Shira adalah pengasuh ke-14 yang berhasil bertahan lebih dari dua bulan dan satu-satunya pengasuh yang berhasil membuat Lulu - gadis kecil pemurung yang diasuhnya - tersenyum. Ia menyukai pekerjaannya, karena dia setulus itu mengasuh Lulu. Sampai suatu malam, Ruan - ayah Lulu - yang sedingin es kutub, memberikannya tawaran kerjasama dengan gaji lima kali lipat dan bonus gaji setiap hari! Tawaran fantastis yang tidak bisa diabaikan oleh seseorang yang sedang membutuhkan suntikan dana darurat seperti Shira.
Masalahnya kerjasama itu berupa pernikahan kontrak dimana Shira harus berperan sebagai istri sungguhan di depan semua orang. Kontrak itu akan diatur dalam pasal-pasal tertulis yang disepakati bersama, salah satunya adalah "Tidak boleh melibatkan perasaan pribadi dalam menjalankan peran."
Tapi masalahnya, ketika sandiwara membuat peran terasa nyata, Shira menyadari perasaannya telah melanggar pasal. Ia tidak lagi bisa meneruskan, apa lagi ketika ibu kandung Lulu datang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Menyelami Perasaan
Langit malam itu benar-benar menumpahkan hujan setelah Shira dan Ruan menumpahkan air mata penuh rasa lega. Bahkan malam itu, Lulu benar-benar ingin dibacakan buku cerita oleh Ruan. Jika keajaiban itu ada, maka Shira akan melihat malam ini adalah salah satu dari keajaiban yang nyata.
Shira duduk di atas kursi makan, dia menekuk kakinya di atas kursi dengan segelas susu putih yang masih agak panas di atas meja. Perasaannya ikut merasa terobati dengan apa yang telah terjadi. Seolah inner child yang masih terluka di dalam dirinya ikut merasakan kelegaan.
“Belum tidur?” Suara Ruan yang tiba-tiba muncul dari belakangnya membuat Shira sontak menurunkan kedua kakinya, sedikit kaget.
“Ga apa-apa kalo kamu nyaman seperti itu.” Ruan menarik kursi di sebelah Shira. Mereka sama-sama melihat air yang turun dari langit itu bercampur dengan air kolam renang melalui kaca jendela yang menghadap halaman belakang.
“Terima kasih.”
Dua kata itu membuat Shira termangu. Ia melihat Ruan yang kali ini tidak menampilkan karakter patung es nya yang dingin. Majikan berkedok suami itu kali ini menunjukkan bahwa dia juga manusia biasa yang juga mempunyai emosi.
“Sama-sama, Pak. Ini juga ga lepas dari bantuan psikolog dan Pak Ruan juga yang mau sabar dan ga maksain diri untuk mendekati Lulu.”
Ruan tersenyum.
Tunggu, dia tersenyum? Senyum beneran bukan senyum sinis!
“Kenapa liatin saya kayak gitu?” tanya Ruan pelan, sudut bibirnya masih mengukir senyum tipis. Benar-benar tanpa tatapan dingin seperti biasanya.
“Eh… ga apa-apa, Pak. Saya cuma hampir ga pernah liat Pak Ruan senyum kayak gini.”
“Maksudnya?”
“Senyum beneran, bukan senyum sinis.” Shira terkekeh pelan untuk mengalihkan debaran jantungnya yang mulai mengusik ketenangan.
Ruan terkekeh pelan, suara yang nyaris mustahil terdengar. “Saya juga manusia, Shira. Bisa senyum, bisa marah, dan bisa merasa… bersalah.”
Mereka berdua kembali dalam keheningan sejenak.
“Tapi tanpa kamu, mungkin Lulu masih mengurung dirinya di kamar, masih terjebak dalam aturan-aturan aneh Mamanya.”
Suasana damai hati Shira mendadak keruh saat kembali teringat apa yang sudah dilakukan mantan istri Ruan.
“Ngomong-ngomong, apa mantan istri Pak Ruan ga dilaporkan ke Komnas perlindungan anak?”
“Waktu itu saya udah hampir melapor, tapi keluarganya memohon untuk damai dengan alasan kesehatan mental Winda saat itu.”
