Anna hanya seorang gadis biasa, ceria dan baik hati. Berubah menjadi gadis yang liar setelah seorang pria merenggut kesuciannya, peristiwa naas dari serangkaian peristiwa lainnya yang ia alami. Hingga suatu peristiwa membawanya ke dalam jerat cinta dua pria psikopat yang menginginkannya.
"Sesaknya beban hidup yang kujalani menghimpit jalan takdirku, membuatku harus berjuang keras tanpa hasil maksimal. Hanya karena aku kalah dalam segala hal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekecewaan Rangga.
Anna berdiri di balik pintu kamarnya mengintip dari celah pintu yang terbuka. Ia melihat Rangga tengah berjalan bersama Tasya menuju teras rumah. Kemudian ia melihat Alan pergi meninggalkan kamar Elama. Anna menarik napas dalam dala, lalu keluar dari kamarnya untuk menemui Elama.
Dengan ragu ragu ia mengetuk pintu yang sudah terbuka, lalu berjalan perlahan mendekati Elama yang duduk di tepi tempat tidur.
"Dari mana saja kau, Anna?" Elama melirik sesaat ke arah Anna.
"Maafkan Anna yang tidak memberi kabar pada Ibu, aku selama ini bekerja Bu." Anna menundukkan kepalanya sesaat. "Aku sudah membayar cicilan pertama pada Genzo tadi pagi."
Elama menoleh menatap sendu wajah Anna. "Benarkah?" tanya Elama.
Anna menganggukkan kepalanya, lalu ia merogoh saku celananya mengambil uang yang sengaja ia sisihkan untuk Elama. "Ini gaji pertamaku, Bu." Anna menyodorkan uang itu kehadapan Elama.
Elama menatap uang itu di tangan Anna, ia ragu untuk menerimanya. Tapi sudah berapa minggu, Alan tidak memberinya uang. "Buat Mama?" tanya Elama lagi.
Anna tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya Bu, ambillah."
Tangan Elama terulur mengambil uang di tangan Anna. Ia merasa sangat bersalah, putri yang tidak di inginkan begitu baik dan perduli kepadanya. "Sayang, terima kasih."
Meski ada rasa bersalah terhadap Anna, namun Elama enggan untuk meminta maaf. Terkadang ke egoisan lebih mendominasi dari pada harus merendahkan hati sekedar untuk meminta maaf.
"Walau tak seberapa, tapi itu hasil kerja keras aku." Anna berdiri.
"Kau mau kemana?" Elama menahan tangan Anna.
Anna menatap tangan Elama sesaat. "Aku harus bekerja lagi, Ibu."
Elama menarik tangannya kembali. "Baiklah sayang, apa kau mau, Mama buatkan bekal?" tanya Elama lalu berdiri.
"Jika Ibu tidak keberatan." Anna tersenyum, hatinya bahagia melihat sikap Elama yang begitu lembut terhadapnya.
"Baiklah, Mama buatkan makanan. Kau bersiap siaplah dulu."
Anna menganggukkan kepalanya, lalu berjalan kembali masuk ke dalam kamar. Sementara Elama menyimpan uang dari Anna di lemari pakaiannya. Setelah itu ia beranjak keluar kamar menuju dapur.
Tiga puluh menit berlalu, Anna telah selesai dengan dirinya. Sore ini ia harus kembali bekerja di club. "Bu.." sapa Anna.
"Eh, sayang. Kemarilah." Elama menaruh makanan di kotak berukuran sedang lalu memberikannya pada Anna. "Pas istirahat, kau makanlah ini."
"Terima kasih, Bu." Anna mengambil kotak makan itu lalu di masukkan ke dalam tasnya. "Kalau begitu, Anna berangkat dulu Bu."
Elama menganggukkan kepalanya, menatap punggung Anna. "Maafkan Mamamu ini Nak." Elama menghela napas dalam dalam.
Sementara Anna memilih keluar lewat pintu belakang, ia tidak mau Rangga tahu.
Sementara Rangga yang ada di teras rumah bersama Tasya, tidak sengaja melihat Anna keluar dari rumah lalu berjalan menuju tepi jalan raya. Rangga balik badan dan berpura pura jika dia ada janji dengan klien pada Tasya. Mau tidak mau, akhirnya Tasya mengizinkan Rangga untuk pulang. Setelah mendapat izin, Rangga bergegas masuk ke dalam mobil dan menyusul Anna yang masih berdiri di tepi jalan raya menunggu angkutan umum.
"Anna!"
Anna menoleh ke belakang, melihat Rangga keluar dari pintu mobil. Anna bergegas memutar tubuhnya berlari menjauh dari Rangga. Menyadari Anna menghindarinya, Rangga berlari menyusul Anna.
"Anna tunggu!"
Rangga menarik tangan Anna hingga mundur ke belakang menatap Rangga. "Aku mau kerja, jangan ganggu aku Rangga!"
