Ridwan (25) harus menikahi gadis kecil baru kelas XII. Dia melakukan itu karena sebuah permintaan Kiai besar dan begitu patuh menyetujui permintaan sang Kiai. Ia harus menikah muda tanpa cinta serta belum tahu calon Istrinya. Namun, Ridwan akan berusaha menjadi Suami shaleh untuk Istrinya.
Annisa (16) gadis ceria seenaknya sendiri suka sekali bermain. Dia sangat marah saat Abah menikahkan dirinya dengan pria tidak dikenal. Ingin rasanya ia marah masa muda terenggut ketika perjodohan terjadi. Annisa benci walau akhirnya terima sewaktu tahu siapa calon Suaminya.
Pernikahan terjadi tanpa ada yang tahu kecuali keluarga di belah pihak. Rencananya pernikahan akan di rayakan usai Annisa lulus SMA.
Ridwan pemuda pendiam selalu sabar menghadapi sikap Annisa yang seenaknya sendiri. Namun, perlahan luntur saat tahu Istrinya mencintai sahabatnya. Dia sadar begitu mencinta, tetapi apa daya Istrinya mencintai sahabatnya sendiri.
Akankah kebahagiaan datang tatkala Ridwan perlahan mundur? Akankah Annisa menerima Ridwan dan melupakan Hamdan?
Cinta yang dirindukan Ridwan begitu besar. Cinta yang dirindukan Annisa untuk Hamdan hanya sebuah kekaguman. Cinta yang sangat dirindukan keduanya akan menjadi takdir sesungguhnya.
***///***///***
Copyright Rose_Crystal 030199
25*08*20
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Crystal 030199, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CYD. Gajian Pertama!
...Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ...
...Kangen Rose atau Mas Ridwan dan Ning Annisa? ...
...Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini! ...
...**❤'•'❤** ...
Ridwan menyengit melihat Hamdan murung tanpa cahaya. Kenapa pemuda tampan ini murung seperti orang sakit? Dia menatap Kang pengurus lain meminta penjelasan. Namun, mereka hanya mengedikkan bahu tidak tahu. Sebagai sahabat yang baik Ridwan akan bertanya atau tidak memberi masukan untuk Hamdan.
Hamdan termenung memikirkan Annisa. Perasaannya campur aduk sehingga tanpa sadar menggerang frustrasi. Biasa yang menolak gadisnya adalah dirinya, tetapi kini ia yang tertolak. Pedih sekali sampai Hamdan ingin marah-marah.
"Ada apa? Kenapa murung? Apa ada masalah?" tanya Ridwan hati-hati.
Hamdan menatap Ridwan sekilas lalu mengusak rambutnya. Dia benar-benar emosi hingga akhirnya menjawab, "aku di tolak Gadisku. Kamu tahu dia bilang mencintaiku, tetapi kenapa malah menolak diriku? Arghh, aku benar-benar kecewa akan semuanya. Biasanya aku yang menolak sekarang banding terbalik."
"Baru di tolak sekali bukan? Kenapa tidak berusaha lebih giat lagi mendapatkan dirinya? Ya, gadis itu selalu di tolak olehmu, lalu saat kamu mengutarakan perasaan malah di tolak. Klise harusnya Kang Hamdan berpikir rasional, pertama mungkin saja gadis itu sedang menguji kesungguhan, Kang Hamdan. Kedua, mungkin gadismu sedang sibuk belajar dan terakhir ingin Kang Hamdan berjuang meraih dirinya. Saranku, tetap dekati dia nyatakan suka dan terus berjuang. Tunjukan pada gadismu bahwa Kang Hamdan serius mencintainya!"
Ridwan memberi masukan bijaknya agar Hamdan semangat kembali. Sebagai sahabat sekaligus saudara sudah sepatutnya menolong atau memberi masukan. Namun, ia tidak tahu masukan itu adalah bumerang baginya di kemudian hari. Ridwan hanya ingin membuat Hamdan semangat walau nanti ke depannya badai menghantam.
Hamdan menatap Ridwan berbinar terang. Akhirnya ada juga yang membuat hatinya tenang. Dengan segera ia tepuk-tepuk bahu lebar sahabatnya sembari tersenyum manis. Ridwan memang sahabat sekaligus saudara terbaik baginya. Hamdan sangat bahagia bisa memiliki sahabat bisa memberi jalan terang.
