NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:14.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SEMBILAN BELAS

Tatapanku dan Althaf bertemu—hanya beberapa detik, tapi cukup untuk membuat tubuhku kaku seakan waktu berhenti. Mata hitamnya menelanku bulat-bulat, dingin, dalam, dan entah kenapa terasa menuduh. Dadaku sesak. Aku buru-buru memalingkan wajah, memaksa bibirku melengkung membentuk senyum kecil demi membalas senyum manis Bu Yuanita.

Di sampingku, Revan jelas tak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya. Rahangnya mengeras, alisnya turun sedikit, dan matanya menatap penuh ketidaksukaan. Udara di sekitarku mendadak pekat, seolah ada dua kutub panas dan dingin yang saling bertubrukan.

“Kalian habis belanja apa?” tanya Bu Yuanita dengan nada riang. Matanya tertuju pada paperbag yang ada di tanganku. “Oh… parfum ya? Kebetulan saya juga suka sekali dengan brand itu.” Senyumnya lembut, hangat, tapi bagiku terasa seperti pancingan halus.

Aku mengangguk singkat. “Iya, Bu…”

“Pasti Miss Dior Blooming Bouquet, kan?” lanjutnya cepat, suaranya berbinar. “Cocok banget sama kepribadian kamu, Senja. Feminim, lembut, tapi punya sisi segar.”

Aku tertegun sesaat, lalu berusaha menanggapi dengan candaan. “Oh, bukan, Bu. Hehe… tadi saya cuma nemenin Revan beli hadiah buat mamanya. Terus, dia tiba-tiba ngasih parfum ini. Katanya sogokan karena saya udah repot-repot nemenin dia.”

Tawaku terdengar kaku, dipaksakan.

Bu Yuanita terkekeh, jelas senang mendengar ceritaku. “Wah, baik sekali ya Revan. Saya lihat… kalian berdua makin serasi saja.”

Dadaku seperti diremas. Kata-kata itu menusuk jauh ke dalam, menyakitkan, meski diucapkan dengan ringan. Aku menahan napas, memilih menanggapi dengan senyum seadanya.

Revan tiba-tiba melangkah setengah maju, lalu tanpa basa-basi meraih paperbag dari tanganku. Dengan gerakan yang sama, ia menautkan jemariku ke dalam genggamannya. Genggamannya erat, kokoh, seakan ingin menegaskan sesuatu.

“Kalau udah nggak ada lagi yang perlu dibicarain, saya dan Senja pamit dulu ya, Bu,” ucap Revan dingin. “Kebetulan dia lagi pengen ramen.”

Aku terperanjat, menunduk menatap tanganku yang kini ada dalam genggamannya. Panas. Kaku. Canggung. Saat aku beranikan diri menoleh ke arah Althaf, matanya sudah menatap tajam ke arah Revan. Rahangnya mengeras, ototnya menegang, dan aku bisa melihat urat di pelipisnya berdenyut.

Bu Yuanita justru semakin tersenyum. “Oh ya? Kebetulan sekali, saya dan Pak Althaf juga mau makan. Lagi ngidam sushi, hehe. Gimana kalau kita makan bareng aja?”

Darahku serasa berhenti mengalir. Tidak. Tidak mungkin. Bayangan duduk satu meja dengan Althaf dan Bu Yuanita membuat lambungku mual. Aku yakin, kalau itu terjadi, bencana hanya tinggal menunggu detik.

“Tapi Bu—” aku buru-buru mencoba menolak, suaraku terdengar bergetar.

Belum sempat kalimatku selesai, suara dingin Althaf langsung memotong. “Benar,” katanya tegas, nyaris tanpa jeda. Tatapannya menembus ke arah Revan, keras dan menusuk. “Bagaimana kalau kita makan bersama?”

Jantungku seakan jatuh ke perut. Aku menatap Althaf, lalu Revan, lalu kembali ke Bu Yuanita yang tampak senang sekali dengan idenya.

Tanganku masih dalam genggaman Revan, tapi rasanya dingin, membeku. Tegangan di antara tiga orang ini begitu nyata, hingga aku sulit bernapas.

Ya Tuhan… apalagi ini?

Akhirnya, entah bagaimana caranya, aku tak bisa lagi mengelak. Beberapa menit kemudian aku sudah duduk di sebuah restoran sushi yang elegan, bersama Revan, Bu Yuanita, dan… Althaf.

Meja bundar di tengah restoran itu terasa terlalu kecil untuk jarak yang kuinginkan dari mereka. Aku duduk di sebelah Revan, sementara Bu Yuanita duduk di hadapan kami. Althaf? Tepat di samping Bu Yuanita—dan persis di hadapanku.