"Aku tahu Anna, tapi izinkan aku mengantarkanmu." Rangga mencengkram tangan Anna dan tidak mau melepaskannya.
"Sakit tahu!" sungut Anna. Namun Rangga tidak perduli. "Ayo, aku antarkan kau." Rangga menarik paksa tangan Anna lalu ia membuka pintu mobilnya. Mendorong tubuh Anna supaya masuk ke dalam mobil. Setelah Anna duduk dengan tenang, lalu Rangga masuk ke dalam mobil.
"Apa salahku? kenapa kau menghindar dariku, Anna?" tanya Rangga menatap wajah Anna yang terlihat cuek.
"Rangga, sudahlah. Lagi pula di antara kita tidak ada hubungan apa apa. Kau tidak perlu mencampuri kehidupanku." Anna melirik sesaar ke arah Rangga.
"Apa karena Tasya?"
Anna tertawa kecil menatap Rangga. "Tentu saja tidak, kau mau tahu?"
Rangga menggelengkan kepalanya menatap tajam Anna. "Tidak."
"Hari ini, Genzo memintaku untuk menjadi istrinya." Anna tertunduk sesaat.
"Apa? dan kau menerimanya?" Rangga terkejut.
"Tentu saja, dari pada aku harus bayar hutang? bukan begitu?" Anna menatap wajah Rangga, ada raut wajah kekecewaan.
"Aku tidak menyangka, aku pikir kau beda. Ternyata sama saja." Rangga membuka pintu mobil. Lalu ia membuka pintu mobil lainnya menarik tangan Anna untuk keluar.
"Naif! seru Rangga lalu ia kembali masuk ke dalam mobil meninggalkan Anna terpaku di tepi jalan raya.
"Maafkan aku Rangga..aku tidak bermaksud menyakitimu. Semua ini aku lakukan demi kebahagiaan adikku satu satunya," ucap Anna pelan.
***
Keesokan harinya, Keluarga Alan di kejutkan dengan kedatangan keluarga Rangga. Kedatangan mereka hendak melamar Tasya untuk menjadi menantu mereka. Padahal sebelumnya mereka sempat memutuskan pertunangan antara Tasya dan Rangga. Tentu saja kabar yang di bawa keluarga Rangga membuat Alan senang.
"Jadi, bagaiaman Pak Alan? tanya Hardi.
"Tentu Pak, saya akan atur semuanya." Alan tersenyum lebar menatap Tasya yang menundukkan kepala, sementara Rangga menatap tajam Anna yang duduk di kursi belakang.
"Tidak perlu, kami yang mempersiapkan semuanya. Anda dan keluarga tunggu kabar kami selanjutnya." Hardi menjelaskan. Semua biaya pernikahan dan gedung yang akan mereka sewa ditanggung keluarga Rangga.
"Terima kasih, kabar ini sangat menggembirakan," timpal Elama sembari memeluk Tasya.
"Semua ini, kami lakukan demi putra semata wayang kami, Jeng." Widyawati tersenyum pada Tasya.
Setelah semuanya sepakat, dan di perbincangkan, keluarga Rangga berpamitan pulang. Sementara Rangga tidak ikut pulang. Pria itu masih ingin berbincang bincang dengan Tasya. Alan, Elama dan Tasya mengantarkan orangtua Rangga sampai teras rumah. Sementara Rangga hanya diam menatap kecewa pada Anna.
Anna berdiri lalu melangkahkan kakinya ke dapur, di susul Rangga. "Katakan padaku, kalau kau sakit hati Anna." Rangga memeluk Anna dari belakang, membuat gadis itu memberotak lalu melepaskan tangan Rangga yang melingkar di pinggangnya.
"Jaga sikapmu Rangga, kau calon suami adikku." Anna menatap tajam Rangga.
"Aku tidak ingin menyakiti siapapun, tapi kau telah membuatku seperti ini. Ingat Anna, aku menikahi Tasya hanya untuk menyakitimu." Bisik Rangga di telinga Anna. Lalu pria itu balik badan melangkahkan kakinya meninggalkan Anna yang berdiri terpaku mendengar pernyataan Rangga.
"Kenapa kau tidak mengerti Rangga, aku hanya ingin mendapatkan kasih sayang kedua orangtuaku. Hanya itu." Anna menundukkan kepalanya.
"Anna, kau sedang apa?"
Elama membuyarkan lamunan Anna, ia memalingkan wajahnya. "Anu Bu, aku mau buat bekal. Sore ini aku masuk kerja lagi."
"Oh, ya sudah. Mama buatkan ya?"
Anna menganggukkan kepalanya, lalu duduk di kursi meja makan. Sementara Elama membuatkan makanan untuk bekal Anna nanti.
Istilahnya pagar makan tanaman nih
penasaran
siapa yg akan dijodohkan dengan Anna
lanjutkan
Salam kenal kak💐💐