"Jazakumullah Khairan Katsiran, aku sangat bahagia. Tahu tidak hatiku membaik mendengar nasihat bijak, Kang Fiyan. Ya aku akan berjuang mendapatkan dirinya. Akan ku buktikan bahwa aku mencintainya. Aku akan berikan segala kebahagiaan agar Gadisku tahu betapa tulus cinta padanya. Kang Alfiyan ayo aku traktir apa pun yang kamu minta. Tenang Kang Alfiyan minta mobil juga akan aku berikan. Aku bahagia sekali, Alhamdulillah."
"Wa jazakumullah khairan, Alhamdulillah jika nasihat ku mampu meringankan hati, Kang Hamdan. Itu baru sahabatku tetap optimis jangan pesimis. Tolak sekali coba lagi sampai dapat. Wow aku minta pesawat pribadi bagaimana wahai sultan."
"Ya, selalu semangat. Ok, aku akan belikan pesawat untukmu. Tidak usah risau aku akan berikan apa pun. Aku siap-siap mandi mau mengajar kelas malam. Sayang Kang Alfiyan siap-siap aku belikan ya biar Kang Fiyan bahagia selalu!" riang Hamdan.
"Hai, anak sultan aku hanya bercanda ya Allah. Sudah aku juga mau ikut mandi sudah lengket semua!"
"Hahaha, aku mampu belikan untukmu, Kang. Tetapi, apa daya kamu menolak aku bisa apa?"
"Astaghfirullah."
Ridwan kadang heran dengan Hamdan. Bagaimana tidak ia terlalu loyal memberikan uang pada siapa pun. Ya namanya anak sultan masih keturunan kerajaan. Haduh, ia sampai pusing jika sahabatnya mengeluarkan uang untuk mentraktir makan semua pengurus. Dasar anak sultan membuat Ridwan pusing membayangkan seberapa kaya Hamdan.
Kang pengurus hanya geleng kepala mendengar percakapan Ridwan dan Hamdan. Mereka sangat sadar ketua pengurus Santriwan begitu loyal. Sungguh jika sudah belanja atau apa mereka kecipratan. Hamdan si anak sultan membuat mereka bahagia sekaligus merasa miskin.
Ridwan menyapa para kang asrama saat melewati lorong. Para pelajar balik sapa di sertai senyum manis. Sampai kamar mandi khusus pengurus ia melihat Hamdan duduk manis di bebatuan. Dia ikut duduk berniat melihat kegiatan pengurus lainnya.
Pengurus pusat ada 10 orang, untuk pengurus dalam lebih dari 30 orang. Ridwan sendiri pengurus pusat tidur di lantai dua bersama Hamdan dan tiga pengurus lainnya dan yang di kamar bawah ada lima orang. Khusus di bawah tempat pendaftaran serta tamu.
Ada juga pengurus menjaga koperasi. Koperasi lantai pertama untuk buku, kirab dan keperluan pelajar meraih ilmu. Lantai dua kebutuhan pokok seperti sandang, pangan dan alat untuk mandi. Terakhir ada tempat untuk makan lumayan untuk para para pelajar mencari makanan jika senggang.
Ada satu gedung khusus tamu, keluarga santri menginap, menyambangi atau tempat khusus para tamu jika menjenguk anak mereka di asrama. Bisa di bilang asrama ini mewah walau lebel Salaf di junjung tinggi.
"Kang Alfiyan, tadi saya melihat Kang jalan dengan gadis loh," goda Husain seraya menoel lengan Ridwan.
"Maksudnya?"
"Saya melihat Kang Alfiyan di tempat cukup jauh dari asrama. Gadis itu aku tidak lihat wajahnya. Hayo siapa itu?"
"Ah, itu em itu lupakan saja aku mau mandi."
Hamdan menyengit mendengar jawaban Ridwan begitu pun yang lain. Sejak kapan pemuda ini gugup saat berkata? Padahal Husain itu cuma niat menggoda walau memang tahu Ridwan sedang berjalan beriringan bersama gadis itu.
Jika boleh jujur Husain tahu siapa gadis yang dekat dengan Ridwan tadi sore. Kebetulan ia keluar untuk mengambil kitab paketan. Namun, hal mengejutkan terjadi saat tahu Ridwan dan Ning Annisa jalan berdua. Bahkan mereka terlihat bercanda bersama. Biarkan menjadi rahasia atau malah menjadi bumerang.
"Aku punya kunci As loh Kang Alfiyan. Aku tahu gadis itu jangan main-main atau semua tahu bahwa Kang Alfiyan dekat dengan Ning," bisik Husain sukses membuat Ridwan tegang.
