Pernikahan di atas penderitaan terjadi karena perjodohan yang sangat tidak kamu inginkan, namun karena kedua orang tua hanya bisa menerima takdir.
Perjodohan tidak selalu dalam masalah, terkadang salah satu di antara kedua pasangan memiliki perasaan dan simpati yang tidak bisa ia katakan, yang mana bisa membuat dirinya merasa dibakar api cemburu saat melihat pasangannya bertemu dengan teman yang tidak sejenis.
Rasa cemburu membuat seseorang melakukan hal yang tidak di inginkan pasangannya, walaupun dirinya sendiri tidak menginginkannya, namun karena api cemburu yang membakar akal sehatnya membuatnya melakukan hal yang harusnya ia tidak lakukan.
Wanita mana yang tidak sakit hati apabila anak di kandungannya tidak di akui oleh ayahnya sendiri.
"Dia bukan anakku, dia anak lelaki simpanan mu itu,!" teriaknya marah didepan ibu mertuanya.
Kecelakaan terjadi begitu saja karena kelalaian diri sendiri, koma selama beberapa tahun. hingga pada saat sadar semuanya seakan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon thalib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang
Sebulan telah berlalu, Satya hanya bisa tinggal di apartemen Yudha, semua rekening punyanya kini sudah di bekukan oleh Ibunya, dia bahkan diam diam tinggal di sana tanpa sepengetahuan keluarganya, Yudha tentu saja tidak tega melihat Satya menjadi gelandangan.
Keisya nampak sudah kembali ceria, perlahan demi perlahan dirinya sudah mulai menerima takdirnya, bahkan Keisya tak pernah lupa berbicara pada bayi yang ada didalam kandungannya sebelum tidur dan setelah bangun tidur.
Keisya sedang asik membuat sesuatu di dapur, Ibunya datang mencubit pipinya.
“Lagi buat apa sih, ceria banget,” ucap Ibunya.
“Lagi buat kue,” saut Keisya.
“Kue apa? Ini kenapa gosong,?” ucap Ibunya keheranan.
“Keisya sengaja, karena enak kalau gosong, gurih, dan ada kecut-kecutnya dikit,” ucap Keisya tertawa pelan.
“Kamu ada ada aja, jangan terlalu banyak buatnya, sayang kalau banyak baru gak habis, ibu mau ke kantor Ayahmu dulu bawakan bekal,” ucap Ibunya dan di angguki oleh Keisya.
“Cucunya Nenek baik baik yah,” ucap Ibunya mengelus perut ramping Keisya membuat wanita cantik tersebut tertawa geli.
“Hahahaha geli Bu, sana Ayah sudah tunggu, makanya buat lagi biar ada temannya nanti,” ucap Keisya tertawa dengan renyah.
“Kamu ada ada aja, Ibu berangkat,” ucap Ibunya dan di angguki oleh Keisya.
Satya menarik kursi dan duduk di samping Yudha dengan wajah datarnya.
“Apa mereka benar-benar tidak ingin melihatku lagi,?” tanya Satya.
“Aku tidak tau, tanyakan saja pada mereka,” ucap Yudha.
“Kenapa kamu selalu cuek padaku? Apa karena aku bukan siapa-siapa lagi? Atau kamu tidak ingin jika aku tinggal disini lagi?” ucap Satya dengan marah.
“Hah? Kenapa marah tiba-tiba begini, aku mengatakan yang sebenarnya jika aku tidak tahu, dan ini apartemen mu untuk apa aku keberatan jika kamu tinggal disini, aku hanya meminjam apartemen ini darimu,” ucap Yudha menggelengkan kepalanya bingung dengan Satya yang makin hari makin gak beres.
“Berikan kunci mobil,” ucap Satya.
“Kamu mau kemana,?” tanya Yudha menatap Satya dengan kebingungan.
“Aku akan bertemu dengan Ibu,” ucap Satya.
“Di meja,” saut Yudha.
