Rasa cinta itu justru tersadar, ketika cemburu dirasakannya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Elsa
...Benar kata orang, cinta itu indah tapi jika cinta itu tidak terbalaskan, apakah masih indah?...
Awan putih seperti kapas terhampar di langit yang biru. Berjalan perlahan tertiup angin yang semilir. Fandi menghela napas panjang saat duduk di sebuah bangku taman dan di bawah pohon besar, tentunya dengan Elsa.
"Sejuk banget kayak di kota gue, bisa betah lama-lama di sini." Fandi menyandarkan badannya dan menghirup udara dalam-dalam.
"Iyalah, ini kan tempat favorit gue," tentunya bersama Elang. Dari kecil gue sama Elang sering ke sini, bahkan bersama keluarga kita. Tapi kenapa sekarang gue ajak Fandi ke sini? Apa karena Fandi sekarang spesial buat gue. Elsa melamun sesaat sambil menoleh ke kanan dan kiri menikmati kenangan yang sempat terlintas.
"Sama Elang?" pertanyaan Fandi membuyarkan lamunan Elsa.
"Nggaklah," dan lagi Elsa berbohong. "Gue ke sini sama Anna."
"Lo gak dicariin nyokap lo kan? Soalnya kata Elang tadi lo suruh langsung pulang."
"Udahlah gak papa. Gue tinggal cari alasan aja sama nyokap gue. Emang nyokap gue kadang suka over protektif. Tiap hari Elang suruh deket-deket gue. Elang suruh jagain gue. Padahal kan gue harus berkembang juga, gak harus monoton dan deket sama Elang terus," cerita Elsa yang sebenarnya membuat Fandi cukup tanggap dengan hubungan Elang dan Elsa.
"Orang tua kamu dan Elang deket?" tanya Fandi untuk bisa memperkuat dugaannya.
"Iya, bokap gue sama bokap Elang itu sahabatan. Sampai bokap gue meninggal, keluarga kita masih tetep deket kayak saudara sendiri." suara Elsa memelan. Elsa masih ingat jelas, saat-saat indah bersama ayahnya.
Fandi kini menatap Elsa dan menangkap raut kesedihan Elsa, "Sorry, bukan maksud gue ngingetin lo."
Elsa menggeleng sambil menarik napas dalam, "Gak papa kok. Kenangan itu kan untuk diingat, seburuk apapun itu."
"Yah, lo benar. Gue juga pernah merasakan kehilangan nyokap gue. Gue merasa kehilangan banget."
"Jadi lo juga..."
"Yah, tapi gue yakin itu pasti jalan yang terbaik." Bicara soal kehilangan Fandi teringat lagi tentang Erika. Kehilangan yang begitu dalam kali kedua yang dia rasakan. Bahkan rasa salah dan penyesalan itu terus menghantuinya.
"Hei, kok bengong?" Elsa menyadarkan Fandi dari lamunannya.
Tersadar, Fandi meraup wajahnya sendiri agar berhenti memikirkan Erika.
"Lo kenapa? Mikirin cewek lo yang ada di Bandung?"
"Cewek? Gue gak punya cewek."
"Lalu, cewek yang ada di foto facebook lo itu?"
Fandi teringat akun lamanya sebelum dia hapus, "Oo, itu mantan gue. Dia, udah ninggalin gue...." hanya itu yang bisa Fandi ceritakan.
"Ninggalin lo sama cowok lain?"
Fandi terdiam, dia belum bisa menceritakan semua pada Elsa.
"Hmm, ya udahlah gak usah dibahas. Itu kan masa lalu." Elsa tersenyum. Meski sebenarnya dia masih begitu ingin tahu tentang cewek itu karena pada dasarnya Elsa memang memiliki rasa kepo yang tinggi.
"Ya, dan gue maunya sih mikirin yang ada aja saat ini." Fandi malah tersenyum menggoda Elsa memberi kode keras.
Pipi Elsa bersemu merah, kini dia begitu gerogi. Seperti ada sengatan listrik yang membuat jantungnya berdebar tak karuan. "Yang ada? Emang siapa?"