"Kami hanya teman, ah bukan sudah beberapa pekan saya ikut Ndalem Abah Zailani. Kami cukup sering bertemu dan yah kami seperti teman," sahut Ridwan balik berbisik.
"Kang Alfiyan tenang saja saya paham. Jangan bilang Kang Fiyan suka Ning? Dari pandangan Kang Fiyan sangat dalam melambangkan itu semua," bisik Husain penguras dalam bidang seksi keamanan.
"Hahaha, sudah jangan ganggu saya mandi gerah," kilah Ridwan.
"Uhuk, ah hatiku tergelitik."
"Kang ...."
"Ada apa, Le? Lucu sekali ketika merajuk sini saya cubit."
"Kang Husain, ya Rabb. Kang Hamdan lihat si galak kayak rentenir goda terus."
"Sudah, Kang mengalah pada anak kecil."
"Ok, siap Pak ketua."
"Kalian sama saja."
"Ahahahaha."
Ridwan memilih mandi sembari mengobrol ria bersama Hamdan dan yang lainnya. Dia terlihat ramah saat Kang pengurus mengajak bicara. Ia memang di kenal ramah serta baik hati pada siapa pun. Ridwan berharap Husain mau menjaga rahasia. Dalam obrolan dirinya terus ke pikiran obrolan sang sahabat.
Untuk Hamdan dan yang lainnya kepo tentang obrolan Ridwan dan Husain. Mereka melihat wakil pemimpin dan ketua keamanan tampak serius. Hamdan akan bertanya nanti di kamar apa yang di obrolkan.
Lain pada Husain tampak memikirkan Ridwan dan Annisa tadi. Sangat romantis bahkan terlihat sangat cocok. Pembawaan kalem di sanding dengan keceriaan. Mereka terlihat serasi saat mengobrol. Bahkan senyum mereka sama-sama manis. Husain menatap Ridwan intimidasi dan entah kenapa sedikit mirip Annisa. Jodoh mungkin makanya kalau di pandang terasa mirip.
...***❤'•'❤*** ...
Ridwan memutuskan untuk bekerja kantoran untuk membiayai sekolah Annisa. Walau gajinya cukup, tetapi terasa kurang pasalnya sudah menikah dengan Annisa. Uang gajiannya juga ia tabung serta mengirim ke rumah. Ridwan ingin membantu Ayah meringankan beban dengan membantu membiayai sekolah Faakhira dan Mumtaaz.
Walau kedua Adiknya mendapat beasiswa penuh. Namun, uang jajan, asrama, buku serta kebutuhan lain pasti di butuh kan. Ridwan banyak keperluan untuk hidup di sini, rumah, Adik-Adiknya dan terkhusus Annisa. Ia sudah menikahi gadisnya maka sudah sewajarnya menafkahi. Maka dari itu Ridwan melamar kerja di perusahaan besar dekat kampus.
Ridwan sangat senang pasalnya langsung di terima. Dia tidak menyangka langsung masuk Manajer keuangan. Ia awal S1 menjadi lulusan terbaik sarjana Teknik, S2 Bisnis Ekonomi dan terakhir Psikologi. Karena pekerjaan itu membuatnya cukup sulit menemui Anisa.
Bagaimana tidak sulit jika iya bekerja di kantor dan Dosen? Waktunya benar-benar terkuras apa lagi saat mengulang Diniah. Jadi ia hanya bisa mengulang Diniah di malam hari. Untuk sore hari dia tinggalkan. Ridwan benar-benar pusing waktunya terkuras habis.
Di sela kesibukan pasti Ridwan tidak lupa untuk tadarus Al-Qur'an. Dia tetap mengaji Al-Qur'an tanpa membaca. Hafalan kitab dan berakhir pening menghadapi tugas menumpuk. Ridwan mengusak rambutnya gemas merasa rindu pada Annisa.
Bagaimana keadaan Istrinya sekarang?
Lain sisi Annisa tampak murung memikirkan Ridwan jarang datang bahkan tidak pernah terlihat. Dia sampai bertanya pada Abah, tetapi tidak mendapat jawaban memuaskan. Ia kangen Suaminya bahkan selama 2 pekan berasa mati kutu. Annisa selama dua pekan pertama biasa saja saat Suaminya agak jauh. 2 pekan terakhir hidupnya hampa tanpa warna.