“Jangan membuat Ibu makin marah, bicaralah baik-baik dan minta maaflah, Ibu sudah tua, umur segitu lagi gampang-gampangnya tersinggung dengan hal kecil,” ucap Yudha.
“Tidak perlu mengajariku,” saut Satya.
Satya melajukan mobilnya ke arah rumahnya, tak lama Satya sudah sampai dan memarkirkan mobilnya di garasi, lama Satya duduk di atas mobilnya nampak bimbang untuk turun dan menemui orangtuanya. Beberapa Saat kemudian Satya memberanikan diri untuk turun dan berjalan ke arah pintu. Satya membuka pintu, segera ia berjalan masuk dengan jantung yang sudah sangat berguncang hebat.
“Buat apa kau kemari,?” ucap seseorang perempuan dari belakang membuat Satya sangat kaget, refleks berbalik arah menatap Ibunya yang menatapnya dengan wajah kurang bersahabat.
“Kenapa Ibu mengambil semua hakku? Bahkan tabunganku di bekukan oleh Ibu, apa maksudnya,?” ucap Satya.
“Jika hanya ingin mengatakan hal itu, sebaiknya kamu keluar..!” ucap Ibunya dengan tatapan tajam.
“Apa aku bukan anak Ibu? Kenapa Ibu sangat membenciku,” ucap Satya.
“Apa Ibu harus mengulangi dan menceritakan semua hal yang kamu lakukan? Hah?” ucap Ibunya dengan wajah yang sudah marah.
“Kenapa diam? Ucap Ibunya tersenyum miring.
“Kenapa kalian membela wanita itu? Aku mengatakan hal yang sebenarnya, anak yang didalam kandungannya bukan anakku! Aku tidak pernah menganggapnya....” ucapannya terpotong oleh tamparan Ibunya.
“PLAKKKKK....” tamparan yang begitu dahsyat mendarat di pipi Satya, pelayang yang melihatnya segera pergi dari sana takut jika akan ikut dalam masalah ini hanya karena mendengar semua pembicaraan mereka.
“IBU TIDAK PERNAH MENGAJARIMU BERPRILAKU SEPERTI ITU....! IBU BERHARAP KAMU BISA MEBJADI ORANG YANG BERTANGGUNG JAWAB DALAM SEMUA HALLL....! KAMU BAHKAN MENGATAKAN HAL YANG TIDAK SEHARUSNYA KAMU KATAKAN, HAL YANG MEMBUAT SESEORANG AKAN TERLUKA, APA SEBEGITU BODOHNYA KAMU SATYA! KENAPAA KAMU SANGAT BODOHHHHHH...! IBU MENYESAL PUNYA ANAK BODOH SEPERTI MU...! JANGAN BANYAK MEMBANGGAKAN DIRIMU YANG BODOH ITU..!” ucap Ibunya dengan air mata yang menetes.
“Ada apa ini? Ribut sekali,” ucap seseorang pria muncul.
“KAUUUU....!” ucap Ayahnya menatap tajam Satya, wajah Ayahnya kembali memerah saat melihat istrinya menangis.
“ANAK SIALANNNN....!” teriak Ayahnya
“BUKKKK...!”
BUKKKKK
BUKKKKK
“AYAHH HENTIKAN..!” teriak Bu Adriana menarik suaminya yang membabi buta menghajar putranya sendiri.
“KAU BUAT MALU KELUARGA...! BAHKAN KAU SUNGGUH BERANI MEMBUAT IBUMU MENETESKAN AIR MATA DENGAN SIKAPMU ITU...!” ucap Ayahnya emosi yang menggebu-gebu.
“Kalian bukan Ayah dan Ibuku, jangan pernah mencariku lagi,” ucap Satya dengan suara pelan berusaha berdiri dengan sekuat tenaga, pergi dari sana dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
“AHHHGGGGGGG......!” teriak Satya memukul setir mobilnya.