"Ya, lo-lah. Yang ada saat ini di dekat gue kan lo."
Elsa mengalihkan pandangannya agar tidak menatap Fandi yang kini masih terus menatapnya.
"Dan, gue akan berusaha agar lo gak akan hanya jadi sejarah gue."
Seketika Elsa menoleh dan menatap Fandi yang tersenyum manis padanya, "Gak usah gombal deh, kita kan baru kenal."
"Kalau yakin, gak ada salahnya kan berharap."
Elsa tidak bisa berkata lagi, dia hanya bisa menatap Fandi.
...***...
"Jadi, lo sendirian jagain ibu lo?" tanya Elang yang kini duduk di samping Dea sambil menunggu Ibunya yang tertidur lemah di ranjang rumah sakit.
Dea mengangguk, "Ayah gue ninggalin kita tanpa tanggung jawab. Emang semua laki-laki itu brengsek." suara pelan Dea masih terlihat kalau dia masih begitu kesal dengan ayahnya.
"Gak semua laki-laki itu brengsek." Elang tidak setuju dengan penilaian Dea.
"Ya, itu karena lo sendiri laki-laki."
"Tapi gue gak."
"Itu karna lo belum ngerasain."
"Gue gak suka nyakitin cewek."
"Lo gak sadar aja."
Elang terdiam, kalau debat sama Dea sudah pasti tidak ada habisnya. Lebih baik dia yang mengalah dan bicara perlahan dengan Dea. "Apa yang lo alami sebaiknya jangan lo jadiin ketakutan akan hidup lo. Lo bisa merubah semuanya kalau lo punya keinginan."
"Gue takut, gue takut sakit hati kalau..." Dea menghentikan perkataannya. Hampir saja dia keceplosan. Kalau saja dia terus-terusan menyukai Elang.
"Kalau?" Elang bertanya dan semakin mendekat ke wajah Dea karena kini Dea hanya menunduk.
Dea langsung berdiri. "Bukan apa-apa." Dea mengusap rambut ibunya yang kebetulan juga terbangun saat itu.
"Dea kamu udah pulang?"
"Udah Ibu, gimana keadaan Ibu udah baikan?"
"Udah, Ibu tadi tanya sama dokter katanya Ibu boleh pulang besok." Bu Ratih sedikit memaksakan senyumnya lalu matanya kini beralih menatap Elang yang berdiri di dekat Dea. "Kamu sama siapa?"
Elang langsung melangkah maju dan bersalaman dengan Bu Ratih, "Elang tante, teman sekolah Dea."
"Dea, tumben kamu bawa temen, cowok lagi."
Elang tersenyum sambil menggoda Dea dengan bisikan, "Jadi gue yang pertama dong."
"Apaan sih lo!" Dea sengaja menyenggol lengan Elang agar berhenti menggodanya di depan Ibunya.
"Nggak apa-apa Dea, Ibu seneng kamu sekarang sudah punya temen."
"Memang benar Dea gak pernah punya teman?" sesuai apa yang diduga Elang selama ini. Hidup Dea kesepian. Benar-benar kesepian.
"Lo gak usah tanya yang macem-macem deh. Lo udah tau juga," bisik Dea.
"Udah, Dea gak papa. Selama ini Dea cuma mikirin Ibu, gak pernah dia menikmati masa mudanya. Gak pernah bermain dengan temannya, Dea cuma di rumah bantu Ibu dan belajar."
Dea memajukan kursinya dan duduk agar bisa lebih dekat dengan Ibunya. "Ibu, yang Dea punya kan cuma Ibu. Ngapain juga Dea mikirin yang lainnya."
"Dengerin Ibu, hidup itu luas. Kamu itu pinter jadi juga harus pinter bergaul. Asal kamu gak salah pilih teman."
Kasian Dea dan Ibunya. Kenapa gue jadi baper gini sih liat mereka. Gue jadi kepikiran orang tua gue, udah balas budi apa gue selama ini. Gue malah kadang suka usil sama mereka. Eh, tapi kan gue kayak gini juga nurun dari orang tua gue. Elang tenggelam sendiri dalam pikirannya, lalu dia tersadar saat Bu Ratih menanyakan makan siang pada Dea.