Seisi kelas menatap Annisa heran, kenapa bisa biang kerok murung? Biasanya Ning cantik begitu hiperaktif, cerobah, petakilan, bolos dan suka keributan. Sedangkan sekarang Ning Nisa berubah jadi kalem seolah kehilangan jati diri.
Lain sisi Hamdan semakin dekat, tetapi Annisa malah semakin jauh. Bahkan sekarang tidak ada gadis ceria nan ceroboh. Kini hanya ada Annisa si pendiam dengan wajah murung.
Sekarang malam kamis terlihat Annisa sedang sibuk mengerjakan tugas matematika dan Kimia. Di saat sedang konsen belajar ada yang mengetuk pintu. Ia hanya bilang masuk tidak di kunci. Namun, detik berikutnya mata besar Annisa berbinar terang mendengar salam dari seseorang yang sangat dirindukan.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Adek manis," salam Ridwan di sertai senyum manis.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas!" pekik Annisa penuh kebahagiaan.
Annisa langsung melempar buku paket entah ke mana. Tanpa babibu lagi dia berlari ke arah Suaminya. Saat sampai di depan sang Suami ia raih tangan untuk salaman dengan mengecup punggung tangann. Baru setelah itu Annisa langsung loncat untuk mengalungkan tangan di leher kokoh Ridwan.
Ridwan membalas pelukan Annisa tidak kalah erat. Ia dekap tubuh mungil Istrinya seerat mungkin guna menyalurkan rasa rindu membuncah. Dia jadi ingat kejadian satu bulan lalu saat Annisa-nya jujur menyukai pria lain lebih dari 2 tahun. Rasanya begitu menyiksa batin, tetapi ia sikapi dengan tenang. Ridwan membalas perkataan Annisa begitu lembut penuh akan pengertian.
Annisa menangis haru akhirnya Suaminya datang. Ia pikir Ridwan tidak mau bertemu perihal pengungkapan cinta pada pemuda lain. Dia ingat betul saat Suaminya begitu tenang merespons. Bahkan Annisa bisa merasakan betapa tulus Ridwan berbicara.
"Mas tidak akan memaksa atau pun mengekang. Perasaan tidak bisa di paksa untuk berpaling. Memang cinta itu suci tidak bisa berlabuh pada siapa pun. Mas sangat senang Adek mau terbuka serta mau jujur pada Mas itu luar biasa bahagia. Jadi, jangan paksakan kehendak hati untuk pindah haluan. Ikuti kata hati agar Adek yakin mana yang harus menerima atau menolak. Mas dan Adek kenal baru beberapa waktu belum bisa kenal begitu dekat. Maka dari itu Mas tidak akan memaksa Adek mencintai Mas. Cukup Adek konsentrasi belajar agar cepat lulus. Jangan pikirkan cinta karena itu belum saatnya. Yang harus Adek ingat jangan banyak pikiran. Jika sudah lulus nanti maka terapkan hati Adek untuk Mas atau untuknya. Mas siap menunggu sampai kapan pun karena seperti di awal Mas tempat Adek untuk pulang. Mas harap Adek bahagia selalu dan jangan lupa belajar dengan giat, Adekku."
Mengingat kata-kata itu hati Annisa berasa ditikam belati. Sebisa mungkin ia abaikan rasa pada Hamdan balik memikirkan Suaminya. Dan tanpa disadari olehnya bahwa Suaminya telah jadi atensi sejak awal. Namun, Annisa salah mengartikan semua.
Ridwan mengusap punggung Annisa yang bergetar menahan tangis. Dia mundur beberapa langkah untuk mengunci pintu. Ia takut kejadian Almadira terulang kembali. Cukup satu kali Ridwan keciduk tidak mau lagi.
Annisa mendongak menatap Ridwan penuh harap. Ia menangis sesegukan sehingga membuatnya bergetar. Dia terus menangis meminta Suaminya untuk tetap tinggal. Annisa takut Suaminya terus menghindar beberapa waktu ini.
"Jangan menangis Mas mohon," pinta Ridwan sembari mengusap air mata Annisa.
"Mas ke mana saja? Apa Mas tahu Adek sangat rindu. Adek sangat sedih saat Mas menghindar jauh. Hiks, huwee huhuhu Mas jahat membiarkan Adek sendiri," tangis Annisa histeris.
"Sstt, maafkan Mas Sayangku. Maaf atas segalanya karena selama ini Mas juga sangat merindukan, Adek. Maaf bukan maksud Mas begini karena Mas benar-benar sibuk. Mas akan selalu ada walau kita jarang berjumpa. Ingatlah bahwa Mas akan selalu bersama Adek."