Shira berdecak sebal, “Kok bisa Pak Ruan mau dijodohin sama perempuan kayak gitu, sih?” Namun detik berikutnya Shira menyesali ucapannya. “Maaf Pak, saya cuma…”
“Saya ngerti. Tapi saat itu saya pun ga punya pilihan lain selain menerima perjodohan dan berusaha menjalankan rumah tangga dengan baik. Tapi saya terlalu bodoh dan terlalu sibuk sampai lalai dengan banyak hal.”
Ruan menarik napas panjang lalu membuangnya pelan. “Karena itu saya setuju untuk damai karena saya rasa, apa yang terjadi pada Lulu juga karena kelalaian saya sebagai kepala rumah tangga. Jadi, saya hanya memberikan surat perjanjian agar Winda tidak boleh menemui Lulu jika hanya berdua. Harus ada yang mendampingi Lulu.”
Shira mengangguk, meski dadanya masih sesak menahan kesal, lalu menyeruput susu hangatnya pelan-pelan.
“Itu sebabnya Pak Ruan ga mau dijodoh-jodohin lagi? Karena trauma?”
“Hm,” Ruan mengangguk. “Bisa dikatakan… saya ga percaya dengan hubungan pernikahan lagi.”
Jleb.
Shira mengatupkan bibirnya, jemarinya menekan gelas tapi tidak sampai membuat gelas beling itu pecah. Entah kenapa, Shira merasa nelangsa mendengar pernyataan bahwa Ruan yang tidak lagi percaya pada hubungan pernikahan, entah kenapa dia merasa hatinya perih.
“Saya akan menaikkan gajimu.”
Satu kalimat itu malah semakin menampar Shira dengan realita yang tidak bisa dia hindari, bahwa dia telah menikah dengan seorang pria yang tidak akan pernah mencintainya dan realita lain bahwa pernikahan mereka tak lebih dari sebuah kerjasama yang saling menguntungkan kedua belah pihak.
Setelah obrolan singkat malam itu, Shira kembali ke kamarnya di lantai bawah yang kosong tanpa barang-barangnya. Dia termenung dengan perasaannya yang terkadang menimbulkan rasa-rasa asing yang seharusnya tidak perlu dia rasakan.
Ia berusaha menyelami perasaannya sendiri dan menegaskan bahwa selamanya pernikahan ini hanya sebatas kerja sama. Ia tidak boleh terbawa perasaan hanya karena sentuhan atau kata-kata manis Ruan. Bahkan kecupan pada kepalanya saat itu... itu semua ada dalam aturan main, bagian dari sandiwara demi citra di depan orang lain.
Jadi, Shira harus menguatkan dan memagari hatinya agar tidak terlena dengan sandiwara yang mereka perankan.
“Ga boleh baper Shira… ga boleh baper. Inget, semuanya cuma san-di-wa-ra.” Shira menegaskan pada dirinya, terlebih pada hatinya yang sempat terlena.
* * *
Lain halnya dengan Shira yang memagari hatinya, pagar pada hati Ruan justru sebaliknya. Ia teringat dengan bagaimana Shira menyebut Lulu sebagai anaknya sendiri. Ruan bahkan melihat sendiri bagaimana Shira yang tulus menyayangi putrinya.
Lalu apa yang membuatnya masih ragu?
Jika dulu dia ragu karena takut tidak ada yang bisa menyayangi Lulu, kini ketakutannya telah terpatahkan. Shira hadir dan menyayangi putrinya jauh sebelum dia menawarkan kerja sama.
Apa lagi yang dia ragukan?
Bahkan, dia telah melanggar prinsip hidupnya yang tidak pernah ingin ikut campur urusan hidup pribadi orang lain dengan mencari tahu tentang latar belakang keluarga Shira hanya karena dia merasa Shira telah diperlakukan tidak adil.
Dan akhir-akhir ini, pikirannya malah selalu dipenuhi bayangan wajah Shira. Saat pipinya memerah, saat wanita itu mengecup pipinya... Ruan masih bisa merasakan hangatnya sentuhan itu di kulit wajahnya meskipun dalam durasi yang sangat singkat.
Apakah ini pertanda? Bahwa pada akhirnya hati Ruan telah menyerah dan ingin memberikan kesempatan kembali?
.
.
.
Bersambung