Kisah seorang mahasiswi, berasal dari keluarga berada dan di jodohkan paksa dengan seorang pengusaha muda tampan dan berbakat. Namun sayangnya mereka tidak saling mencintai, hingga akhirnya beberapa peristiwa membuat hubungan keduanya berubah setelah kehadiran orang ketiga...
Akan kah keduanya saling mencintai, atau semakin membenci...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom mimu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20.
"Apa kamu terluka?" Tanya Luis cemas seraya melihat ke arah kaki Lulu yang tersandung.
"Aku baik-baik saja, Is! lebih baik kita cepat pergi saja sekarang, ayo!" Seru Lulu.
Baru saja mereka hendak menyentuh gagang pintu, seseorang di belakang mereka berteriak memperingati.
"Berhenti! apa yang kalian berdua lakukan? kalian mau maling, ya?" Cecar Jimmy.
Tak terima dengan tuduhan laki-laki laknat di belakangnya, Luis segera membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah sumber suara yang sudah menuduhnya. Seketika kedua mata Jimmy membulat. Dia tak percaya, jika sang pemilik hotel lah yang menyusup ke kamarnya.
"Tu... Tuan Luis, kenapa anda bisa menyusup ke kamar saya, apa anda memerlukan bantuan? katakan saja, Tuan! saya pasti akan membantu sebisa mungkin!" Tutur Jimmy tanpa tau malu.
"Cih! bantuan seperti apa yang kamu maksud?" Ejek Luis. Sementara itu, Lulu masih enggan berbalik. Hatinya masih belum siap untuk menghadapi kekasih bajingan nya itu.
"Apa pun yang Tuan mau, saya akan memenuhinya! tapi dengan satu syarat, yaitu kerjasama!" Sahut Jimmy. Dia bersikap setenang mungkin dan mencoba mengulur waktu Luis agar tak cepat pergi dari kamar hotelnya.
Sepertinya, Jimmy juga takut jika Luis menjebaknya. Sehingga Jimmy berusaha mengulik alasan Luis menyusup ke kamarnya.
"Hm... sayang sekali! aku benar-benar tidak tertarik bekerjasama dengan agensi murahan milikmu!" Ejek Luis memancing emosi Jimmy.
"Aku akan pergi sekarang! tapi sebelum pergi, aku akan memberitahumu alasanku kemari!" Ucap Luis lagi.
"Sialan! berani-beraninya dia menghina pekerjaanku! jika saja aku tidak sedang memerlukan bantuan dari perusahaannya, aku pasti sudah menonjok wajah tengilnya itu!" Batin Jimmy.
"Ya Tuhan, semoga Luis tidak memberitahu alasan yang sebenarnya kami menyusup! aku belum siap menghadapi pria brengsek itu!" Batin Lulu.
"Saya tidak akan mempermasalahkannya, Tuan! saya akui, jika agensi saya memang belum ada apa-apanya di banding bisnis Tuan yang ada di mana-mana dan maju. Tapi saya yakin, jika Tuan Luis mau bekerjasama, agensi saya ini pasti bisa berkembang lebih maju juga!" Tutur Jimmy.
"Ok, akan aku pikirkan permohonan mu itu! tapi, apa kamu benar-benar tidak penasaran bagaimana aku bisa berada di kamar hotel ini?" Sahut Luis berpura-pura menanggapi permohonan Jimmy, padahal dirinya sangat enggan bekerjasama dengan agensi kotor milik Jimmy.
Seketika, wajah Jimmy berubah pucat. Dia khawatir jika Luis melihat kelakuan bejatnya menggagahi sang model kesayangan.
"Me...memangnya, apa alasannya?" Tanya Jimmy memberanikan diri.
Karena tak mau mendengar Luis menjelaskan alasannya menyusup, Lulu akhirnya meraih gagang pintu dan hendak keluar dari kamar tersebut. Namun sebelum itu terjadi, pergelangan tangan Lulu di cekal oleh Luis.
"Jangan dulu pergi! kamu harus mengatakan sesuatu pada pria ini!" Ucap Luis.
"Lepaskan aku, Is! aku sudah tak mau melihat wajahnya lagi!" Sahut Lulu yang membuat Jimmy membulatkan matanya kembali.
"Kenapa suara ini mirip dengan suara Lulu?" Batin Jimmy.
"Setidaknya kamu harus memberinya sedikit pelajaran, Alula Mikayla Herlambang!" Ucap Luis lantang seraya menyebutkan nama Lulu dengan lengkap.
Tak berani membantah lagi, akhirnya Lulu membalikkan tubuhnya ke arah Jimmy.
"Sa...sayang, kenapa kamu bisa bersama dengan Tuan Luis? Bukannya kamu bilang, kamu sudah di jodohkan dengan cucu Tuan Satrio, ya?" Tutur Jimmy.
