw sekarang krn Evelyn dah membalas sakit hatinya selama 5 th biar si Aldric merasakan gmn sakitnya di acuhkan semangat Evelyen ,meskipun dlm berumah tangga itu ngga boleh kecuali dah perjanjian ....hehehe ko ku ngenes ya Thor pdhal tuh cuma ceritra ....ok
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Nur Anna
bagus
nn
next
Syifa
ko engga up sih tour udah lama nunggunya
Uthie
Kayanya bakalan Gol proyek nya sehabis ini nanti 😁👍
Nia nurhayati
mongho sing wareg mas aldric😂😂😂
Uthie
Semoga segera launching proyek adik baru nya Sera 👍😁
Yeni Wahyu Widiasih
bagus
Uthie
ikut senyum-senyum juga bacanya 😁👍👍
Uthie
Lanjuuttttt 😁👍
Daulat Pasaribu
selamat sera mommy dan daddymu lagi buat kan kamu adik🤣
smoga segera launching adikmu
Yeni Wahyu Widiasih
umur balita cadel wajar lah ini udah 7 thn
Dewi Yanti
aku setuju dengan tasya, bertahan demi anak tp malah anak nya yg menderita jg bodoh itu
Syifa
aaah udah engga sabar nunggu lonceng adeknya sera 🤩
Daulat Pasaribu
akhhh cepetan dong gak sabar kalau sera punya adik pasti lucu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!