"Hiks huhuhu," respons Annisa.
"Cup cup cup sayang jangan menangis, Mas mohon. Adek tersayang jangan menangis, Mas mohon."
"Mas jahat huwaaa huhuhu huhuhu."
"Oy Sayangku, Mas jahat. Namun, percayalah Mas begitu merindukan Adek dan tidak akan pernah meninggalkan Adek. Mas minta maaf, Dek."
"Huhuhuhuhu huwaaa."
"Maaf, Dek."
"Jangan tinggalkan Adek sendiri."
"Tidak akan, Dek."
Di rasa sudah tenang Ridwan melihat buku Annisa berserakan. Dia meminta Istrinya untuk melepas pelukan. Namun, apa daya Istrinya malah merengek tidak mau lepas. Ia langsung menggendong Istrinya bak pengantin. Ridwan menunduk untuk menurunkan Annisa. Tetapi, Istrinya tidak mau lepas.
Alhasil dia gendong Istrinya ala koala untuk membereskan buku sang Istri. Setelah selesai Ridwan duduk di pinggir ranjang. Ia pangku Istrinya masih betah merengkuh tubuhnya. Kalau begini Ridwan mirip koala yang selalu mengantungi anaknya. Sabar karena orang sabar tambah tampan menawan tidak terbantahkan, Uhuy.
"Duduk dulu di ranjang ada hadiah untuk Adek," bisik Ridwan.
Annisa mendongak menatap Ridwan meminta jawaban, "apa itu? Hadiah apa, Mas?"
"Surprise untuk Adek, makanya duduk di tepi ranjang biar Mas ambil," jawab Ridwan.
Annisa akhirnya beranjak dari pangkuan Ridwan beralih duduk di samping sang Suami. Bibirnya terkatup rapat ketika Suaminya berlutut di depanya. Dia berkedip saat Suaminya menyerahkan kotak bludru warna merah maroon. Apa Isinya membuatnya penasaran Annisa?
Ridwan berlutut menggunakan satu kaki di depan Annisa. Dia buka kotak bludru kotak memperlihatkan anting emas yang sangat cantik. Dia membelinya waktu melihat perhiasan cantik ini. Pasti Annisa semakin cantik menggunakan anting itu pikir Ridwan.
"Wow, cantik sekali ini, Mas. Ini untuk Adek?"
"Enggeh, itu untuk Adek sayang."
"Wow, serius, Mas?"
"Tentu serius wahai Istriku."
"Mas , ya Allah."
"Kemari peluk, Mas."
Annisa langsung berhambur memeluk Ridwan erat sembari mengatakan terima kasih berulang kali. Dia dengan manja minta di pakaikan anting. Alhasil Suaminya memakaikan anting cantik itu. Tentu saja Annisa sangat bahagia sewaktu Ridwan memakaikan anting.
Ridwan tersenyum manis ketika anting itu sudah terpakai di telinga Annisa. Dia rengkuh tubuh mungil Istrinya sembari mencium pipi mesra. Ia sangat bahagia Istrinya bahagia menerima pemberiannya. Karena sangat bahagia Ridwan mencium lama kening Annisa.
Oh hampir lupa, Ridwan merogoh sakunya untuk menyerahkan amplop putih berisi uang cukup banyak. Ini gaji pertama yang ia dapat. Sepertiga gaji ia ambil dan sepertiga lainya ia transfer ke Irak dan sepertiga untuk Anisa lalu keluarga Istrinya. Tetapi, mendapat tolakan sehingga Ridwan tetap bawa uang itu untuk sedekah pada fakir miskin.
Annisa terdiam melihat uang sangat banyak untuknya. Uang ini untuk siapa? Lalu Suaminya dapat dari mana? Annisa menatap heran Ridwan kenapa memberi uang sebanyak ini? Dia harap Suaminya tidak bekerja keras mendapatkan uang ini.
"Itu gaji pertama, Mas. Untuk Adek, gunakan uang itu untuk membeli buku atau keperluan Adek lainnya. Jangan beli sesuatu yang tidak berguna. Adek bisa bayar uang spp memakai uang ini (menyerahkan uang dari sakunya). Itu khusus untuk Adek, jadi jangan sungkan membeli apa pun asal bermanfaat."
