Likha Charina
Gadis desa yang merantau ke Ibu Kota Jakarta bersama temanya untuk bekerja. Bagaimana dia bisa hidup di tempat perantaun dan bagaimana dia bisa terjebak dengan pergaulan bebas.
21 +
di tunggu kritik dan saranya
jangan lupa vote like dan komen ya guys.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti solikhah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia
Jam lima sore adalah jam pulang kantor Bagas, Enik yang sedari jam empat sore sudah sampai di rumah, dan membaringkan tubuhny di atas ranjang kamar Bagas tanpa mengganti pakaian kerjanya terlebih dahulu.
Ia tau jika kamar yang biasa ia gunakan dengan Likha, saat ini di pakai untuk bermadu kasih sahabatnya.
Likha mengguncang tubuh Irfan yang masih memeluk dirinya.
"Bangun fan"
"eeemmmmmmm" hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"bentar lagi mas Bagas pulang iiihhh" kali ini Likha menggucang tubuh Irfan lebih kencang dari sebelumnya.
Irfan yang mendengar nama Bagas langsung terduduk kaget.
"Baju, baju mana baju" dia gelapan mencari pakainya yang ia lepas untuk berapa kali.
"Nih" Likha memberika pakaian Irfan yang ia ambil dari lantai.
"Makasih sayang" Irfan memeluk Likha dengan erat.
"Lebay iiihhh" Likha menggoyang-goyangkan tubuhnya yang di dekap Irfan sangat erat.
"sekali lagi yah sebelum aku pulang?" Irfan meminta melakukan hal ranjang kembali dengan merayu Likha dan menempelkan pipinya pada pipi Likha.
"emm" hanya itu yang Likha bisa ucapkan pada Irfan dengan memcibikan bibirnya sebal.
Dan mereka melakukan pergulatan kembali.
***
Sudah lewat dari jam kantor tapi kakak sepupu Likha tak kujung kembali ke rumah.
"Dah setengah sebelas malem kha, kok Mas Bagas belum pulang ya ?" Enik begitu panik menanti kekasih pujaanya itu.
Likha hanya diam tanpa menjawab ucapan Enik.
Dia sibuk memainkan handphonenya dan sesekali mengulas senyum di bibir tipisnya.
ketika jari jemarinya mengetik sesuatu di ponselnya.
"Kha" dengan nada kesal Enik duduk di samping Likha dan merebut handphone Likha.
"eh eh eh eh" Likha berusaha meraih handphonenya yang di ambil Enik secara paksa.
Mereka pun kejar-kejaran di dalam rumah.
Enik melupakan ke khawatiranya sesaat terhadapa Bagas yang tak kunjung pulang.
***
"kamu tidur dimana?" Likha bertanya pada Enik.
Yang memang jam sudah menunjukan jam dua belas malam.
"Di kamar Mas Bagas aja lah" Enik yang sebenenarnya belum mengantuk.
Karena rasa cemasnya terhadap Bagas.
"Kha...?" suara Enik menggantung di udara.
"Em" Likha menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya untuk melihat Enik.
"Kamu sama Irrrr faaannn....?"dengan suara semakin lirih, Enik tak melanjutkan pertanyaanya.
Ia takut melukai hati sahabat baiknya itu.
Likha kembali mendaratkan tubuhnya di samping Enik.
Agar lebih leluasa ia bercerita pada Enik.
"iya aku sudah memberikanya pada Irfan!" Likha tau yang di maksud Ebik.
Dan dengan entengnya Likha memberitahu Enik.
Enik yang mendengar Likha berbicara membuka mulutnya.
"sama apa yang kamu lakukan sama Mas Bagas" Likha menpertegas ucapanya dengan menggenggam tangan Enik.
Agar Enik tak memberitahu siapapun.
Dia percaya dengan sahabatnya itu.
Likha yang masih menggenggam tangan Enik dengan begitu erat.
Enik menumpukan tanganya di atas tangan Likha yang menggenggam tanganya.
Dan kini tangan mereka saling menggenggam.
Enik tersenyum pada Likha.
"Kita sama-sama jaga rahasia ini" Enik menarik tanganya dari genggaman Likha dan menarik tubuh Likha ke dalam pelukanya.
Likha membalas pelukan yang Enik berikan. Mereka saling berpelukan.
"Kenapa ini ?" suara menghentikan adegan haru Likha dan Enik.
Dan saling menjauhkan tubuh mereka.
Menoleh asal suara yang berada di ambang pintu .
"Mas Bagas !!" seruLikha dan Enik sedikit berteriak.
"hhhuuuussssttt" Bagas mengangkat jari telunjuknya dan menempelkan di bibirnya.
Dengan cepat Likha dan Enik juga menutup mulut mereka masing-masing.
Enik langsung berdiri dan menghampiri Bagas dan memberikan sebuah pelukan, yang mengandung kecemasan di dalamnya.
"Dari mana ?" Sembari melepaskan pelukanya.
"Kenapa dah kangen ?" Bukanya membalas pertanyaan Enik malah bagas bertanya balik pada Enik.
Dan menempelkan hidungnya di hidung Enik.
Enik mecibikan bibirnya.
Likha yang melihat pemadangan itu memutar bola matanya.
"Drama pun di mulai" Likha meninggalkan mereka berdua dengan kebucinan Enik.
"sirik ajah " Bagas meledek Likha yang akan menuju kamarnya.
"Ayoooo" Enik mengaitakan lengan tanganya pada lengan Bagas, dan mengajak Bagas masuk ke kamarnya.
Bagas yang tau maksud Enik pun mengulas senyum miring di bibirnya.
"begitu agresifnya dirimu" batin Bagas dengan menatap Enik penuh damba.
Dan mereka pun masuk ke dalam kamar dan tentunya melakukanya olah raga malam.
.
.
.
.
hai guys jangan lupa like vote dan komenya ya..
dan jangan lupa beri bintang lima.