Sumpit di tanganku terasa begitu kaku. Aku mencoba menatap menu, tapi huruf-huruf di sana berloncatan tak jelas. Yang kutahu hanya: aku ingin waktu cepat berlalu dan menyelamatkanku dari meja ini.

“Senja, kamu suka sushi juga?” tanya Bu Yuanita dengan suara lembut, seolah tak menyadari betapa kacaunya suasana batin yang kurasakan.

Aku berusaha tersenyum. “Iya, Bu. Suka sih… tapi lebih sering makan ramen.”

“Oh, ramen ya.” Ia tertawa kecil. “Kebetulan aku dan Althaf suka banget sushi. Jadi kalau makan bareng, pasti pilihannya ini.”

Aku hanya mengangguk sambil memaksakan senyum. Dalam hati, aku merasakan tusukan halus di dada: kebetulan? Atau memang sudah menjadi kebiasaan mereka?

Revan menyela, nadanya agak dingin. “Kalau Senja suka ramen, lain kali kita makan ramen aja. Gue tau tempat enak banget, Sen.”

Aku menoleh sekilas, matanya serius menatapku, lalu sengaja menyeringai kecil pada Bu Yuanita—seperti memberi kode kalau dia tak peduli dengan kebiasaan orang lain.

“Oh, bagus dong. Senja ditemenin terus sama Revan,” balas Bu Yuanita dengan nada menggoda. “Nggak salah kalau aku bilang kalian makin serasi.”

Aku terbatuk kecil, buru-buru meneguk teh hangat yang ada di depanku. Wajahku memanas. Revan hanya terkekeh, tapi matanya sempat melirik tajam ke arah Althaf.

Dan Althaf? Ia hanya diam. Tapi tatapannya padaku membuatku sulit bernapas. Sesekali, jemarinya mengetuk pelan meja, iramanya teratur, tapi penuh tekanan.

Pelayan datang membawa pesanan. Sushi-sushi cantik tersusun rapi di piring. Bu Yuanita tampak antusias mengambilkan beberapa potong dan meletakkannya di piring Althaf.

“Coba ini, Thaf. Ini favorit kamu, kan?” suaranya penuh perhatian.

Althaf mengangguk pelan. “Hm. Terima kasih.”

Aku menunduk, menusuk potongan sushi seadanya. Revan tiba-tiba menyodorkan sepotong salmon sushi ke piringku. “Sen, cobain yang ini. Katanya paling fresh di sini.”

Aku terkesiap, menoleh. “Nggak usah, Van. Gue bisa ambil sendiri.”

“Biarin. Gue yang ambilin.” Nada suaranya pelan tapi tegas, seakan ingin menunjukkan sesuatu.

Aku terdiam. Dari sudut mataku, aku melihat rahang Althaf yang kembali mengeras. Ia menatap Revan lama, lalu akhirnya berkata dingin, “Kamu perhatian banget, Revan. Bener-bener teman yang baik.”

Kalimatnya terdengar biasa, tapi aku bisa merasakan sindiran tajam di baliknya. Revan hanya tersenyum samar, sama sekali tak terpancing.

Suasana meja menjadi semakin menyesakkan. Aku berusaha menunduk, pura-pura sibuk dengan sumpitku, tapi setiap kali kuangkat wajah, tatapan Althaf sudah lebih dulu menunggu. Tatapan yang dingin, menusuk, seakan ingin menanyakan sesuatu yang tak bisa ia ucapkan di depan orang lain.

Sementara Bu Yuanita masih asyik bercerita tentang kegiatannya, aku hanya bisa duduk kaku, berusaha menelan makanan yang rasanya seperti menelan batu.

Dan di balik semua tawa basa-basi itu, ada perang diam-diam yang semakin terasa—antara Revan dan Althaf, dengan aku di tengahnya, terjebak tanpa jalan keluar.

“Kelihatannya Pak Althaf dan Bu Yuanita cukup dekat, ya.”

Ucapan Revan tiba-tiba memecah keheningan yang sedari tadi menyelimuti meja. Aku yang tengah sibuk menatap sushi di piring sontak menegang.

Althaf perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya jatuh pada Revan, tenang tapi tajam. Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum miring.

“Kebetulan kami sudah saling mengenal sejak kuliah,” jawabnya santai. Ia lalu menoleh sekilas ke arahku sebelum menambahkan, “Kurang lebih sama seperti kamu dengan Senjani.”

Jantungku langsung merosot. Ada nada sarkas yang kental di balik kalimat itu. Aku meletakkan sumpitku, selera makan seketika hilang.