"Tante, saya keluar sebentar," Elang terkesan terburu-buru. "Dea lo tunggu sini, jangan kemana-mana." Elang membalikkan badannya dan bergegas pergi.
Dea melihat heran, "Ya jelas gue gak kemana-manalah."
Bu Ratih hanya tersenyum melihat tingkah mereka lalu timbullah pertanyaan aneh setelah Elang pergi. "Elang pacar kamu?"
"Bukan. Elang itu temen Dea, baru juga deket. Lagian dia itu usil banget." Dea berusaha menutupi perasaannya pada Elang. Meski sebenarnya dia sering berkhayal menjadi pacar Elang, tingkah usilnya itu sudah menjadi daya tarik tersendiri.
"Tapi keliatannya Elang itu cowok baik." Bu Ratih bisa melihat kebaikan Elang meskipun baru pertama kali melihatnya.
"Ya, emang baik." Dea membenarkan penilaian ibunya. Sangking baiknya sampai gue susah banget lupain perasaan gue sama Elang.
Dea terdiam beberapa saat sampai Elang datang kembali. Dea langsung menoleh ke arah Elang.
"Gue laper, jadi gue beliin lo makanan dan bubur buat ibu." Elang menaruh tiga bungkus makanan di atas meja dekat ranjang Bu Ratih.
"Elang, gak usah repot-repot."
"Gak papa tante, gak ngerepotin. Saya malah seneng bisa bantu tante dan Dea. Kalau ada perlu apa-apa jangan sungkan-sungkan bilang sama saya. Elang siap membantu." Senyum yang penuh kehangatan itu terlempar dari bibir Elang. Dea hanya bisa terpaku melihat Elang.
"Lang, ma-" belum juga bilang makasih, tiba-tiba handphone Elang berbunyi. Elang langsung mengambilnya, melihatnya sesaat lalu dengan segera menjawab panggilan itu dan sedikit menjauh dari tempat Dea. Dea hanya mengernyitkan dahinya, apakah telepon dari Elsa?
"Iya, halo tante." Yah, rupanya itu panggilan dari tante Difi.
"Elang, kamu sama Elsa kan sekarang? Kok kalian belum pulang?"
Suara tante Difi langsung membuat perasaan Elang tidak enak. Elsa belum pulang sampai sekarang dan gak ngabarin mamanya sama sekali. Fandi benar-benar sudah meracuni pikiran Elsa.
"Hallo, Lang?" Karena tak ada juga jawaban dari Elang, tante Difi menjadi sedikit panik.
"Iya tante, Elsa sama aku kok. Kita lagi ngadem di taman. Bentar lagi pulang," dan dengan terpaksa Elang harus berbohong, daripada tante Difi panik dan Elsa kena marah.
"Ya udah, hati-hati yah," panggilan pun terputus. Tante Difi memang begitu percaya dengan Elang. Lalu yang jadi masalah Elang sekarang, dimanakah Elsa?
Elang mematung sesaat sambil berpikir dan dia tidak sadar jika sekarang ada Dea di dekatnya. "Lang?" panggil Dea menyadarkan Elang.
"Sorry, gue harus balik sekarang." Elang begitu sangat terburu, dia mengambil tasnya dan berpamitan pada Ibu Ratih.
"Lang, lo gak makan dulu?" tanya Dea sebelum Elang melangkah keluar.
"Gak, buat lo aja yah. Sorry gue buru-buru."
"Lo mau cari Elsa kemana?" Akhirnya Dea mampu menanyakan itu. Dea jadi ikut berpikir, bagaimana bingungnya Elang saat ini. Dea sadar, cinta Elang memang terlalu besar buat Elsa.
"Gue gak tau, gue pergi dulu ya." Elang membalikkan badannya dan bergegas pergi.
Dea mau memanggil Elang lagi tapi dia urungkan. "Makasih Elang." gumam Dea sambil membalikkan badannya dan kembali ke tempat duduknya.
Seandainya cinta ini tidak pernah ada, mungkin aku tidak akan merasakan luka yang seperih ini....