Kakek Abraham mempunyai cara licik untuk menjodohkan cucu ketiganya sekaligus cucu perempuan satu-satunya, Zemira Pieters.
Ia pura-pura mengajak Zemira taruhan. Taruhannya adalah jika Zemi bisa hidup tanpa fasilitas dari Kakek Abraham selama setahun, maka Kakek Abraham tidak akan lagi memaksa Zemi untuk menikah. Tapi jika Zemi tidak bisa, maka Zemi harus menikah dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Padahal tujuan sebenarnya Kakek Abraham membuat taruhan adalah untuk mendekatkan Zemi dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Tapi ternyata laki-laki yang ingin Kakek Abraham adalah laki-laki yang pernah menolak Zemi waktu SMA.
Akankah rencana Kakek Abraham berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mukbang Terus
"Lalu ciuman seperti apa yang bisa dikatakan ciuman mengungkapkan perasaan? Apa kamu bisa mencontohkannya?" goda Ravin.
Blush. Pipi Zemi langsung memerah seketika.
"Hish, apa sih kamu!" omel Zemi sambil mendorong tubuh Ravin.
Ravin terkekeh kecil lalu menarik tangan Zemi dan menggiring Zemi duduk di sofa.
"Zem, aku dan Vivian tidak punya hubungan apa-apa, aku hanya menganggap dia seperti adikku, itu saja." ucap Ravin.
"Untuk apa juga kamu memberitahu ku soal ini." dumel Zemi.
"Yah karena kamu kekasih ku, makanya aku tidak mau kamu berpikir kalau aku dan Vivian memiliki hubungan." jawab Ravin.
"Sudah dibilang kita bukan kekasih!" balas Zemi.
"Kalau bukan kekasih, lalu kita ini apa?" tanya Ravin.
"Gak tau." jawab Zemi sambil memanyunkan bibirnya.
Sebenarnya Zemi sangat senang, tapi tidak afdol rasanya kalau Ravin belum menyatakan cinta padanya.
Ravin tersenyum tipis, dia tahu apa yang diingkan Zemi.
Tiba-tiba saja Ravin berjongkok didepan Zemi lalu menggenggam tangan Zemi.
"Zem, mau kah kamu menjadi kekasih ku?" tanya Ravin.
Zemi melipat bibirnya menahan teriakannya karena girang sambil menganggukkan kepalanya.
"Mau tidak?" tanya Ravin sekali lagi karena Zemi tidak menjawab dengan kata-kata.
"Iya Ravin, aku mau." jawab Zemi.
Ravin pun kembali duduk disebelah Zemi lalu mencium kening Zemi.
"Jadi kita sudah resmi jadi sepasang kekasih kan?" tanya Ravin.
"Um..." jawab Zemi.
"Kalau begitu jangan lagi kamu pergi kencan buta!" ucap Ravin.
"Tergantung, kalau kamu macam-macam aku akan pergi kencan buta lagi." jawab Zemi.
"Jadi kamu pergi kencan buta karena marah pada ku, hah?" tanya Ravin sambil mencubit gemas pipi Zemi.
"Iya. Karena aku ingin membuktikan pada mu kalau aku sudah move on dari mu!" jawab Zemi.
"Oh...." Ravin membulatkan mulutnya mengejek Zemi.
"Memangnya kamu bisa move dari ku?" tanya Ravin.
"Kalau kamu tidak menarik ku tadi, mungkin sekarang aku dan Ashroy sudah membicarakan hubungan yang serius. Karena sepertinya-"
Cup. Tiba-tiba saja Ravin mencium bibir Zemi dan melu.matnya lembut.
(Ah si Abang sekarang suka banget mukbang bibirnya Ayang 🤭🤭)
Zemi mematung seketika.
Setelah beberapa detik, barulah Ravin melepaskan ciumannya.
"Jangan pernah membicarakan laki-laki lain dengan bibir manis mu ini, atau aku akan membuat bibir mu ini sariawan!" ucap Ravin sambil menyeka sisa saliva dibibir Zemi.
Zemi yang masih syok hanya menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, istirahatlah. Aku pulang dulu. Besok pagi aku jemput." pamit Ravin sambil berdiri dari duduknya.
"Ravin, tunggu!" Zemi langsung menahan tangan Ravin saat Ravin hendak melangkah.
"Kenapa?" tanya Ravin.
Zemi berdiri dari duduknya lalu sedikit berjinjit untuk mencium sekilas bibir Ravin.
"Hati-hati." ucap Zemi sambil menundukkan kepalanya malu setelah mencium bibir Ravin sekilas.
Ravin tersenyum tipis lalu mendongakkan wajah Zemi lalu menarik tengkuk Zemi dan membalas mencium bibir Zemi. Tidak seperti Zemi yang hanya mencium sekilas bibir Ravin, Ravin justru mencium plus melu.mat lembut bibir Zemi.
Zemi yang baru pertama kali berciuman, berusaha membalas ciuman Ravin walaupun masih sangat kaku.
