Info novel ada di ig syifa_sifana
Kelanjutan dari novel Terpaksa Menikahi Mantan
Niat kembali ke tanah air untuk melanjutkan kuliah, namun malah menguakkan sebuah rahasia besar.
Pertemuan yang tak disengaja membuat mereka saling memusuhi karena sebuah kejadian yang memalukan. Bersumpah tak ingin mengenal malah terjerat sebuah ikatan.
Inilah lika liku sepasang kekasih yang mejilat air ludahnya sendiri.
Bila cinta sudah berbicara, seberapa hebat dan sombongnya kamu maka akan tunduk pada orang yang kamu cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syifa Sifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Melisa
Makan siang dengan penuh canda dan tawa pun usai. Kini mereka semua kembali ke kediaman mereka. Sesampainya di rumah, tubuh Amel merasa panas dan gatal-gatal. Ia tidak sanggup menahannya, lalu mulai menggaruk-garuk tubuhnya.
Bibi Sri tidak sengaja melihat gelagat Amel yang mencurigakan, ia pun datang menghampirinya.
“Nona sedang apa?” tanyanya bingung. Amel menoleh. “Ya Allah, Nona! Apa yang terjadi? Kenapa wajah Nona jadi bentol-bentol?” Bibi Sri khawatir dan memegang wajah Amel.
“Gak tau, Bi. Rasanya gatal banget,” ujarnya terus menggaruk.
“Sepertinya Nona alergi,” dugaan Bibi Sri.
“Tapi aku gak salah makan kok, Bi. Bagaimana caranya aku bisa alergi?”
“Sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang.”
“Gak mau. Aku gak mau ke rumah sakit,” tolak Amel.
“Jadi gimana dong, Nona? Jika Nona tidak mau ke rumah sakit, kita tidak tau penyebab bentol-bentol pada tubuh Nona.”
“Panggil aja dokter kesini. Tapi ingat, jangan ada yang bawakan jarum suntik maupun jarum infus!” ujar Amel sangat takut dengan jarum yang ada di rumah sakit.
“Ya sudah, Nona sebaiknya ke kamar dulu! Biar Bibi hubungi dokter.” Amel menganggukkan kepala dan beranjak pergi.
Sesaat kemudian dokter datang dan langsung mengecek kondisi Amel.
“Mbak, makan apa aja hari ini?” tanya Dokter penasaran.
“Makan seperti biasa. Gak ada hal yang aneh-aneh”
“Sepertinya Mbak ini alergi. Tapi saya tidak tau alergi ini ditimbulkan dari jenis makan apa. Sebaiknya Mbak melakukan pemeriksaan lebih lanjut.”
“Maksudnya?”
“Saya harus mengambil sampel darah Mbak.”
“Oh, gak usah, Dok. Itu gak perlu. Cukup kasih saya obat saja,” tolak Amel dengan spontan.
“Tapi ...”
“Dok, Nona saya ini takut dengan jarum. Jadi, biarkan saja,” bisik Bibi Sri.
“Ya sudah kalau begitu, saya kasih resepnya saja,” ucap Dokter menulis resep obat.
“Ini resepnya, dan langsung beli obatnya di apotik.”
“Terimakasih, Dok,” ucap Bibi mengambil resepnya.
“Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu,” ucap Dokter beranjak pergi. Bibi pun mengantarnya.
Amel mulai memperhatikan kulit mulusnya yang kini sudah bentol-bentol. Ia mulai memusatkan pikirannya dan mengingat kembali segala jenis makanan yang ia konsumsi.
“Kenapa aku bisa seperti ini? Perasaan aku tidak makan kacang."
Sesaat kemudian Bibi Sri kembali dengan membawa nampan berisi minuman dan obat-obatan.
“Nona, minum obat dulu ya!” ucap Bibi sambil meletakkan nampan di atas nakas. Amel mengambil obat lalu meminumnya.
“Bi, Bibi tau gak kenapa aku bisa seperti ini?” tanya Amel menatap Bibi Sri dengan serius.
“Mana saya tau, Nona. Lagian tadi ada dokter disini kenapa tidak sekalian diambil sampel darah biar bisa diperiksa langsung, jadi Nona tidak kebingungan seperti ini.”
“Udah ah, gak ada gunanya juga ngomong sama Bibi,” ucap Amel kesal, lalu merebahkan tubuhnya.
“Jangan ngambek dong, Nona. Bibi hanya berusaha berkata jujur saja.”
“Udah Bibi pergi! Aku mau istirahat.”
“Ya sudah, Bibi pergi. Kalau ada sesuatu langsung panggil Bibi ya.” Amel menanggukkan kepala, lalu Bibi Sri beranjak pergi dengan membawa nampannya kembali.
***
Ting... Tong...
Krek...
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam, Nyonya, Nona Mera." Bibi Sri tersenyum.
“Amel mana, Bi?” tanya Melisa serius.
“Di kamar.” Mereka langsung masuk dan pergi ke kamar Amel.
Krek ...
Mendengar suara pintu terbuka, Amel langsung bangun dan seketika ia kaget melihat Mommy dan adiknya.
“Mommy!” Amel langsung bangun dan berlari.
“Kiara, kenapa kamu lari? Kiara masih sakit, seharusnya Mommy yang menghamprimu,” ucap Melisa khawatir.
“Aku rindu sekali sama Mommy dan juga Mera,” ucapnya langsung memeluk mereka.
