Pertemuan pertama kami hanya di dasari oleh menolong sesama. Menolong gadis kecil yang sedang di kejar - kejar oleh pria hidung belang. Dan menolong diriku yang sudah di tagih menikah oleh orang tuaku.
Siapa sangka akan ada hadirnya cinta di antara kami berdua. Aku tak pernah memperlakukannya dengan kasar. Karena aku tahu gadis ini sudah sangat tertekan dengan kehidupannya.
Dari awal pertemuan kami, gadis itu telah merebut sebagian hatiku. Melihatnya menangis tersedu - sedu membuat hatiku perih.
Namaku Muhammad Devan Melviano. Aku adalah seorang CEO di perusahaan keluargaku yang bergerak di bidang real estate yang bernama Melviano Corporation. Di usiaku yang ke 24 tahun ini aku sudah di suruh menikah oleh orang tuaku.
Gadis yang cantik itu bernama Chalista Indriana Safitri. Gadis cantik yang di jual oleh ibu tirinya sendiri kepada pria hidung belang.
Aku selalu berharap agar selalu bahagia bersamanya.
Chalista Indriana Safitri, aku mencintaimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nagyta Salma Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 20 - Perang Bantal
"Aduh, bagaimana ini? Aku tidak tahan lagi untuk tertawa. Bisa - bisa nanti rencana Mama Rena gagal deh karena aku tertawa. Aku harus bagaimana Ya Allah? Maafkan Yura Mama Rena kalau Yura tidak bisa menahan untuk tertawa lagi" batin Anyura di dalam hatinya.
Karena tidak tahan untuk tertawa, akhirnya Anyura membekap mulutnya sendiri agar tawanya tidak bisa lolos.
Memangnya bisa ya kalau kita membekap mulut kita ketika hendak menahan tawa, lalu mulut kita tidak akan meloloskan tawa? Namun nyatanya tidak! Itu semua tergantung kitanya yang pandai - pandai mengelola emosi, termasuk tertawa.
Devan dan Devin menyunggingkam senyumannya. Devan dan Devin tahu kalau Anyura tidak bisa menahan tawanya sendiri.
Devan dan Devin rasanya juga sangat ingin untuk tertawa. Namun Devan dan Devin masih bisa mengontrol emosinya, termasuk mengendalikan tawanya sendiri.
"Ah Yura, Kakak tahu kamu sangat ingin tertawa kan? Kakak juga ingin tertawa Yura. Mari bersama kita mengendalikan tawa kita" batin Devan sembari tersenyum geli.
"Sebentar lagi kita akan bebas tertawa Yura. Jadi Kakak mohon bersabarlah. Rencana kita sudah mau mencapai puncaknya" batin Devin sembari tersenyum kecil.
Namun sayang, realitanya tidak sesuai dengan ekspetasi Devan dan Devin. Anyura jusru tertawa dengan sangat keras. Sangkin kerasnya, tawa Anyura hampir memecahkan setiap gendang telinga yang mendengarnya.
"Hahahaha" tawa Anyura yang menggelegar di dalam rumah keluarga Melviano.
Dylan sontak saja terkejut dengan tawa Anyura yang menggelegar ke seluruh penjuru rumah keluarga Melviano.
Dylan melayangkan tatapan tajamnya kepada sang Istri. Dylan sangat yakin kalau yang satu ini adalah ulah dari sang Istri.
Serena memang di kenal sebagai sesosok wanita yang sangat jahil di keluarga Melviano. Tak jarang bagi Serena untuk merencanakan sebuah kejahilan.
Terkadang korban kejahilan dari Serena merupakan orang yang sangat dekat dengan Serena.
Haduh, Mama Rena kok jahil banget sih. Hayo siapa yang Mamanya atau dirinya sendiri suka jahil? Ngaku, ngaku.
"Apakah Mama yang merencanakan kejahilan ini?" tanya Dylan dengan tatapan tajam yang di layangkan kepada sang Istri.
"Eh, itu itu__" ucap Serena yang tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Dylan semakin mendekatkan dirinya kepada sang Istri yang sekarang sedang tergugup.