Annisa menatap Ridwan tidak percaya. Uang sebanyak ini di berikan untuknya? Jadi ini alasanya kenapa Suaminya jarang mengunjunginya. Kenapa Suaminya sampai bekerja keras demi dirinya? Annisa tidak butuh ini semua karena uang ini milik Ridwan. Ia akan minta jika perlu sesuatu Itu juga pada kedua orang tuanya.
Ridwan terdiam sepi ketika Annisa malah menangis tersedu. Kenapa Istrinya menangis? Dia berusaha menenangkan sang Istri. Ia kecup punggung tangan Istrinya sembari tersenyum tulus. Ridwan seka air mata Annisa, tetapi Istrinya malah menahan tangannya.
"Adek tidak butuh uang ini, Mas. Adek hanya butuh Mas selalu ada di samping Adek. Mas sibuk di asrama dan kampus, kenapa harus bekerja lain? Tidak mau Mas, Adek tidak mau uang ini. Adek tidak mau Mas bekerja keras sampai lupa ada Adek. Mas manusia bukan robot yang memaksa kehendak. Cukup beri Adek seribu Pound itu lebih berharga dari pada ini semua. Demi Allah Mas jangan bekerja terlalu keras karena Adek masih punya tempat berteduh. Kelak jika Adek sudah tinggal bersama maka Mas boleh bekerja keras untuk kebutuhan rumah tangga kita. Sekarang tidak jangan lakukan itu, Adek mohon."
"Mas sudah sepatutnya bekerja keras, Dek. Ingat Adek sekarang adalah tanggung jawab Mas walau ada Abah dan Ummi yang menaungani Adek. Mas juga harus menafkahi Adek, pasalnya Mas sudah menikahi Adek. Jika seorang pria sudah siap menikah maka juga harus siap bertanggung jawab atas Istrinya dengan memberi nafkah. Demi Adek Mas rela bekerja keras guna mencukupi kebutuhan Istriku. Adek milik Mas maka sudah sewajarnya Mas melakukan itu ....,
... terima kasih sudah mencemaskan keadaan, Mas. Maaf mengabaikan Adek sampai lupa waktu. Jangan halangi Mas untuk memberi ini untuk, Adek. Mas bekerja juga untuk masa depan kita. Sekarang tersenyum jangan sedih Mas mohon. Mas tidak apa-apa sungguh jadi tidak perlu khawatir. Di setiap langkah hanya ada Adek untuk menjadi penyemangat. Berjanji jangan hentikan Mas untuk memberi segala kebahagiaan untuk, Adek!" tegas Ridwan.
"Mas bodoh, iya itu wajib, tetapi itu belum wajib saat kita belum mengumumkan hubungan. Cukup Adek tidak mau di bantah atau berdebat dengan Mas. Adek ambil 50 ribu pound sisanya untuk Mas. Saat bekerja menghasilkan uang ini Mas lupa Adek. Lebih baik Mas seperti biasa asal selalu bersama Adek!" sahut Anisa tidak kalah tegas.
"Tapi, Dek."
"Mas!"
"Tolong jangan keras Mas mohon."
"Terserah. Pokoknya Mas tidak boleh kerja sebelum mengumumkan hubungan kita!"
"Ya Allah, Dek."
"Mas pilih pekerjaan atau Adek?"
"Tentu saja, Adek."
"Kalau begitu jangan kerja jika hanya mengabaikan, Adek."
"....."
Perdebatan pertama mereka setelah menikah selama 7 minggu. Annisa yang keras kepala serta egois terus meminta Ridwan berhenti. Ridwan juga cukup keras membuat perdebatan. Baik Annisa dan Ridwan sama-sama menegakkan prinsip. Hingga Ridwan mengalah demi senyum Annisa. Benar saja Annisa langsung merengkuh Ridwan erat sembari mengatakan maaf dan terima kasih.
Keduanya saling merengkuh menikmati kebersamaan mereka. Ridwan dan Annisa begitu rindu akan waktu terkikis. Kini keduanya memilih tidur karena sudah malam. Lagian Ridwan sudah janji akan tidur bersama Annisa malam ini. Mendengar janji itu Annisa luar biasa senang.
...***❤❤To be Continued❤❤*** ...
...Bagaimana perasaan kalian setelah membaca chap ini? ...
...Maaf baru bisa update. Maaf juga buat kalian sedih....
...Salam hangat dari Rose_Crystal_030199 ...
...16_11_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
dengerin ning ! .
aku baru tau ceritanya di tahun ini😭