Setelah hampir tiga menit, barulah Ravin melepas ciumannya lalu menempelkan keningnya di kening Zemi dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Aku harus pulang sekarang, bahaya kalau aku masih ada disini." ucap Ravin.
"Um..." jawab Zemi.
Cup. Ravin pun mengecup kening Zemi lalu cepat-cepat keluar dari kamar Zemi.
"Aaaaargh...." teriak Zemi kegirangan setelah Ravin keluar dari kamarnya.
"Aku harus memberitahu Camel tentang ini!" gumam Zemi lalu mengambil ponselnya dan menghubungi sang sahabat.
💋💋💋
Mobil Tuan Abraham.
Saat dalam perjalanan dari kosan Zemi ke mansion, Tuan Abraham menghubungi dua kakak laki-laki Zemi, Zander dan Zayden yang tinggal di luar negri karena masing-masing mereka memegang anak perusahaan.
Pertama Tuan Abraham menghubungi Zander, cucu sulungnya.
Di nada sambung ketiga, Zander langsung menjawab telepon Tuan Abraham.
"Halo Kakek." jawab Zender.
"Apa besok kamu punya waktu?" tanya Tuan Abraham.
"Ada apa Kek, apa ada masalah di kantor pusat?" tanya Zender.
"Tidak, ini bukan tentang perusahaan. Ini tentang adik mu." jawab Tuan Abraham.
"Zemi? Apa dia buat masalah yang sangat besar makanya Kakek sampai menghubungi ku?" tanya Zander.
"Ceritanya besok saja. Cepat kamu datang kesini, besok malam kita ada acara penting, jadi sebelum acara penting itu, kamu dan Zayden, Kakek briefing dulu." jawab Tuan Abraham.
"Ada apa sih Kek? Zan jadi penasaran." tanya Zander lagi.
"Sudah pokoknya besok kamu harus sudah sampai disini sebelum jam tujuh malam." jawab Tuan Abraham.
"Baik Kek." jawab Zander.
Panggilan pun berakhir.
Setelah menelpon Zander, si cucu suling, Tuan Abraham lanjut menghubungi Zayden.
Menghubungi Zayden sebelas dua belas seperti menghubungi Zemi, perlu kesabaran tingkat dewa menunggu mereka mengangkat telepon kalau sudah asyik bermain game. Hanya bedanya, Zayden bermain game untuk mengisi waktu luang, seperti setelah selesai bekerja atau hari weekend. Tidak seperti Zemi yang selama ini mengabdikan hidupnya untuk bermain game sampai-sampai lupa keluar apartemen.
Kedua kakak laki-laki Zemi sudah menikah dan masing-masing sudah memiliki satu orang anak. Itulah alasan kenapa Tuan Abraham ingin cucu terakhirnya cepat menikah.
Setelah lima kali panggilan, barulah Zayden menjawab telepon Tuan Abraham.
"Halo Kakek, ada apa?" tanya Zayden.
"Kenapa lama sekali menjawab telepon Kakek? Apa kau sedang main game?" omel Tuan Abraham.
"Hemh." jawab Zayden.
"Anak ini! Matikan dulu game mu itu! Ada hal penting yang ingin Kakek bicarakan!" perintah Tuan Abraham.
"Iya, iya." jawab Zayden.
Dan satu lagi yang membedakan Zayden dan Zemira, Zayden lebih patuh pada Tuan Abraham ketimbang Zemi.
"Sudah Kakek. Sekarang katakan, apa yang ingin Kakek bicarakan?"
"Ini tentang adik mu. Datang lah besok sebelum jam tujuh malam kesini." ucap Tuan Abraham.
"Ada apa? Apa Zemi buat masalah yang besar?" tanya Zayden.
Sama seperti kecurigaan Zander, kalau Kakek mereka menghubungi mereka karena si bungsu, itu berarti masalah yang dibuat si bungsu sangat besar. Terakhir kali Zemi membuat masalah, saat Zemi SMA, dia tak sengaja membuat kebakaran di laboratorium.
Saat itu Tuan Abraham menyerah memarahi Zemi, atau lebih tepatnya tidak sanggup marah besar pada cucu bungsunya, jadi Tuan Abraham memanggil kedua kakak laki-laki Zemi untuk memarahi Zemi.
"Akan Kakek beritahu besok. Kakek juga sudah menghubungi Zander, jadi awas saja kalau besok kau tidak datang atau datang lewat dari jam tujuh malam!" jawab Tuan Abraham.
"Hemh, baik Kek." jawab Zayden.
"Ya sudah lanjutkan lah bermain game mu." ucap Tuan Abraham lagi.
"Ah sudah tidak selera! Kakek sudah buat ku penasaran." jawab Zayden.
"Ya sudah, Kakek matikan teleponnya." Tuan Abraham pun mengakhiri panggilan telepon dengan Zayden.
"Hehehehe... Walau menjodohkan mu dengan cucu ku, tapi bukan berarti kamu bisa lolos begitu saja dari uji kelayakan dari keluarga Pieters." gumam Tuan Abraham sambil tersenyum licik.
💋💋💋
Bersambung...
😂😅
lucu bangat thoor
menarik sekali karya mu ini
aku sangat suka