"Itu apa hah?" tanya Dylan sembari menatap tajam wajah sang Istri.
"Itu itu itu__" ucap Serena yang lagi - lagi tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Dylan semakin mendekatkan dirinya kepada sang Istri. Tapi kini bukan hanya tubuhnya saja, tapi juga wajahnya yang di dekatkan dengan wajah sang Istri.
"Itu itu itu__" ucap Serena yang lagi - lagi tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Kali ini bukannya mendekatkan wajah dan tubuhnya kepada sang Istri, Dylan justru pergi menuju sebuah kamar yang merupakan kamar Dylan dan Serena.
Kepergian Dylan bisa membuat Serena bernafas lega. Pasalnya karena sang Suami tidak mengintrogasinya lagi.
"Huh, akhirnya Papa pergi juga" batin Serena sembari menghembuskan nafas dengan lega.
Selepas kepergian Dylan, kini justru Devan, Devin, Serena, dan Anyuna yang melayangkan tatapan tajamnya kepada Anyura, pelaku yang melontarkan tawanya yang mengakibatkan kacaunya rencana yang sudah di susun sedemikian rupa oleh Serena.
"Yura, kenapa kamu tadi tidak bisa mengendalikan tawamu?" tanya Devan dengan tatapan tajam yang di layangkan kepada Anyura.
Anyura hanya bisa tertunduk tanpa berani untuk menatap wajah Devan, Devin, Serena, dan Anyuna. Rasanya Anyura ingin menenggelamkan dirinya di dasar bumi.
"Maafkan Yura Kak. Yura sudah berusaha untuk mengontrol agar Yura tidak tertawa. Namun nyatanya Yura tetap tertawa. Maafkan Yura Kak Devan, Kak Devin, Kak Yuna, dan Mama Rena" cicit Anyura sembari menundukkan pandangannya.
Serena menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sebenarnya Serena ingin yang terbaik dari drama keluarga yang di mainkannya tadi. Namun nyatanya realita tidak sesuai dengan ekspetasi.
"Kali ini Mama Rena memaafkanmu sayang. Tapi lain kali jangan di ulangi lagi" ucap Serena sembari menyunggingkan senyumannya.
Sontak saja Anyura langsung menatap wajah cantik milik Serena. Anyura langsung mengembangkan senyumannya. Begitu mudah caranya untuk membuat Anyura bahagia.
"Serius Ma?" ucap Anyura yang masih tak percaya dengan semua ini.
"Serius dong" ucap Serena sembari tersenyum senang.
Anyura langsung berlari ke arah Serena. Anyura langsung memeluk Serena dengan eratnya. Seakan enggan untuk kehilangan wanita sebaik Serena.
"Terima kasih Ma" ucap Anyura sembari memeluk Serena.
"Sama - sama" ucap Serena sembari mengusap lembut puncak kepala Anyura.
Sementara itu, Dylan berjalan mendekat ke arah Serena, Anyuna, Anyura, Devan dan Devin.
Terlihat di sana Dylan menyunggingkan senyuman misteriusnya. Dylan berjalan sembari membawa bantal di kedua tangannya.
Sontak saja Devan, Devin, Anyuna, Anyura, dan Serena mengerenyitkan dahinya karena melihat Dylan yang datang dari kamar Dylan dan Serena sembari membawa bantal di kedua tangannya.
Dylan langsung mengambil posisi duduk tepat di sebelah kiri Serena.
Dylan langsung menaruh salah satu bantal tersebut di depan Serena.
Bruk
"Ambil bantalnya Ma" ucap Dylan dengan nada dinginnya.
Karena merasa takut dengan sang Suami yang sudah mengeluarkan sifat dan nada dinginnya, Serena langsung mengambil bantal yang berada di depannya.
Puk
Dylan langsung memukul tubuh sang Istri dengan bantal yang ada di tangannya.
Seakan tak mau kalah, Serena pun ikut membalas serangan sang Suami.
Puk
Serena langsung memukul area berbahaya di tubuh sang Suami. Serena tahu kalau laki - laki di pukul area berbahayanya pasti akan segera merasakan sakit yang luar biasa.