“Bisa mati kami, kalau Kakak peluk kami kayak gini,” protes Mera tak tahan dengan pelukan erat Amel.
“Ih kamu ini.” Amel melepaskan pelukannya.
“Ya Allah, kenapa kamu bisa seperti ini? Kamu makan kacang ya?” Melisa kaget saat melihat wajah anaknya tak lagi mulus.
“Enggak loh, Mom. Aku makan makanannya yang normal. Aku gak makan kacang kok. Tapi gak taunya aku udah kayak gini.”
“Gak mungkin. Ini pasti kamu makan kacang. Kalau gak, gak mungkin kamu bisa alergi seperti ini.”
“Tapi bener, aku gak makan kacang.”
“Mungkin saja makanan yang Kakak makan itu mengandung ekstrak kacang.” Mera menduganya.
“Ah gak mungkin lah. Orang aku selalu bilang jangan ada kacang disetiap makananku.”
“Oh, apa jangan-jangan ada orang iseng yang ingin mengerjai Kakak? Kayak di film-film.”
Tak..
“Eh, kenapa Kakak malah menjitakku?” protesnya sambil mengusap kening.
“Lagian kamu ini terlalu banyak nonton film. Jadinya kayak gini, kan? Ngehalu parah.”
Melisa terdiam dan mulai menalar kembali apa yang dikatakan Mera. “Sepertinya yang dikatakan adikmu ada benar juga.”
“Ah, Mommy ini mulai ikut-ikutan deh.”
“Loh, Mommy mengatakan itu karena Mommy sudah pernah merasakannya.”
“Udah deh, jangan dipikirkan lagi. Sebaiknya kita duduk dulu,” ucap Amel merangkul lengan mereka berdua lalu menuntunnya ke arah sofa yang terletak di depan ranjangnya.
“Oh ya, kalian kenapa datang gak kabari aku dulu?”
“Kalau Kiara gak bikin Mommy khawatir, mana mungkin kami bisa langsung terbang ke Jakarta?”
“Ini pasti Bibi Sri yang komporin Mommy, kan?”
“Kamu ini suudzon aja sama Bibi Sri,” tegurnya.
“’Terus apa juga? Oh, jangan-jangan Bibi Sri melapor semua yang terjadi padaku selama ini,” ucap Amel mencurigai.
“Iya. Mommy yang selalu telpon Bibi Sri dan tanyain keadaan kamu disini ... dan kamu tau? Mommy itu khawatir sekali sama kamu. Apalagi ketika Bibi Sri bilang pipimu memar dan sekarang kamu juga alergi. Ya ampun, jantung Mommy hampir copot,” cerocosnya.
“Mommy, gak usah terlalu banyak memikirkan itu deh. Aku udah besar, dan aku bisa jagain diriku sendiri,” balas Amel santai.
“Heleh, sombong bener. Ujung-ujungnya juga ditindas sama orang-orang.”
“Sok tau banget sih anak kecil,” balas Amel.
“Iya benar dong, apa yang aku katakan tadi. Kakak itu terlalu lemah sampai-sampai ada orang yang bisa seenaknya menindas Kakak.”
“Terserahlah. Males berdebat sama anak kecil sepertimu,” ucap Amel menyerah.
“Memangnya kemarin itu kenapa kamu bisa sampai memiliki memar di pipimu?”
“Itu karena cewek gak ada akhlak itu yang tampar aku seenaknya.”
“Kenapa gak dibalas?” sahut Mera spontan.
“Mera ...!” Melisa menatapnya, lalu Mera menunduk kepalanya.
“Lain kali kamu harus hati-hati. Mommy tidak bisa selamanya melindungi kamu,” ucap Melisa memeluknya.
“Iya, Mommy.”
“Sekarang kamu tidur! Mommy juga harus istirahat.” Amel menganggukkan kepala. Melisa dan Mera pun beranjak pergi.
Melisa kini masuk ke kamarnya. Ia tidak menyangka kalau ia harus kembali lagi ke kota yang telah menggoreskan luka di hatinya, bahkan sampai sekarang luka itu tak kunjung mengering.
Sesak di dada kembali terasa saat bayangan orang yang sudah susah payah untuk dilupakan kembali muncul di kepalanya. Ia memegang dadanya, lalu berusaha menenangkan diri.
Semakin ia berusaha menahannya, semakin ngilu terasa.
“Kenapa sudah 20 tahun lebih aku meninggalkan kota Jakarta, tapi bayangan dia masih sangat sulit untukku lupakan? ... Apa ini semua karena luka hatiku yang teramat dalam?”
Mata Melisa mulai berkaca-kaca.
“Sudah lah, lupakan saja. Untuk apa kamu masih memikirkan dia. Dia saja tidak memikirkanmu. Pasti dia sekarang sedang bahagia dengan keluarga barunya itu.” Melisa berusaha menyadarkan dirinya, lalu berjalan ke arah kasur dan berbaring disana.
Bayang anak laki-lakinya kini menghantui pikirannya. “Kiano ... Bagaimana kabarmu sekarang? Mommy sangat rindu denganmu.” Airmata kerinduan seorang ibu pada anaknya kini berderai di pipi Melisa. Sebuah harapan yang belum terwujud, ia sangat ingin bertemu dengan anaknya lalu memeluk tubuhnya.
Itu bersaudara.
panggilan itu, aku tidak bisa melupakannya sampai sekarang.
jika aku merindukannya aku sangat berdosa, tp apa yg harus aku lakukan? maafkan aku tuhan, i really miss him:')