"Itu bukan urusanmu! mulai sekarang, aku mau kita putus untuk selamanya! aku juga berharap tidak akan bertemu denganmu lagi dimana pun! ayo, is kita pergi!" Ucap Lulu seraya menarik tangan Luis keluar dari kamar laknat tersebut.
"Sayang! tunggu, sayang! kamu pasti salah paham! sayang, aku benar-benar masih mencintai kamu, Lu! Alula! tolong dengar penjelasan ku!" Seru Jimmy mengejar seraya hendak mencekal tangan Lulu.
Namun sayangnya dia harus gagal karena Luis menepis kasar tangannya.
"Jangan coba-coba menyentuhnya lagi! kamu pikir kamu masih pantas mengejar cinta Lulu? jangan mimpi!" Ucap Luis.
"Heh! aku pikir kalian berdua benar-benar cocok! kalian juga sebenarnya tidak kalah bejatnya dengan aku! kalian juga pasangan yang selingkuh, kan? dasar munafik!" Ejek Jimmy yang membuat Luis naik pitam dan mendaratkan bogem nya di wajah Jimmy.
"Kurang ajar!" Ucap Luis seraya melayangkan bogem nya.
Bug...
Tak terima mendapat serangan dadakan, Jimmy pun akhirnya bangkit dan membalas Luis dengan membogemnya juga di tempat yang sama, yaitu wajahnya.
Bug...
"Luis!" Jerit Lulu seraya menghampiri Luis yang tersungkur akibat perlawanan Jimmy yang sama-sama menyerangnya tiba-tiba.
"Hentikan, Jim! aku mohon jangan lanjutkan perkelahiannya! aku akan menganggap semua ini tidak pernah terjadi, tapi aku mohon biarkan kami pergi sekarang!" Bujuk Lulu seraya membantu Luis berdiri.
"Kenapa kamu masih membelanya, Lu? seharusnya kamu mengobati luka di wajahku, bukan membela pria tengil ini!" Sahut Jimmy.
"Sudahlah, kamu bisa meminta model mu itu untuk mengobati lukamu! aku akan pergi sekarang!" Ucap Lulu seraya memapah Luis menjauh dari Jimmy yang masih mematung di tempatnya sambil menahan nyeri.
"Sialan! aku belum mendapatkan keperawanannya sampai sekarang? pokoknya aku tidak boleh menyerah, aku akan terus mengejarnya hingga berhasil membobol segelnya itu!" Gumam Jimmy seraya mengusap ujung bibirnya yang sedikit berdarah karena robek.
Lulu terus memapah Luis hingga tiba di lobi hotel. Dengan segera, Lulu meminta kotak P3K pada resepsionis dan mulai mengobati luka robek di bibir Luis. Dengan perlahan, Lulu mencoba membersihkan bercak darah yang hampir mengering terlebih dahulu. Posisi wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Luis membuat siapa pun menyangka mereka tengah berciuman. Seperti seorang paparazi suruhan seseorang yang saat ini tengah memanfaatkan momen mereka tersebut dan memotret mereka dari tempat tersembunyi.
"Kamu benar-benar cantik luar dan dalam, Lu! aku semakin menyukaimu!" Batin Luis seraya menatap wajah Lulu yang tengah fokus mengobati lukanya.
"Berhasil! ini pasti akan jadi sumber uang bagiku!" Ucap paparazi tersebut seraya memasukkan kembali kamera miliknya.
"Sudah! sebaiknya kamu sekarang pulang saja, aku juga harus kembali ke apartemen Dev sekarang!" Ucap Lulu setelah kembali dari meja resepsionis untuk mengembalikan kotak P3K.
"Apa kamu baik-baik, saja? aku bisa menemanimu sebentar lagi jika kamu mau!" Sahut Luis seraya mencoba menggenggam tangan Lulu. Namun Lulu segera menghindar dan menjaga jarak diantara mereka.
"Tidak perlu, Is! maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi kena tonjok Jimmy. Tapi apa yang dikatakan Jimmy tadi membuat aku berpikir, kita memang tak seharusnya berduaan seperti saat ini, orang-orang bisa saja salah paham mengartikannya. Bagaimana pun juga aku sudah menikah! jadi kita harus tau batasan masing-masing. Aku pulang duluan, ya!" Tutur Lulu seraya beranjak dan melenggang pergi setelah berpamitan.
"Kenapa kamu memilih jalan yang sulit, Lu? Devin belum tentu mencintai kamu, tapi kamu malah mempertahankannya meski dia sering membuat kamu sakit hati!" Batin Luis seraya menatap kepergian Lulu.
.
.
.
.
.
See you next bab... 😘
3 like mendarat buatmu thor. semangat ya.