Apakah kalian tahu apa yang Mama Serena maksud dengan area berbahaya di tubuh para laki - laki? Kalau kalian tahu ya Author tidak akan menjelaskannya. Kalau kalian tidak tahu ya silahkan di cari tahu sendiri. Hehehe.
"Aduh" ucap Dylan sembari memegang area berbahayanya yang telah di pukul oleh sang Istri.
Serena memberikan senyum mengejeknya kepada sang Suami. Sesekali Serena juga memberikan kedua jempolnya kepada sang Suami. Namun kedua jempol dengan posisi yang terbalik ya.
"Hahaha, hanya segitu kemampuanmu Papa? Kalau hanya segitu berarti Mama yang menjadi pemenangnya" ucap Serena sembari memberikan senyum mengejeknya kepada sang Suami.
Sontak saja Dylan langsung melepaskan tangannya yang sedang memegang area berbahaya di tubuhnya.
Dylan langsung mengambil bantalnya dan mulai menyusun strategi untuk mengalahkan sang Istri.
Puk
Dylan memukul tubuh sang Istri dengan bantal yang ada di tangannya.
Puk
Serena membalas pukulan sang Suami. Namun kali ini bukan di area berbahaya sang Suami ya, melainkan Serena memukul wajah sang Suami.
Haduh, ganas banget sih Mama Serena kalau lagi marah. Bahkan lebih ganas dari Singa lho. Ih, seram.
Puk
Puk
Serena langsung melayangkan dua pukulan di tubuh sang Suami. Tak tanggung - tanggung, Serena bahkan tak memberikan kesempatan kepada sang Suami untuk membalas pukulannya.
"Hiyaaa" teriak Serena ketika memukul tubuh sang Suami dengan bantal yang ada di tangannya.
*Puk
Puk*
Karena ada kesempatan, Dylan langsung melayangkan dua pukulan ke tubuh sang Istri dengan bantal yang ada di tangannya.
Tiba - tiba saja Anyura memberikan kode kepada Anyuna, Devan, dan Devin lewat kedipan matanya.
Anyura langsung mengajak Kakak Kembarnya untuk ikut bersamanya ke kamar.
Entah apa yang sedang di rencanakan oleh kedua gadis kembar ini. Yang pastinya saat ini hanya kedua gadis ini yang tahu.
Anyuna dan Anyura kembali dari kamar Anyuna dan Anyura menuju ke ruang keluarga di mana berada Serena dan Dylan yang sedang melakukan perang bantal, serta Devan dan Devin yang sedang menonton perang bantal yang di lakukan oleh Papa dan Mamanya.
Anyuna dan Anyura kembali ke ruang keluarga dengan membawa empat buah bantal. Masing - masing memegang dua buah bantal.
*Bruk
Bruk*
Anyuna dan Anyura langsung melemparkan salah satu bantal yang di bawa oleh Anyuna dan Anyura.
Anyura langsung memberikan kode kepada Devan dan Devin lewat kedipan matanya.
Devan dan Devin yang mengerti pun langsung mengambil bantal yang di berikan oleh Anyuna dan Anyura.
Anyura memberikan kode kepada Anyuna, Devan, dan Devin agar berjalan dengan hati - hati.
Rencananya Anyuna, Anyura, Devan, dan Devin akan membantu Serena untuk menghabisi Dylan.
Kini Anyuna, Anyura, Devan, dan Devin telah berada di belakang tubuh Dylan. Anyuna, Anyura, Devan, dan Devin bersiap siap untuk menghabisi Dylan dari belakang.
Puk
Puk
Puk
Puk
Empat pukulan langsung di layangkan oleh Anyuna, Anyura, Devan, dan Devin.
"Hiyaaaa" teriak Anyuna dan Anyura ketika memukul Dylan dari belakang.
"Perang bantal" teriak Anyuna, Anyura, Serena, Devan, dan Devin yang langsung menyerang Dylan.
TERJEBAK PERNIKAHAN SMA
makasih 🙏🙏