"Zahra, hari ini kamu bertunangan," ucap sang ummi kepada putri kesayangannya yang baru saja pulang bekerja. "Bertunangan? Apa maksud Ummi?" Zahra Alia, gadis cantik berusia 29 tahun yang dihadapkan pada perjodohan dengan seorang ustadz tanpa sepengetahuannya. Zahra ingin kabur karena bukan pernikahan seperti itu yang ia harapkan, karena cinta Zahra hanya untuk Alexander, sahabat baiknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asda Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Jujur
"U-ummi, A-ra hanya ingin ke kamar mandi kok," ucap Zahra gugup namun berusaha untuk tetap tenang.
Berbohong, kini mengatakan hal yang tidak jujur mulai menjadi kebiasaan Zahra. Ia tidak ingin mengatakan hal yang sesungguhnya kepada ibunya karena ia sangat yakin dan percaya kalau ummi Fatimah pasti tidak akan membiarkannya bergerak sedikitpun apalagi sampai kabur.
"Zahra, jika ingin ke kamar mandi kenapa harus mencabut slang infusnya?"
Ummi Fatimah berjalan mendekati putrinya dengan tatapan lurus ke depan, seolah beliau tidak ingin sedikitpun melewatkan bola matanya untuk menangkap gerak-gerik sang putri.
"Infus ini terlalu merepotkan, Zahra tidak bisa bergerak bebas, Ummi."
"Tapi kamu berdarah, Sayang."
Ummi Fatimah berusaha menarik lembut tangan putri kesayangannya itu, namun Zahra segera mengelak dan menyembunyikan tangannya di balik punggungnya.
"Zahra, apakah kamu ingin mati? Apakah kamu sudah menyerah dengan takdir dan jalan hidup yang telah Allah tetapkan, Nak?"
Ummi Fatimah memegang kedua bahu Zahra, menggoyang-goyangkan tubuh Zahra dengan gemetar sembari menatap mata Zahra dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan.
Zahra sangat tahu kalau ummi Fatimah terlihat sangat kecewa dengan sikap dan kelakuan Zahra yang sudah sangat menyimpang dari norma-norma agama, namun entah mengapa Zahra begitu sombong dan tidak ingin mengakui kesalahan Zahra.
"Iya, Ummi, Zahra lebih baik mati dari pada harus menikah dengan lelaki asing yang tidak Zahra cintai," ucap Zahra dengan nada suara lantang dengan mata tajam yang menatap ke arah ummi Fatimah. Ya, Zahra telah berubah menjadi Zahra yang sangat durhaka kepada orang tua.
Prak ...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Zahra, dan ini kali pertamanya ummi menampar putri kesayangannya dengan sangat keras seperti ini. Ummi Fatimah beranggapan kalau putrinya benar-benar sudah kelewatan batas.
"Um-, Ummi menampar Zahra?" ucap Zahra dengan nada suara bergetar dan terisak dengan air mata yang kini mengalir membasahi pipi Zahra.
"Ummi dan Abi tidak pernah mendidik mu menjadi anak yang kurang ajar seperti ini!" ucap ummi Fatimah dengan nada suara lemah dan terdengar datar, namun sungguh kata-kata yang keluar dari lisan ummi Fatimah terasa seperti anak panah yang menusuk Zahra tepat di jantungnya. Dada Zahra terasa sangat sesak, Zahra kesulitan bernafas seolah nyawa itu akan meninggalkan jasadnya.
Ya, ada rasa penyesalan di hati gadis itu dan ingin rasanya Zahra meminta maaf kepada ibunya atas sikap tidak baik dan tidak sopan, lebih tepatnya durhaka kepada orang tua. Namun, mulut gadis itu menjadi kaku dan kelu seolah tidak sanggup lagi mengucapkan apapun, bukan karena Zahra tidak mampu dan tidak bisa tapi karena hati itu telah membatu hingga tidak ada lagi kebaikan yang terlihat di wajah Zahra, yang ada rada benci dan kecewa kepada ibunya sendiri.
"Sekarang kita pulang!" ucap ummi Fatimah tegas.
Wanita separuh baya yang biasanya selalu bersikap lembut kepada Zahra itu, kini telah berubah menjadi wanita berbeda, penuh ketegasan dan tanpa ampun, bahkan keadaan putrinya yang berdarah tidak mengurungkan niat ummi untuk membawa anaknya pulang.