Revan mendecih kecil, jelas-jelas tidak suka. “Bedanya jauh, Pak. Saya dan Senja sama-sama single. Beda dengan Bapak…” ia berhenti sejenak, menatap Althaf lurus tanpa gentar, “…yang sudah menikah, tapi masih saja terlihat dekat dengan wanita lain.”

Seketika aku tercekik dengan ludahku sendiri. Dadaku terasa sesak. Aku buru-buru menutupi mulut, lalu batuk-batuk cukup keras.

“Senja!” Revan panik, segera meraih gelas air putih dan menyodorkannya ke arahku.

Aku mengambilnya dengan tangan gemetar, meneguk cepat. “Gue nggak apa-apa…” suaraku parau, aku mencoba tersenyum walau wajahku panas sekali.

“Yakin? Nggak usah maksain kalau lagi nggak enak badan. Yuk gue antar pulang sekarang” Nada Revan penuh khawatir.

Aku mengangguk, lalu bangkit dari kursiku dengan tergesa. “Gue ke toilet dulu, ya.” Aku tidak berani menoleh ke arah siapa pun.

Langkahku cepat, hampir tergesa, meninggalkan meja makan itu.

Namun sebelum benar-benar menjauh, telingaku masih menangkap jelas suara Althaf yang rendah tapi sarat tekanan.

“Mulutmu terlalu lancang, Revan. Hati-hati… tidak semua hal bisa kamu pahami dari apa yang terlihat.”

Disusul suara Revan yang tak kalah tajam.

“Atau mungkin saya justru lebih paham dari yang Bapak kira.”

Aku berhenti sejenak di ambang pintu toilet, menutup mata erat-erat.

Ya Tuhan… apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua? Kenapa aku harus selalu terjebak di tengah ketegangan mereka?

Aku berdiri di depan cermin, menatap sosokku sendiri. Wajahku terlihat pucat, mata berkaca-kaca, bibirku gemetar. Lampu putih di atas kepala justru memperjelas setiap garis lelah di wajahku.

Air kran terus mengalir, tapi aku bahkan lupa menutupnya. Tanganku gemetar saat kucoba menampung air untuk membasuh wajah. Air dingin itu tidak cukup menenangkan dadaku yang sesak.

“Kenapa harus aku yang ada di posisi ini…” bisikku lirih. Suaraku terdengar parau, hampir pecah.

Aku menunduk, menatap air yang jatuh ke wastafel. Hati terasa kacau, seakan ada tali tak terlihat yang menarikku ke arah berbeda—Revan di satu sisi, Althaf di sisi lain.

Kenangan berkelebat: tatapan Althaf yang selalu dingin… lalu senyum hangat Revan yang selalu membuatku merasa aman. Tapi kenyataan hari ini justru membuat keduanya seperti api dan bensin—dan aku berada di tengah kobarannya.

Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. “Aku capek… aku nggak tahu harus bagaimana…” bisikku lagi, suara tertahan oleh isakan.

Air mataku akhirnya jatuh, mengalir deras tanpa bisa kucegah. Sakit sekali rasanya, seolah dada ini penuh retakan.

“Kenapa hidupku harus serumit ini? Salahku apa, Tuhan…?”

Aku terisak, menekan bibirku dengan keras agar suara tangis tidak terlalu terdengar. Tapi tubuhku tetap bergetar hebat.

Aku bersandar di dinding dingin kamar mandi, lalu perlahan-lahan merosot hingga duduk di lantai. Lantai keramik yang dingin menempel di kakiku, tapi pikiranku jauh lebih dingin lagi—beku, kacau, tak tahu arah.

Aku meremas rokku sendiri, mencoba mencari pegangan. “Kalau aku terus di sini, aku pasti hancur… tapi kalau aku pergi, aku takut kehilangan semuanya…”

Isakanku makin keras. Sesaat aku ingin sekali kabur, keluar dari semua ini. Tapi suara-suara dari luar—suara Revan, tawa kecil Bu Yuanita, dan bahkan nada bicara Althaf—terdengar samar, mengingatkanku bahwa aku harus kembali ke meja itu.

Aku menarik napas panjang, mencoba menegakkan punggung. “Kamu harus kuat, Senja… harus kuat…” kataku pada bayangan diriku di cermin.

Meski air mata masih menetes, aku paksa bibirku melengkung membentuk senyum tipis—senyum palsu yang sering kupakai untuk menyembunyikan luka.

1
BORED
lovyu.. ❤️
BORED
tidak ada pelakor disini.. 🌚
BORED
lagi 🌚
BORED
jangan ada konflik lagi 🥺
BORED
jangan ada konflik lagi ya 🥺
BORED
apdet banyak2 🦖
BORED
semoga ga ada perselingkuhan
BORED: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!