~NOVEL KE 15~
Nama ku Myrtle. Aku telah jadi yatim piatu sejak masih bayi. Kemudian aku ikut tinggal di rumah sepupu ibu ku dan menjadi bagian dalam keluarga nya.
Sebuah tragedi kemudian terjadi pada keluarga sepupu ibu ku itu. Hampir semua anggota keluarganya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Hanya menyisakan Sang Sulung, Rayn Millard seorang saja.
Sejak itulah Aku tinggal berdua dalam asuhan Kak Rayn. Sampai kemudian aku menyadari rahasia tersembunyi terkait Rayn.
Bahwa sebenarnya, kakak sepupu ku itu ternyata adalah vampir!
Bagaimana kelanjutan hidup ku setelahnya?
Haruskah aku tetap hidup bersama Rayn, atau pergi sejauh-jauhnya?
Bagaimana juga kehidupan ku bersama Ray nanti, bila sosok wanita vampir lain muncul dan mengaku sebagai pemilik Rayn? Wanita yang telah mengubah Rayn menjadi seorang vampir..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menjadi Vampir!
Begitu mendengar suara pintu terbuka, aku menunggu beberapa lama sebelum ku dengar pintu tertutup kembali.
Aku tetap berpura-pura tidur, karena telinga ku jelas menangkap suara langkah kaki seseorang yang mendekati tempat tidur ku.
'Tenang, Myr.. Tenangkan diri mu.. Biarkan dia sampai dekat dulu, baru nanti kamu bisa lari secepat-cepatnya ke pintu..' Aku terus mengingatkan diri ku sendiri dalam hati.
Setelah beberapa saat, seseorang itu akhirnya berhenti di dekat ku. Anehnya, aku tak mendengar suara pergerakan apapun lagi.
Sehingga ini membuat ku jadi cemas kembali. Mengira kalau orang yang menyekap ku itu mungkin telah pergi tanpa ku ketahui.
Akhirnya, karena lama tak ada pergerakan apapun, aku pun perlahan membuka kedua mata. Dan, seketika itu pula, aku langsung beradu tatap dengan seseorang yang sangat amat ku kenal baik.
"Kak Rayn?!! Ternyata benar Kakak yang sudah menyekap ku?!!"
Aku langsung melonjak bangun, berdiri di atas kasur dan menatap garang pada lelaki yang selama ini sudah menempati tempat istimewa di hati ku itu.
'Tega-teganya dia mengurung ku fi sini! Tega-tega nya fia menyiksa ku di kamar yang sepi ini!!' batin ku oun tak kalah marah. Ku sebutkan segala sumpah serapah ku untuk Kak Rayn.
Anehnya, Kak Rayn tampak tenang menghadapi amarah ku. Ia bahkan tak terkejut saat tiba-tiba aku bangun dari tidur pura-pura ku. Seolah-olah ia sudah sejak awal menyadari rencana ku ini.
"Kenapa Kakak menyekap ku di kamar ini?!" Akhirnya aku pun meneriakkan pertanyaan itu juga padanya.
Yang lalu dijawab oleh Kak Rayn dengan wajah tenang yang sama.
"Bukankah sudah Kakak tuliskan, kalau ini semua demi kebaikan mu, Myrt.."
"Bull ****! Kebaikan apa yang Kakak maksud?! Apa penampilan Myrtle sekarang ini Kakak anggap cukup baik. hah? Kurus, kelaparan, dan juga hampir gila karena kesepian seperti ini.. Apa ini hal yang baik menurut Kakak?!" teriak ku penuh emosi kembali.
"Maaf, Myrt.. Dalam beberapa aspek, Kakak tahu, kondisi mu jelas tak baik saat ini. Tapi, jika dibandingkan kamu hidup d luar sana, dnegan berbagai ancaman yang bisa membahayakan nyawa mu.. Jelas hidup di kamar ini adalah yang terbaik. Itu kiranya pendapat Kakak.."
"Gila! Kakak benar-benar gila! Ancaman bahaya apa yang sebenarnya Kak Rayn maksud? kecelakaan? kelaparan? Di kamar ini Myrtle juga bisa mengalaminya, Kak! Jangan mengalihkan isu!" amuk ku lagi.
"Kelaparan? hm.. jelas sekali kalau saat ini, bukan itu yang sedang menyiksa mu, Myrt.. Kakak bisa jelas melihat itu.."
"Maksud Kak Rayn apa sih?! Pokoknya.. Myrtle mau pergi dari kamar ini! Sekarang juga!"
"Ya.. Tentu saja kamu boleh keluar dari kamar ini nantinya, Myrt.. Tapi tidak sebelum--"
Aku langsung saja memotong ucapan Kak Rayn.
"Tunggu apa lagi?! Aku bisa gila di kamar ini, Kak! Di sini tuh pengap! Panas! Kakak gak tahu apa kalau di sini AC nya mati!" amuk ku terus berlanjut.