Ummi Fatimah memencet bel dan meminta suster datang ke kamar inap Zahra untuk membereskan kepulangan putrinya, setelah itu beliau meminta abi Abdullah untuk mengurus dan membayar semua biaya administrasi agar ia bisa segera keluar dari rumah sakit.
"Suster, bisa tolong bawakan kursi roda kesini?" pinta ummi Fatimah kepada salah seorang suster yang baru saja datang ke kamar inap Zahra.
"Baiklah, Nyonya."
"Ara tidak ingin pulang, Ara masih sakit!" bantah Zahra singkat tanpa menatap wajah ibunya sedikitpun.
Zahra merasa kalau ibunya sudah tidak menyayangi dan mencintainya lagi, karena beliau sangat tega sekali memaksakan kehendak hati dan kemauannya sendiri tanpa mempedulikan Zahra, bahkan ummi Fatimah sekarang tega bersikap kasar hingga memukulnya, padahal selama ini ummi adalah orang tua yang sangat baik dan lembut sekali.
"Ummi tidak butuh pendapatmu, mau tidak mau, suka tidak suka, kamu harus pulang sekarang!"
"Zahra belum sehat, Ummi!" jawab Zahra lantang dan keras dengan mata melotot menantang ibunya dengan emosi yang luar biasa.
"Kamu bisa rawat jalan dan dirawat oleh Suster di rumah."
Ummi Fatimah mulai bersikap tegas kepada putrinya, karena beliau memang memiliki hak penuh untuk putrinya. Namun, Zahra kini terus beranggapan negatif dengan sikap dan apa yang dilakukan oleh ibunya, padahal tidak ada seorang pun orang tua di dunia ini yang ingin menjerumuskan anaknya sendiri.
"Kenapa Ummi bertindak sesuka hati Ummi? Apakah pendapat dan keinginan Ara sudah tidak penting lagi bagi Ummi sekarang? Zahra ini anak kandung Ummi atau bukan sih?"
Zahra merasa seperti orang asing dan bukan anak kandung ibunya, karena Zahra sangat yakin dan percaya kalau tidak ada orang tua yang memperlakukan anaknya dengan buruk dan kasar bahkan sampai memaksakan kehendak sendiri tanpa peduli dengan kebahagiaan anaknya.
"Suster, tolong bantu anak ini duduk di kursi roda dan tolong bawa dia sampai ke parkiran ya!" pinta ummi Fatimah kepada suster yang datang membawa kursi roda tanpa menjawab apa yang Zahra pertanyakan kepada beliau.
"Baik, Nyonya," jawab suster ramah dengan senyuman kesopanannya.
"Suster, jangan sentuh saya!" protes Zahra dengan kekesalan hati yang semakin lama semakin membludak.
"Maaf, Nona, tapi saya harus membawa Nona."
Suster menjalankan tugasnya dengan baik, sementara itu Zahra hanya bisa diam menerima apapun yang terjadi walaupun dalam keadaan terpaksa.
Kini, Zahra seperti debu yang tidak dianggap sama sekali, yang diterbangkan oleh angin disaat angin kencang menerpa.
"Nona, mari saya bantu," ucap sang suster sembari menggenggam tangan Zahra.
"Saya tidak ingin pulang, tolong jangan sentuh saya!"
Zahra berontak, ia tidak terima jika hidupnya diatur dan diperlakukan seolah ia tidak memiliki hak atas hidupnya sendiri. Zahra sudah dewasa, bahkan usianya hampir kepala tiga, harusnya ia bisa memutuskan sendiri apa yang terbaik atau tidak untuknya, bukan malah menjadi boneka bagi ibunya.
"Zahra, jangan membantah!" ucap ummi Fatimah dengan mata besar, melotot kepada sang putri.
"Ummi tega ya, sebenarnya Zahra anak Ummi atau bukan sih?" tanya Zahra sekali lagi dengan suara lantang dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Plak!
Tangan lembut ummi Fatimah lagi dan lagi harus dikotori untuk menyadarkan putrinya. emosi yang tidak lagi terbendungkan membuat amarah merajai dan menang di atas segalanya.
Ya, lagi dan lagi sebuah tamparan keras mendarat di pipi Zahra, luapan emosi akibat tumpahan kata-kata yang keluar dari lisannya membuat ummi Fatimah juga tidak sanggup menahan amarah di hatinya.
udh mulai Seru nih,,,😍😍😍
asli penasaran bgt Pengan tau kelanjutannya 🤗🤗🤗
hai kak aku mampir ya,
ini tadi yang di wa, ayo saling berbalas membaca setiap part'nya, saling berbalas like serta komen 🤗