"Bwuahahahaha!!! Myrtle Adelaine ku tersayang.. apa dari semua yang menyiksa mu fi kamar ini, kamu hanya terpikirkan soal AC saja, Myrt? serius?"
"Memangnya apa lagi? Kakak lihat sendiri nih! Myrtle sampai gak bisa keringetan gini, karena kegerahan. Jelas-jelas AC nya bermasalah! Pokoknya Myrtle mau keluar sekarang juga!"
Tanpa menunggu Kak Rayn bicara lagi. aku langsung saja berlari cepat menuju pintu.
Aku sengaja menggunakan seluruh tenaga yang ku punya untuk bisa sampai pada pintu kebebasan ku. Sayangnya, langkah ku kalah cepat dari gerak Kak Rayn.
Dia dengan kekuatan campur nya itu jelas jauh lebih cepat dari pads langkah manusia ku.
Tahu-tahu Kak Rayn telah berdiri di depan pintu. Ia begitu sigap menghalangi ku dari pintu kebebasan ku.
Geram pada sikapnya, tanpa bis aku tahan lagi aku pun mengamuk. Ku hamburkan diri ku ke arah nya. Dan aku melakukan perlawanan apapun yang bisa ku lakukan.
Entah itu memukul, menendang, bahkan juga mencakar, aku terus menerus melakukan semua hal itu.
Tak ada lagi rasa sesal atau bersalah di hatiku saat ini, meski jelas aku telah membuat penampilan Kak Rayn jadi berantakan karena ulah ku itu.
Kesalnya, Kak Rayn tetap bisa berdiri tegap di depan pintu. Meski aku telah menyerangnya dengan berbagai perlawanan.
Hingga akhirnya aku sampai pada usaha terakhir. Yakni menggigit bahu nya sekencang mungkin. Berharap dnegan begitu ia akan bergeser dari pintu. Dan aku bisa terbebas pada akhirnya.
Akan tetapi, begitu aku menggigitnya, Kak Rayn malah tak bereaksi apa-apa. Ia seolah membiarkan ku melakukan itu. Sehingga ku pikir, gigitan ku mungkin tak cukup kuat untuk menyakitinya.
Aku pun mengeraskan gigitan ku, hingga aku cukup yakin telah merobek kain baju yang ia kenakan saat ini. Namun aku tak perduli.
Aku terus saja menggigit sekencang mungkin. Hingga tiba-tiba mulut ku merasakan suatu cairan yang terasa manis. Ya manis..
Aku langsung tertegun seketika.
Masih tetao menggigit bahu Kak Rayn, ku julurkan lidah ku keluar demi bisa mencicip cairan manis di ujung mulut ku itu. Dan, aku merasakannya lagi.
Manis.. Rasanya sungguhan manis.. Dan enak.. Ini adalah minuman termanis yang pernah ku rasakan seumur hidup ku.
Karena itulah aku pun merasa kecanduan jadinya.
Ku hisap lebih banyak lagi cairan manis itu. Hingga tak terasa dahaga yang menyiksa ku selama ini, menghilang tak bersisa.
Ya. Cairan manis itu telah berhasil menghilangkan dahaga ku. Namun aku merasa itu sja tak cukup.
Aku pun kembali menghisap cairan manis itu. Lagi dan lagi. Hingga kemudian ku rasakan sebuah pelukan erat melingkari pinggang ku. Dan tubuh yang ku sandari saat ini limbung ke depan.
Bruk!
Aku tersadar ketika Tubuh Kak Rayn terjatuh ke atas lantai. Dnegan membawa tubuh ku di atas nya. Namun aku tak mempedulikan itu.
Yang paling penting bagi ku saat ini adalah cairan manis yang saat ini sedang ku teguk dnegan sepenuh hati. Aku jelas tak ingin berhenti dari meminum cairan manis ini.
Tiba-tiba saja aku merasakan kepala ku diusap berkali-kali. Dan suara barito milik Kak Rayn menggema lirih di dekat telinga ku.
"Myrtle ku Sayang.. Bisakah kamu berhenti meminum darah Kakak sekarang? Jika tidak, Kakak khawatir kalau Kakak akan mati kehabisan darah di kamar ini beberapa menit lagi nanti.."
Aku pun terkejut. Begitu syok dnegan apa yang baru saja ku dengar.
Seketika itu pula aku menjauhkan mulut ku dari sumber tempat Cairan manis itu keluar.
Dan apa yang ku lihat. sungguh sangat menakuti ku.
Karena aku melihat luka robekan yang cukup besar di bagian bahu Kak Rayn. Fan itu bahkan menembus kain baju yang ia kenakan saat ini.
Darah merah segar, masih mengalir deras dari luka robekan itu!
'Ya Tuhan! Apa yang sudah ku lakukan?!!' jerit batin ku begitu ketakutan.
***
PaMud Mampir
PaMud Papa Muda mampir
Ry Benci Pakpol Mampir